
Arkan Sakit
Winsi merasa ada mendung di hatinya saat mendengar ucapan Runa, dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran ibunya yang terus memaksanya untuk pindah kuliah dan tinggal bersama. Dia menganggap ibunya tidak pengertian tentang cita-citanya yang Ingin digapainya seorang diri, ingin menjadi seorang sukses, memiliki perusahaan besar seperti ayahnya, dan tidak harus merepotkan orang lain. Bahkan dia ingin membantu orang banyak, dengan memiliki banyak karyawan yang digaji dari hasil usahanya itu.
Cita-cita Winsi memang mulia tetapi, mungkin berbeda dalam pandangan Runa. Pengalaman pahit yang bertubi-tubi hingga dia menjadi khawatir terhadap anaknya yang dilepas seorang diri.
Memang tinggal jauh dari orang tuanya adalah kemauan Winsi sendiri, bahkan anaknya itu sudah membekali dirinya dengan berbagai disiplin ilmu yang menunjang untuk keberhasilan. Namun, dia tetap saja tidak percaya. Kekhawatiran yang hadir jauh lebih besar dari rasa pengertiannya kepada anaknya.
“Memangnya, apa yang pernah ibu alami waktu Ibu punya warung dulu, kenapa Winsi nggak tahu?”
Pertanyaan Winsi membuat Runa tersadar dia memang tidak pernah menceritakan kejadian yang menjadi penyebab, mengapa dia memutuskan untuk menikah dengan Arkan dan tinggal di rumah besar kembali.
Namun, karena hal ini sudah terlanjur terlontar dari mulutnya sendiri, mau tidak mau akhirnya dia pun menceritakan kejadian, di mana dia hampir kehilangan harga diri sebagai seorang wanita di tangan tiga orang pria yang hampir melakukan tindakan tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, kemudian Arkan datang untuk menyelamatkannya hingga dia tetap baik-baik saja sampai sekarang.
“Kenapa Ibu baru cerita sekarang?”
“Win, tidak ada yang perlu disesali, dulu Ibu memutuskan merahasiakannya karena kamu memang tidak berhak tahu soal itu ... kamu masih anak-anak, berbeda dengan sekarang!”
“Tapi, Bu, apa Ibu nggak sayang dengan tanah warisan dari orang tua ibu sendiri?”
“Nggak, harta bisa di cari di sini!”
“Bu, masa sih, rumah ini mau dibiarin begitu saja? Wiwin sudah susah payah bangun rumah ini pakai uang tabungan sendiri, nggak rela kalo sekarang mau ditinggalin gitu aja,” kata Winsi tegas.
“Nak, kan rumah itu bisa dikontrakkan?”
__ADS_1
“Nggak, pokoknya Winsi mau pulang kalau sudah lulus kuliah.”
Begitulah pembicaraan di telepon itu berakhir ... Bahkan, sampai Winsi dan Runa saling mengucap salam pun, tidak menemukan titik terang antara keinginan ibu dan anak yang tidak sejalan.
*****
Runa menutup ponselnya dan berbalik badan hendak kembali ke kamar, ketika dia melihat Arkan berdiri di belakangnya. suaminya itu terlihat dalam keadaan tidak nyaman dan wajahnya pun pucat. Pria itu mendengar semua pembicaraan istri dan anaknya, serta melihat tayangan di televisi sambil memegangi dada kirinya yang tiba-tiba terasa sakit.
“Mas? Mas kenapa, sakit?” tanya Runa sambil mengusap wajah dan dada suaminya dengan lembut. Dia merasakan di punggung tangannya jika tubuh Arkan saat itu, begitu panas dan bulir-bulir keringat dingin pun meluncur dari keningnya.
“Mas, kita ke rumah sakit, Ya, sekarang?” kata Runa.
“Tidak perlu.” Arkan menolak.
Runa tampak kebingungan karena ini untuk pertama kalinya suaminya sakit. Selama dia menjalin hubungan dengan Arkan, bahkan sampai sekarang, laki-laki itu tidak pernah mengeluhkan rasa sakit apa pun yang berasal dari tubuhnya, dia selalu terlihat tenang dan kuat. Bahkan seolah-olah penyakit tidak pernah menghinggapi dirinya.
Kendaraan seperti itu, lebih nyaman di pakai jika melakukan perjalanan jauh atau dalam keadaan sakit, karena rancangan mobil yang luas, serta tipe kursi yang bisa diatur sesuai kebutuhan penggunanya.
