Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
153. Keputusan Winsi


__ADS_3

Keputusan Winsi


Erlan menarik tangan Winsi dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, dia tidak menyangka ucapan seperti itu akan meluncur dari mulut istrinya.


Dia memang pernah mengatakan jika Winsi berhak untuk memilih, tapi, dia tidak sungguh-sungguh akan membiarkan wanita itu pergi. Dia tahu, kalau Winsi meminta cerai darinya, itu artinya Runa dan keluarganya akan pergi ke Jogjakarta dan, akan sulit baginya untuk menjalin kembali hubungan dekat mereka.


Berpisah dengan Winsi sama saja melukai dirinya sendiri, bahkan, membiarkan hubungan yang sudah dibina selama ini sia-sia, dengan membuat patahan hati yang memang tidak berdarah tapi, akan jelas menyisakan resah.


Mendengar Winsi berkata seperti itu, Erlan seolah kebas dan mati rasa, mereka sudah berjalan selama bertahun-tahun dan, dia tidak ingin hubungan mereka berputar dalam keadaan yang itu-itu saja, tidak! Dia ingin pada akhirnya dirinya dan Winsi berada pada ujung dan tepian cinta yang sama.


“Win, apa yang kamu katakan sayang?” kata Erlan sambil menggenggam tangan istrinya itu erat.


“Erlan, kamu nggak usah kuatir, aku tahu, kok apa yang akan aku lakukan!” sahut Winsi datar.


“Tapi, Win...!”


“Erlan! Istrimu sudah sanggup untuk mengurus Hanifa, tapi, kenapa kamu justru menolak? Kamu ini tahu nggak sih, mana yang benar mana yang salah?” kata Darma akhirnya unjuk bicara. Pria tua itu menatap Winsi dan Erlan dengan tatapan sinis.


“Ya, aku juga heran sama perempuan yang masih mau bertahan dengan pernikahannya padahal, jelas-jelas suaminya sudah punya istri, selain dirinya. Aku pikir kamu bukan wanita bodoh seperti itu, kan?” kata Reni sambil menunjuk Winsi.


Winsi tersenyum kecut, saat mendengar bahwa ada orang lain, yang secara tidak langsung mengatakan dirinya sebagai orang bodoh. Bukankah setiap cinta memang tidak pernah mendengar apa kata otaknya, bahkan orang yang jatuh cinta sering kali logikanya mati, karena hati ingin berjalan sendiri. Lalu, ketika orang lain menganggap hubungan mereka salah, maka, mereka akan menggunakan atas nama cinta untuk segalanya.


“Ada banyak manusia yang tidak pernah sadar akan kesalahan, tidak bisa memahami hakekat kebenaran, menuduh orang lain dengan kuranga akal, lalu, mereka menyangka bahwa dirinyalah yang paling benar, kemudian menuntut orang lain untuk mengerti serta, selalu ingin dipahami,” sahut Winsi setalah beberapa lamanya diam.

__ADS_1


“Apa maksud kamu?” tanya Darma.


“Ya, maksud saya seperti itu, sudahlah, saya mau pulang, lagian Hanifa sudah tidur, kan? Saya permisi.” Winsi berkata sambil berdiri, dia menyambar tasnya dan berjalan keluar setelah melirik Dinda yang ternyata menguping pembicaraan mereka.


Setelah itu Winsi pun pergi keluar setelah mengerlingkan sebelah matanya pada Erlan, lalu, meraih kunci motornya.


Erlan masih menghadapi Darma dan Reni, dua orang tua yang menjadi wali bagi Hanifa. Dia masih ingin bicara secara pribadi, oleh karena itu, dengan terpaksa dia membiarkan istrinya pulang sendiri.


“Bude, Pakde, saya tidak akan menelantarkan Hanifa, jangan kuatir. Jadi, saya mohon, jangan campuri urusan pribadi saya dengan istri saya lagi.” Kata Erlan.


Memang mereka yang duduk di hadapannya adalah orang tua, tapi, dia tetap harus tegas tentang urusan pribadinya. Siapa yang tahan jika memiliki seorang wanita atau istri tapi, tidak bisa menunaikan haknya. Erlan hanya manusia biasa. Apa keinginan dasarnya sebagai pria itu, salah?


