Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
38. Si Anak Buluk


__ADS_3

Si Anak Buluk


Runa dan Winsi menoleh ke arah bola basket yang dipantulkan dan melihat Erlan yang tengah melakukan pemanasan. Kedua wanita itu saling tatap lalu, Runa membelai kepala anaknya dengan lembut.


“Kalau kamu merasa tidak berarti saat ini, bukan berarti kamu tidak berarti bagi orang lain,” katanya sambil menghela napas panjang. “Bisa jadi kamu kecewa karena Bapak tidak menghargaimu tapi, kamu harus tahu kalau masih ada orang lain yang menghargai mu lebih dari Bapak.”


Mendengar ucapan ibunya, Winsi menoleh pada ibunya kembali dan berkata dalam hatinya, ‘Dia memanggilku Buluk, itu yang ibu bilang lebih menghargaiku? Awas kau, Lan!’


“Ayo ... olah raga sama Erlan, dia setiap hari nanyain kabarmu pada Ibu, kayaknya dia pengen kamu keluar kamar, kasian dia gak punya teman. Alhamdulillah keluarga ini mau menerima kita dengan baik, Kakeknya Erlan juga. Dia baik sama ibu. Kamu belum pernah ketemu dia kan? Anggap saja dia kakekmu sendiri ....” kata Runa sambil menatap Winsi yang juga masih menatapnya dengan tatapan yang rumit.


Gadis itu bangkit meninggalkan ibunya tanpa sepatah kata pun, dia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya, lebih acuh dari biasanya dan, tatapan matanya selalu menyorotkan hati yang begitu terluka, bahkan dia tidak tahu bagaimana kelak akan memulai sekolahnya. Dia terlalu malu untuk menatap wajah semua orang.


Arkan sudah memberi kabar kepada pihak sekolah atas apa yang terjadi pada Winsi dan meminta ijin sampai gadis itu siap kembali ke sekolah. Dia sengaja menahan Runa dan Winsi di rumahnya sampai semua masalah selesai dan, gadis itu bisa lebih tenang.


Berulang kali Runa meminta izin untuk pindah dan menyewa rumah sendiri, tapi dia tidak rela untuk melepaskan ibu dan anak itu pergi, sebab kehadiran mereka secara tidak langsung membuat suasana sepi di kediaman mereka berubah. Dia sadar Runa begitu menjaga diri dan tidak menunjukkan perasaan lebih padanya, tapi dia berharap mereka tetap mau tinggal di sana.


Perhatian dan kasih sayang Runa pada Erlan membuat hatinya menghangat, wanita itu bagai peri yang dikirim Tuhan untuk memberi sentuhan seorang ibu. Memang ada istri Hasnu sebagai wanita yang merawat anaknya sejak kecil, yang juga memberi banyak perhatian padanya tapi, rasanya tetap saja berbeda.


Sementara Winsi sudah berada di dekat Erlan, menatap sinis padanya, membuat laki-laki itu bergidik. Tidak pernah melihat tatapan sedingin itu dari Winsi yang selama ini dia tahu sangat lembut dan pendiam. Dia seperti menjelma menjadi orang lain saat ini, apakah untuk selamanya? Erlan menggelengkan kepala, dia sudah sangat senang gadis itu mau keluar dari kamarnya.


“Kamu bisa main Basket?” tanya Erlan tenang.


“Nggak!”


“Kalau badminton?”


“Nggak!”


“Karate?” Erlan bertanya kembali dengan kerutan alis yang semakin dalam.


“Nggak!”


“Bohong!”

__ADS_1


“Nggak!”


“Bisa ngomong lain selain, nggak?” kata Erlan seraya menghadap tepat di hadapan Winsi dan berkacak pinggang.


“Nggak! Sekarang aku tanya sama kamu Lan. Memang bener kamu mau olah raga bareng Si Anak Buluk ini?" Winsi berkata sambil menunjuk dirinya sendiri, setelah itu Winsi melangkah ke arah rumah dan kembali meringkuk di kamarnya. Sepertinya dia tidak peduli berada di rumah siapa pun, dia tetap akan bersikap sama.


Melihat sikap Winsi, membuat Erlan menyimpulkan bila gadis itu belum siap ke sekolah. Dia seperti peri kecil yang di kirim Tuhan dengan sengaja untuk menyusahkannya! Akan tetapi, apalah daya, dia satu-satunya teman yang dianggapnya ada dilingkungan rumahnya.


Dahulu Erlan sering melihat Winsi kecil saat dia mulai dibolehkan bersepeda di jalan. Anak gadis itu terlihat sangat lucu dengan pita warna-warni menghiasi rambutnya, dia tampak kelelahan mengikuti langkah dan menggandeng tangan ibunya yang tengah berjualan keliling kompleks.


Erlan kecil selalu dalam pengawasan Neni--istri Hasnu, sang pengasuh yang dianggap sebagai ibunya. Wanita itu selalu membeli dagangan Runa sehingga mereka sering berjumpa. Kedua anak itu tidak dekat apa lagi akrab, tapi karena mereka sering bertemu, membuat Erlan menganggap Winsi adalah teman.


Kejadian seperti itu terus berulang, hingga tiga dua tahun terakhir, Runa memilih berjualan di perempatan jalan sehingga Erlan tidak bisa lagi sering bertemu, dengan Winsi karena Gadis itu tidak harus ikut berkeliling dengan ibunya.


