Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
50. Dia Anak Jadul


__ADS_3

Dia Anak Jadul


Wanita itu masih terus tertawa tanpa memperhatikan raut muka Erlan dan Arkan yang berubah, mereka khawatir pada Winsi yang belum lama keluar dari terapi, akan kembali mengingat masa-masa pedihnya saat berada di penjara hingga dia kembali trauma.


Dia tersentak ketika Arkan mendekat dan menarik tangan Sania hingga menjauh dari sana. Kedua orang itu kemudian bercakap-cakap saat sudah berada di teras menjauh dari Winsi dan Erlan yang masih bengong melihat tingkah laku kedua orang dewasa itu.


Arkan menjelaskan tentang trauma yang dialami Winsi lalu, meminta Sania agar tidak lagi mengungkit-ungkit tentang hal yang berkaitan dengan kejadian pemaksaan kehendak itu.


Setelah mendengar semua penjelasan dari Arkan, Saina justru tertawa lebih keras. Dia tidak menyangka bahwa dugaannya tentang anak kecil itu benar. Dia pikir, mana mungkin keluarga itu akan memelihara anak orang kaya lainnya? Biasanya anak-anak dalam kondisi kekurangan seperti itu yang pantas menjadi anak asuh atau anak adopsi di luar keluarganya sendiri.


“Cukup kamu tertawa, Saina! Kalau kamu mau tetap bisa datang ke sini maka janga ikut campur urusanku dengan anak itu!” Arkan berkata sambil menatap Saina tajam.


“Oh, Jadi anak itu lebih berharga dari aku, gitu?”


“Kamu tidak bisa menyamakan kedudukanmu dengan anak itu, kalian berbeda! Kamu jangan merasa bangga hanya karena Ayah mendukungmu.”


“Memangnya kalau Paman mendukungku itu salah? Tidak, Ar! Dia cuman ingin kamu bahagia, itu saja!”


“Benarakah?”


“Terserah kamu mau percaya atau tidak tapi, mencintaimu, Arkan. Aku tidak menginginkan apa pun darimu!”


“Kamu bilang tidak membutuhkan apa pun dariku tapi, kamu minta aku untuk mencintaimu ... itu sama saja. Justru dengan meminta cinta itu artinya kamu meminta segalanya!”


“Oh, ya? Aku tidak merasa seperti itu. Aku akan menginap beberapa hari, bukan aku yang minta, tapi Paman.” Saina berkata sambil menggoyangkan dagunya, dia kemudian melangkah kembali ke dalam dan langsung menuju kamar tamu lainnya yang bersebelahan dengan kamar Winsi.


Saina merasa menang karena Badri berada di pihak yang membela dan mendukung untuk menjadi pendamping Arkan selanjutnya. Dia bebas keluar masuk rumah ini bahkan dia bahagia karena bisa selalu dekat dengan pria pujaannya. Dia akan berusaha sekali lagi untuk meluluhkan hatinya.


Wanita itu sudah lama menyukai Arkan, sejak pertemuan pertamanya di Amsterdam. Dia masih kuliah sedangkan Arkan berada di sana untuk membantu mengembangkan bisnis restoran bersama kedua orang tuanya .


Mereka kebetulan pernah menuntut ilmu di universitas yang sama. Hanya saja mereka beda angkatan hingga Arkan lebih dahulu lulus darinya.

__ADS_1


Saat Saina kenal dengan Arkan, dia sudah tahu bila pria itu seorang duda beranak satu yang penuh kharisma. Seorang pria tampan, baik dan memiliki kepribadian bijak luar biasa, dia adalah idola bagi Saina.


Akan tetapi, Arkan tidak mudah di dekati, berulang kali Saina berusaha menarik hati pria itu, sering mengajaknya bertemu, sowan ke rumahnya dengan banyak membawa oleh-oleh, bahkan bersikap baik pada Badri, termasuk juga mendekati Erlan. Namun samapi saat ini usahanya belum berhasil cintanya masih bertepuk sebelah tangan.


Hal itu membuatnya kecewa, hingga kemudian dia berinisiatif untuk kembali melanjutkan studinya, menjadi wanita sukses dan bisa dibanggakan. Dia tulus mencintai Arkan tanpa menginginkan harta ataupun warisan.


Benar saja, beberapa bulan sejak kepergian Sania ke luar negeri, Arkan mulai beberapa kali menghubunginya, dia beranggapan Arkan mulai merindukannya. Saat ini dia kembali, dan berpikir bila Arkan akan sungguh-sungguh mencintai dan menunggunya. Akan tetapi, dia kecewa sekali lagi, setelah tadi, dia mendengar Arkan bicara dan masih menganggapnya teman.


“Ar, begitu sulitkah untuk melupakan Kahna? Dia sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu, tapi, kamu tidak juga mencari penggantinya?” tanya Saina suatu saat yang telah lalu.


