Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
117. Kepergian Arkan


__ADS_3

Kepergian Arkan


Keesokan harinya, Runa terbangun dengan rasa gelisah dan khawatir dengan keadaan suaminya. Dia langsung menempelkan telapak tangan pada kening Arkan, hingga kudian dia menghela napas lega. Tubuh suaminya sudah tidak panas lagi, dia mencium pipi Arkan yang terasa dingin juga baru kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai menggosok gigi dan bersuci, Runa kembali membangunkan Arkan dengan memanggilnya berulang kali. Dia melakukannya agar suaminya itu segera berwudhu untuk berjamaah melakukan sholat subuh, seperti itulah kebiasaannya setiap pagi. Namun saat dia membangunkan Arkan, pria itu tidak menjawab, bahkan tubuhnya pun tidak bergerak.


“Mas ...! Jangan becanda, ah, ayo bangun!” kata Runa saat membangunkan suaminya. Setelah itu dia menempelkan pipinya ke hidung Arkan dan ternyata dia tidak merasakan sedikitpun hembusan napasnya.


“Mas! Jangan becanda, ayo bangun!” berkata dengan berlinang air mata. Tiba-tiba dia mengingat apa yang dikatakan Arkan saat memeluknya semalam. Apakah itu pesan terakhirnya, atau isyarat kalau pria itu akan pergi selamanya?


“Mas! Maaas ..!” pekikan keras meluncur begitu saja dari mulut Runa, dia menangis sendiri di dalam kamar.


Ya Allah! Mengapa secepat ini Engkau mengambilnya dariku? Apakah aku memang tidak berhak bahagia terlalu lama di dunia?


Runa masih tetap tidak percaya jika Arkan yang baru tiga tahun dia nikahi, bahkan anaknya pun belum genap satu tahun, sudah dia tinggalkan untuk selamanya. Apa maksudnya dengan takdir ini jika benar suaminya telah pergi. Seandainya saja takdir bisa bicara dan berpesan sebelum melakukan eksekusi.


Akhirnya, Runa bangkit dengan tatapan mata tidak beralih dari tubuh suaminya yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Sambil mengusap air mata dia berniat untuk sholat subuh, memusatkan segala rasa dan pikiran pada sang pencipta, menyerahkan diri sepenuhnya atas takdirnya.


Setelah selesai sholat, dia menoleh kembali ke tempat tidur dan berharap pria yang tergolek di sana kembali terbangun lalu, tersenyum dan melaksanakan kewajiban seperti biasanya. Namun, pria itu tetap di sana dan tak bergerak sedikit pun, tidak peduli padanya dan tidak melakukan sholat. Tidak, tentu saja dia tidak bisa karena jasad itu sudah tidak bernyawa.


Sejak kemarin Runa tidak percaya dengan apa yang menimpa buah hatinya nun jauh di sana, lalu tidak percaya dengan penyakit suaminya yang datang tiba-tiba, dia sudah minum obat dan istirahat dengan baik. Maka wajar saja jika sekarang dia tidak percaya kalau Arkan ternyata sudah meninggalkannya.


Runa menarik napas panjang sambil bangkit dan melipat mukena, dia kembali menghampiri suaminya dan menciumi wajahnya beberapa kali dengan berlinang air mata.

__ADS_1


“Mas, tugasmu sudah selesai di sini, anak-anak sudah menempuh jalan hidupnya sendiri, aku juga sudah cukup bahagia dan semua kebutuhanku juga sudah kamu penuhi seluruhnya, tidak ada yang kurang, tidak. Alhamdulillah. Terima kasih sudah menemaniku selama ini, menitipkan Jiddan sebagai kenangan sekaligus amanah yang sempurna.”


Runa berkata sambil menghapus air matanya.


“Kalau memang kamu mau perginya sekarang tanpa menunggu anak kita dewasa, baiklah ... Aku aku mengurus dan membesarkannya semampuku. Kalau memang kamu mau perginya sekarang tanpa menunggu anak perempuanmu menikah, ya sudah, pergilah.”


Runa diam sejenak karena air mata semakin deras seiring dengan tangisan anaknya yang terdengar melengking begitu kuat dari tempat tidurnya.


Runa bangkit sambil membuang cairan di hidungnya dengan tisu lalu menggendong Jiddan dan menyusuinya. Dia mengusap kepala anak lelaki itu sambil tersenyum padahal air matanya terus mengalir.


“Nak, tadi malam Papah bilang, kalau kamu besar nanti jangan disekolahkan ke luar negeri. Biar sekolah di jurusan agama saja, katanya.”


