
Menunggunya
Setelah Erlan berada di luar pintu dan melihat Winsi mau menyantap makanan dengan lahap, dia tersenyum tipis. Sengaja memang dia mengumpankan diri untuk menarik semangat serta kemauan Winsi agar bangkit dari keterpurukan. Perasaannya hanya kasihan dan iba, lalu ... ada perasaan lain yang membawa lelaki tanggung itu selalu ingin bersikap baik padanya.
Biar saja, seandainya Winsi membencinya pun tak mengapa asal gadis itu mau makan dan tidak terus menerus menangis karena itu lebih menyebalkan!
*****
Basri berulang kali lewat dan berdiri cukup lama di depan rumah besar, ingin menemui Runa dan Winsi.
Setelah mendapatkan telepon dari Nira, yang memberitahu tentang peristiwa di pagi beberapa hari yang lalu, dia segera pulang. Atas keterangan dari Nira, dia yakin bahwa Runa dan Winsi ada di sana.
Dia hanya ingin menanyakan akan apa yang terjadi pada kasusnya karena saat ini dia justru di jerat dengan pasal pencemaran nama baik atas nama Runa Umaya—istrinya.
Selain itu, ada sebuah petisi dari seorang pengacara yang memintanya untuk mencabut tuntutan hukum atas tuduhan pencurian pada Runa. Dari petisi, dia menjadi tahu bila tuntutan pencemaran nama baik itu adalah salah satu cara membuktikan bila Runa tidak bersalah.
Mau tidak mau dia harus mencabut tuntutannya. Walaupun, baginya ini adalah pemaksaan. Susah payah dia merayu Nira agar mau menandatangani surat pencabutan tuduhan.
Dia yakin bila istri dan anaknya pasti tidak bisa sembarangan keluar, atau ada seorang yang ingin masuk pun harus menunggu izin dari pemiliknya.
Nasib seperti mempermainkannya! Saat dia menunggu baik pagi maupun sore hari, pintu gerbang selalu tertutup. Dia pernah meminta izin baik-baik untuk menemui Runa, tapi, penjaga tidak membukakan pintu untuknya. Namun, begitu dia pergi dari tempatnya menunggu, secara kebetulan pintu gerbang terbuka karena ada orang yang masuk maupun keluar setelahnya.
Sudah satu pekan, dua wanita yang terdiri dari ibu dan anak tinggal di rumah besar. Selama itu pula Basri mondar-mandir di sana, mencari kesempatan untuk bisa masuk, tapi sampai hari ini dia tidak bisa menemuinya. Pria itu terlihat putus asa.
Basri menyadari betapa besar cinta Runa pada dirinya, wanita itu tidak pernah mengeluh meski begitu buruk dia memperlakukannya. Apalagi masakannya selalu enak walaupun sederhana. Dia membiayai kebutuhan rumah tangga tanpa banyak meminta, kecuali kebutuhan besar saat wisata sekolah Winsi.
__ADS_1
Saat ini rumahnya terlihat kotor karena tidak ada yang merawat, token listriknya tadi malam berbunyi mengisyaratkan minta di isi kembali. Belum lagi iuran RT dan uang kebersihan yang diminta setiap pekan sekali. Padahal selama ini dia tidak pernah berurusan dengan semua ini. Seluruh kebutuhan Rumah tangga, Runa yang menanggungnya walau, dia hanya memberi uang tiga ratus ribu saja setiap pekan. Namun demikian, dia tetap bisa makan enak apalagi rumah dan pakaiannya selalu bersih.
Sementara Nira setiap hari hanya bermalas-malasan saja. Dia sudah mencoba mengajari dan meminta gadis itu mengerjakan semua, tapi hasilnya, tidak seperti Runa.
Tiba-tiba dia merasa menjadi lelaki paling bodoh telah menyia-nyiakan istri sebaik dan semanis Runa. Bahkan saat dia menyambut kedatangan Nira, istrinya itu tetap berlaku lembut dan juga melayaninya dengan sempurna. Memang beberapa kali perempuan itu pernah mencoba membela Winsi, tapi itu wajar karena Winsi adalah anaknya.
Basri sedikit ragu tentang anaknya karena Runa berulang kali mengatakan bila Winsi benar-benar keturunannya.
“Pak, dia itu anakmu, darah dagingmu!” kata Runa setiap kali dia mengatakan anak haram pada Winsi.
“Lalu, siapa laki-laki itu?” Bantahnya pula.
