
Perhatian Kekanak-kanakan
Erlan berjalan mendekat ke arah Winsi, dengan beberapa buah stroberi di telapak tangannya, Dia tahu anak perempuan di hadapannya itu mencari buah yang masak tapi hampir tidak menemukannya karena sudah diserbu oleh orang lain, hingga dia terpisah dari kumpulan kawan-kawannya.
“Nih, buat kamu.” Erlan berkata sambil mengulurkan tangan kanan yang terdapat banyak stroberi.
Akan tetapi Winsi menolak dengan menggelengkan kepalanya, semua orang di sini datang hanya untuk mendapatkan buah itu, lalu, bagaimana Erlan dengan mudah memberikannya, kalau saja dia sudah bosan memakannya, untuk apa ke sana?
“Kenapa? Kamu cari buah ini, kan?” Erlan berkata seolah-olah pada adiknya sendiri. Terasa sangat akrab dan Winsi mengangguk untuk menanggapinya.
“Buat Kakak, saja!” jawabnya kemudian, sambil berlalu secepat mungkin. Namun, baru saja beberapa langkah, Erlan kembali berteriak keras.
“Aku buang saja kalau kamu nggak mau!”
Spontan Winsi berbalik dan menyahut, “Jangan!” dia melangkah mendekat lalu, mengulurkan tangan dan mengambil buah itu langsung dari telapak tangan Erlan.
Ada sedikit senyuman di bibir remaja itu, lalu, dia berkata, ”Nah, gitu dong. Daripada mubazir kebuang.”
Winsi melotot menunjukkan rasa tidak suka pada laki-laki tanggung di depannya, lalu berkata sambil mendengus kasar.
“Kamu, mentang-mentang anak orang kaya, seenaknya saja buang makanan. Nggak boleh, tahu! Ngerti nggak sih?”
“Nggak,” Erlan menjawabnya singkat, percakapan mereka mirip obrolan antara adik dan kakak. Setelah itu Erlan kembali berkata, “pasti kamu beli jaket sama sepatu baru, ya? Tapi kenapa nggak beli tas sekalian?”
Erlan memperhatikan penampilan Winsi, dia memang sederhana dan hanya jaket saja yang terlihat baru.
‘Ya, ibu memang beli jaket baru, tapi sepatuku masih yang lama, dari mana dia tahu?’ Winsi membatin dengan alis yang berkerut.
“Uangnya nggak cukup buat beli tas.” Winsi menjawab dengan malas sambil berbalik badan.
“Hai, Anak Buluk!” Erlan kembali memanggil, membuat Winsi cemberut. Pikirnya laki-laki itu terlalu sombong, memberi julukan yang memalukan. Dia menghentikan langkah, tapi tidak menoleh dan menunggu.
__ADS_1
Erlan melangkah ke depan, sehingga menghalangi jalan lalu, dia berkata, “Seharusnya uang segitu cukup, kan, buat beli semuanya?”
Winsi mendongak, menatap Erlan yang lebih tinggi darinya, dengan tatapan tak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Uang tabungannya memang sisa cukup banyak kalau dihabiskan untuk jajan, tapi tidak cukup untuk membeli semuanya. Dia menyimpan sisa uang itu di rumah dan hanya membawa lima puluh ribu untuk bekal perjalanannya.
“Ya, nanti kalau sudah kumpul lagi uangnya.” Winsi menjawab asal. Baginya apa pun itu, Erlan tidak perlu tahu.
Setelah berkata demikian, Winsi kembali berjalan melewati Erlan dengan kesal. Dia malu kalau terus terlibat obrolan lain dengannya. Dirinya hanyalah anak haram, kedudukannya tidak sebanding dengan pria di hadapannya.
Sementara Erlan menatap punggung Winsi, sambil menggaruk pelipisnya yang berkerut, pikrnya, kalau untuk membeli barang-barang seperti sepatu dan tas di pasar biasa, uang yang dia berikan kemarin seharusnya cukup, kan?
Winsi kembali menghampiri teman-teman dan bapak serta ibu guru dalam rombongan yang masih sibuk menikmati hasil petikan stroberi mereka. Semua mendapatkannya, membuat dia tersenyum karena dia juga mendapatkan buah yang tidak kalah banyak dari mereka. Semua dari Erlan, tapi siapa yang tahu. Bahkan buah yang ada padanya lebih besar-besar karena laki-laki itu mendapatkannya dari tempat yang berbeda. Ahk, siapa yang peduli soal itu.
“Win, kamu dari mana?” tanya Meri, saat Winsi duduk di sampingnya.
“Dari cari stroberi, lah ....” Winsi menjawab sambil memasukkan satu buah yang cukup besar dan merah, rasanya ... manis! Dia tidak akan melupakan rasa buah ini seumur hidupnya dan ingatannya melayang pada ucapan Erlan.
“Wah, stroberi kamu lebih besar, pasti manis banget ya?” Meri melirik beberapa buah yang Winsi bawa.
