Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
127. Cinta Seorang Laki-laki


__ADS_3

Cinta Seorang Laki-laki


Winsi terus berjalan mendekat ke arah Erlan, dia sempat mendengar suaminya itu berkata, “Sabar, nanti juga aku ke sana!”


Gadis itu berharap Erlan akan mengatakan hal lainnya hingga dia bisa menyimpulkan maksud pembicaraan laki-laki itu dengan orang di seberang ponselnya. Dia tidak ingin ikut campur dengan urusan Erlan tapi, karena ucapan Mery membuatnya penasaran.


Saat berbalik, Erlan melihat Winsi yang masih termenung di belakangnya membuat pria itu terkejut, tapi, dia segera mengatasi keterkejutannya dengan tersenyum semanis mungkin.


“Kenapa kamu di sini ....?” Erlan berharap Winsi tidak mendengar apa pun dari pembicaraannya. Dia berkata sambil melangkah maju dan menarik tangan Winsi lembut lalu, melingkarkan kedua tangannya sendiri di pinggang gadis yang kini terlihat gugup.


Erlan sudah ingin melakukan ini sejak lama, memeluknya dengan segenap kerinduan di dada, memiliki dengan seluruh rasa bahagia. Kebahagiaan seorang laki-laki adalah saat dia bisa menikahi seorang wanita pilihan hatinya.


Punggung Winsi tiba-tiba menjadi kaku, tangan dan kakinya tidak sejalan dengan hatinya yang ingin menghindari pelukan erat dari Erlan, yang menghilangkan jarak pada tubuh mereka. Begitulah, kadang hati dan otak tidak selalu beriringan.


Dia menurut saja saat Erlan membawanya ke sisi dinding pembatas antara rumah, lalu, memeluknya, dengan pelukan seolah ingin membenamkan tubuh mereka menjadi satu dan, merasakan napas pria itu pada lekukan lehernya.


“Win ....” Erlan berkata dengan lembut di telinga Winsi, tapi, gadis itu hanya diam, bahkan tidak membalas pelukannya.


Winsi adalah gadis yang masih polos dan tidak punya pengalaman. Selama ini, yang dipeluknya Cuma Arkan, bukan pria lainnya. Setelah ayahnya itu tiada, dia tidak tahu bagaimana caranya, bermanja-manja atau memeluk laki-laki selain dengan orang yang dia panggil sebagai Ayah.


Setelah beberapa saat berlalu, pelukan Erlan pun terlepas karena Winsi yang memundurkan punggungnya menjauhi dada bidang yang sebenarnya cukup nyaman dipeluk itu. Dia tersadar ada di mana mereka sekarang hingga tidak mungkin berlama-lama dalam keadaan berpelukan.


“Win ....” Erlan kembali berkata sambil menatap Winsi lekat-lekat, belum pernah mereka berpandangan sedekat itu, atau bersentuhan, apalagi berpelukan seperti tadi dan tidak lama kemudian ...

__ADS_1


Cup! Satu kecupan mesra mendarat di bibir Winsi. Spontan gadis itu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, membuat Erlan tergelak, melihat tingkah lucu yang menggelikannya.


“Kenapa?” itu kecupan sayang, belum juga dikullum udah kayak gitu,” kata Erlan setelah selesai tertawa.


Winsi tidak menjawab, dia masih menatap Erlan dengan tatapan mata yang sama seperti dulu, tidak ada yang berubah atau menyiratkan rasa tertentu, semua biasa saja, atau mungkin dia memang tidak punya rasa pada pria yang kini berstatus sebagai suaminya.


“Terima kasih, ya, sudah menerimaku, sudah mau menjadi istriku, tetap menjadi bagian dari rumah ini, jangan pergi ... kalau kalian pergi, aku akan kesepian di sini. Aku sudah terbiasa dengan kalian dan aku tidak ingin kebersamaan kita selesai, hanya karana Ayah meninggal!”


Winsi mengangguk, kini pandangan matanya sedikit berubah pada Erlan, ada rasa kasihan dan juga iba, melihatnya tersiksa tanpa orang yang disayang ada di sisinya.


