Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
102. Sebuah Tanggung Jawab


__ADS_3

Sebuah Tanggung Jawab


 


Di seberang sana, Erlan tahu maksud ayahnya yang ingin segera melimpahkan bertanggung jawab padanya tentang sesuatu yang selama ini dipikul oleh Arkan. Akan tetapi dia tidak mungkin pulang sekarang karena dia harus tetap berada di sana sampai waktu wisudanya tiba.


Arkan sudah tidak sabar agar Erlan segera pulang dan melanjutkan bisnisnya di tanah air, sebab dia sendiri ingin menikmati hidup masa tuanya dengan bersantai di rumah bersama istri dan bayinya kelak. Dia tidak ingin lagi disibukkan oleh urusan bisnis dan menyerahkan semua pada Erlan setelah selesai wisuda.


Seperti Badri ketika memasuki usia pensiun, dia menyerahkan semua urusan bisnis pada Arkan dan lelaki yang kini telah tiada itu menikmati masa tua bersama istri dan cucunya. Akan tetapi, tak lama kemudian ibunda Arkan pergi ke alam baka mendahului suaminya, tak lama setelah Badri memutuskan pensiun dari bisnisnya.


“Ayah, kapan Ibu Runa akan melahirkan?” tanya Erlan setelah lama terdiam tidak menjawab ucapan ayahnya di telepon.


“Dua pekan lagi, itu perkiraan dokter.” Arkan menyahut sambil melempar pandangan ke luar jendela.


“Apa Wiwin akan pulang?” Erlan tampak penasaran.


“Mana Ayah tahu? Tanya saja sama dia!” Arkan menyahut pertanyaan anaknya dengan ketus.


“Dia susah sekali ditelepon, Ayah.”


“Masa? Ayah sering sekali meneleponnya kadang pagi sore atau malam, memastikan dia sudah aman dan ada di rumah, kenapa kamu bilang susah?”


“Kenapa denganku dia begitu, seperti menjaga jarak denganku, Ayah?”


“Kirim saja dia pesan, mungkin dia sibuk. Memang lebih baik dia seperti itu sama kamu, Lan!”


“Ayah!”


“Ya. Itu lebih baik dari pada kalian dekat!”


“Kenapa?”


“Aku khawatir kalau kamu menyukainya!”


“Apa Ayah serius dengan ucapan Ayah? Jadi, Ayah mau aku membencinya, begitu?”

__ADS_1


“Ya.”


“Tapi, aku sudah menyukainya sejak dia kecil dan baru saja masuk TK!”


“Apa? Bukannya kalian tidak pernah bertemu?”


“Ayah tidak tahu ceritanya, aku—“ ucapan Erlan terputus karena Arkan langsung menyela.


“Sudah, jangan teruskan, kau tidak boleh menyukainya, kalau kamu suka sama Wiwin, terus giman urusanmu sama gadis di rumah sakit itu? Hah!”


“Aku tidak menyukainya, Ayah.” Suara Erlan terdengar memohon.


“Apa kamu yakin? Dia cantik, bukan? Bahkan lebih cantik dari Wiwin.”


“Tidak, bagiku Wiwin lebih cantik!”


“Cukup!”


Setelah Arkan berkata demikian, panggilan itu diakhiri secara sepihak olehnya. Pria itu segera menuju proyek di mana perumahan yang menjadi usaha barunya kini tengah di bangun.


Sejak dahulu, Arkan selalu menjaga dan memantau perkembangan antara bisnis dan anaknya secara baik. Dia tidak pernah membuat perhatian pada dua hal itu berat sebelah. Dia tidak ingin pengalaman pahit saat masih kecil tidak selalu bersama dengan kedua orang tua yang sibuk bekerja, dirasakan pula oleh Erlan.


Arkan sangat perhatian, termasuk terhadap perkembangan Erlan dan Winsi dan pergaulan mereka, tidak pernah luput dari perhatiannya. Dia memperhatikan mereka melalui beberapa informan yang siap membantu jika diperlukan. Namun, soal perasaan Erlan pada Winsi, sungguh tidak dia duga sebelumnya.


Ternyata semua yang dia khawatirkan terjadi juga, yaitu hadirnya sebuah rasa antara Winsi dan putranya.


