
Pernikahan Tidak Sah
Erlan menoleh sebentar ke spion kanan dan kirinya, lalu, menepikan mobilnya dengan kasar, sungguh dia tidak tahu harus menjawab apa pada wanita di sebelahnya. Apakah dia harus berbohong atau berterus terang, sebab dia dalam keadaan yang serba salah.
Bila dikatakan tidak ada cinta atau kasih sayang pada Hanifa, maka itu bohong. Selama sekian lama bersama dalam kedekatan, walaupun awalnya hanyalah rasa iba, maka dia tidak akan memungkiri rasa kasih sayang bahkan cinta itu ada.
Namun, apabila jujur, bisa dipastikan jika Winsi akan memilih untuk pergi.
“Kamu mau jawaban seperti apa?” tanya Erlan sambil menoleh.
“Jawab aja apa susahnya!”
Erlan diam, dia menundukkan kepala dan meletakkan keningnya pada lengan hasta yang bertumpu pada setir mobilnya. Dia berpikir tentang jawabannya, membuat Winsi sedikit merasa bersalah dan kasihan padanya. Dia melihat kelelahan tercetak jelas di wajah suaminya.
“Wiwin, aku cinta sama kamu itu nggak bohong ....” Erlan berkata sambil mengangkat kepala dan menyandarkan tubuhnya. Dia menoleh sebentar dan kembali menekan pedal gas hingga mobil itu kembali melaju beberapa lama lalu, menepi di sebuah masjid.
Sepasang suami istri itu melakukan ibadah secara terpisah. Setelah selesai, Erlan menghampiri Winsi yang baru saja memakai sepatu. Dia menggenggam pergelangan tangan istrinya dan mengajaknya makan di restoran Padang yang tidak jauh dari masjid itu berada.
Kita makan dulu, kata Erlan setelah memesan, mereka duduk di kursi yang terletak paling sudut, saat melakukan hal itu, Erlan tidak melepaskan genggaman tangannya sekejap pun
“Erlan, ayo jawab pertanyaanku!” kata Winsi ketika dia pun sudah duduk di samping laki-laki itu.
“Makan, dulu.” Kata Erlan sambil melepaskan pegangan tangannya pada Winsi.
Saat makan, mulut keduanya hanya sibuk mengunyah, dalam diam. Tidak ada niat Erlan untuk menjawab pertanyaan Winsi, saat ini, hanya sekali-sekali saja dia meliriknya. Selain itu, dia sibuk melayani istrinya makan, mengambil daging dan memotongnya menjadi beberapa bagian kecil, untuk diletakkan di piring agar Winsi mudah memakannya.
“Makan yang banyak, biar nggak kurus!” kata Erlan, seperti menyindir, karena Winsi menurutnya kurus. Akan tetapi bagi gadis itu tubuhnya sudah ideal, dengan tinggi dan berat badan yang proporsional.
Winsi menikmati makanan juga menikmati sikap Erlan yang manis padanya. Mereka memang pernah tinggal bersama dan sering makan bersama tapi, tidak dengan suasana yang romantis. Walaupun, restoran itu sederhana, tapi sikap Erlan sangat istimewa.
Erlan membayar makanan pada pemilik restoran, setelah selesai menikmati makanannya dan meminta izin untuk tetap berada di sana walaupun, meja makan mereka sudah dibersihkan.
__ADS_1
Melihat Erlan kembali duduk setelah membayar, membuat Winsi heran.
Sebenarnya, satu sikap yang benar saat membujuk atau menenangkan seorang wanita yang galau, putus asa, sedih, dan sebagainya, adalah dengan makanan. Ya, dengan memberinya sesuatu yang disukai wanita, termasuk makanan. Dengan begitu perasaan wanita akan teralihkan, setidak-tidaknya seperti itulah yang diajarkan Allah dalam kitab-Nya, saat memberikan semangat dan motifasi agar sabar dan kuat dalam menjalani ujian hidupnya pada Siti Maryam, dalam surat Maryam.
“Kenapa baik lagi, kita nggak pulang?”
“Aku mau ngomong sama kamu, sebentar, nanti kamu bisa memikirkan jawabannya setelah sampai di rumah.” Erlan berkata sambil menarik kursi, di sebelah Winsi dan juga menarik tangan wanita itu untuk menciumnya beberapa kali.
