Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
7. Wisata Sekolah


__ADS_3

Wisata Sekolah


Runa tidak memiliki apa-apa setelah itu, hanya dengan belas kasihan sepasang suami istri yang sudah lanjut usialah, akhirnya dia kembali memiliki rumah dan bisa bertahan hidup. Pasangan Surya dan Nilam, membawa wanita itu tinggal bersama di rumahnya. Dia menganggap kedua orang tua itu sebagai keluarga bahkan sebagai orang angkatnya karena pasangan lanjut usia itu memperlakukannya dengan baik. Atas kemauannya sendirilah dia kemudian bekerja dengan sukarela dan mendapatkan imbalan yang pantas, untuk memenuhi kebutuhannya dari keduanya.


Setelah tertegun beberapa lama, Runa tersadar dan menghela napas panjang lalu berkata dengan perlahan-lahan.


“Pak ... mau sampai kapan terus menerus salah paham seperti ini? Aku enggak pernah tidur sama laki-laki mana pun dan Winsi, Dia anakmu sendiri.”


Basri mendengus keras memalingkan pandangannya sambil mencibir, kemudian melambaikan tangan kanannya sambil berkata dengan kertas.


“Bukan. Kamu pikir aku percaya setelah apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri di kamar itu? Apa yang kamu lakukan dengan laki-laki itu?”


Semua yang Basri lihat saat itu hanyalah salah paham belaka, laki-laki yang masuk ke kamar Runa waktu itu, hanya berniat menolongnya, tapi siapa yang menyangka Basri datang diwaktu yang tidak tepat, sehingga menyangka bahwa Runa telah berselingkuh darinya.


“Semua yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu bayangkan, kami tidak berbuat apa-apa di kamar kok.”


“Memangnya aku membayangkan apa?Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan sebelumnya, kamu bisa saja bilang tidak terjadi apa-apa, tapi kenapa kamu ngaku hamil setelah itu?”


“Tapi aku memang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki lain.”


“Sudah nggak usah membantah lagi, aku nggak salah paham. Semua orang pasti menilai sesuai dengan apa yang mereka lihat.”


Setelah berkata demikian Basri pun pergi meninggalkan kan rumah, dia berniat membawa kendaraan besarnya keluar, sebelum akhirnya mengurungkan niatnya karena melihat kedatangan Erlan.


Sementara itu di dalam rumah, Winsi mendekat dan duduk di samping ibunya, sambil menghapus sisa air mata, dia berkata, “Jadi, besok aku bayar study tour-nya gimana?”

__ADS_1


Winsi akhir-akhir ini, tidak lagi menanyakan kepada ibunya tentang ucapan kasar bapaknya dan percakapan kedua orang tuanya, dia sudah bosan dengan sebutan anak haram yang bapak sematkan padanya. Baginya yang penting sekarang dia bisa hidup dengan wanita yang menyayanginya, itu sudah cukup. Kalau mau pergi pun dia tidak tahu harus ke mana, karena di tempat itu dia tidak punya sanak saudara. Baik ibu dan bapaknya tidak pernah mengajak menyambangi kerabat mereka.


Runa mengusap kepala gadis polos itu lembut, “Kan, kamu sudah nabung? Coba hitung sekarang sudah dapet berapa?”


Winsi tersenyum lebar, dia mengangguk sambil beranjak dari duduk, lalu, pergi ke kamarnya. Dia kembali sambil membawa celengan berbentuk ayam jantan, tanpa ragu dia membantingnya ke lantai. Seketika, uang yang sebagian besar berupa lembaran lima ribuan itu pun berceceran.


‘wah, uangnya banyak! Jadi ini masa depan seperti yang ibu bilang?’ pikir Winsi polos. Dia selalu mengingat ucapan ibunya tentang tujuan mereka menabung adalah untuk masa depan.


Dua wanita itu bersama-sama menghitung dan itu melebihi jumlah biaya yang harus di bayarkan ke sekolah. Membuat Winsi tersenyum girang, dia bisa membeli sesuatu yang dia inginkan dengan uang itu nanti.


“Nah, sekarang uangnya bisa kamu pakai untuk biaya sekolah, sisanya buat jajan dan jangan lupa kamu tetap harus menabung lagi.”


“Tapi kan celengannya sudah rusak Bu?”


“Iya nanti ibu beli lagi. Ayo! Sekarang bersihkan sisanya.”


