Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
110. Aku Akan Menunggu


__ADS_3

Aku Akan Menunggu


“Kalau begitu apa, Win?” tanya Runa penasaran. Winsi diam karena dia harus berdiri dan menyerahkan Jiddan pada ibunya. Lalu, dia tersenyum pada bayi itu dan Runa secara bergantian.


“Kalau begitu aku akan nunggu sampai Erlan berani ngelamar aku ke Jogjakarta.”


“Kenapa harus ke Jogjakarta nggak sekarang aja, sih? Ibu mau minta dia cepat lamar kamu, kok!”


“Nggak, biar dia buktikan kesungguhannya, Bu. Dia pasti mau kok, kalau memang dia mau nurut sama ibu, terus dia juga memang benar-benar senang sama aku.”


“Wiwin, jangan keterlaluan begitu ... memangnya selama ini kamu nggak tahu kalau dia itu suka sama kamu? Kalau orang benci, nggak mungkin dia sikapnya manis dan baik gitu ke kamu dari dulu, Win!”


Wingsi tahu kalau ayah dan ibunya belum saling menyetujui dan sepakat, tentang keinginan rona yang menjodohkan mereka. Apalagi ibunya pun belum mengatakannya kepada Erlan sehingga dia berani meminta hal demikian. Seandainya pria itu sudah mengetahui rencana Runa, pasti dia akan menanyakan sesuatu pada Winsi tadi malam. Namun nyatanya, sampai dia pergi dan menutup jendela pun Erlan tidak mengatakan apa-apa.


Di saat yang sama, dua lelaki di dalam kendaraan pribadi mereka saling berbincang, dengan leluasa karena mereka sengaja tidak membawa Jasnu sebagai sopir. Mereka akan mengerjakan sesuatu yang rahasia kali ini, bahkan orang di rumah pun tidak boleh mengetahui termasuk Runa.


Sebenarnya Erlan tidak setuju dengan rencana ayahnya yang setengah memaksa, tetapi, apabila melihat janjinya pada seseorang seketika dia mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu, maka, Arkan tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Biar bagaimanapun juga, janji seorang laki-laki harus ditepati walaupun, dia merasa berat dan tidak mencintai wanita yang saat ini harus dia nikahi.


“Apa mahar yang akan kamu berikan pada perempuan itu?” tanya Arkan dari samping Erlan yang tengah mengemudi.


“Mana aku tahu terserah ayah saja!” Erlan menjawab tanpa rasa bersalah.


“Erlan, ini pernikahanmu bukan pernikahan Ayah kau yang harus mempersiapkannya!”


“Tapi kan Ayah yang mau bukan aku?”

__ADS_1


“Ya, Oke! Ayah yang mau, tapi apa kamu pikir Ayah harus menikahi perempuan itu, sedangkan kamu yang berjanji akan mengurusnya, apa itu adil aku harus mencari madu untuk Ibumu, begitu?”


“Ayah! Aku benar-benar tidak menyediakannya aku pikir semua yang sudah aku berikan untuk dia itu sudah cukup untuk menjadi mahar bayangkan saja berapa jumlah uang yang harus aku habiskan saat perawatan di rumah sakit bahkan aku harus memotong uang gajiku dari restoran.”


“Kalau kau harus menuliskannya maharmu adalah uang yang dipakai untuk biaya rumah sakit kalau akan disebut sebagai orang yang pelit!”


“Ayah, mana mungkin aku pelit kalau aku pelit mungkin akan aku biarkan dia sampai mati!”


“Erlan, apa aku mendidikmu untuk menjadi seorang yang pengecut dan rendahan? Memberikan biaya rumah sakit yang seharusnya kau iklaskan menjadi mahar?” kata Arkan dengan suara meninggi.


“Mana bisa begitu, Ayah! Tidak ada hubungannya mahar sama harga diri laki-laki?”


“Tentu saja ada, kau memberikan mahar yang banyak atau sedikit, berarti seperti itulah harga dirimu sebagai laki-laki,” kata Arkan lagi seraya meraup wajahnya dengan telapak tangan.


Erlan terdiam dan tidak lagi bicara hingga mereka tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit tempat di mana seorang wanita tengah dirawat secara intensif. Kedua pria itu langsung melangkah ke dalam bangsal rumah sakit begitu mereka turun dari mobil. Kini mereka berada di dalam kamar perawatan yang selama ini begitu akrab dengan Erlan dan Arkan.


