
Dia Yang Terlihat Segar
Keesokan harinya saat Winsi keluar dari kamar, dia terkejut karena melihat Erlan masih ada di rumah Nafadi. Dia pikir laki-laki itu sudah kembali tadi malam.
Namun, sekarang laki-laki itu seperti sengaja menunggunya. Dia duduk di kursi ruang tengah yang menghadap langsung ke arah pintu kamarnya, sambil tersenyum simpul.
Erlan senang melihat Winsi keluar dalam keadaan segar, sepertinya gadis itu sudah jauh lebih baik dalam penyembuhan trauma. Pria itu mendengar banyak hal tentang perkembangannya sejak tinggal bersama dengan Nafadi.
Kedatangan Erlan seolah menjadi saksi malam pertama Winsi berani mengunci pintu kamarnya sendiri di malam hari.
Biasanya Nafadi, melakukan pengintaian sendiri, untuk memastikan gadis itu nyaman dan menutup pintu secara perlahan, setelah Winsi benar-benar tertidur. Dan malam ini, dia tidak sendiri.
Hampir semalaman dia dan Erlan berbincang sambil menunggu sampai gadis itu benar-benar nyenyak, untuk melihat apakah pintu kamarnya tertutup atau tidak. Ternyata di luar dugaan, saat Nafadi melakukan kebiasaannya mengontrol pintu kamar Winsi, mereka justru menemukannya sudah dalam keadaan terkunci rapat dari dalam.
Hari ini adalah akhir pekan, Erlan merasa punya banyak waktu untuk mengobrol dengan gadis itu membicarakan hal yang semalam sempat dibicarakan dengan Nafadi. Mereka begitu penasaran, bahkan dua laki-laki itu sudah berbicara sampai larut malam, tapi tidak juga menemukan titik temu dan jawaban.
Pagi ini adalah satu cara yang bisa Erlan lakukan untuk membantu Winsi ataupun menyelesaikan masalahnya dengan Anas. Pria itu harus menggali lebih dalam lagi informasi tentang Anas, langsung kepada orang yang bersangkutan.
Satu hal yang menjadi pertanyaannya yaitu tentang apa yang akan Anas tunjukkan dari ponselnya kepada Winsi saat itu?
Erlan baru saja hendak membuka mulutnya untuk menyapa Winsi saat Gadis itu lebih dulu berkata.
“Kamu belum pulang?”
Erlan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Kamu tidur di mana?” tanya Winsi lagi dengan perasaan heran, sebab dia memikirkan di mana Erlan tidur semalam. Di rumah itu hanya ada lima kamar yang masing-masing ditempati Nafadi, Wayla dan dirinya, satu kamar dijadikan gudang boneka dan satu lagi ditempati seorang asisten rumah tangga, perempuan paruh baya yang bekerja di sana.
Lagi-lagi Erwan tidak menjawab dan hanya menggerakkan dagunya ke arah sofa panjang di mana terdapat bantal dan selimut di sana.
“Terus kapan kamu mau pulang kamu masih terus mau bolos? Aku bilangin nih Sama ayah.”
“Terserah!”
“Wah, gini ya, kalau orang merasa udah hebat?”
Erlan diam sambil menatap fungsi sejurus lalu menepuk satu kursi kosong yang ada di sampingnya memberi isyarat agar Winsi duduk di sana.
Gadis itu hanya melirik tempat yang dimaksud oleh Erlan sekilas, penuh rasa enggan. Dia menghela nafas kasar, sambil memalingkan pandangan, menunjukkan penolakan yang nyata. Lalu, pergi meninggalkan pria itu sendirian.
Dia menuju dapur untuk membantu asisten rumah tangga seperti yang biasa dia lakukan diakhir pekan. dia selalu memasak makanan kesukaannya yang sering dimasak oleh Runa di rumah saat dia masih kecil.
__ADS_1
Erlan menyusul winzi ke dapur dan kemudian mereka berdua bercakap-cakap di meja makan bar kecil yang ada.
“Apa kamu pernah kenal dengan Anas, orang yang deket sama Waila?” Erlan mencoba memulai obrolan.
Winis menoleh kepada Erlan dengan mengerutkan alisnya. Diia tidak ingin membicarakan tentang Anas dengan siapa pun karena masalahnya dengan pria itu berkaitan dengan masa lalu dan itu sangat memalukan. Dia pernah menceritakan sebagian tentang masa lalunya kepada Erlan di masa kanak-kanaknya dahulu. Akan tetapi, dia tidak ia tidak akan mengulanginya lagi kali ini.
“Sebenarnya apa maksud kamu ngomong soal Anas, kita sudah bahas soal itu kemarin, kan?”