Suasana pagi itu terlihat ramai di sekolah dasar tempat Winsi belajar. Kesibukan para murid semester akhir sudah berlalu, semua ujian sudah mereka selesaikan secara sempurna, hanya menunggu hasil akhir dari ujian yang sudah mereka lalui dengan susah payah selama enam tahun.


Sekarang waktunya mereka menikmati liburan, para guru pun ikut serta menikmati acara jalan-jalan anak murid mereka.


Tempat yang mereka tuju adalah Ciwidey, daerah yang terkenal dengan sumber air panas Kawah Putih berada. Kawasan yang sejuk dengan aneka perkebunan buah seperti stroberi dan sayuran. Biasanya pengunjung bisa ikut memanen buah dan sayur yang tengah musim di sana.


Winsi berdiri di antara anak-anak lain sebayanya, tubuhnya yang kurus dan tinggi terlihat menonjol. Dia memakai jaket, sesuai instruksi gurunya karena suasana di sana tergolong dingin.


Runa sengaja membelikannya sebuah jaket khas anak-anak warna pink dengan pita di bagian pinggangnya. Mengenakan pakaian itu, Winsi terkesan lucu, ditambah dengan jilbab warna senada yang ada gambar bunga di bagian kepala samping kirinya.

__ADS_1


“Win, kamu bawa bekal nasi apa nggak?” tanya Meri. Gadis itu memakai jaket dan juga jilbab warna ungu dengan tas ransel hitam kesayangannya.


“Bawa, ibuku masak mie goreng sama tahu tempe.” Winsi menjawab sambil menepuk tas slempangnya yang lusuh.


“Wah, enak tuh. Nanti kita tukeran ya?”


“Kamu bawa apa?”


“Nasi sama telur balado, aku nggak seberapa suka.”


“Oh, boleh. Aku jarang makan telur balado. Kayaknya enak.”


Dua sahabat itu berbincang di antara teman mereka, selama menunggu bis diberangkatkan. Tidak lama menunggu, semua anak-anak pun memasuki bus yang akan membawa mereka ke tempat tujuan wisata.


Ciwidey adalah salah satu tempat wisata yang terkenal di Jawa Barat. Saat ini, di sanalah Winsi, Meri dan anak-anak lainnya berada, mengelilingi kebun strawberry, memetik buahnya dan makannya.


Winsi sibuk berebut beberapa buah stroberi masak yang tidak terlalu banyak jumlahnya, dibandingkan dengan semua anak yang datang dan ikut memburunya. Kalau dia tidak cepat memetik dan makan, dia takut tidak kebagian. Buah itu manis dan cantik, dia jarang sekali makan buah itu, kalau pun ada di pasar, ibunya hampir tidak pernah membeli karena harganya mahal menurut ukuran orang seperti mereka.


Gadis itu tampak riang, lupa sudah kejadian menyakitkan, saat dia harus menerima beberapa pukulan dan makian dari bapak, lelaki yang sudah bersamanya sejak dia lahir, tapi tidak pernah menyayanginya karena dirinya hanyalah anaperbedaan


Ada perbedaan jelas antara anak yang dilahirkan dalam sebuah pernikahan sah, dengan anak yang hadir saat dua manusia berbeda jenis melakukan hubungan terlarang. Yaitu sebutan bagi mereka. Anak-anak itu tidak harus ada, tatkala segala aspek moral, baik dan kualitas iman seseorang terjaga. Biar bagaimanapun juga, sebuah perzinaan dan perselingkuhan itu di haramkan apa pun alasannya.


Winsi memandang semua tanaman yang berbuah segar itu dengan tatapan berbinar, lalu mengambil satu lagi, dan lagi, hingga tidak terasa dia sudah terpisah cukup jauh dari teman sekelasnya. Dia gusar seketika. Belum juga dia melangkah mendekati kumpulan kawan-kawannya, seseorang memanggilnya. Suaranya terdengar akrab, tapi dia menepis dugaannya jauh-jauh ke dasar hatinya, sebab tidak mungkin mereka bisa ada di sana secara bersamaan.


“Win, sini!”

__ADS_1


Winsi segera menoleh dan tiba-tiba dia sedikit linglung, ‘kenapa dia ada di sini, sih? Apa ini kebetulan?’ batin Winsi sambil mengusap hidungnya dengan punggung tangannya.


__ADS_2