
Mengalahkannya
“Ya, sebenarnya bukan urusanmu, tapi kamu berhak tahu kok. Jadi, kamu bisa terusin hubungan kamu sama Mas Basrimu itu semaumu!” kata Runa ketus.
“Tapi, gimana kalau .... sudah lah, terserah!" sahut Nira.
Sebenarnya Nira sedikit ragu dan keberatan apabila Runa bercerai dari Basri dan dialah yang harus menanggung semua kebutuhan rumah tangga. Walau, memang dia senang wanita itu pisah dari kakak angkatnya, tetapi, dia tidak mau apabila harus menanggung semua pengeluaran yang biasanya ditanggung oleh Runa.
Dia tetap tidak bisa mencegah kepergian Runa, karena dia punya andil dalam keadaan yang saat ini terjadi padanya. Dia sudah hidup lumayan enak di rumah itu, karena soal makanan dia tidak pernah kekurangan, bahkan tidak perlu memasak. Jadi, ketika dia menyadari bahwa Runa akan pergi kali ini, membuatnya bingung.
Runa merengkuh bahu Winsi dan mengajaknya keluar sambil menyeret koper dan tas mereka masing-masing.
“Win ... barang-barang dan buku kamu sudah dimasukkan semua, nggak ada yang ketinggalan, kan?” tanya Runa lembut dan wincy hanya mengangguk.
Wajah anak itu masih berkabut karena merasakan ketakutan dalam hati dan belum bisa melupakan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Sikap dan gerak-gerik tubuhnya menunjukkan bahwa dia dalam keadaan trauma bahkan sejak berhasil diselamatkan dari pemerkosaan itu, sampai sekarang ia belum berkata apa pun juga.
Saat membuat laporan, polisi membatalkan beberapa interogasi pada dirinya, dikarenakan Winsi belum sanggup memberikan keterangan. Semua memaklumi bila dia masih Syok.
Hasil visum dan beberapa bukti memang di perlukan untuk melengkapi berkas dari hasil tangkap tangan kejahatan yang terjadi di kantor polisi itu sendiri. Ini adalah tamparan besar bagi pihak kepolisian dan segenap jajarannya, sebab kewaspadaan tidak bisa di abaikan di mana pun berada.
Kedua wanita itu menghampiri mobil Arkan dan pergi setelah memasukkan koper serta tas di bagasi. Semua itu dilihat dengan jelas oleh Nira dan gadis itu melaporkan apa yang dia lihat kepada Basri.
Selama di dalam mobil, Winsi meringkuk di sisi tubuh ibunya, sesekali air mata masih menetes. Bayangan ruang gelap dan semua kejadian belum juga hilang dari pikirannya. Dia benci. Benci sekali pada keadaan yang menimpa, pada laki-laki itu menambah kebencian yang semula hanya pada bapaknya.
‘Apa semua laki-laki itu kejam?’ batinnya.
Runa yang melihatnya menjadi trenyuh, hatinya terluka lebih dalam dari terlukanya saat melihat sang suami memeluk Nira. Buah hatinya mengalami trauma yang dia tidak tahu bagaimana menyembuhkannya.
“Kalian tinggal saja di rumah selama yang kalian mau,” kata Arkan sambil membelokkan mobil, ketika pintu gerbang besar sudah terbuka.
__ADS_1
Sedari tadi laki-laki itu pun hanya diam, hanya sesekali melirik gadis kecil yang ketakutan dari spion depan. Dia berpikir wajar bila gadis itu trauma, sebab kelakuan pria bertato menambah penderitaannya.
Dia tahu dari cerita Erlan tentang pengalaman hidup yang penuh kekerasan pada Winsi, ditambah dengan kejadian yang menimpanya pagi ini, hingga timbul rasa iba yang begitu besar.
Kini mereka sudah di halaman rumah yang luas serta di hiasi kolam air mancur, serta aneka tanaman hias di berbagai sudutnya.
Arkan mengusap wajah dengan telapak tangan lalu, menoleh di mana ada dua wanita duduk diam di kursi belakang mobilnya.
“Dengar, tidak ada yang perlu kau takutkan di sini, kalian aman. Tidak akan ada yang berani mengusikmu,” katanya penuh kelembutan.
Winsi memberanikan diri menatap pria yang dia pikir sudah banyak membantu ibunya, dia sering memborong nasi uduk buatan mereka. Dia pernah sekali mengikuti Arkan karena penasaran, ke mana nasi uduk sebanyak itu dibawa pergi. Hatinya tersentuh ketika melihat Arkan membagikannya pada beberapa gelandangan dan juga pemulung yang kebetulan dia temui. Pria itu baik!
Dia tahu dari Erlan saat mengantarnya ke kantor polisi beberapa hari yang lalu, bila Arkan sedang ada di Yogyakarta untuk menyelesaikan urusannya. Akan tetapi dia terkejut, dengan kemunculannya pagi ini di penjara, dia datang hanya untuk membebaskan ibunya! Ya, Cuma laki-laki ini yang dia nilai baik.
‘Apa dia menyukai Ibuku? Apa Cuma dia pria baik di dunia ini? Erlan juga suka manggil aku buluk!’ batinnya sambil mencebik.
“Pak. Apa ada orang lain yang tahu kami akan menumpag di sini?” kata Runa sambil membuka pintu mobil.
Kemudian Arkan membantu menurunkan koper dan tas, lalu, seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh menyambut mereka.
“Bawa mereka ke kamar tamu,” kata Arkan pada pelayan.
Rombongan kecil itu berjalan beriringan memasuki rumah dan langsung menuju kamar yang diminta Arkan untuk disediakan bagi mereka.
