
Hancur
Runa tercengang demi melihat apa yang terjadi di hadapannya, bagaimana mungkin seorang wanita begitu saja memeluk seorang laki-laki sembarangan? Bahkan dia mencium pipi kanan dan kiri Arkan, yang membuat Runa semakin kesal adalah suaminya diam saja ketika wanita itu melakukannya. Seolah-olah mereka sudah terbiasa.
“Memangnya apa yang perlu kubantu?” Arkan bertanya sambil melepaskan pelukan Saina.
Perempuan itu adalah Saina, dia menangis dan tidak berpenampilan seperti biasanya, pakaiannya terlihat lusuh dan murahan. Dia hampir tidak berbeda dengan Runa yang dulu, kumuh dan tidak menarik, seolah daya tarik dan cahaya di tubuhnya lenyap hilang entah ke mana.
Arkan dengan cepat mundur satu langkah sehingga dia sejajar dengan Runa.
“Oh, ya. Ini istriku, Runa,” Kata Arkan sambil menoleh lalu, menaikkan tangannya untuk merengkuh bau istrinya agar lebih dekat kepadanya. Pria itu sedikitt membungkuk untuk mengelus perut Runa yang masih rata, sambil berkata, “Dia sedang hamil anakku sekarang.” Arkan berkata seolah pamer sambil tersenyum lucu pada Saina.
“Dia Saina, temanku.” Kata Arkan selanjutnya.
Kedua wanita itu pun saling berjabat tangan seraya menyebutkan nama masing-masing.
Runa belum pernah melihat wanita itu sebelumnya, tapi, setelah Arkan memperkenalkan meraka maka dia pun ingat tentang cerita Winsi-anaknya, bahwa pernah ada seorang wanita yang tinggal di rumah itu dan Badri menyukainya agar menjadi menantunya dengan kata lain hampir menjadi istri Arkan. Namun Saina mempunyai perilaku buruk sehingga Arkan mengusirnya pergi.
Tidak ada yang menduga kenapa perempuan itu bisa datang lagi ke rumah besar dengan penampilan yang berbeda. Dia sama sekali bukan dirinya yang dulu yang selalu berpenampilan elegan, rapi dan menawan. Semua pakaian yang dikenakannya adalah barang-barang mahal bahkan karena itu juga Badri menyukainya. Leaki tua itu menganggap bahwa Saina akan berguna untuk masa depan keluarga dan juga perusahaan karena memiliki kemampuan dan bisa dibanggakan di hadapan banyak orang.
Berbeda dengan Runa yang sederhana dan tidak memiliki kepandaian, dalam mengurus perusahaan juga bukan seorang sarjana. Akan tetapi justru wanita seperti itulah yang menjadi kehangatan dalam keluarga dan juga pada akhirnya Badri pun menyukainya.
Saina melirik Runa, dia pikir sebelumnya wanita itu adalah Winsi anak gadis yang dulu pernah di akui sebagai anak angkat Arkan, mereka mirip sekali. Akan tapi dia seperti mendengar suara petir yang menyambar di atas kepalanya, lalu petir itu berubah menjadi awan mendung yang sangat besar membuat hatinya berkabut. Ketika baru saja Arkan memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya.
“Apa? Apa aku tidak salah dengar kau sudah menikah dan menikahi wanita seperti ini?” Saina tidak percaya dia berkata sambil menatap Runa penuh ejekan lalu, memalingkan pandangan sambil tertawa kecil, seperti menertawakan dirinya sendiri sebab sama sekali tidak ada yang lucu di sana.
__ADS_1
“Ya.” Arkan menjawabnya singkat sambil mengeratkan rangkulannya di bahu Runa.
“Ah, yang benar saja Arkan, apakah seperti ini seleramu? Ternyata kau sudah berubah, ya?” sahut Saina menatap Arkan dengan nanar. Mengabaikan wanita yang ada di sampingnya.
“Lalu, apa menurutmu aku harus menikahi wanita sepertimu? Lihat saja dirimu sekarang!”
Setelah Saina pergi dari rumah Arkan waktu itu, dia tidak mendengar kabar apa pun tentang Arkan dan keluarganya karena dia pikir semuanya baik-baik saja. Kemudian dia pergi ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama, mengurus orang tuanya yang kemudian sakit hingga mereka meninggal dunia.
Siapa yang menduga bahwa kedua orang tua Saina meninggalkan begitu banyak hutang hingga seluruh harta yang tersisa habis untuk membayar hutang mereka hingga jadi seperti inilah dirinya sekarang.
Beberapa bulan yang lalu dia kembali dan mencoba menggali informasi tentang Arkan serta keluarganya, tapi, tidak ada kabar yang terlalu mengejutkan, semua biasa-biasa saja. Namun, Siapa yang menduga ketika dia datang ke rumah ini Arkan justru mengakui bahwa sudah memiliki istri dan, sekarang wanita itu sudah mengandung anak mereka. Terlebih lagi ketika Saina melihat wanita yang jadi istrinya dan mirip sekali dengan anak angkatnya.
