
Suara Yang Tercekat
Seketika Mery menghentikan motornya secara tiba-tiba dan dia menoleh ke arah Winsi dan juga Tania.
“Ih, kamu, Mer! Sembarangan berhenti mendadak, gila apa!” Kata Tania sambil menepuk pundak Mery.
“Hei, kalian ini ngomong terus soal suami orang! Udah ahk, berisik tahu. Lagian urusan siapa suami Hanifa, dia ganteng apa nggak, itu bukan urusan kita! Mubazir banget omongan kamu, Tan!”
“Iya, iya ustazah Mery!”
Sementara itu Winsi lebih penasaran dari sebelumnya dia memang diam dan tidak menyahut lagi ucapan Merry ataupun Tania hingga mereka berpisah di kampus masing-masing.
Obrolan antara dirinya dan Tania pada akhirnya membuat Winsi tidak fokus ketika pelajaran dimulai, bahkan dia tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh dosen di depan ruang karena pikirannya selalu sibuk kepada sang suami. Berulang kali dia melihat ke layar ponsel, untuk mengirim Erlan pesan dan melakukan panggilan secara sembunyi-sembunyi agar tidak dilihat oleh dosen. Namun, panggilannya tidak pernah tersambung.
Hal itu berlangsung sampai jam pelajaran usai, dia masih merasa tak enak dan juga, sakit hati rasanya padahal tidak sedang jatuh cinta. Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaan yang begitu gelisah, padahal sudah sejak semalam perasaan curiga itu hilang. Dia sudah lupa tentang masalah dengan Hanifa yang gila, setelah percintaan mereka.
Namun, semua secara tidak sengaja selalu tampak berkaitan, walaupun, Tania tidak mengatakan siapa suami Hanifa, dia merasa cemburu karena Erlan memang tampan dan dia kuatir kalau pria yang dikatakan Tania itu adalah benar, suaminya.
Apakah semua ucapan Mery tentang perasaan seorang pria itu benar? Ya, saat sebelum menikah dulu Erlan begitu penasaran, dialah yang selalu menghubungi Winsi dan mengirim pesan dan panggilan sebanyak puluhan kali tapi, sekarang setelah mereka sudah menikah keadaan seolah berbalik. Saat Winsi menghubungi Erlan tadi, walaupun, sudah puluhan kali, dia tidak menjawabnya.
__ADS_1
Mungkin semua yang dikatakan Merry bahwa ketika seorang pria menikah, maka, cintanya akan hilang hampir separuh dari rasa cintanya sebelum sah menjadi suami istri, itu benar.
Sepulang kuliah, Winsi melajukan motor maticknya ke arah yang berbeda dari arah rumahnya. Gadis itu tidak memikirkan keadaan dirinya sendiri yang dalam keadaan tidak fokus. Beberapa kali dia hampir menyerempet pengendara lain di jalan.
Sampai di jalan yang mengarah ke rumah Hanifa, Winsi menepi dan menghentikan motornya, dia turun lalu, duduk di kursi taman yang kebetulan ada di bawah pohon. Dia merenung dan kembali memikirkan tindakan yang sebaiknya dia lakukan untuk mengatasi rasa penasarannya.
Sungguh dia tidak bisa membiarkan hal yang berkaitan dengan suaminya. Soal Erlan pasti berhubungan juga dengan dirinya, bukan orang lain. Dia sudah menyerahkan diri dan menggantungkan nasib serta masa depan pada Allah juga suaminya itu, mereka sudah mengikat sebuah janji untuk menunaikan ibadah pernikahan ini bersama. Winsi terlihat menarik napas dalam beberapa kali, sebelum memutuskan untuk pulang dan memasrahkan diri sepenuhnya pada Allah.
Namun, baru saja dia hendak berbalik, dia melihat sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi ke arah rumah Hanifa. Ada seorang pria berpakaian perawat mengendarai mobil yang sama, yang dipakai Erlan setiap hari, membuat Winsi kembali terusik dan pada akhirnya dia menaiki motornya untuk mengikuti arah mana mobil itu pergi.
Benar saja, mobil itu terparkir di halaman rumah yang sama, yang pernah dia lihat beberapa hari yang lalu. Dia menepikan kendaraan di tempat yang aman, di depan sebuah toko kecil dan dia sudah meminta izin menitipkan kendaraannya di sana
Winsi berjalan mendekati ke rumah Hanifa secara perlahan dan hati-hati tanpa melepaskan helmnya, demi mendapatkan informasi yang jelas dan akurat, bukan informasi berdasarkan kata orang atau pun pendengaran saja, melainkan berdasarkan bukti yang nyata.
Demikian pula dengan Erlan, Winsi merasa curiga karena kejadian demi kejadian yang dia lihat selama beberapa hari ini.
Tidak lama setelah itu, Winsi melihat seorang pria yang tidak dia kenal itu masuk sambil membawa bungkusan yang berisi makanan juga obat-obatan. Pria itu terlihat begitu letih juga pakaian pitihnya pun sedikit kotor.
Rumah yang ada di hadapan Winsi adalah rumah yang berukuran besar tapi tampak tidak terawat, bercat biru muda dengan beberapa tenamannya yang hampir mati, ada beberapa jendela besar dan kecil di bagian depan, ada juga garasi yang cukup luas.
__ADS_1
Winsi memasuki celah pagar yang terbuka dan dia mencoba bersikap biasa seolah dirinya adalah seorang tamu yang hendak datang berkunjung. Dia tahu kalau bersikap mengendap-endap, justru akan terlihat mencurigakan secara naluri, jika dilihat letak perumahan yang berada di kompleks yang cukup ramai. Bagaimana kalau orang melihatnya tengah mengintip, bisa-bisa dia akan dituduh melakukan pencurian.
Saat Winsi sampai di dekat jendela, dia mendengar suara teriakan keras disusul sebuah tangisan dari seorang wanita yang memilukan. Jantung Winsi sudah berdetak begitu kencang setelah mendengar suara yang sangat dia kenal, mengatakan sesuatu dengan teriakan pula, meminta wanita yang menangis itu tenang.
Demikian bersahutan antara suara teriakan seorang wanita, di susul teriakan seorang pria.
“Aaa.... Aku nggak mau!” begitu suara itu terdengar sambil menangis.
“Kau harus minum, kalau mau sembuh, tahu?” kata seorang laki-laki yang mirip dengan suara Erlan.
“Aku nggak mau! Nggaaaak!” kembali terdengar suara tangisan kini jauh lebih keras.
“Harus!” pria itu pun berteriak lebih keras juga.
Winsi menarik napas lagi kini dengan tarikan yang lebih dalam, lalu menghembuskan secara perlahan. Dia memejamkan mata sambil membaca basmalah berharap apa yang dilihat dan didengar tidak seperti yang dia kira.
Secara perlahan dan hati-hati dia menengok sisi jendela kamar yang terbuka. Dia melihat sedikit demi sedikit memajukan kepala agar tidak terlihat secara jelas.
Lalu, seketika tatapan Winsi berubah nanar, matanya basah karena air tiba-tiba keluar dari sana. Sementara tubuhnya bergetar hebat, demi apa yang dilihatnya saat itu. Darahnya seolah bergolak dalam nadinya sampai ke ubun-ubun terasa panas, hatinya bagai dianyam dengan ribuan jarum, sedangkan dadanya sesak bahkan sakit di ulu hati dan tembus sampai ke punggung hingga keringat membasahi setiap inci kulitnya yang putih.
__ADS_1
“Erlan!”
Bersambung