“Wah, Pak. Kamar ini terlalu bagus untuk kami. Kamu di bebaskan saja sudah sangat berterima kasih,” kata Runa mencoba menolak secara halus apa yang diberikan Arkan. Mereka bukan siapa-siapa baginya, kan?
Runa sangat bersyukur ada orang yang begitu peduli pada nasib mereka di penjara. Bagaimana Arkan bisa tahu pun Runa tidak mengetahuinya. Mereka hanya punya hubungan pertemanan yang begitu dekat di masa lalu, tapi sekarang, mereka bukan lagi teman atau semacamnya.
“Runa, aku Cuma mau nolong kamu sama anakmu. Jadi, jangan berpikir macam-macam,” sahut Arkan. Dia hanya berdiri di pintu, lalu berbalik dan pergi.
__ADS_1
Pelayan membantu Runa membereskan pakaian dan buku-buku sekolah ke dalam lemari, sementara Winsi langsung meringkuk di tempat tidur, menutupi wajah dan tubuhnya dengan selimut, lalu kembali menangis.
Sampai hari menjelang sore dia tetap seperti itu, tidak mau makan apa pun dan tidak melakukan aktifitas lain, kecuali melakukan ibadah karena Runa memaksanya. Sebelum dan sesudah melakukannya pun dia tidak bicara.
Hingga malam tiba, Winsi masih dalam kondisi yang sama, Runa sebagai ibu sudah melakukan berbagai upaya, seperti memeluk, memberikan nasihat dan menenangkan, serta menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya. Akan tetapi, Winsi tidak merespon, dia seolah hidup di antara dunia nyata dan mimpi. Sejak menginjakkan kakinya di rumah itu baik Winsi maupun Runa tidak keluar dari kamar.
Saat pelayan mengirim makanan ke kamar, Erlan mengikutinya dan saat itulah dia melihat ibu dan anak yang masih saling berpelukan. Tiba-tiba timbul rasa iri di hatinya, karena dia tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu. Ibunya meninggal saat dia masih kecil dan dia belum mengerti tentang apa pun, bahkan merasakan belaian seorang ibu pun dianggap serasa belum pernah.
Runa mendekati pelayan dan membantunya seraya berkata, “Tidak usah repot-repot di bawa kemari, BI. Kami bisa ambil sendiri.”
Pelayan itu tidak menjawab dan hanya tersenyum, tentu saja dia hanya menuruti perintah majikannya.
“Sampai kapan kamu mau sedih seperti itu?” kata Erlan sambil bersandar di daun pintu, sementara kedua tangan diselipkan pada saku celana.
Winsi yang mendengar ucapan Erlan, menoleh dengan sinis, dia pikir Erlan tidak akan bisa mengerti dan memahami perasaannya, tidak tahu hal apa yang sudah menimpanya! Dia malu, terluka, benci dan jijik dengan semuanya. Kata-kata laki-laki remaja itu semakin membuat sakit hatinya.
“Kamu harus baik-baik saja! Kalau perlu, jadilah lebih kuat. Hajar laki-laki yang sudah menyakiti kamu! Balas mereka! Kalau kamu lemah, setan justru menyukainya. Buat apa nyenengin setan!” kata Erlan dengan wajah datar seolah yang dikatakannya hanya seperti angin lalu. Akan tetapi berbeda Winsi menilainya, dia pikir, Erlan pula salah satu laki-laki yang sudah menyakiti dirinya.
‘Baiklah. Aku akan lebih kuat, terutama untuk laki-laki itu dan juga membalasmu!’ batin Winsi sambil mendengus kesal.
Runa menoleh pada Erlan, mencoba menelaah ucapan anak remaja yang terdengar asal. Namun tanpa disadari, ucapannya bisa membangkitkan semangat. Anak lelaki itu hanya sekali bicara, tapi, Runa melihat ada sedikit perubahan pada raut wajah Winsi—anaknya.
‘Anak ini mirip sekali dengan ayahnya saat dia masih remaja!’ Pikir Runa sambil tersenyum kecil.
“Ayo! Cepat makan, apa kamu mau mati pelan-pelan karena kelaparan?” kata Erlan, masih dalam posisi yang sama. Dia tahu apa yang di alami Winsi dari ayahnya. Dia kembali berkata, “Ck! Padahal rencananya, aku hari ini mau duel karate sama kamu. Makan yang banyak kalau mau ngalahin aku!” lalu, dia pergi tanpa melihat Winsi kembali.
Anehnya, gadis itu mau turun dari tempat tidur dan mengambil makanannya, sebenarnya dia lapar, dari pagi belum ada sesuap nasi pun yang masuk ke perutnya tapi, dia tidak punya selera.
Sekarang, dia harus kuat dan ingin mengalahkan Erlan, hanya dalam satu jurus saja!
__ADS_1
Winsi ingat waktu pertama kali dia mendaftar untuk menjadi peserta latihan karate, motivasinya saat itu hanyalah ingin menjadi lebih kuat, dan bisa melawan ketika ada seseorang yang mencoba menganiaya dirinya. Dia berlatih sungguh-sungguh dari sejak pertama hingga lama-kelamaan dia bisa menghafal semua gerakan dan memiliki kemampuan bahkan siap untuk bertanding. Akan tetapi, karena tubuhnya yang lebih kurus dari anak-anak lainnya dalam kesatuan anggota, membuatnya tidak diikutsertakan dalam beberapa kejuaraan. Namun, bukan berarti dia tidak memiliki kemampuan, sebab apabila mengikuti kejuaraan harus sesuai dengan berat badan lawan.
Bersambung