
Setelah Satu Bulan Kemudian
“Apa itu artinya kamu kangen padaku? Kenapa nggak bilang, Sayang? Coba bilang, pasti aku cepet datang!”
“Siapa yang kangen coba! Jangan ngarang, kamu Lan!”
“Lan, Lan, Lan, terus saja begitu, padahal aku sudah sering loh, panggil kamu Sayang, Win!”
“Dih! Aku kan nggak minta!”
“Astagfirullah ... semoga aku sabar ...!”
Winsi melirik Erlan sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela melihat awan-awan yang bergelombang membentuk gumpalan. Dia mengabaikan Erlan yang tampak terus mengusap dada bidangnya sambil mengusap istighfar.
Sesampainya di Bandara, sudah ada Hasnu yang datang menjemput sepasang suami istri itu, dan mereka langsung menuju ke rumah. Betapa senangnya hati Runa saat melihat anak gadisnya pulang bersama suaminya, dalam keadaan baik-baik saja bahkan terlihat rukun.
Winsi menceritakan keadaannya selama di sana dan Runa pun menyesalkan kepergian Erlan yang tiba-tiba, padahal, dia ingin ikut bersamanya. Namun, Zidan sedang kurang sehat, badannya panas dan rewel, hingga dia membatalkan keinginannya untuk ikut ke Jogjakarta menjemputnya.
“Win, sekarang bilang sama ibu terus terang ...!” kata Runa sambil memegang erat kedua tangan anak perempuan itu, ketika mereka duduk di dalam kamar utama, saling berhadapan.
“Soal apa, Bu?”
“Soal kamu dan suamimu! Coba, gimana kalau nanti Hanifah istri pertama Erlan itu, sudah sembuh, apa kamu mau tetap bertahan dengannya atau tidak?”
“Dari mana Ibu tahu soal ini?”
“Nggak penting dari mana Ibu tahu soal itu yang penting jawaban kamu apa?”
“Bu. Aku males bahas ini Bu!”
__ADS_1
“Kamu ini bahas masa depan malah males ke kampus juga males! Mau gimana nanti, kamu?”
“Bu, aku itu nggak malas kuliah, kok! Soalnya, Nia lagi sakit nggak ada siapa-siapa yang ngurusi, nggak ada teman, masa tokonya tutup terus, nanti aku dapat duit dari mana?”
“Ya, kan, ada suamimu! Dia juga cari duit buat kamu, buat apa dia capek bekerja cari uang kalau nggak ada istrinya!”
“Biar buat dia sendiri aja! Wiwin juga bisa cari duit sendiri, selama ini aku nggak pernah minta duit dia!”
“Win, jangan egois, semua suami itu butuh menafkahi istrinya biar sah menjadi qowwam atau pemimpin bagi kaum wanita di hadapan Allah. Semua ada di surat An Nisa.”
“Iya, Wiwin tahu, Bu. Tapi, kalau memang aku nggak butuh dia, gimana? Pokoknya, kalau Hanifa mau tetap poligami, aku mau mundur, Bu! Kita pulang ke Jogja!”
“Baik, kalau begitu Ibu juga setuju!”
“Alhamdulillah kalau Ibu ngerti dan nggak maksa aku, untuk tetap jadi istri Erlan walaupun, dia punya istri lain. Soalnya aku nggak siap, Bu, aku nggak akan kuat, aku ngaku lemah soal ini!”
Beberapa hari setelah Erlan dan Winsi tiba di rumah itu, mereka tidak pernah membahas masalah tentang Hanifah. Kehidupan mereka normal, seolah-olah tidak ada sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka sebelumnya. Bahkan, sepasang suami istri itu mulai tidur dalam satu kamar.
******
Satu bulan sudah tidak terasa waktu terlewat membawa semua kejadian di bumi bersamanya, menggusur kenangan tanpa ada habisnya, karena kenangan akan terus ada pada setiap kejadian, anak manusia.
Erlan mengajak Winsi menengok Hanifa, dia menggandeng tangan istrinya itu begitu turun dari mobil sampai di ruang terbuka, yang berdinding kaca dan bisa melihat para pasien di sana meski dari kejauhan. Bukan hanya mereka yang ada di ruangan kaca itu, tapi sudah ada beberapa orang yang tampak menengok anggota keluarganya juga.
“Sekarang sudah satu bulan, ini batasnya Kita Bisa menengok Hanifa dan melihat bagaimana perkembangannya.”
“Kenapa kamu ngajak aku? Nanti, aku ganggu lagi ... Kamu kan kangen pasti udah sebulan nggak ketemu!” Kata Winsi sambil mengalihkan pandangannya, dia menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, kalau dia tidak suka.
“Win, dengar ... Aku nggak menuntut kamu untuk ngerti aku ...tapi, aku cuman pengen ngajak kamu ke sini aja, nggak tahu kenapa?”
__ADS_1
“Oh, bukannya mau pamer, kamu bangga, kan, punya dua istri, sombong kamu kalau kayak gitu!”
“Nggak, Win, buat apa pamer punya dua istri di tempat seperti ini?”
Mereka terus bercakap cakap sambil melihat ke arah Hanifa yang masih duduk sendiri di teras kamarnya.
“Ya! Siapa tahu aja mana aku tahu apa yang ada dalam hatimu Lan!”
“Lan, Lan, lagi. Astagfirullah!”
“Istigfar terus, maasyaallah, suamiku ini, Sholeh sekali!” kata Winsi sambil tersenyum lebar.
“Sayang, Jangan salah paham aku sama Hanifah tidak pernah melakukan hubungan seperti yang pernah aku lakukan padamu!”
“Masa? Padahal, kan, kalian sudah selama itu menikah?”
“Ya! Tapi aku nggak mungkin berhubungan badan dengan wanita yang menganggap aku adalah Papanya, aku nggak bisa mana ada seorang Bapak menggauli anaknya sendiri?”
Eelan dan Winsi menghela napas panjang secara bersamaan.
“Bayangin aja, gimana kalau misalnya aku melakukan itu, kemudian dia menganggap Papanya yang sudah menyakitinya, kayak apa bencinya dia sama Papanya, sedangkan perasaan dan imajinasinya itu, dia benci pada Papanya udah meninggal!”
Winsi termenung, dan mengangguk karena sudah bisa memahami jalan pikiran suaminya. Namun tiba-tiba tatapannya terbelalak kemudian, dia menunjuk ke arah Hanifah sambil menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya.
Dia melihat seorang perawat pria tiba-tiba mendekati Hanifa dan mencium pipinya, lalu gadis itu tersenyum manis dengan wajah merona karena malu. Dia tahu dia seorang pria yang pernah dilihatnya di rumah Hanifa waktu itu.
“Apa yang kamu lihat?” kata Erlan seraya mengalihkan pandangan dari wajah Winsi ke arah yang ditunjuknya.
“Aku pernah lihat laki-laki itu, siapa dia, Sayang? Dia mencium istrimu!” Winsi memekik cukup keras hingga tanpa sadar dia memanggil Erlan dengan sebutan sayang.
__ADS_1
Bersambung