Jiddan tersenyum sambil menghisap air susu ibunya.


“Papah juga bilang, Jiddan harus lebih dulu diajari ngaji baru belajar baca yang lainnya.”


Runa menangis menangis keras, mengingat semua yang dikatakan suaminya sebelum dia tertidur pulas, pria itu memeluknya erat sangat erat tidak seperti biasanya, lalu menciumi wajahnya beberapa kali sambil terus berkata, “Kamu baik-baik ya, sayang ... jangan sakit, kamu harus selalu sehat, kamu kan ibunya anak-anak ....” kalimat itu senantiasa di katakan berulang kali walau Runa sudah mengatakan, iya, berulang kali pula.


Tidak hanya itu, beberapa pembicaraan yang keluar dari mulut Arkan pun terdengar seperti pesan terakhir dan Runa baru menyadarinya setelah haru ini, setelah melihat tubuh suaminya tak bergerak lagi.


Tangisan Runa menyebabkan Neni dan Hasnu yang juga sudah terbangun menjadi kuatir dan mengetuk pintu kamar majikannya dengan keras. Suara tangis antara Runa dan Jiddan saling bersahutan.


Dengan langkah gontai, Runa beranjak membukakan pintu dan memeluk Neni, jilbab yang dikenakannya sudah basah bersimbah air mata.

__ADS_1


Kedua pembantu yang setia itu terlihat panik dan menduga-duga tentang apa yang di alami majikannya. Neni segera menggendong Jiddan setelah Runa melepaskan pelukannya dan memberi anak bayi itu susu formula seperti biasanya, kalau Runa tidak ada.


Sementara Runa kembali bersimpuh di sisi tempat tidur, menangisi jasad suaminya. Dia masih mengalami proses mengikhlaskan yang sebenarnya dan mengalami rasa beratnya melepaskan yang sesungguhnya. Seorang anak akan lahir disertai dengan tangisan, demikian pula seorang manusia meninggal disertai pula dengan tangisan.


Hasnu mendekat, menyentuh beberapa bagian tubuh majikannya dengan tangan yang gemetar. Majikan perempuannya itu memang tidak mengatakan apa-apa tapi, secara naluri dia mengakui jika Arkan sudah pergi untuk selamanya. Hati Hasnu pun sedih, satu persatu orang yang menjadi tempatnya berbakti telah pergi. Sementara Erlan pun dia tidak tahu ke mana anak itu menghilang.


Arkan mungkin merindukan ibu dan ayahnya, atau memang semua tugasnya sudah selesai dan perjanjiannya dengan sang pemilik raga telah tiba. Cukup pula semua rezeki dan ujian hidupnya di dunia hingga dia memilih kembali ke pangkuan sang pencipta.


“Pak Hasnu, tolong urus semua proses pemakan seperti saat Kakek meninggal, dulu, ya?” kata Runa di sela-sela isakan tangisnya.


“Baik, Nyonya.”


“Kalau memang Pak Hasnu tahu, di mana Erlan, kabari anak itu, biar dia pulang.”


“Baik, Nyonya.”


Tidak ada jalan lain bagi Hasnu untuk mencari keberadaan Erlan selain menggunakan beberapa cara, yang biasa Arkan gunakan untuk mencari informasi tertentu. Walaupun, dia hanya seorang sopir pribadi, tapi dia kenal dan tahu beberapa orang yang pernah dihubungi Arkan atau Badri untuk berbagai keperluan.


Satu jam berlalu dari waktu kematian Arkan, ketika telepon milik Hasnu berdering dan seseorang di seberang sana memberi kabar, yang membuat pria tua itu terkejut. Itu soal kabar Erlan, tapi dia tetap diam serta tidak berani bertindak gegabah tentang urusan sang majikan muda ini.


Namun, dia tetap memberanikan diri memberinya informasi tentang kematian Arkan pada Erlan, yang ternyata tengah menanggung bebannya sendiri. Mungkin beban pria muda itu akan bertambah dengan kepergian ayahnya di saat dia masih sangat membutuhkan sebuah dukungan secara penuh.


Dalam kondisinya saat ini, tidaklah memungkinkan bagi Erlan untuk mengurus semua usaha yang beraneka ragam dan mengurus seorang wanita dengan gangguan mental secara bersamaan.

__ADS_1


Bersambung


😭 gak kuat nulisnya sampe beberapa kali berhenti, aku kok nggak rela dia mati


__ADS_2