Akan tetapi Runa selalu menjawab, “Aku tidak tahu.” Suaranya terdengar meyakinkan. Dia tidak bohong, bahkan sampai saat ini mereka tidak ada yang tahu siapa pria bernama Anas ini.
Hatinya selalu sakit, setiap melihat anak perempuan itu karena setiap kali itu pula dia akan ingat bagaimana seorang pria dengan lemah lembut menyelimutinya.
Kejadian itu sudah terjadi sekitar belasan tahun yang lalu, tapi dia tetap tidak bisa melenyapkan rasa sakit hatinya, dia terlalu cemburu dan, semua itu karena sangat mencintai istrinya.
Karena terlalu mencintai hingga saat sesuatu terjadi akan terlalu kecewa dan sakit hati. Maka, berlakulah di tengah-tengah.l
Keadaannya saat ini mirip seperti gelandangan yang kerjanya hanya duduk dan mondar-mandir di pinggir jalan. Pakaian dan rambut kusut, wajah kusam dan dia sering kelaparan, karena dia jarang makan hingga tubuhnya terlihat sedikit menyusut.
Dia merindukan istrinya ingin menumpahkan sesuatu dalam diri yang selama ini tidak bisa dia lakukan pada wanita yang tidak halal. Sudah hampir dua pekan dia tidak melakukannya, membuat kepalanya selalu pusing. Sungguh dia akan menebus dengan semua yang dimilikinya bila Runa mau kembali padanya.
Nira mengatakan dengan gamblang tentang niat Runa meminta cerai darinya. Dia ingin rujuk, tidak sanggup kehilangan istri untuk saat ini. Dia membutuhkan wanita seperti istrinya dan menyayanginya. Walaupun, harus berlutut dan memohon untuk meminta maaf dari Runa maka, dia akan melakukannya!
__ADS_1
Basrie khawatir bila Runa membencinya, walau memang dia pantas di benci. Dia tahu bahwa sebaik-baik manusia akan kecewa juga bila kebaikannya tidak pernah dihargai pasangannya. Sesabar-sabarnya manusia akan marah juga bila apa yang dilakukannya, tidak pernah ada.
Sementara di dalam rumah besar, tampak Winsi duduk di dekat jendela kamar sambil menatap keluar. Dia baru selesai menjalani terapi kejiwaan untuk menghilangkan traumanya. Bahkan dia sudah bisa memberikan keterangan saat polisi melakukan interogasi padanya.
Gadis remaja itu belum mau sekolah karena rasa percaya dirinya belum pulih secara sempurna.
Dia merasa menjadi anak yang tidak diinginkan oleh Bapaknya dan kehadirannya dibenci, menjadi anak yang kotor karena sudah dinodai, merasa tidak punya harga diri karena dirinya tidak suci lagi, merasa tidak punya masa depan karena pasti akan dijauhi laki-laki.
‘’Memangnya siapa yang mau berteman dengan anak haram sepertiku, memangnya siapa yang suka dengan gadis kotor sepertiku?” gumam Winsi.
Tiba-tiba Runa masuk kamar dan dia mendekati Winsi sambil mengusap rambutnya yang lembut. Wanita itu duduk di sebelah Winsi dan menemaninya sebentar, dia tidak tahu bagaimana cara membantu agar cepat sembuh dari trauma.
Dia hanya mengikuti arahan dokter agar sering-sering menemani dan mengatakan hal-hal yang positif saja pada anaknya. Wanita itu sangat bersyukur atas perkembangan yang baik pada putrinya tapi, dia masih bingung bagaimana membalas kebaikan keluarga ini pada mereka.
Selama berada di sana, Runa bekerja layaknya seorang pelayan yang membantu beberapa pekerjaan rumah tangga dan memasak di dapur. Dia merasa itu kewajiban, sebab dia hanya menumpang secara gratis di sana.
Sudah beberapa kali dia bilang pada Arkan untuk di izinkan mencari tempat tinggal, maka setiap kali itu pula Arkan akan mengatakan tentang kesembuhan anaknya. Winsi masih membutuhkan pengobatan hingga akhirnya mereka tetap berada di sana.
Dug!
Tiba-tiba ada sebuah bola basket terlempar ke dekat jendela, tak jauh dari tempat Winsi duduk melihat ke arah luar dengan tatapan kosong.
“Hai anak buluk, sini! Mau nggak main basket sama aku?”
Bersambung
__ADS_1