Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
54. Itu Bukan Cinta


__ADS_3

Itu Bukan Cinta


 


“Untuk apa aku membelikan apa-apa, kamu merasa sudah memiliki semuanya, kan?” Sahut Arkan.


‘Yang nggak bisa aku miliki itu, cinta kamu, Arkan!’ batin Saina.


Melihat Saina diam saja dengan raut wajah yang ditekuk, Arkan membenahi duduk dengan menegakkan punggungnya lalu, memberi isyarat pada Erlan untuk pergi.


“Ayo pergi main lagi sana, tinggalkan kami berdua,” kata Arkan lalu, melihat ke arah Saina dan memintanya untuk duduk.


Wanita itu pun duduk di hadapan Arkan dengan anggun sambil menyilangkan kedua kakinya. Dia tersenyum dan berharap Arkan kini akan memberikan apa yang dia inginkan, yaitu sebuah tawaran untuk menjadi istrinya.


Arkan menarik napas dalam dan mulai bicara setelah Winsi dan Erlan berlalu dari hadapannya.


“Apa benar tadi kamu mencoba menjebakku dengan minuman itu?”


“Siapa yang menjebakmu, minuman apa maksudmu?”


“Apa kamu pikir aku bodoh dan, kamu masih berpura-pura tidak tahu?”


“Arkan ... Maafkan aku, kumohon ... aku benar-benar terpaksa, aku putus asa untuk mendapatkan cintamu, Ar!”


“Tapi, yang aku lihat kamu tidak sungguh-sungguh mendapatkan cintaku kecuali, hanya ingin tidur bersamaku. Iya, kan?”


“Arkan! Aku tidak serendah itu!”


“Kalau memang begitu kenapa kamu memberi racun di minumanku? Kalau memang kamu cuma mau tidur denganku, Ayo! Lakukan sekarang juga!”


Akan berkata sambil berdiri dia melepas jas yang dari tadi belum sempat dia lepaskan sejak pulang dari kantor. Kemudian dia melepaskan dasi dan melemparkannya di hadapan Sania lalu, membuka kancing kemeja bagian kerah dan turun satu persatu.


“Arkan, hentikan!”


“Apa? Sekarang kamu mau mundur setelah aku mau melakukannya denganmu? Kamu aneh sekali ...”


“Dari mana kamu tahu aku meracunimu dengan minuman itu?”

__ADS_1


“Awalnya aku tidak tahu tapi, setelah Winsi menumpahkannya ,aku melihat cairan kopi yang tumpah berbusa seperti kamu memberi sabun, pasti kau menaburkan sesuatu ke dalamnya, iya, kan?”


“Arkan ... Aku sungguh-sungguh aku terpaksa, mengertilah aku mencintaimu.”


“Apa seperti itu cinta, kamu melakukan semua yang kamu inginkan tanpa memikirkan orang yang kamu cintai? Bukan ... yang kamu lakukan itu bukan karena mencintaiku tapi, kamu mencintai dirimu sendiri!”


Saina menjadi serba salah karena selama ini Arkan jarang sekali berbicara padanya sehingga dia tidak tahu apa yang disenangi dan apa yang tidak disukainya. Wajar kalau kemudian dia menjadi salah paham dan akhirnya melakukan tindakan yang gegabah. Bahkan sekarang justru menyudutkannya.


Namun, sekarang dia melihat sendiri bagaimana pria itu begitu marah padanya, bagaimana tidak marah kalau dia tahu bila dirinya hendak dicelakai dengan cara yang menjijikkan?


Arkan meminta Saina untuk pergi, tapi, Gadis itu terus memohon agar Arkan memaafkannya


“Pergi dari rumah ini, adalah cara terbaik agar aku memaafkanmu.”


“Tapi, Ar! Aku minta maaf sama kamu, karena aku masih ingin tinggal sama kamu di sini, Ar ....” Sania memohon sambil mendekat ke arah Arkan, lalu, bergelayut manja di lengannya.


“Kamu minta maaf itu biar perasaanmu baik-baik saja, kan?” kata Arkan sambil menaikkan alisnya. Dia tahu bahwa dengan Saina meminta maaf, belum tentu akan merubah sikapnya. Sebab meminta maaf adalah cara agar orang yang berbuat salah bisa merasa lebih baik, itu saja.


