Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
12. Tentang Selingkuh


__ADS_3

Tentang Selingkuh


 


“Kamu ini beneran bodoh, ya. Masa nggak ngerti maksudku?” Basri diam sejenak, dia memperbaiki posisi duduknya, lalu kembali berkata, “kalau kamu memang suka sama laki-laki itu, kamu bisa selingkuh dengannya. Tapi ingat, kamu harus sering-sering memanfaatkan dia kalau kamu mau perbuatan bejat kamu itu tetap aku rahasiakan.”


Setelah berkata demikian, Basri menyeruput kopinya, menatap istrinya dengan tatapan mengejek, menunggu Runa bicara. Namun, wanita itu hanya diam, tidak menunjukkan perlawanan atau mengomeli dirinya seperti biasanya. Ya, Runa sering kali protes atau berceramah tentang agama dan kebaikan bila Basri mengatakan keburukan seperti yang saat ini dia lakukan.


Diamnya Runa bagi Basri adalah menyetujui atau takut mendapatkan tamparan lagi. Dia ringan tangan dalam hal apa pun masalah yang mereka hadapi, apalagi bila wanita itu melindungi Winsi dari kemarahannya, akan membuat pria itu semakin marah dan melampiaskan emosi padanya.


Runa menatap wajah suaminya yang terlihat lelah itu, sambil menahan geram. Akhir-akhir ini, menurutnya Basri semakin menyebalkan. Bahkan saat dia mengumpankan istrinya sendiri demi sesuatu yang menguntungkan. Wanita itu hampir tidak bisa mempercayainya, bagaimana mungkin ada suami yang berpikiran begitu berdosa, mengizinkan istrinya berbuat Zina?


Dia tidak akan melakukannya, walaupun Basri akan menyiksa atau membunuhnya. Mereka seorang muslim yang harus menjunjung tinggi ajaran agamanya yang mengharamkan zina, tapi Basri justru berniat menjadikannya umpan. Ah, yang benar saja.


Sudah sekian lama Runa berusaha menabung untuk modal usaha bila dia suatu saat berpisah dari suaminya, tapi uang yang dimilikinya belum cukup. Dia sudah bertekad suatu saat meninggalkannya, tapi tidak sekarang, dia belum kuat secara finansial.


Tidak mungkin baginya untuk mengandalkan orang lain bila dia bercerai dari suaminya yang semakin hari semakin kasar. Dia masih menabung, agar uangnya cukup besar untuk menyewa tempat dan memulai usahanya.


Dahulu, dia berpikir positif, berkhusnuzon bila kebiasaan buruk Basri akan berubah suatu saat nanti. Akan tetapi, yang dia rasakan sekarang adalah hal yang berbeda, justru suaminya lebih buruk dari sebelumnya.


“Aku nggak akan berbuat seperti itu, Pak. Itu haram, siapa tahu dia juga punya istri. Aku nggak akan menyakiti hati istrinya dengan menyelingkuhi suaminya. Tidak. Silakan kamu mau pukul atau bunuh aku juga gak apa-apa, tapi aku nggak mau begitu!” Runa akhirnya menjawab, sambil berdiri dan melangkah meninggalkan Basri.


“Nggak usah sok suci, kamu padahal, belajar agama saja belum bener. Aku tahu dia atau kamu ada yang jatuh cinta.”


Mendengar ucapan suaminya, Runa membalikkan badan dan kembali berkata, “Jangan berprasangka buruk, Pak. Aku sama dia sama-sama sudah nikah.”


“Terus kenapa kalau sudah nikah, banyak kok orang sudah menikah tapi masih suka sama perempuan lain. Allah juga membolehkan pokigami.”

__ADS_1


“Tapi itu orang lain, Pak. Bukan aku ....”


“Awas kalo kamu ketahuan lagi sama laki-laki itu, aku ceraikan kamu, biar jadi gelandangan!”


“Terserah kamu mau ngomong apa.”


Runa menuju dapur dan menyiapkan makan malam untuk keluarganya, dia tetap melakukan kewajibannya dengan baik, walau suaminya tidak berlaku baik, sejak dirinya melahirkan Winsi. Sebanyak apa pun dia menjelaskan bahwa Wansi adalah anaknya, Basri tidak pernah percaya.


