
Suami Yang Tampan
Tiba-tiba Winsi mengingat nasehat Runa tentang bagaimana baiknya sikap seorang istri pada suaminya, walaupun, dia tahu Erlan selama ini begitu perhatian dan, sayang padanya hingga dia tidak akan menuntut sesuatu yang berlebihan.
Semua yang dikatakan pria itu tadi, hanyalah sebagai bentuk kasih sayang yang tulus kepadanya. Dia tidak ingin Winsi kepanasan dan kehujanan atau tidak usah repot-repot, mengeluarkan uang karena dia mampu memenuhi semua kebutuhan istrinya tanpa diminta. Dia hanya menginginkan Winsi meminta izin atau biacara jujur tentang apa pun juga.
Di lain sisi Erlan sendiri sedang mati-matian menutupi sesuatu yang apabila Winsi tahu, dia khawatir wanita itu akan kecewa, marah dan sedih.
“Maaf ... tapi memang aku nggak mau ngerepotin kamu, apa itu salah?” Winsi berkata sambil cemberut.
Erlan tersenyum dan berkata sambil menarik Winsi dalam pelukannya, dia lega pembicaraan mereka tidak lagi mengarah ke arah Hanifa.
Pria itu pun mengusap pipi istrinya dengan lembut seraya berkata seraya berkata, “Kamu memang nggak tahu apa, kalau kewajibanku sesudah menikah denganmu itu memberimu nafkah?”
“Emang harus, ya?” kata Winsi sambil mendongak dan menatap Erlan lekat, membuat pria itu kembali tertawa dan mencium bibir wanita itu sekilas.
“Ya. Tentu saja.”
“Memberi nafkah pada istriku itu wajib, kalau aku tidak memberi uang atau memenuhi kebutuhanmu, aku dosa!”
__ADS_1
“Nggak apalah, kalau aku nggak menuntutmu, kan, aku nggak kekurangan. Atau bisa juga karena istri mengikhlaskan maka nggak masalah.”
“Iya, nggak akan jadi masalah di dunia, nggak tahu kalau di akhirat nanti, kan? Kadang manusia meremehkan tanggung jawabnya di akhirat.”
Mendengar apa yang diucapkan Erlan, Winsi tersenyum dia tidak menyangka jika pria itu yang terlihat tidak religius atau biasa saja, tapi tahu banyak soal yang demikian.
Winsi mengangguk sebelum Erlan kembali menghujaninya dengan ciuman dan kasih sayang.
*****
Hari ini Winsi memulai kembali aktivitas kuliahnya di universitas yang baru, dengan penuh semangat. Dia sudah janji dengan Mery untuk pergi bersama walau mereka menggunakan motor maticnya sendiri-sendiri. Mereka memang menempuh pendidikan di tempat yang berbeda tapi, jalan yang akan mereka lalui searah.
Gadis itu berpamitan dengan ibu dan suaminya yang tidak pergi bersama karena Erlan beralasan akan pergi ke proyek sebelum ke kantor seperti biasanya. Sebenarnya Erlan ingin memiliki kemesraan di mana seorang kekasih mengantarkan pujaan hatinya pergi kuliah atau bekerja.
“Kenapa, sih, kok lama banget kamu?” Tanya Mery begitu Tania muncul dengan setengah berlari, masih ada sisa napas yang terengah-engah, saat dia menyeka keringat di keningnya.
“Maaf, soalnya rame tadi, di dekat rumah!” jawab Tania sambil mengenakan helm dan duduk di bonceng Mery.
“Rame apaan?” tanya Winsi yang mengendarai motornya di sisi motor Mery.
__ADS_1
“Itu, Hanifa!” kata Tania.
“Kenapa Hanifa? Kumat?” tanya Mery sambil tertawa, “Nggak nyangka dulu cantik, Sholehah, terkenal eh, sekarang, gila!”
“Ya, kan takdir manusia beda-beda!” kata Winsi dari samping dua wanita itu.
“Eh, Tan! Hanifa itu udah nikah belum?” tanya Winsi tiba-tiba.
“Sudah! Kalau kalian tahu, suaminya itu gantengnya kebangetan. Heran deh, aku sama cowok itu, kok, bisa-bisanya nikahi cewek kayak Hanifa, memang dia gak laku, apa? Aku aja mau jadi istrinya!” Tania berkata sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.
“Eh, bohong kamu, Tan! Mana ada orang ganteng mau sama orang gila!”
“Ada, tuh, buktinya, Hanifa! Beruntung banget dia, pacar kamu aja kalah, Mer!”
“Masa?” kata Mery.
“Iya, ntar pulang main kenrumah ya, kita buktikanlah!” kata Tania sambil tertawa di atas motor.
“Tan, kamu tahu siapa nama suaminya?” tanya Winsi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya dan hanya menoleh sebentar.
__ADS_1
"Nama suami Hanifa?" Tania balik bertanya.
Bersambung