
Basah
Tap!
Winsi berhasil menangkap tangan gadis di hadapannya yang akan menampar, tepat sebelum mengenai wajahnya lalu, mencengkeram kuat dan menghempaskan dengan kasar. Kedua mata mereka saling bertatapan mengisyaratkan permusuhan.
Gadis itu tidak menyangka jika serangannya akan ditangkis secepat itu sehingga dia lebih kesal lagi pada Winsi. Baru kali ini ada anak yang berani melawannya dan itu anak baru. Menyebalkan.
“Wah wah, lihat, sekarang di sekolah kita punya jagoan, siapa namamu?” Kata anak itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dia tersenyum tapi sorot matanya masih mengisyaratkan kebencian.
“Aku Winsi Nasriya, panggil saja Win dan, ini temanku Fika,” jawab Winsi sambil mengulurkan tangan, tapi anak yang bertanya tidak menyambutnya. Oleh karena itu, Winsi menarik tangannya kembali dan berniat pergi, karena para wanita remaja itu sama sekali tidak berniat baik padanya.
Winsi beranjak sambil menggandeng tangan Fika, tapi baru saja selangkah, ada anak perempuan lain berteriak sambil menarik tas lusuh milik Winsi dengan keras.
Winsi membawa tas dengan diselempangkan di satu pundak, tentu saja bila di tarik dari belakang, maka tubuhnya akan ikut tertarik bersama tasnya. Saat itu dia sedang tidak waspada dengan gerakan yang tiba-tiba, menyebabkan tidak seimbang hingga dia terhuyung ke belakang, hampir terjengkang namun, di sanggah oleh Fika dan justru teman Winsi itulah yang kembali terjatuh karena terdorong olehnya.
Melihat Fika kembali terjatuh, Winsi segera menoleh dan mendekat pada anak-anak yang masih tertawa terbahak-bahak.
“Makanya, kamu jangan sombong, kena hukumannya kan?” kata salah satu di antara anak itu, “Nih kenalin ... Dia ini Hansya, siapa yang nggak kenal anak paling kaya dan paling cantik di sekolah ini? Nggak ada! Kecuali kamu.”
Kembali mereka tergelak. Sementara Winsi tak perduli dengan apa yang didengarnya tadi.
“Siapa yang melakukannya tadi?” Winsi bertanya dengan galak, menunjukkan keberanian, dia memang adik kelas, tapi badan mereka sama, apalagi gadis itu sudah berlatih lebih keras hingga dia merasa lebih kuat. Kemudian dia berkata lagi, “Siapa!”
“Aku, memangnya kenapa?” kata anak perempuan yang sudah menjegal Fika.
‘Oh, jadi anak ini lagi? Hah!’ batin Winsi sambil melayangkan tinju.
__ADS_1
Buk!
Seketika, anak yang mengaku bernama Hansya itu terhuyung ke samping sambil memegangi pipinya yang memerah akibat pukulan dari Winsi. Dia tidak sempat terjatuh karena beberapa teman setianya secara refleks memegangi tubuhnya.
“Kurang ajar kamu, ya!” kata anak itu sambil mengejang dan akan menjambak rambut Winsi yang saat itu dia biarkan terurai.
Winsi memiringkan badan untuk mengelak, secara bersamaan meraih tangan Hansya yang hendak menjambak, dengan gerakkan gesit dia memutar ke belakang punggung dan mengunci tangan yang sudah dipelintirnya itu.
“Aahk ..!” Hansya berteriak keras karena merasakan sakit akibat dari tangan yang dipelintir ke belakang punggung, sementara satu tangan lain ditekan diperutnya. Posisi itu tampak seperti Winsi sedang memeluk dari belakang, membuat orang yang di depan tidak bisa bergerak.
Sementara temannya yang lain, diam, tak berani mendekat, melihat gerakan Winsi tadi, membuat mereka begitu terkejut dan takut bila terkena akibatnya.
“Kamu tahu, Hansya, namamu bagus, mirip pejuang wanita di perang Uhud. Sayangnya, kelakuan kalian jauh sekali bedanya ... Khansa di perang Uhud berjuang membela kaum muslimin yang tertindas tapi, kamu berjuang demi gengsi dan kekayaan.” Winsi berbisak sambil memelintir tangan itu lebih keras kemudian melepaskannya.
Setelah berkata seperti itu, Winsi pergi meninggalkan geng Hansya begitu saja. Tidak lagi menoleh atau melihat ke belakang, karena bel sekolah sudah berbunyi dan mereka harus berbaris di lapangan untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera, di hari pertama.
Setelah upacara selesai, anak-anak baru tetap berada di tanah lapang depan sekolah mereka, untuk pembagian kelas dan Winsi mendapatkan kelas A, dengan beberapa teman lainya. Untungnya Fika berada dalam satu kelas sehingga mereka memutuskan untuk duduk dalam satu bangku bersama.