“Dulu, aku pernah kecelakaan,” katanya memulai obrolan.
“Kapan?”
Erlan ingat betul kejadian itu saat sebelum hari kelulusan Winsi, dia tidak bisa melihat momen membahagiakan peri kecilnya itu karena dia harus mengurus Hanifa yang kedua orang tuanya menjadi korban kecelakaan bersama dengan dirinya. Bahkan, bisa dibilang mereka tewas karena menghindari agar tidak menabrak dirinya. Semua kejadian itu tampak seperti sebuah pengorbanan yang tidak disengaja.
Setelah mengetahui tentang Hanifa, Erlan dan Arkan sepakat untuk melanjutkan menjaga gadis itu sebagai bentuk kemanusiaan saja atau bisa dikatakan sebagai balas jasa.
Winsi pun seketika ingat saat ujian sekolahnya berakhir, dia mendengar bahwa, telah terjadi sesuatu pada Hanifa. Namun, semua siswa saat itu tidak ada yang tahu apa yang telah menimpa salah satu pembimbingnya itu.
“Kata Tania kamu sudah lama menikah dengannya? Kapan?” Tanya Winsi.
“Kalau tidak salah, dua bulan sebelum Ayah meninggal.”
Winsi terdiam, itu artinya Erlan menjadi suami Hanifa sudah hampir tiga bulan dan dia baru mengetahuinya sekarang? Ah! Yang bener saja. Siapa yang tahu apa yang sudah dilakukan kedua orang berlawanan jenis itu setiap malam? Pikir Winsi.
Winsi memalingkan mukanya sambil tersenyum seperti menertawakan dirinya sendiri. Dia telah memilih orang yang salah, atau cintanya yang sudah jatuh di hati yang salah? Dia tidak bisa menerima jika dia ternyata dibohongi sudah begitu lama.
“Kenapa kamu tidak jujur dari dulu?” kata Winsi sambil menarik tangannya dari genggaman Erlan, kasar.
“Karena aku mencintaimu!”
“Kamu bohong, Lan!”
__ADS_1
“Aku nggak mau kamu marah, aku nggak mau kamu pergi.”
“Terus, sekarang aku sudah tahu, bagaimana kalau aku pergi juga?”
“Aku menikah karena Ayah yang memintanya!”
“Kenapa kamu mau?”
Saat itu, Erlan tidak punya alasan untuk menolak, apalagi karena Hanifa terus saja memanggilnya Pap dan memeluknya bahkan gadis itu sering minta gendong padanya. Oleh sebab itu dia pikir memang lebih baik menjadi suami istri saja.
“Kamu pikir pernikahan kamu itu sah, Lan?”
“Maksudmu?”
“Coba aja pikir, semua ibadah menuntut orang yang melakukannya haruslah orang yang dewasa, baligh, berakal, sehat jiwa raga. Ada rukhsoh atau keringanan bagi yang sakit badan ... tapi, bukan bagi yang sakit jiwa.”
“Jadi, maksudmu aku sekarang tidak sah jadi suami Hanifa?”
“Bisa jadi, masa, yang harus jadi saksi aja di tuntut untuk sehat jiwa raga, tapi yang dinikahkan ya orang gila?”
Erlan diam.
“Pernikahan itu jelas-jelas ibadah, bahkan menyempurnakan separuh agama, gimana mau sempurna kalau menikah sama istri yang gila? Berarti kamu gila juga, ya, Lan?” Winsi tertawa.
“Apa? Kamu bercanda kan, Win?”
Saat itu Erlan teringat kisah tentang seorang tabiin, seorang pria yang Sholeh, yang menikahi seorang wanita, sedangkan ayah sang gadis mengatakan jika anaknya bisu, buta, tuli, dan tidak memiliki tangan serta kaki. Bukankah pernikahan itu sah di mata agama hingga keduanya memiliki anak. Namun, sebenarnya, dia afalah wanita yang sempurna sebab cacat fisik adalah kiasan yang menandakan dia wanita yang Sholeh.
“Coba aja deh, kamu pikir sendiri!” kata Winsi.
“Ayo! Kalau begitu kita harus cari solusinya!”
__ADS_1
Bersambung