Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
139. Pukulannya Sakit Juga


__ADS_3

Pukulannya Sakit Juga


Erlan duduk dengan posisi yang sama dengan Winsi, ini mirip sekali dengan kejadian saat gadis itu pulang dari rumah sakit dan dia duduk sendiri di taman samping rumah besar sambil menangis, hampir delapan tahun yang lalu.


Kata-kata yang sama yang dikeluarkan Erlan saat itu dan saat ini, adalah, “Mau sampai kapan kamu seperti ini?”


Winsi tidak menjawab bukan berarti dia tidak mendengar melainkan karena tangisan itu belum bisa berhenti.


Tangis adalah akibat dari luka hati, luka di sana bukan mengeluarkan darah tapi, air mata. Tangis adalah ungkapan hati saat tidak lagi mampu untuk berkata dan, tangis adalah satu cara untuk beban agar sedikit terasa mengurangi beratnya.


Tiba-tiba Erlan ingin menyanyi untuk wanita yang sedang menangis di sampingnya. Rasa hati ingin merengkuh bahu yang terus terguncang karena suara tangisannya, ingin menyentuh wajah wanita itu dan menghapus air mata dengan jari tangannya, atau sekedar mengucapkan kata cinta. Namun, pasti apa pun yang dilakukan Erlan, maka, Winsi akan menepisnya.


“Izinkan kulukis senja, mengukir namamu di sana, mendengarkanmu bercerita, menangis tertawa .... Izinkan kulukis malam, bawakanmu bintang-bintang, menemanimu yang terluka hingga kau bahagia ....” Erlan akhirnya menyanyi juga dengan suaranya yang pas-pasan, tapi, cukup lumayan. (Lirik lagu Ciptaan Budi Doremi)


Seketika Winsi menoleh, sambil menghapus sisa air matanya yang tak juga kering walaupun, dihapus berulang kali dengan punggung tangannya. Dia tidak bicara, tapi, tatapan matanya sudah menunjukkan rasa kecewa.


Erlan hanya melihat wajah istrinya sekilas, karena tidak sanggup untuk melihatnya dalam keadaan kecewa lebih lama.


“Maaf ....” hanya itu kata yang bisa dia ucapkan sebagai tanda rasa bersalah.


Winsi berdiri, dan melangkah meninggalkan Erlan yang masih bengong. Walaupun dia ingin mengutarakan semua rasa penasaran dan sakit hati karena merasa dibohongi, dia tetap diam. Namun, saat dia tidak melihat keberadaan motor yang tadi di bawanya, maka, mau tidak mau dia menoleh pada Erlan lagi.


Dia sudah cukup lama menangis hingga wajar kalau motornya tidak ada, apalagi dia membiarkan kuncinya tetap menempel. Gadis itu tetap gengsi untuk bertanya tentang kendaraannya pada Erlan, dia justru berlutut di tanah dan menghujani tanah itu dengan tinju.


Erlan mengerutkan alisnya, cara Winsi marah terlihat berbeda, kekerasan kepalanya yang menyebabkan dia bungkam dengan apa yang dirasakan atau dilihat. Pria itu bingung bagaimana harus mengatasinya. Dilain sisi dia tidak ingin Winsi marah lantas pergi. Namun, di sisi lain dia tidak bisa meninggalkan Hanifa.


‘Ya Allah, apakah dia mau menerimaku menduakan cintanya?’ batin Erlan.


Dia miris melihat istrinya hingga secara tidak sadar, air matanya menetes juga. Dia tidak mau kalau Winsi pun menduakan cintanya. Bahkan, ketika melihat Hanifa yang dekat dengan perawat laki-lakinya, dia sudah demikian cemburu dibuatnya. Apalagi kalau harus melihat Winsi bersama lelaki yang bukan dirinya.


Membayangkannya saja Erlan merasa hatinya perih, apalagi kalau benar terjadi. Akhirnya dia memberi pilihan pada dirinya sendiri. Dia harus bicara jujur lalu, memberi kebebasan istrinya untuk memilih atau memaksa Winsi memahaminya tanpa memberi pilihan apa pun padanya.