“Win.” Erlan berkata lagi setelah diam sejenak, kedua tangannya masih memegang pangkal lengan istrinya.


“Hmm.”


“Ya, aku ingat,” kata Winsi akhirnya buka suara juga, membuat Erlan tersenyum dan kembali mencium bibir itu dengan cepat, lalu melihat reaksinya yang kembali mengusap bibir dengan jarinya.


‘CK! Apa maksudnya coba?’ batin Erlan sedikit kesal, tapi, kembali tergelak dia sangat terhibur rupanya dengan tingkah gadis itu.


“Tapi, kenapa kamu nggak nikah aja sama dia?” kata Winsi kemudian.


“Haiss! Peri kecil itu, kamu, Win!” Tanpa menunggu komentar Winsi, Erlan kembali menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya.


“Apa? Kok, bisa aku jadi peri, Lan? Bukannya aku Cuma anak buluk, hah? Awas ya, nanti kalau kamu dekat-dekat tidur sama aku!” Winsi berkata sambil mendorong tubuh Erlan sekuat tenaga dan dia pergi meninggalkan Erlan yang tertawa begitu saja.

__ADS_1


Winsi kembali ke area pesta dan duduk di dekat Runa yang juga duduk bersama Meri beserta ibunya. Mereka berbincang-bincang tentang hal-hal ringan seputar makanan jan pakaian.


“Gimana, Win, kamu dengar sesuatu di tebaran,?” tanya Mery setengah berbisik, agar tidak di dengar oleh ibu mereka.


“Dengar juga, sih ... tapi nggak ada yang aneh, kok, biasa abilang cuma bilang mau cepat datang, ke orang yang dia telepon.”


“Ya, datang ke mana?”


“Mana aku tahu, dia nggak ngomong!”


“Win, sebenarnya kamu itu cinta nggak sih, sama Erlan? Punya rasa memiliki dia sebagai suami, nggak? Kok, bisa-bisanya kamu pikir biasa? Justru anehnya di situ, dia mau datang ke mana, buat apa, sama siapa?”


Winsi termenung, dia memiliki rasa tawar pada Erlan sejak dulu hanya getaran aneh atau sedikit rasa suka saat melihatnya itu saja, apa itu cinta, apa dia tidak punya rasa memiliki? Namun, sekarang dia adalah istrinya yang harus perduli pada suaminya, kan?


Tiba-tiba dia teringat Basri yang sering pergi ke luar kota, dulu Winsi tidak pernah tahu laki-laki itu pergi ke mana hingga suatu saat bapaknya itu pulang membawa seorang wanita. Winsi tidak paham dengan apa yang dirasakan ibunya saat itu, tapi, perasaan kanak-kanak di hatinya tetap tidak suka pada apa yang dilakukan bapaknya, dia juga melihat ibunya menangis.


“Mungkin kamu benar, tapi, aku harus tidak bisa menuduh sembarangan pada suamiku sendiri berbuat macam-macam, tanpa bukti. Terima kasih Mer, kamu lebih pengalaman, ya, soal pacaran dan laki-laki!” Winsi tertawa kecil sambil menepuk bahu sahabatnya.


Mery terlihat kesal pada Winsi, sahabatnya itu memang benar-benar polos, walaupun pernah mengalami peristiwa yang cukup sulit di waktu kecil. Dia tidak menyangka jika Winsi pun begitu tabu soal lawan jenis. Dia pikir wanita seperti itu akan menggunakan cara mempermainkan laki-laki, sebagai pelampiasan kekecewaannya, tapi, ternyata justru sebaliknya. Winsi menjauhi semua pria dan tidak ingin terlibat terlalu jauh, bahkan menghindari pernikahan dengan mereka. Namun, nasib dan kehendak Allah nyatanya tidak bisa membuatnya lari dari pernikahannya ini.


“Ingat Win, kata orang, cinta seorang laki-laki itu akan berkurang hampir separuhnya saat dia sudah menikah, dengan wanita yang dicintainya. Jadi, cinta mereka tidak sama, beda dengan wanita yang rasa cintanya tidak berubah walaupun, sudah menikah.”


“Terus gimana kalau nggak pernah pacaran, nggak pernah cinta-cintaan sebelumnya?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2