Saina hanya bisa diam tanpa bisa menjawab lagi ucapan Arkan.


Badri mendengarkan dengan saksama dan merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Sania, itu perbuatan yang memalukan dan tidak bisa dimaafkan. Walaupun, memang tidak ada yang celaka akibat dari perbuatannya, tapi perbuatan memalukan itu tetap harus ada konsekuensinya.


Saina akhirnya pergi dari rumah besar karena keinginan Badri dan disetujui oleh semua orang. Arkan sangat berterima kasih pada Winsi karena dia berhasil menggagalkan rencana Saina yang ingin menjerumuskan Arkan.


Baik Winsi maupun Erlan yang tengah berada di halaman dan bermain dengan si monyet Ismi, melihat kepergian Saina dengan perasaan yang campur aduk antara senang sekaligus kasihan. Terlihat Saina menyeret koper sambil melirik kedua remaja itu dengan muka masamnya.


Arkan tiba-tiba mendekat dan berdiri di antara Winsi dan anak lelakinya. Pria itu mendekati Winsi dan berbicara dengannya tanpa melihat ke arah Erlan.


“Tinggalah di sini, lagi ...” pinta Arkan pada anak kecil itu, tapi, Winsi menolak dengan lembut.


“Terima kasih Ayah, aku senang tinggal di sini tapi, Ibu ada sendirian, kasihan dia kesepian.”


“Ibumu sudah besar tidak perlu ditemani lagi.”


“Ayah juga sudah besar, tidak usah ditemani hehe ....” Winsi tertawa kecil membuat Arkan pun tertawa sambil menepuk-nepuk kepalanya lembut.


“Ya, sudah, aku tidak akan memaksamu, sekali-kali saja menginap di sini. Ayo! Ayah antar pulang.”

__ADS_1


“Oke,” kata Winsi sambil mengikuti langkah Arkan keluar rumah, mengabaikan Erlan yang menatap interaksi antara ayahnya dan Winsi dengan tatapan mata yang rumit.


Dalam perjalanan, Winsi menjelaskan alasan sebenarnya bila dia tidak akan tinggal di rumah besar itu lagi karena Runa melarangnya. Ibunya itu beralasan bahwa tinggal di rumah seseorang tanpa adanya ikatan kekeluargaan dan juga, ikatan lain seperti pernikahan maka itu tidak bagus.


Akan tetapi, bila bertamu boleh menginap, itu pun tidak boleh lebih dari tiga hari kecuali, ada alasan tertentu yang mendesak. Maka lebih dari itu tidak baik.


Boleh saja tinggal dalam satu rumah dengan orang yang bukan mahram, jika ada unsur yang bisa memakluminya misal, menjadi orang tua asuh bagi anak yatim piatu, atau asisten rumah tangga. Namun, Winsi bukan tergolong anak yatim piatu yang harus ditampung di rumah besar itu atau karena dia miskin, duafa, bukan juga pembantu rumah tangga.


Dia tidak memenuhi syarat untuk tinggal di rumah itu, oleh karena itu Runa memintanya untuk tetap tinggal bersamanya sebagai pelipur lara.


“Ibu tidak punya siapa-siapa selain aku, Ayah. Jadi, mengertilah. Mungkin aku juga tidak bisa sering-sering ke sana.”


“Tentu. Tidak masalah, itu pendapat ibumu, aku menghargainya.”


 


****


Hari demi hari berlalu, tanpa terasa tiga tahun sudah berlalu, dan sekarang hari pergantian kelas di mana Winsi sudah lulus sekolah dan dia menerima ijazah dengan hati gembira karena nilai yang dia peroleh cukup memuaskan.


“Win, kamu mau nerusin sekolah di mana?” tanya Nia, teman akrabnya yang bertubuh gemuk itu, dia masih saja gemuk walau sudah selama tiga tahun menguras otak memikirkan pelajaran.


“Aku mau nerusin ke ... kalau kamu mau ke mana?”


“Aku mau ke sekolah asrama, kamu mau ke mana? Jawab dulu pertanyaanku, dong!”


“Aku, mau ke ....”


“Hai! Win! Sini kamu?”


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2