
Apa Kamu Percaya
Hasnu yang mendengar perintah itu melirik Erlan dan anak remaja itu mengangguk, dia tahu tidak bisa membujuk Winsi apalagi memaksanya untuk tetap tinggal bersama mereka di rumah besar. Ada keengganan yang nyata jika kembali ke sana dan semua itu karena Saina.
Melihat tingkah laku Winsi dan setelah mendengar semua alasannya pergi dari rumah Arkan, membuat Runa pun terdiam. Dia setuju saja atas keinginan gadis itu sebab, biar bagaimanapun juga dia adalah darah dagingnya dan dia masih sanggup membiayai sekolahnya.
Erlan menghabiskan minuman es tehnya, lalu mengeluarkan dompet hendak membayar, saat itu juga Wansi duduk di hadapannya sambil menopang dagu. Dia menatap Erlan lekat dengan wajah polos seperti biasanya.
“Gimana es buatanku, enak?” Tanya Winsi sambil menaikkan alis sedangkan bibirnya tersenyum mirip seringaian.
“Hmm ...” Erlan berlagak berpikir sambil memalingkan pandangannya dari gadis kecil itu, lalu, menjawab, “Lumayan!”
Mendengar komentar Erlan, Winsi mencebik, lalu, berkata, “Ya, Sudah. Es teh itu gratis. Gak usah dibayar!” Kata Winsi sambil bersungut-sungut dan berlalu pergi.
‘Memangnya, apa salahku, sih? Kok dia begitu, aneh’ batin Erlan. Dia tetap menyimpan uang lima puluh ribu di meja depan warung.
Erlan berdiri, sambil melirik ke arah di mana tadi Winsi menghilang, lalu berpamitan pada Runa yang duduk di dalam warung sambil membereskan dagangannya.
“Erlan,” kata Runa setelah berdiri berhadapan dengan Erlan, semntara Hasnu dengan sabar dan setia menunggu tidak jauh dari kedua orang itu.
“Ya, Tante.” Erlan menyahut panggilan Runa dengan lembut, entah mengapa dia lebih suka bila ayahnya berpasangan dengan Runa dari pada dengan Saina.
Wanita itu lemah lembut dan sopan serta dia sangat memahami norma agama, saat dia berada di rumahnya, Wanita itu tidak bosan menasihati dan menceritakan beberapa kisah heroik para nabi yang belum pernah di dengar Erlan. Dia lebih mirip ibu sejati dari pada Saina yang terlalu genit menurutnya.
“Tante minta maaf atas nama Winsi, sepertinya dia terganggu dengan kerabat ayahmu. Tidak masalah dia di sini, kalau nanti dia sudah mau sekolah, Tante kirim kabar deh, biar kamu bisa jemput dia berangkat sekolah, gimana?”
Mendengar penuturan Runa, Erlan tersenyum lebar, dia setuju dengan keputusan itu karena dia masih bisa pulang dan pergi bersamanya. Jadi, tidak masalah selama dia masih bisa menjaga peri kecil bulukan yang dulu saat masih Taman Kanak-kanak, dianggapnya lucu.
“Baik, Tante. Saya tunggu kabarnya, mudah-mudahan dia besok sudah mau sekolah lagi.”
‘Apa Tante tahu kalau anaknya punya geng di sekolah?’ batin Erlan sambil berlalu menuju mobilnya diikuti Hasnu setelah pria itu menunduk hormat pada Runa.
Malam harinya, saat Runa baru saja selesai menutup warung dan membersihkan diri, Arkan datang berkunjung. Mereka duduk berhadapan di ruang sebelah yang sengaja dikosongkan untuk menerima tamu dan menyimpan beberapa kursi kayu.
“Ini untuk Winsi.” Arkan berkata sambil memberikan sebuah kotak berisi sebuah ponsel baru, dia menyimpan kotak itu di atas meja yang memisahkan antara dirinya dan Runa.
“Apa ini, Pak?”
“Ini hp, dan jangan panggil aku Pak.”
“Kenapa, kamu memang sudah bapak-bapak,” sahut Runa seraya tersenyum tipis. Dia melihat antara Arkan dan kotak ponsel secara bergantian.
“Sekarang Cuma ada kita berdua. Jadi, nggak panggil nama saja ... apa kamu memang sudah lupa sama pertemanan kita dulu?”
__ADS_1
“Buat apa inget terus sama masa lalu, nggak enak. Apalagi semua orang punya masa lalu.”
“Kamu pasti tahu, kan kenapa Wiwin pulang?”
“Ya. Aku tahu, nggak apa dia pulang saja, ini rumahnya, barang-barangnya juga sudah di bawa Pak Hasnu tadi.”
“Aku minta maaf buat Winsi atas nama Saina.”
“Oh, jadi namanya Saina, dia calon istrimu?”
“Bukan. Cuma teman biasa saja, tapi ayahku yang ingin menjodohkannya sama aku.”
“Oh. Ya, sudah ... aku doakan saja pernikahan kalian lancar ... kata Wiwin, dia wanita yang cantik.”
Arkan terdiam, dia melihat Runa lekat, sementara wanita yang dilihat cuek saja sambil melihat dan membongkar isi kotak. Pria itu merasa dia lebih nyaman bila berdekatan dengan Runa. Namun, dia belum berpikir untuk menikah lagi. Dia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja dan mengurus perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan perumahan.