 


*****


 


Sementara itu, Erlan tidak bisa tenang menjalani hari-hari setelah pembicaraan dengan Arkan melalui telepon waktu itu, bagaimana dia bisa tenang setelah menyadari jika ternyata, ayahnya tidak setuju dengan perasaannya pada Winsi.


Erlan melihat keluarganya sangat dekat dan begitu menghargai kehadiran Runa serta Winsi di antara mereka. Akan tetapi yang dia harapkan dari kejujurannya tidaklah sebaik itu. Dia terus bertanya apa yang menyebabkan ayahnya tidak menerima, bukankah pria itu juga menyayangi Winsi.

__ADS_1


Memang, kedua orang tua mereka memiliki hubungan pernikahan, tapi, antara Winsi dan Erlan bukan mahram, hingga mereka bisa menikah, jadi apanya yang salah dengan perasaannya?


Erlan mau menerima Winsi apa adanya, walaupun selama ini selalu saja menghindar dan cuek. Hal itu tidak masalah selama dia tidak membenci. Dia melihat betapa Allah menyayangi gadis itu dalam setiap langkah hidupnya setelah dia keluar dari berbagai cobaan.


Menilai Winsi dari kaca mata yang lain, dan dari sebuah ketulusan, maka dia tidak bisa menampik perasaannya yang hadir sejak masa kanak-kanak. Tidak bisa bertemu hanya sementara waktu dan dia bersabar dengan jarak yang memisahkan. Suatu saat mereka akan bersama.


Sesaat kemudian Erlan dikejutkan dengan notifikasi pesan di ponselnya. Laki-laki itu mengerutkan keningnya begitu dalam setelah membaca pesan dari Arkan.


“Wanita itu tidak sadar dengan hidupnya sekarang, dia mencari ayah dan ibunya. Dia memeluk semua pria yang mendekat, termasuk aku lalu, memanggilnya Ayah, apa kamu tega, kalau Ibu Runa tahu dan dia cemburu padaku?”


Erlan membalas, “Tapi, Ayah! Aku tidak bisa pulang sekarang, bersabarlah!”


“Aku sudah banyak dosa dan kamu bilang Ayahmu ini harus bersabar?”


“Ayah, bisa, kan jangan mendekat, kalau tidak ingin dipeluk?”


“Dasar, kau Erlan! Apa kamu tega mengumpankan semua laki-laki padanya? Cepat pulang dan nikahi dia!”


“Apa? Aku tidak mau menikahinya, Ayah! Aku tidak mencintainya!”


“Aku tidak menyeruhmu mencintainya!”


Erlan termenung dan berpikir sambil memasukkan ponsel kembali ke saku celananya. Membedakan antara cinta dan pernikahan apakah bisa? Cinta adalah sebuah rasa dan menikah adalah perbuatan. Dua hal itu harus dilakukan secara bersamaan jika ingin hidup bahagia, jika tidak, maka siap-siaplah untuk hidup dalam keterpaksaan yang nyata.


Dia pikir ayahnya lucu, yang meminta anaknya sendiri menikah dengan wanita yang tidak dia cintai, padahal Erlan tahu, jika Arkan pun tidak akan mau jika melakukannya.


Buktinya hampir selama sembilan tahun ayahnya itu memilih hidup sendiri, tanpa pendamping setelah ibunya pergi, dengan alasan tidak ada wanita yang dia cintai. Lalu, mengapa justru sekarang menyuruh anaknya sendiri menikah sesuka hati?


Tiba-tiba dia menyesal telah berkata jujur jika dia mencintai Winsi, sebab percuma saja ayahnya tahu, tapi tidak mempertimbangkan perasaannya itu.


Erlan memilih untuk berjalan sambil berpikir saat menuju apartemennya sepulang dari kampus dari pada menumpang therm seperti biasanya. Hujan rintik-rintik mulai turun  saat beberapa temannya berteriak padanya agar menumpang kendaraan mereka, tapi, pria itu menolak. Dia memilih untuk membiarkan hujan membasahi kepalanya seolah menjadi pendingin dari otaknya yang tiba-tiba panas.


Itu hujan ke sekian yang turun pada musim penghujan, di negeri enam musim itu. Mungkin saja sekarang adalah hujan terakhir, hingga Erlan menikmatinya karena kemungkinan musim hujan tahun depan, dia tidak lagi ada di sana untuk merasakannya.


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2