Erlan meraih tangan Winsi yang terus di pukulkan ke tanah, lalu menyimpannya di dada karena dia bermaksud menahan agar tangan itu tidak terluka. Dia membersihkan tangan istrinya dari kotoran.


Winsi dengan kuat menariknya lalu, melayangkan tinju ke dada Erlan. Dengan sabar pria itu menahannya, walaupun pukulannya sakit juga, tapi dia tetap diam karena tahu dirinya yang salah. Sekuat apa pun istrinya tetapi seorang wanita. Berulang kali dia memukul hingga akhirnya dia berhenti dan kembali menangis.


“Ayo! Pulang, marahlah di rumah, jangan di sini, malu.” Kata Erlan.


“Biarin! Kamu bilang malu? Hah! Lalu, selama ini kamu nggak malu sudah bohong padaku?”

__ADS_1


“Bohong soal apa?”


“Soal buku, soal Hanifa dan semuanya!”


“Tidak, aku tidak pernah bohong, aku hanya tidak pernah menjawab pertanyaanmu!”


“Itu artinya kamu bohong! Tahu?”


Erlan diam, sebenarnya dia memang tidak pernah berbohong soal Hanifa hanya saja dia tidak mengatakan apa pun yang berkaitan dengan wanita itu. Sikapnya itu hanya untuk menutupi kesalahpahaman saja karena dia pikir belum saatnya untuk terbuka.


Dia tidak bohong, tapi dia hanya tidak terbuka.


“Apa kamu membenciku, karena hal ini? Maafkan aku?” kata Erlan sambil meraih tangan Winsi dan gadis itu menepisnya.


“Pulang, sana!” kata Winsi, mereka seperti anak yang baru pertama pacaran dan sedang marahan karena kurang perhatian.


“Baik, aku mau pulang asal bareng sama kamu, ya?”


“Aku nggak mau! Aku bisa pulang sendiri!”


“Baik, aku tunggu kamu pulang baru aku pulang,” kata Erlan tetap tenang, padahal dalam hati dia menahan sekuat perasaannya agar tidak meledak.


“Masuk, sudah sore!” kata Erlan setelah membukakan pintunya.


“Gak mau, itu bekas tempat duduk Hanifa!”


Erlan mengusap rambutnya kasar sambil menahan napas sejenak lalu, dia mengambil tisu dan mengelap jok mobilnya hingga beberapa lama.


“Ah, lama! Sudah sana, ribet amat!” kata Winsi akhirnya dia mau duduk juga setelah mendorong tubuh Erlan dengan kuat.


Saat dia duduk di samping Erlan, gadis itu berpikir, kenapa laki-laki itu begitu lemah, dia tidak melawan saat di pukuli dadanya berulang kali. Dia tidak mengelak waktu dia mendorong sekuat tenaga walau tubuhnya hanya terhuyung sedikit saat dia mendorong tadi. Bahkan sekarang dia mengelap jok kursi walaupun bekasnya tidak akan hilang.


Ih, geli duduk di sini. Batin Winsi.


“Hanifa tidak pernah duduk di sini, kamu perempuan pertama yang duduk di situ!” kata Erlan saat mobil itu mulai berjalan membelah jalanan.


Winsi mencebikkan bibir. Tidak percaya!


“Ini, ada kamera.” Erlan berkata sambil menunjuk kotak kecil dekat kaca spion. “lihat saja, di memorinya itu rekaman sejak setahun lalu.”

__ADS_1


“Terserah!” Winsi melihat kamera yang ditunjukkan Erlan. Ada rasa penasaran untuk membuktikan ucapan pria itu, tapi, dia tidak perduli.


“Mau nggak dengerin ceritaku?” tanya Erlan saat beberapa jenak kemudian.


“Berhenti di masjid sholat sana!”


“Baik,” kata Erlan sambil mengurangi kecepatan kendaraannya dan menepi di salah satu masjid yang tidak jauh dari arah jalan mereka. Pria itu akhirnya menyimpulkan kalau Winsi belum mau membahas apa yang dilihatnya hari ini.


Dua anak manusia itu melakukan sholat berjamaah bersama orang-orang lainnya, tapi, saat semua orang pergi, sepasang suami istri itu tetap ada di sana, mereka tengah menenangkan diri, dan mengingat kalau pernah terjadi hal yang mirip, yaitu saat mereka pulang dari makam Arkan dihari kematiannya.