“Apa dia saudara dari anak angkatmu yang dulu?” tanya Saina.
“Apa Winsi, maksudmu? Dia ini ibunya!” sahut Arkan masih sambil tersenyum seolah senyum itu mengejek Saina.
“Ya.” Arkan menjawabnya singkat tapi, mampu membuat Saina terdiam dan menitikkan air mata.
Runa tertegun mendengar ucapan kedua orang yang ada di dekatnya, dia tidak menyangka jika Arkan, mengakuinya sebagai seorang wanita yang berharga dalam hidupnya, itu artinya dia lebih baik dari Saiina.
Dahulu dia pernah mendengar cerita dari Winsi, bahwa Saina adalah sosok wanita yang berpenampilan sempurna cantik dan pandai, bekerja kantoran dan memiliki uang. Lalu, apalah artinya dirinya dibandingkan dengan perempuan itu.
Namun kini dunia seperti terbalik bahwa, perempuan itu datang mengharapkan pertolongan Arkan agar bisa menampungnya dan, tidak menjadi gelandangan lagi. Saina mengatakan semuanya namun Arkan tidak menanggapi secara serius.
Melihat hal ini, Saina terdiam lalu hatinya hancur. Hancur bukan hanya kekayaan, reputasi dan jabatannya tetapi, juga hati dan cintanya. Namun, dia tidak ingin terlihat lemah karena kehancurannya, seandainya dia masih memiliki sedikit dukungan saja, maka dia akan bisa bangkit lagi.
Sania melangkah menuju kamar Badri, berharap mendapatkan dukungan darinya. Sudah sekian tahun lamanya berlalu, tapi, dia yakin laki-laki tua itu masih kuat untuk memberikan dukungan padanya, setidak-tidaknya memberikan satu saja restoran miliknya yang bisa dia kelola dan membuatnya tetap bertahan hidup.
__ADS_1
Langkah kaki Saina diikuti oleh Runa sampai dia duduk di sisi ranjang laki-laki tua yang terbaring lemah. Wanita itu tidak menyangka kalau paman yang dia pikir bisa mendukungnya, ternyata sudah selemah ini untuk bicara saja dia sudah sulit.
“Biarkan Ayah istirahat,” kata Runa, “Dia baru saja tidur, kasihan kalau dibangunkan soalnya kalau malam dia agak sering terbangun dan batuk.”
Saina menoleh ke belakang di mana Runa sedang berdiri di dekatnya dengan tenang. Wajahnya terkesan acuh tak acuh. Dia tidak melihat Arkan di sekitar mereka karena laki-laki itu sedang membersihkan diri di kamarnya. Sudah sejak kemarin dia tidak mandi karena menemani Erlan selama dalam masa perawatan. Walaupun, di rumah sakit ada kamar mandi juga tetapi, dia tidak membawa ganti pakaiannya.
“Wah, wah, lihat siapa yang jadi sok tahu di sini ... apa kamu merasa sudah menjadi menantu idaman yang disukai Paman, begitu?” Saina berkata sambil berdiri lalu, melipat kedua tangannya di depan dada. Mengabaikan seorang perawat laki-laki yang berdiri tidak jauh dari sana dan memperhatikan mereka.
“Apa maksudmu? Aku bicara apa adanya ... tanyakan saja padanya,” sahut Runa sambil menggerakkan dagu mengarah pada perawat yang sedang menjaga Badri dengan setia.
“Paman menyukaiku dan mendukungku, kau harus tahu itu!” suara Sania terdengar cukup keras hingga Runa menoleh ke arah tempat tidur.
Dia memegang tangan dan menyeret Saina keluar, sampai di halaman samping rumah. Dia khawatir apabila membangunkan Badri yang baru saja tertidur setelah makan dan minum obatnya.
“Ayo! Kita bicara di luar saja!” Kata Saina.
“Lepaskan, aku!” kata Saian sambil mengibaskan tangannya dari cengkeraman rona dengan kasar. “Apa kau pikir hanya kamu perempuan yang ada di hati Arkan saat ini, suamimu itu masih menyukaiku!”
Runa tertegun mendengar ucapan Saina. Dia pikir mungkin yang dikatakan wanita itu benar adanya karena dis melihat sendiri bagaimana Arkan tidak menolak ketika Saina memeluk dan mencium pipi, bahkan menangis di dadanya untuk beberapa saat lamanya.
“Tapi, Aku tetaplah istrinya bukan kamu,” kata Runa.
“Bukankah laki-laki bisa beristri lebih dari satu?”
Bersambung
__ADS_1
❤️Silakan like, comment, Vote dan give ya ... salam manis Buat para pembaca semua dan terima kasih atas dukungannya!❤️