
Aku Tidak Mau Kehilangan Lagi
“Win ... Tahu, nggak kalau dulu aku selalu berharap agar hidupku bisa lancar tanpa hambatan, tapi, ternyata, Allah selalu punya cara untuk membuatku berjuang dahulu sebelum merasakan kemenangan.”
Winsi menyibakkan selimutnya dengan kasar, dia sama sekali tidak punya teknik merayu laki-laki, hingga sikapnya selalu saja sama seolah Erlan adalah teman dan bukan suaminya.
“Ya. Terus, apa hubungannya denganku?”
“Kalau kamu menemukan sikapku yang tidak sesuai, dengan apa yang kamu inginkan maka, inilah saat yang tepat untuk memutuskan kamu akan pergi atau tetap tinggal?”
“Oh, jadi begitu? Kamu hanya melihat sebelah mata padaku, lalu, kamu dengan mudahnya bilang seperti itu? Ah yang benar saja, Lan!”
Winsi kini duduk, tapi kedua tangannya berkacak pinggang.
Ya, terkadang orang memang hanya memandang sebelah mata karena yang ada dalam pikiran mereka, bukan tentang kebenaran tapi, siapa yang benar-benar salah.
“Ah! Apa kamu lupa dengan semua janji dan semua yang pernah kamu bilang padaku, waktu itu, Lan?”
“Win ... maksudku baik, aku memberimu kebebasan!”
“Ya, semua maksud kamu baik ... baik semuanya, Lan!” Winsi bicara menyindir suaminya. “Terus apa maksudmu, bicara seperti itu, kamu mau menyudahi hubungan kita? Hah?”
Winsi kini berdiri di sisi tempat tidur, dia mengusap wajah dan rambutnya berulang kali. Dia mencintai Erlan sekarang, sangat. Namun, dia tidak menyangka kalau begitu mudahnya, orang yang dicintainya mengatakan hal yang dangkal, sebab dalam pikiran polosnya, Erlan putus asa.
“Win, aku nggak punya maksud apa-apa aku hanya ingin kamu bahagia, hidup adalah pilihan ... kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupanmu. Kamu punya banyak kelebihan untuk menutupi kekuranganmu, Win!”
Erlan berkata sambil berdiri juga dan menggenggam tangan istrinya.
“Jadi, aku kuatir kamu nggak akan bahagia dengan hidup seperti ini, Sayang,” Kata Erlan lagi.
“Jadi, kamu lebih memilih melepaskan aku, dari pada wanita itu?”
“Bukan ... bukan begitu, aku ingin hidup dengan kalian berdua karena aku tidak bisa melepaskan salah satu di antara kalian, tapi, aku bisa memberimu kebebasan untuk memilih.” Erlan kini memeluknya dengan erat seolah ingin menjadikan tubuh mereka menjadi satu.
Winsi menangis, dia ingat kalau ibunya, Runa, pernah memberinya sebuah harapan dan doa seorang ibu pada menantunya.
__ADS_1
“Win ... semoga bahunya sekuat bahu Ayahmu yang kuat menjadi tempat bersandar, punggungnya sekuat punggung Ayahmu hingga kuat menyangga beban, peluknya sangat pelukan Ayahmu hingga memberimu perlindungan.”
Namun, sepertinya Erlan terlalu rapuh, padahal dia hanya perlu waktu untuk diri sendiri, perlu waktu saat memberi kesempatan pada hati untuk menerima dengan lapang dada jika memang takdir membawanya harus berjalan sedemikian rupa. Dia heran, mengapa justru Erlan yang lebih dulu menyerah, bahkan usaha pun belum dia lakukan.
Di sisi lain, Erlan sekuat hatinya meredam kecewa pada bibirnya, yang bicara tidak sesuai dengan isi hati, padahal, saat ini pun tetap ingin mencintai Winsi. Dia tidak ingin kehilangan lagi.
“Dengar, aku belum menyerah, aku masih mau membantumu mengatasi Hanifa dan keluarganya. Jadi, jangan bilang seperti itu. Beri aku kesempatan, dan selama aku masih belum bisa menguasai hatiku sendiri, dengan apa yang akan aku putuskan nanti, biarkan aku sendiri.”