Erlan melihat ke tempat bagian akhwat setelah beberapa lama, tapi, Winsi masih ada di sana sambil menelungkupkan wajahnya di atas lutut, dan sepertinya dia masih menangis.


Akhirnya mereka pulang setelah selesai sholat isya, lalu menaiki mobil dalam keadaan diam, Erlan tidak berusaha menjelaskannya atau meminta Winsi untuk mengeri, tidak. Dia hanya berharap dan terus berharap wanita itu tetap bersamanya sampai akhir nanti walau apa pun yang terjadi.


Namun, mampukah dia berpoligami?


Sambil menatap jalan raya, Erlan menggelengkan kepalanya berulang kali. Winsi melirik sekilas, dengan perasaan heran, tapi dia masih marah dan kesal hingga rasa penasarannya terabaikan. Lagi-lagi dia harus meredam dirinya sendiri.


Ternyata tidak mudah, mendinginkan hati saat marah ... tidak gampang memilih diam saat dia mampu berteriak ... ternyata cukup rumit, menjalani cinta tanpa tahu ke mana arahnya dan, sangat sakit saat begitu mencintai tapi rasa tidak utuhlah yang harus diterima.


Sesampainya di rumah, Winsi turun dari mobil dengan cepat dan membanting pintunya keras. Dia langsung masuk ke kamar sambil melepaskan kaus kaki, mengabaikan ibunya yang menawarkan makan malam dan menanyakan kenapa dia terlambat. Dia semakin kesal saat melihat kendaraannya ternyata ada di rumah karena dia pikir motornya itu hilang. Siapa lagi yang membawanya kalau bukan orang suruhan Erlan, tapi suaminya itu tidak mengatakan apa pun padanya.


‘Apa susahnya bicara terus terang?’ batinnya. Dia mengira Erlan adalah lelaki yang terbuka dan jujur, dia kecewa ternyata suaminya adalah pria yang pandai menutupi hal yang penting baginya.


Winsi ingin mengomelinya, kalau bisa, tapi, sejak kecil dia sudah terbiasa merasakan semua yang dialaminya dengan diam, dia tidak bisa menceritakan atau mengoceh seperti kebanyakan perempuan. Tidak. Namun, kemarahan di hatinya bagai lapisan magma yang siap meledak.


Setelah berada di kamar Winsi segera mengganti pakaian, dengan baju olah raga, memakai sarung tinju dan snikers. Lalu, dia pergi ke rumah bagian belakang, tempat yang biasa digunakan untuk berolahraga dekat dengan taman tempat Kakek sering memancing atau bersantai.


Gadis itu melakukan pemanasan sebentar, lalu segera melayangkan beberapa pukulan ke arah samsak tinju yang tergantung di sana. Bukan hanya pukulan, keras atau jotosan tapi, tendangan andalannya, yaitu tendangan lurus sambil memutar badannya. Dia melakukannya berulang kali sampai keringat membanjiri tubuh dan keningnya.


Runa melihat hal ini dengan cemas, dia tahu anaknya sedang marah, tapi tidak mau mengatakannya pada siap pun tentang perasaannya itu. Dahulu dia sering begitu, dan yang terakhir adalah saat libur sekolah di semester genap kelas tiga. Dia pulang dari pesantren, sedangkan Runa tidak tahu anak perempuan itu marah pada apa dan pada siapa, tapi, samsak tinju itu menjadi sasarannya. Winsi tidak akan berhenti kecuali, atas kemauan sendiri.


Runa mendekati Erlan yang hanya menatap istrinya dengan tatapan sendu tak terkira. Pria itu lebih senang kalau Winsi mengutarakan rasa kesal dari pada diam, seperti yang dulu pernah dia lakukan padanya saat mengadu soal Basri padanya.


“Kalau dia begitu, artinya dia marah, memangnya, apa yang terjadi?”


Erlan seketika menoleh pada Runa dan menatap perempuan itu dengan iba.


‘Haruskan aku jujur pada Ibu Runa?’ batin Erlan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2