“Bukan soal Wayla dan Anas tapi soal yang lainnya.”
Mereka sempat membicarakan tentang hubungan Anas dan Waila, di mobil ketika dalam perjalanan pulang kemarin. Begi Winsi, pembicaraan itu sudah selesai ketika mereka sampai di rumah. Setelah masuk kamar gadis itu tetap berada di sana dan tidak keluar lagi kecuali hanya saat makan malam.
‘Apa Erlan masih ingat pertanyaanku tentang Anas, waktu aku masih kecil dulu?’ batin Winsi, sambil menunggu kopi rasa cappucino dari gelasnya.
Mereka berbicara sambil menikmati secangkir kopi instan yang terkenal yang memiliki varian aneka rasa dan disukai oleh anak-anak muda.
“Nggak ada lagi yang lain soal Anas, kita sudah pernah ngomong kan jadi masalah Anas sudah selesai.” Winsi berkata sambil meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
“Apa kamu nggak penasaran gimana dia bisa kenal sama ibu?”
Tiba-tiba saja seolah-olah denyut jantung Winsi kehilangan satu detakan. Dia tidak percaya jika Erlan masih mengingatnya.
“Belum tentu yang dia maksud itu nama Runa yang sama. Memangnya nama Runa cuman ibuku saja?”
“Kenapa kamu nggak nanya langsung saja kemarin sama Om Anas itu?”
“Memang kamu nggak penasaran, gitu?”
Prinsip termenung sejenak dia bukannya tidak penasaran tapi dia hanya tidak ingin mengatakannya.
“Aku ingat dulu kamu juga pernah nanya soal Anas waktu itu di rumah, kan? Apa ada hubungannya dengan masa lalumu atau dengan Pak Basri misalnya?”
Mendengar pertanyaan Erlan membuat Winsi tertegun, kemudian beranjak pergi meninggalkannya karena enggan meladeni topik obrolan yang baginya tidak perlu dibicarakan.
Erlan kembali mengikuti langkah ke mana Winsi pergi, bahkan mensejajarinya. Sementara Winsi masih saja acuh tak acuh.
“Aku nggak punya maksud apa-apa justru kalau bisa aku mau bantu tapi, aku nggak tahu mau bantu apa kalau kamu nggak ngomong.” Erlan berkata tanpa melihat ke arah winsi.
Gadis itu menghentikan langkahnya dia menoleh dengan wajah yang serius lalu berkata, “Memang bener kamu bisa bantu, kamu benar-benar pengen tahu kenapa aku cari orang yang namanya Anas?”
“Ya.”
__ADS_1
“Ih, penasaran banget, sih? Anas cuma nama yang pernah disebut Bapak, aku juga penasaran bener apa nggak aku ini anaknya.”
“Maksudnya?”
Wingsi meneruskan langkahnya duduk di sofa ruang tamu, di mana ruangan itu jauh dari kamar siapa pun. Dia tidak ingin ceritanya kali ini didengar oleh orang lain kecuali Erlan. Nafadi dan Waila juga belum keluar dari kamarnya. Mungkin kedua orang itu masih tidur nyenyak mengingat hari ini adalah akhir pekan, di mana tidak ada kegiatan yang mengharuskan mereka segera bersiap-siap di pagi hari.
Winsi dan Erlan pun duduk saling berhadapan di sofa besar ruangan itu, lalu, satu diantara mereka berbicara dengan satu lainnya menjadi pendengar setia. Dikarenakan Winsii percaya ada yang bisa dilakukannya jika berbicara dengan Erlan siapa tahu laki-laki itu punya solusinya untuk membuktikan kebenaran yang dikatakan bapak waktu dia masih kecil.
“Berikan sehelai rambutmu?” kata Erlan setelah winsi selesai menceritakan semua hal tentang rasa penasarannya pada setiqp orang yang bernama Anas.
“Untuk apa?”
“Tes DNA!”
“Memang bisa, gimana caranya ngambil rambutnya Om Anas juga?” Winsi berkata sambil menyerahkan sehelai rambut yang sengaja dia cabut begitu saja dari balik kerudungnya.
“Bisa, tenang saja. Ini bisa jadi bukti buat kamu menyangkal ataupun berbicara dengan Pak Basri, suatu saat nanti kalau kamu ketemu dia lagi.”
“Bapak ada di kota ini, kok!”
“Ya. Aku tahu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Ayah.”
“Oh.”
“Kapan kamu mau pulang?”
“Nanti libur semester.”
“Kabari aku, Ya.”
“Nggak mau!”
Gemas rasanya Erlan mendengar jawaban Winsi yang asal.
Bersambung
__ADS_1