Setelah jam sekolah berakhir, Winsi pulang bersama beberapa teman yang sudah berkenalan dengannya, tapi belum begitu akrab hingga dia tidak ikut mengobrol. Sejak dulu dia menjadi anak yang pendiam dan jarang bergaul seperti anak-anak lainnya. Hal itu karena dipicu oleh perasaan ‘tidak diinginkan’ yang tumbuh terus menerus hingga mengakar, membuat dirinya selalu rendah diri.
Namun sejak kelas lima semester akhir di sekolah dasar, dia mulai mengikuti kegiatan , hingga sedikit demi sedikit mulai tumbuh rasa percaya dirinya walaupun, masih pendiam.
Ada beberapa anak terlihat menunggu angkutan umum, dengan jurusan yang sama seperti dirinya. Semua sudah mendapatkan kendaraan, kecuali Winsi karena kebetulan sudah penuh. Cukup lama dia menunggu, hingga muncul sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di hadapannya.
Secara perlahan kaca jendela mobil itu terbuka lalu, sebuah wajah muncul dengan bibir yang menyeringai di sana. Dia adalah Hansya, terlihat gadis itu melemparkan sebotol air mineral yang tutupnya sengaja dibuka ke arah Winsi hingga air yang keluar saat dilempar, membasahi seluruh seragam SMP yang dikenakannya.
Tentu saja Winsi terkejut dan spontan melihat ke arah tubuhnya yang basah begitu juga tas yang dibawa. Sementara kaca jendela kembali tertutup secara perlahan diiringi dengan suara tawa dari mulut beberapa anak perempuan di dalam mobil.
__ADS_1
Winsi merasa geram dan sesak di dada serta perut karena emosi yang sangat tinggi terkumpul di benaknya. Akan tetapi dia tidak berdaya, tidak bisa melakukan apa-apa untuk membalas perbuatan yang sangat rendah seperti itu, mengintimidasi orang yang lebih rendah dari mereka.
Winsi hanya mampu menatap kepergian mobil sedan hitam itu bergerak menjauh. Memang celah dan perbedaan mereka seperti bumi dan langit, hal ini pun disadari oleh Winsi. Akan tetapi mereka sama-sama pelajar yang menuntut ilmu, tidak ada perbedaan kasta dalam sekolah itu. Apa yang dia alami sekarang seolah-olah mengingatkan bahwa memang perbedaan derajat dan golongan itu benar-benar ada. Di mana pun berada.
Mungkin seperti itulah yang terjadi pada ibunya, seorang wanita lemah, tidak memiliki apa-apa, menikah dengan seorang lelaki kuat yang merasa sudah memberikan segalanya. Oleh karena itu, Basri bebas berbuat kasar.
Apakah hanya karena ketidakpercayaan saja? Winsi masih bingung memikirkannya. Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman yang terjadi antara kedua orang tuanya, seperti jurang menganga. Menjadi sebuah contoh bahwa perbedaan antara si lemah dan si kuat, sekali lagi, akan selalu ada.
Winsi mendongak ke arah langit sambil memejamkan mata, mencegah agar air yang menggenang di pelupuk tidak keluar. Sudah sejak lama dia berjanji tidak akan menangis lagi untuk apa pun yang terjadi. Dia tidak ingin menjadi anak yang cengeng, sekarang dia sudah besar dan seragam sekolahnya saja berubah. Jadi, dia harus menjadi anak yang lebih kuat.
Ya, sudah cukup rasa sakit yang diderita selama ini. Dia berharap, bekas-bekas luka dari ikat pinggang serta kayu di sekujur tubuhnya, tidak akan bertambah lagi. Memang ada beberapa di antaranya yang tidak bisa hilang sampai sekarang. Dia ingin agar bekas-bekas luka itu tidak lagi terlihat.
Dia sudah bersyukur bisa menutupi tubuhnya dengan busana muslimah, yang menutupi seluruh aurat sehingga secara tidak langsung menutupi pula semua bekas luka yang ada.
Winsi masih mendongak ke arah langit, ketika suara klakson berbunyi dari mobil yang berhenti tepat di samping membuatnya terkejut. Dia menoleh dan melihat mobil yang pernah dikenalnya.
“Butuh tumpangan?” tanya Erlan, yang wajahnya menyembul dari balik jendela mobil itu.
Winsi diam saja dan tertegun melihat pria yang sebenarnya selalu membuatnya kesal.
“Hei, Anak Buluk! Mau ikut nggak?” tanya laki-laki itu lagi.
Mendengar panggilan itu, Winsi menoleh ke kanan dan ke kiri, khawatir apabila ada anak lain yang mendengar Erlan memanggil dirinya dengan demikian. Tentu saja sangat memalukan, serta tidak ingin bila panggilan Erlan padanya, akan membuat orang lain punya kesempatan berbeda dan menjadi bahan bulyan yang lebih parah lagi.
“Ayo, masuk! Kalau nggak mau ya sudah ... Ayo! Jalan Ayah!”
“Baik, Den!”
__ADS_1
Bersambung
“Jangan lupa like, comment, give dan vote ya ... terima kasih atas dukungannya”