“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, maafkan aku.” Erlan berkata sambil melangkah pergi meninggalkan Winsi dan menutup pintu kamar rapat-rapat sebelum akhirnya pergi ke kamarnya sendiri.
Setelah Erlan menghilang di balik pintu, Winsi kembali menangis, tidur dengan berteman air mata, di mana air mata inilah yang kelak akan menjadi kekuatan setelah membasuh lukanya.
Dia tidak ingin kehilangan lagi.
*****
Winsi membeli beberapa es krim dalam jumlah banyak dan dia memasukkannya dalam kotak es kecil, yang sengaja dia beli dari uang jajan pemberian suaminya setiap hari. Dia tidak membutuhkan belanja dapur, karena semua kebutuhan rumah sudah dipenuhi Erlan melalui asisten kepercayaannya Neni dan Hasnu, hingga istrinya tidak perlu repot-repot mengurusi semua itu.
Namun uang jajan dari Erlan itu pun lebih dari cukup untuk membeli apa saja yang dia inginkan juga kebutuhan kuliahnya setiap hari.
“Kamu, mau?” Nih, ambil!
Ridwan mengambil satu buah es krim tanpa malu-malu, dan mereka keluar dari tempat itu secara bersamaan. Mereka melangkah ke arah yang sama pun secara bersamaan.
“Kamu mau ke mana, Win?” kata Ridwan sambil menjilat es krimnya.
“Ke rumah Hanifa, kamu tinggal di sekitar sini, Rid?”
“Iya. Rumahku melewati rumah Hanifa.”
“Oh. Berarti dekat, ya?” tanya Winsi.
“Iya. Kamu punya hubungan apa sama Hanifa?”
“Cuma teman lama.”
__ADS_1
“Baik, banget kamu, Win, nengok orang gila bawa es krim sebanyak ini?”
“Ya, buat persediaan, siapa tahu dia suka!”
“Hmm ....” Rindwan mengangguk, dia hampir menghabiskan es itu.
Seketika obrolan mereka terhenti karena Erlan mendekat secara tiba-tiba dan langsung meraih bahu Winsi dengan posesifnya.
“Sudah, beli?” tanyanya. Winsi pun mengangguk.
“Win, ada hubungan apa kamu sama dia? Jangan bilang dia pacar kamu yang ngirim coklat waktu itu! Dia suaminya Hanifa!”
“Ya. Aku suaminya juga!” kata Erlan setengah berteriak, dia sebenarnya kesal karena melihat istrinya terlihat asyik, berjalan berdua dengan seorang pria. Walaupun, tidak terlihat mesra atau dekat, tapi, dia tetap saja tidak suka.
Pagi tadi, mereka berangkat ke kampus bersama, Erlan yang sengaja mengantar dan menjemput istrinya dari kampus. Hal itu membuat iri beberapa teman kuliah yang sempat melihatnya dijemput, oleh mobil sport dengan seorang pria tampan di dalamnya. Walaupun banyak juga mahasiswa yang berpenampilan dan memiliki kekayaan seperti Erlan, tapi, tetap saja orang yang tidak memilikinya akan berdecak kagum dengan mereka.
Setelah hampir sampai di rumah Hanifa, Winsi meminta Erlan untuk mampir membeli es krim yang akan mereka nikmati bersama di sana.
Ridwan tercengang demi mendengar ucapan Erlan barusan, dia mengerti sekarang jika pria yang dikenal sebagai suami Hanifa oleh semua tetangga itu, ternyata adalah suami Winsi, teman kuliahnya.
“Kenapa, sih, pake bilang suamiku segala?” kata Winsi saat sudah sampai di rumah itu.
“Ya. Biar temanmu itu nggak godain kamu.”
“Apa kamu cemburu? Dia nggak godain aku, kok!”
“Aku nggak cemburu!”
“Lan, Kita nikah aja nggak ngundang orang banyak kerana kamu takut ketahuan keluarga Hanifa, kan? Ngapain sekarang kamu bilang-bilang orang kalau kita suami istri. Itu nggak perlu!”
“Memang dulu sih, begitu, tapi, sekarang nggak! Aku mau bilang ke semua orang, kamu ini istriku, biar nggak ada yang ganggu kamu, Win!”
“Cukup, Lan. Cukup!”
“Kenapa? Cukup apanya?”
__ADS_1
Bersambung