Tidak ada yang salah, dengan kejadian di mana Basri memergoki Runa tengah berada di kamar dengan lelaki asing yang baru  menjadi penduduk kampungnya. Pria itu melihat Runa yang berjalan terhuyung-huyung, sambil membawa keranjang dagangannya.


Tanpa Runa sadari, pria itu berjalan di belakangnya, mencoba melindungi tanpa ingin diketahui. Benar saja, beberapa waktu kemudian, wanita itu hampir terjatuh dikarenakan kakinya lemah seperti tak bertulang dan dengan sigap pria itu menangkap tubuh lemah itu dalam dekapannya.


“Rumahmu, di mana? Biar saya antar.” Kata pria itu sambil memapah Runa berjalan, dia bertanya karena melihat bahwa wanita itu tidak pingsan, melainkan lemas.


Runa khawatir terjadi fitnah dari masyarakat bila melihat keadaannya dan pria itu yang tengah dalam posisi mirip orang berpelukan. Oleh karena itu, sekuat tenaga dia berusaha bangkit dan berjalan sendiri. Namun, sekuat apa pun dia mencoba, tubuhnya tetap tidak bertenaga.


Akhirnya Runa menunjukkan di mana rumahnya yang berjarak tidak terlalu jauh dari sana. Pria itu pun segera membawa Runa dalam gendongannya hingga, sampai di pintu rumahnya.


“Ya Allah, mbak Runa ... mbak kenapa?” Tanya perempuan itu.


“Maaf, Bu. Apa ada dokter atau bidan di sekitar sini? Saya tadi menemukan ibu ini hampir pingsan di jalan.” Kata pria itu.


“Oh, ada bidan tidak jauh dari sini.”


“Kalau begitu, bisa Ibu panggilkan ke sini?”


Tanpa menunggu jawaban dari tetangga Runa, pria itu membawa Runa masuk dan menidurkannya di sofa. Dia bersikap menjadi penolong profesional, dengan memberikan Runa minum air mineral setelah dia berbaring dengan nyaman.

__ADS_1


“Kamu, tinggal sendiri?” tanya pria itu. Runa hanya menggeleng menanggapinya, dia belum menyadari dengan yang terjadi pada dirinya yang seolah-olah terlalu lemah hanya untuk bicara.


“Sama siapa, suami?”


“Hmm ....”


Pria itu berjalan keluar rumah, mencari ibu-ibu yang dia mintai pertolongan, saat dia tiba di pinggir jalan, dua orang perempuan yang tampak seperti seorang bidan dan tetangga yang tadi, berjalan mendekat.


“Kamu siapanya mbak Runa?”


Bidan itu bertanya sambil berjalan memasuki rumah Runa. Pria itu mencerna pertanyaan Bidan dengan hati-hati, dia tahu harus menjaga harga diri wanita yang telah ditolongnya.


“Jadi, nama perempuan itu Runa?” jawab pria itu sambil tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Saya bukan siapa-siapanya.”


Setelah bidan berada di dalam dan duduk di sisi Runa, pria itu menceritakan kejadian yang dialami Runa. Setelah selesai bercerita, pria itu keluar untuk memberi kebebasan bidan melakukan pemeriksaan.


“Mbak Runa, kemungkinan hamil. Jadi untuk lebih yakin lagi, beli alat tes kehamilan saja,” kata Bidan itu sambil memberi beberapa obat dan vitamin yang bisa dikonsumsi Runa.


“Wah ... mbak Runa hamil? Alhamdulillah.” Kata ibu-ibu tetangga Runa. Wajahnya tampak sumringah, ikut bahagia dengan kebahagiaan tetangganya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, bidan perempuan mendekati pria itu dan memintanya memindahkan Runa di kamarnya agar bisa beristirahat dengan nyaman. Tubuhnya sangat lemah sedangkan suaminya pergi bekerja dan jauh dari rumah, tidak ada yang akan membantunya.


Pria itu menuruti permintaan Bidan dan menggendong serta membawa Runa dalam kamar. Di saat yang sama, Basri memarkirkan mobil truknya dan melihat ada orang lain di rumahnya, dia pun bergegas masuk.


 


Bersambung

__ADS_1


“Jangan lupa like, komen, give dan votenya ya....”


 


__ADS_2