Awalnya Arkan menolak karena merasa bahwa, dirinya baik-baik saja dan, sakit yang tiba-tiba muncul di dada bagian kirinya, hanyalah efek terkejut. Dia memang merasa begitu cemas, saat ikut menyimak berita di televisi, atas apa yang terjadi pada Winsi di rumahnya, sedangkan tidak ada seorang pria yang bisa melindunginya.
Namun, di sinilah Arkan berada saat ini, dia tengah berbaring di bangsal pemeriksaan pasien, di tangan seorang dokter ahli penyakit dalam, yang sudah lama dia kenal. Dokter itu tersenyum setelah selesai memeriksa kondisinya. Dia mengatakan jika Arkan harus lebih menjaga kesehatannya mulai sekarang. Menurut dokter, pria itu tidak boleh terlalu lelah dan juga harus pandai mengilah emosi karena akan berpengaruh pada kesehatan jantungnya.
Sebenarnya gejala kelainan jantung ini sudah mulai terlihat dan tidak stabil sejak dua tahun yang lalu. Hanya saja Arkan selalu mengabaikannya setiap kali dokter itu mengingatkan, untuk melakukan check up atau pemeriksaan secara rutin mengenai kesehatan jantungnya.
“Bagaimana dengan kondisi suami saya, Dok?” tanya rona saat dokter dan suaminya sudah kembali duduk di meja konsultasi dan dokter itu tengah menuliskan sebuah resep.
__ADS_1
“Pak Arkan ... untuk sekarang baik-baik saja, sakit itu karena gejala awal kelainan jantungnya.”
Dokter itu berhenti bicara sambil memberikan resep obat.
“Sebenarnya saya sudah sering mengingatkan, tapi, Pak Arkan sering menolak ... yang penting sekarang, harus menjaga kesehatannya lebih baik, jangan terlalu lelah juga harus dijaga emosinya ya, Bu?” kata dokter itu.
“Baik, Dok.”
Mendengar penjelasan dari dokter, membuat Runa terdiam dan melamun. Hal itu terus berlanjut, sampai mereka selesai menebus obat dari apotek. Wanita itu terus berpikir tentang penyakit suaminya, yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Dia pikir Arkan tidak memiliki penyakit menyeramkan itu.
Bahkan ketika sampai di dalam kendaraan dan di sepanjang jalan pulang menuju rumah. Runa pun tetap diam dan hanya memperhatikan wajah suaminya yang terus meminjamkan mata. Mungkin Arkan menahan sakit yang luar biasa, tapi dia tidak banyak mengeluhkannya dan menahan dengan begitu kuatnya.
Dalam benaknya, Runa mengalah untuk tidak lagi membicarakan tentang perjodohan antara Winsi dan Erlan karena untuk menjaga perasaan dan juga emosi suaminya.
Dia sadar apabila pemaksaan yang dia lakukan mungkin sudah menekan suaminya terlalu dalam, padahal sejak awal Arkan tidak pernah menyetujui niatnya. Akan tetapi dia terus-menerus memintanya untuk mengatakan secara terbuka kepada Erlan. Tiba-tiba Runa sangat merasa bersalah.
Tentang masalah Erlan, sampai sekarang pun dia heran karena sejak hari di mana dia berpamitan untuk ke kantor ayahnya, anak laki-laki itu tidak pernah pulang. Dan yang lebih mengherankan lagi, setiap kali Runa menanyakannya pada Arkan, suaminya itu selalu menjawab bahwa saat ini Erlan sedang membuka sebuah cabang baru yang membuat kesibukannya bertambah hingga dia tidak sempat pulang.
Sesampainya di rumah, Runa menuntun Arkan ke kamarnya. Suaminya itu masih terlihat menahan sakit yang amat sangat hanya saja dia tidak berkata apa-apa.
“Maaf, ya Mas. Aku selama ini sering memaksamu. Aku janji, mulai sekarang aku nggak akan lagi mengungkit soal perjodohan Erlan sama Wiwin.” Kata Runa sambil menyelimuti suaminya yang sudah berbaring di kamar.
“Hmm ....”
“Istirahat, Mas. Kan, sudah minum obat, mudah-mudahan besok udah baikan.” Kata Runa sambil mencium pipi Arkan yang terasa panas.
__ADS_1
“Hmm ....”
bersambung