Erlan menjadi tidak bersemangat untuk melakukan kegiatannya setelah melihat Winsi tidak berminat. Dia melangkah melewati kamar tamu yang pintunya terbuka. Dia heran mengapa perempuan itu tidak pernah menutup pintu saat dia tengah tidur, bahkan di malam hari.


Cukup hati-hati Erlan mencoba menutup pintu, hampir tanpa suara karena dia melihat Winsi tengah meringkuk seperti bola.


Klik!


Erlan terperangah melihat Winsi menangis sambil berjongkok di sisi pintu yang baru saja terbuka. Wajah gadis itu begitu nelangsa seperti baru saja melihat hantu menyeramkan yang akan mencekiknya. Separah itukah traumanya?


Erlan tahu sedikit tentang apa yang di alami Winsi dari ayahnya, tapi dia tidak menyangka akan seperti ini akibat yang ditimbulkannya.


‘Astaghfirullah!’ pekik Erlan dalam hati.


“Maafkan, aku!” Erlan berkata dengan panik. Dia berlutut sambil menatap Winsi lembut, ingin rasanya memeluk dan menghapus air matanya tapi, tidak bisa.


Tiba-tiba Winsi melihat Erlan dengan wajahnya yang masih bersimbah air mata penuh kebencian lalu, mendorongnya kuat hingga remaja itu terjengkang ke belakang.


Runa, Hasnu dan Neni yang kebetulan tengah berada di dapur, telah berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Mereka segera meminta Erlan menjauh dan dua wanita dewasa lainnya memeluk serta menenangkan Winsi hingga Buberhenti menangis.


*****

__ADS_1


Sudah lebih dari tiga pekan Runa dan Winsi berada di rumah besar dan, selama itu pula tak segan-segan Runa bersikap seperti layaknya seorang pelayan. Semua itu ia lakukan demi menebus balas budinya pada Arkan karena sudah mengizinkannya tinggal bersama anaknya tanpa imbalan.


Sejak kejadian Erlan yang menutup pintu, tidak ada lagi para pria yang berani mendekati Winsi karena Arkan melarang, terutama anaknya. Anehnya hanya pada dirinya, Winsi tidak ketakutan jika berpapasan.


Namun berbeda dengan hari ini, anak itu berjalan sendiri, menghampiri Anas yang sedang membersihkan rumput di pekarangan belakang rumah besar. Pria itu tampak terkejut dan gugup melihat Winsi berdiri di belakangnya.


“Om, yang namanya Anas, kan?” tanya Winsi dengan suara gemetar sambil menatap pria berpakaian sederhana dilengkapi sebuah topi besar di atas kepalanya.


Anas berdiri dengan tenang, setelah menguasai diri dari kegugupan. Dia tahu soal pasangan ibu dan anak itu. Cerita tentang anak gadis yang ditolong majikannya sudah tersebar di kalangan para pelayan, sopir dan pekerja lainnya hingga larangan mendekati Winsi pun didengarnya pula.


“Iya, Neng?” Jawab Anas sambil meletakkan alat pembersih di tangannya.


“Apa Om sudah kenal lama dengan Ibuku?” Winsi menatap tajam saat bicara.


Sementara itu, beberapa pasang mata mengawasi keduanya. Apa yang dilakukan Winsi adalah sebuah perkembangan bagus. Terapi traumatis dari seorang ahli yang dibayar Arkan sudah menunjukkan perkembangan.


“Oh, itu ... sudah, Neng. Sudah lama.”


“Sejak kapan, apa sejak Ibu saya hamil?”


Pertanyaan Winsi sungguh di luar perkiraan, Anas sama sekali tidak tahu ke mana arah pertanyaan gadis ini. Dia pertama kali mengenal Runa saat baru saja keluar dari area sekitar pasar, beberapa tahun yang lalu. Kebetulan kawasan terminal bis berdekatan dengan pasar tradisional.


Waktu itu dia baru saja datang ke sana untuk memenuhi panggilan Hasnu—temannya yang menjadi sopir pribadi Erlan dan Badru. Pria itu memintanya menjadi tukang kebun di sana.


Dia menyangka Runa adalah seorang wanita yang dikenal. Oleh karena itu, Anas memanggilnya dengan sebutan orang yang salah lalu, Runa membantahnya. Saat itulah mereka berkenalan. Tidak di sangka mereka tinggal di tempat yang berdekatan hingga setiap kali bertemu, mereka terkesan akrab layaknya seorang teman. Wajah wanita itu selintas tampak mirip dengan temannya yang pergi entah ke mana, dia menyukainya tapi, setelah mengetahui jika Runa sudah menikah, dia tidak berani mendekatinya.


“Oh, bukan ... saya kenal Mbak Runa baru sekitar empat tahun yang lalu, kamu masih kecil. Masa kamu nggak ingat waktu itu, di pasar dekat terminal?”


Winsi mencoba mengingat peristiwa yang disebutkan oleh pria ini tapi, sekeras apa pun dia berpikir tetap tidak bisa mengingatnya. Akan tetapi, dia menyimpulkan, bahwa Anas, yang dimaksud bapaknya bukanlah Om Anas yang ada di hadapannya saat ini.


Winsi tersenyum kecut, dia seperti mengejek dirinya sendiri, rupanya nama Anas yang disebuta bapak masih akan menjadi teka-teki.


“Om kenal sama Bapak? Apa Bapak saya galak setiap ketemu sama Om? Bapak bilang, saya anaknya orang bernama Anas!”

__ADS_1


“Wiwin!”


Bersambung


__ADS_2