“Tidak ...” hanya itu kalimat yang keluar dari bibir pria itu sambil menatap ke awang-awang.


“Apa aku tidak terlalu baik dibanding kan Wanita itu?”


“Kamu baik.”


“Apa aku juga tidak pantas menjadi ibu sambung bagi anakmu?”


Saat itulah Arkan diam, dia bertahan menduda hanya karena anak laki-lakinya, sulit rasanya mencari wanita lain sebagai ibu pengganti untuk Erlan.


Sementara itu di ruang tengah, Erlan menatap Winsi dengan seksama memastikan Gadis itu baik-baik saja. Melihat raut tidak wajahnya tidak berubah, dia pun merasa lega.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya, perlahan.


“Ya. Alhamdulillah. Aku baik, jangan khawatir.” Winsi berkata meyakinkan Erlan bahwa dirinya baik-baik saja, walaupun ucapan Saina menyakitinya. Ada sedikit dentuman halus yang mengoyak rasa percaya dirinya, bahwa dia punya nasib buruk yang bisa menjadi bahan tertawaan bagi orang lain kapan saja. Masa depan seakan begitu kelam di hadapannya. Siapa yang menginginkan gadis kotor seperti dirinya, tidak ada!


****


Winsi keluar dari kamar sudah rapi dengan pakaian seragam lengkap dengan tas dan sepatunya, bersiap untuk sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah. Begitu dia menutup pintu, bersamaan dengan Saina yang keluar dari kamarnya juga, wanita itu pun sudah terlihat cantik, rapi dan wangi. Dia handak menuju kantor perusahaan keluarga tempat dia bekerja.


“Oh, kamu?” kata Saina setengah terkejut karena melihat pakaian Winsi adalah seragam yang sama dengan sekolah Erlan. “Jadi, kamu sekolah di sana juga?”

__ADS_1


“Ya,” Winsi tetap menjawab seperti itu dengan yakin walaupun dia tidak tahu maksud dari pembicaraan Saina.


“Apa kamu bangga jadi bagian dari keluarga kaya padahal kamu bukan siapa-siapa di sini? Hah!”


Saat mendengar Saina berkata, bumi di bawahnya seolah hancur dan, Winsi seakan dihempaskan tanpa dasar, dia merasa tidak berarti, miskin dan hina. Tidak ada yang mengharap dan dia pun tidak bisa berharap. Dunia seolah hampa dan dirinya seperti debu beterbangan yang tidak dianggap ada.


“Ingat! Selama aku di sini, kamu jangan macam-macam, kamu harus tahu diri ... siapa kamu di sini? Sana pergi!” kata Saina sambil melangkah melewati seraya menyenggol bahu kecil Winsi.


Setelah Saina berlalu, Winsi benar-benar keluar rumah begitu saja, berjalan dengan setengah berlari melewati pintu gerbang tanpa menyapa semua orang. Hasnu memanggilnya berulang kali tapi, anak itu terus berlari menuju jalan raya, mencari angkutan umum dan pergi entah ke mana.


“Erlan, ke mana Wiwin?”


“Tidak tahu, Ayah.”


“Biasanya dia bareng, kan?” tanya Arkan yang baru saja keluar kamar, dia sudah berpakaian rapi bersiap hendak ke kantor, begitu juga Erlan, dia pun sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Biasanya mereka bertiga dengan Winsi, akan melangkah menuju meja makan secara bersamaan.


Saat sudah sampai di meja makan, kedua lelaki itu heran tidak ada Winsi di sana, mereka hanya melihat Saina dan Badri yang sedang menikmati sarapannya.


Sejak kemarin sore, mereka tidak bertemu atau melakukan aktivitas bersama. Arkan memilih sibuk di ruang kerja dan makan malam sendirian, Erlan memilih berada di kamar lalu pergi keluar dengan motor matiknya berkumpul dengan teman-temannya dan pulang sudah larut malam. Sementara Winsi mengurung diri di kamar, memilih untuk belajar.


“Apa Tante lihat Winsi, tadi?” Tanya Erlan, pada Saina tapi, yang ditanya hanya diam dan asyik mengunyah. Lalu, dia menoleh pada Arkan yang kini sudah duduk di tempat biasa dia duduk. “Apa Ayah belum memberinya hp?”


“Belum.”


“Ayah ... dia itu anak jadul, nggak punya hp lagi. Jadi, susah kalo begini ....”


“Ya, hari ini Ayah beli.”


Erlan melangkah ke kamar Winsi dan anak itu tidak ada di sana. Dia kembali ke meja makan lalu, berteriak pada Saina.


“Tante! Apa benar nggak lihat Wiwin pagi ini?”

__ADS_1


Brakk!


Bersambung


__ADS_2