Mereka belum tentu sabar bila ada di posisinya sekarang, mereka belum tentu kuat kalau harus menanggung beban seberat bebannya. Semua orang berhak untuk bahagia, termasuk dua orang tua di hadapannya, siapa yang tahu maksud mereka memaksa Erlan untuk merawat Hanifa di rumah. Mungkin salah satu alasan adalah karena mereka ingin bahagia, bisa melihat keponakannya itu dari dekat.


Sabar memang tidak ada batasnya, tapi, itu bagi orang yang kuat. Allah selalu punya cara untuk membuat setiap manusia mendekat. Mungkin, dengan kekuatannya manusia bisa melalui ujian. Dan dengan kelemahannya manusia akan mencari penciptanya lalu, memohon bantuan.


Jadi, tidak ada yang salah jika manusia memilih untuk bertahan atau menyerah, karena semua pun sudah sesuai porsi mereka masing-masing.


“Baik, aku maklum kalau kamu memang mau poligami, tapi, soal Hanifa, aku akan bicara dulu dengan saudara yang lain!” kata Darma.


“Silakannsaja, itu hak semua anggota keluarga. Bude sama Pakde jangan kuatir soal hasil perkebunan Ayah Hanifa, saya kira Hani bukan perempuan yang gila harta hingga akan menuntut semua hasil yang sudah kalian nikmati saat dia sakit. Saya yakin dia tidak akan mempermasalahkan walaupun, dia sudah sembuh nanti.”


Tiba-tiba Darma dan Reni tertegun, kedua orang itu menunduk, tidak menyangka jika Erlan tahu tentang semua hasil perkebunan yang menjadi hak Hanifa telah mereka nikmati selama ini.

__ADS_1


“Kalau begitu, saya permisi dulu, Bude, Pakde, kalau masih mau melihat Hanifa, silakan, rumah ini rumah Bude juga ....” Kata Erlan seraya beranjak dari tempat duduknya.


*****


Di tempat lain, di ruang dapur rumah besar itu, Runa sedang mendesak Hasnu tentang apa yang terjadi, dia yakin kalau pria yang berusia jauh di atas dirinya itu tahu sesuatu.


Dengan berat hati Hasnu menceritakan semuanya kepada majikannya itu. Walaupun, sebenarnya dia sudah berniat untuk menutup diri dan, membiarkan Erlan mengatakan sendiri apa yang terjadi, tapi, nyatanya dia tidak bisa bungkam terlalu lama.


Hasnu tahu tentang Erlan dan Hanifa, bahkan sebelum Arkan menghembuskan napas terakhirnya. Dia berpikir sewaktu-waktu masalah itu akan menjadi bom waktu, nyatanya benar saja sekarang keadaan keluarga jadi memanas karena Winsi dan Erlan, jelas-jelas memperlihatkan bila mereka bermusuhan. Runa pun gemas karena dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada anaknya sendiri.


Winsi mati-matian menahan diri agar tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada ibunya, hanya karena tidak ingin Runa kecewa. Namun, pada akhirnya toh wanita itu tetap kecewa juga, begitu mengetahui berita tentang Erlan yang mempunyai istri dua dari orang lain.


“Kenapa Pak Hasnu nggak ngomong dari dulu dulu tentang berita sebesar ini, sih?” kata Runa.


“Maafkan saya, Nyonya ... saya tidak berniat untuk berbohong pada Nyonya, saya hanya ingin melihat bahwa anak-anak sendiri yang mengatakannya secara sejujur pada Nyonya.”


“Tapi, Pak? Ah, sudahlah. Saya juga kecewa. Kenapa Mas Arkan nggak mau ngomong sama saya!” Runa pun menangis, dia menelungkupkan wajahnya di meja, bertumpu pada kedua lengannya.


Kekhawatiran Winsi apabila dia berkata jujur, rupanya benar ... hal ini akan membuat Runa semakin kecewa bukan hanya kepada Erlan dan apa yang, sudah dilakukannya melainkan juga kepada suaminya yang telah tiada.


Belum juga, tangisan Runa reda, sudah terdengar suara tangisan anak bungsunya yang terbangun, membuat wanita itu mengabaikan perasaan dan menghapus lelehan air matanya kasar. Sementara Winsi datang melalui pintu utama sambil melepas helmnya.


“Ibu? Kenapa Ibu menangis?” kata Winsi yang saat melintas dan berpapasan dengan Runa, melihat wanita itu mengusap sisa air mata.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2