“Win, ini manis banget, gak kayak punyaku. Kecut!” kata Meri sambil meringis menunjukkan ekspresi asam di wajahnya. Sahabat di sampingnya kemudian menertawakan.
Beberapa saat kemudian, para guru menginstruksikan semua anak murid dalam rombongan menuju sebuah aula yang sudah disediakan untuk menikmati makan siang, dari bekal makanan yang mereka bawa.
Semua rombongan besar itu berduyun-duyun menyusuri jalan di mana aula berada yang berjarak beberapa meter dari tempat itu. Akan tetapi, aula tidak cukup sehingga ada sebagian anak yang duduk di halaman berumput yang justru terkesan lebih bersatu dengan alam.
Begitu pula dengan Winsi dan Meri serta tiga anak wanita lain yang memilih untuk membuka bekal makanan mereka di halaman rumput yang tertata dengan rapi dan bersih.
Mereka duduk membentuk lingkaran, saling berbagi, atau menukar bekal makanan. Menikmati dengan dengan hati gembira, sambil berbincang dan bercanda.
Tak jauh dari mereka, datang beberapa pria remaja yang terkesan dewasa dan membuat kerumunan yang sama, duduk membentuk lingkaran dan manikmati bekal mereka, sambil bercanda. Bahkan terdengar beberapa teriakan candaan yang berlebihan.
Kelompok kecil itu menarik perhatian, termasuk Winsi yang melihatnya karena kebetulan kerumunan itu tak jauh darinya.
__ADS_1
‘Erlan?’ batin Winsi setelah melihat salah satu di antara para lelaki itu. Dia pun mengedikkan bahu. Mereka rombongan yang berbeda, tapi kenapa dia seperti penguntit saja?
Setelah acara makan selesai, semua anak di bolehkan untuk bebas, ada waktu untuk beberapa anak berbelanja makanan, oleh-oleh atau pernak-pernik khas Ciwidey dan Kawah Putih yang tersedia di sepanjang jalan dan tempat parkir. Banyak sekali pedagang kaki lima di sana.
“Win, yuk beli es Boba!” ajak Meri, setelah selesai membereskan sisa bekal makanan.
“Ayo!” beberapa teman yang lain pun menyetujuinya.
Mereka ikut mengantri dalam satu barisan dengan beberapa orang lainnya. Cuaca tidak begitu dingin, membuat minuman yang sedang hit dikalangan anak muda itu dicari pembeli. Winsi melepas jaketnya yang dia simpan di siku tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang uang.
‘Panas’ batinnya sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangannya.
Winsi terkejut ketika tiba-tiba ada sesuatu yang dirasakannya bertengger di kepalanya, seperti sengaja di pasang oleh seseorang di belakangnya. Dia menoleh, dan spontan melebarkan mata sambil memegangi ujung topi, melihat Erlan yang tersenyum simpul kepadanya.
“Panas, kan, Anak Buluk? Pake aja topiku!” katanya ramah, sambil membetulkan letak topi berwarna hitam itu di kepala Winsi.
Akan tetapi bagi Winsi, senyuman dan kata-katanya menyebalkan. Erlan seperti penguntit yang mengikutinya ke mana pun dia pergi. Ah, yang benar saja. Ada gejolak ringan yang terasa di perutnya lalu naik ke dada.
“Pantas saja uang sejuta gak cukup, soalnya habis sama kamu dijajanin!” kata Erlan lagi, sambil mencebik dan memalingkan pandangan.
Sementara, beberapa teman Winsi yang tadi ikut mengantre bersamanya, menoleh dan menatap Erlan. Meri mengenalnya dan selama ini mereka tidak dekat. Dia anak orang kaya yang tidak pernah bergaul dengan mereka, hanya akhir-akhir ini saja laki-laki itu sering terlihat mondar-mandir di sekitar jalan kampung, dengan motor maticknya.
“Apa maksud kamu sih, dari tadi ngomongin soal uang yang cukup?” kata Winsi. Pikirnya, Erlan anak orang kaya tapi pelit dan sekarang mengungkit-ungkit soal uang, seolah-olah dia seorang pencuri saja. Tidak! Dia tidak pernah mencuri uang siapa pun, apalagi uang Erlan. Walau dia hidup sederhana, tapi ibu dan nasehat ustadz selalu dia ingat bahwa mencuri itu dosa.
Seorang pencuri akan melakukan aksinya saat semua orang lengah dan tidak menyadari akan perbuatannya, di situlah letak dosanya, selain karena mencuri termasuk merampas hak orang lain, apa yang pencuri lakukan sama saja menganggap bahwa Allah tidak ada dan tidak melihat perbuatannya. Padahal Allah Maha mengetahui dan Maha teliti atas segala sesuatu.
“Aku nggak pernah minta uang dari kamu, kok!”
Bersambung
"Jangan lupa like, komen. give dan vote ya... terima kasih atas dukungannya"
__ADS_1