Saat itu sebenarnya mereka tidak terlibat tabrakan secara langsung, tetapi akibat dari kecelakaan yang Erlan alami, membuat Hanifa menjadi anak yatim piatu dalam sekejap.


Kejadian waktu itu berawal dari saat motor Erlan terjatuh demi menghindari seorang penyeberang jalan. Ternyata ada mobil yang dikendarai oleh kedua orang tua Hanifa, berada tepat di belakang motor yang terpental. Lalu, mobil itu mencoba menghindari agar tidak melindas tubuh Erlan yang juga terpelanting tak jauh dari kuda besinya.


Namun, yang terjadi kemudian adalah, mobil yang membanting setir untuk menghindari kecelakaan beruntun itu justru meluncur ke arah di mana pembatas jalan berada. Kebetulan mobil sedan yang posisinya rendah dan memiliki tinggi yang sama dengan pembatas pagar, membuat kendaraan itu ringsek, hancur dan, dua orang yang ada di dalamnya dinyatakan tewas seketika. Mereka adalah orang tua yang menjadi korban kecelakaan meninggal di tempat kejadian.


Secara kebetulan orang yang mengendarai mobil itu adalah kedua orang tua Hanifa, yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, untuk menengok anak mereka yang dalam keadaan koma.


Sebelumnya Erlan dan Arkan tidak mempersalahkan kedua orang tua itu hingga Runa mengingatkan untuk menyelidiki seseorang yang menjadi korban kecelakaan maut itu. Mereka awalnya hanya ingin mengucapkan belasungkawa saja. Akan tetapi, ketika melihat kronologi kejadian dan mendengar kabar dari beberapa orang sumber bahwa tujuan mereka pergi adalah untuk merawat anak mereka yang sedang sakit, membuat Erlan tersentuh hatinya.

__ADS_1


Erlan pun tergerak untuk melihat siapa sebenarnya anak yang sedang dalam keadaan koma tersebut, di rumah sakit. Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui jika yang berada di rumah sakit adalah Hanifa, temannya dulu ketika masih sekolah.


Tentu saja Erlan sangat mengenalnya, karena gadis itu tergolong dekat dan baik padanya, dia juga manis bahkan sangat cantik sehingga Erlan pun berjanji padanya untuk menjadi orang yang akan menggantikan kedua orang tuanya.


Pria itu sering berkunjung ke rumah sakit setiap kali dia pulang kuliah, atau sengaja datang untuk melihat keadaannya, sampai kemudian dia sembuh.


“Apa kabar, Han?” tanya Erlan saat dia dan Arkan sudah sampai di dekat tempat tidurnya.


Gadis itu tersenyum lembut, dan menyambut kedatangan dua laki-laki itu dengan menjabat tangannya. Kondisinya kadang baik kadang juga buruk, hingga Hanifa sering menjadi penghuni rumah sakit tanpa harus melakukan registrasi karena begitu seringnya dia menjadi penghuni bangsal, bahkan banyak dokter dan perawat menjadi begitu akrab.


Saat Erlan menjalani kuliahnya, maka Arkan yang akan menggantikan tanggung jawab Erlan untuk membawa gadis itu ke rumah sakit, menjaga dan kembali membawanya pulang kalau dia sudah kembali membaik. Ada beberapa asisten dan perawat yang sengaja di bayar secara khusus oleh Arkan saat gadis itu berada di rumah bersama keluarga ayah dan ibunya.


“Alhamdulillah kalau kamu sudah sehat, ayo! Kita pulang, sekarang.” Erlan berkata tanpa melihat pada Hanifa, tapi justru membereskan beberapa perlengkapan yang ada di atas meja. Dia tampak menyembunyikan sesuatu dengan tingkahnya.


“Kamu sudah lulus kan, Er? Jadi kamu mau pulang bareng ke rumahku ... aku ingat loh janji kamu dulu, waktu aku baru sadar ...” sahut Hanifa sambil meremas kedua tangannya sendiri.


“Ya.” Erlan berkata singkat, “kita akan menikah nanti.”


“Benar, kah?” Hanifa tampak kegirangan.


“Ya.”


“Kalau begitu, ayo pulang!”


Arkan hanya melihat interaksi dua anak muda di hadapannya dengan perasaan asing di hatinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2