“Ar, terima kasih ya, ini harganya berapa?”
“Itu gratis,”
“ Masa?”
“ Buat Winsi, gratis, dia tidak punya ayah sekarang ... Jadi biar aku jadi ayahnya, sebagai orang tua, wajar kalau aku memberi apa yang dia belum punya, apalagi hp, biar gampang kalo aku mau cariin dia.” Erlan berkata dengan lembut dan sungguh-sungguh.
Tanpa dia tahu, Winsi mendengar semua yang dia katakan dengan berurai air mata, dari kamar yang tidak jauh dari sana.
“Apa dia tidak mau menemuiku?”
“Sebenarnya, kamar dia di sini,” kata Runa sambil menunjuk dinding di belakangnya. “Ya, dia pasti keluar kalau dia memang mau menemuimu.”
Arkan kembali diam, dia tahu mungkin Winsi kecewa padanya yang telah mengatakan kebenaran tentang dirinya pada Saina hingga perempuan itu bisa seenak hati menghina. Seandainya saja Arkan membohongi Saina, maka pasti wanita itu akan bersikap berbeda padanya. Akan tetapi pria itu tidak bisa menutupi hal yang sebenarnya pada Saina tentang Winsi.
“Runa ... Apa kamu sudah bercerai dari Basri? Kalian tidak pernah bertemu lagi, kan?”
“Aku sudah cerai secara agama, tapi dia tidak mau mengurus surat cerainya kalau dia pulang kadang kemari dan mengajakku rujuk, tapi dia masih belum percaya padaku sepenuhnya soal Winsi, jadi aku menolak.”
“Jadi, kalau dia mau mengakui Winsi, kamu mau kembali pada laki-laki itu?”
“Ya, kenapa tidak, dia baik dan ayah dari anakku.”
“Apa kamu masih mencintainya?”
Seketika Runa terdiam dia termenung sambil memikirkan arah pembicaraan Arkan sebenarnya. Dia menatap pria itu lekat lalu tersenyum.
__ADS_1
“Aku mencintainya atau tidak kurasa kamu tidak perlu tahu.”
“Hmm ... sekarang, kalau aku bilang aku sebenarnya belum seluruhnya bisa melupakanmu dan masih mencintaimu, apa kamu percaya?”
Runa kembali terdiam, sejenak hanya terdengar suara angin dan jangkrik yang terdengar. Perempuan itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Lalu, dia menggelengkan kepalanya.
“Apa maksudmu mengatakan itu. Diusia kita sekarang, bukan waktunya menjadikan kata cinta sebagai candaan atau hiburan. Kita sama-sama sudah pernah menikah, Arkan. Jadi, tidak seharusnya kamu mengumbar kata cinta.”
“Aku tidak punya maksud apa-apa, aku cuma bilang soal perasaanku saja. Aku tidak bercanda, Runa!”
“Arkan, aku sangat berterima kasih dan bersyukur atas semua pertolongan dan kebaikanmu, aku nggak akan meminta lebih. Di tambah hp ini sekarang, sudah cukup kami jadi beban hidupmu. Terima kasih.”
“Siapa yang menganggap kalian jadi beban hidup? Aku tidak naif, Runa!”
Kedua manusia beda jenis itu memang sama-sama berusia matang dan dewasa dalam menentukan hidup masing-masing sehingga tidak mudah untuk terpengaruh, apalagi sudah pernah merasakan pernikahan dan berhenti di tengah jalan, maka untuk menjalin hubungan kembali tidaklah mudah.
“Walaupun tidak menganggap kami sebagai beban, aku tetap berterima kasih dan kuakui tidak bisa membalas semua kebaikanmu. Maaf ...”
“Kamu tidak salah, tidak perlu minta maaf.”
Hanya itu yang Arkan ucapkan sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
*****
Erlan mengajak Winsi pulang ke rumah sepulang sekolah, sore itu dengan alasan Ismi, monyet peliharaan kesayangannya, sakit. Tentu saja gadis itu enggan karena dia tidak punya ikatan apa pun dengan binatang itu. Memang dia sedikit rindu dengan keadaan rumah besar itu setelah lebih dari sebulan dia tidak pulang ke rumah itu.
“Kan, dia sakit,” kata Erlan pada Winsi setelah berada di dekat kandang monyet yang tampak meringkuk dengan bulu yang sedikit rontok.
“Memangnya kenapa kok, bisa sakit, kamu kasih makan nggak sih?”
“Dia kangen sama kamu!”
Mendengar perkataan Erlan, mungkin bila itu orang lain, maka akan tertawa, tapi Winsi, tidak. Dia justru mencebik sambil memalingkan muka. Aneh menurutnya bagaimana binatang itu bisa merindukannya, dekat-dekat saja tidak pernah.
Winsi tidak menghiraukan Erlan dan monyet peliharaan kesayangannya itu, dia memilih pergi ke dapur untuk mencari Bi Neni, dia merindukan wanita itu, baru itu wajar ....
Kepalanya celingak-celinguk mencari wanita paruh baya yang sehari-harinya menghabiskan waktu di tempat itu tapi, dia tidak menemukannya, justru yang dia lihat adalah Saina yang sedang membuat sesuatu. Wanita itu tampak mencurigakan.
__ADS_1
Bersambung