Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
80. Pergi


__ADS_3

Pergi


 


Satu pekan sudah Badri di rumah sakit, selama itu pula Ibu dan ayah angkat Winsi  jarang ada di rumah. Mereka selalu sibuk bolak-balik antara rumah dan, rumah sakit karena tidak rela meninggalkan kakek seorang diri atau ditemani orang lain di sana.


Winsi bisa maklum apabila Ayahnya sibuk bekerja lalu, kembali ke rumah sakit dan bahkan jarang pulang. Akan tetapi dia heran pada ibunya, yang juga berlaku demikian. Mengapa ada orang seperti Runa yang merawat dan menjaga Badri seperti orang tuanya sendiri. Ibunya terlalu baik bahkan mengabaikan anaknya sendiri.


Jadi, gadis itu merasa jika rumah besar itu untuk sementara waktu menjadi tempat persinggahan saja. Hilang sudah sebuah semboyan rumahku adalah surgaku, baginya.


Dia hanya mengharapkan perhatian lebih dari ibunya selama ada di rumah sebelum dia pergi beberapa pekan lagi. Oleh karena itu, Winsi berinisiatif untuk pergi ke rumah sakit tempat biasa Badri di rawat. Dia berangkat menggunakan jasa taksi dan sengaja tidak mengabarkan kedatangannya kepada ibu dan ayahnya.


Runa menjawab salam yang diucapkan seseorang dan dia menoleh, saat itu dia sedang mengupas buah untuk Arkan mereka duduk bersebelahan di sofa dekat tempat tidur Badri.


“Wiwin?” tanya Runa terkejut ketika melihat anaknya sudah berdiri di ambang pintu bangsal tempat Badri telah tergolek lemah di tempat tidur pasien.


“Kenapa kamu ke sini?” tanya Arkan sambil melambaikan tangannya agar anak angkatnya itu mendekat dan duduk di sebelahnya.


Winsi tetap berdiri di tempatnya sambil menatap negeri yang masih terpejam tidak bergerak sementara tubuhnya dipenuhi beberapa alat medis penopang hidup, seperti infus dan selang oksigen.


“Apa kakek baik-baik saja?” tanyanya menatap kakeknya dengan penuh iba.


“Alhamdulillah ... Baru kemarin dipindahkan dari icu ke sini,” jawab Runa. “Ayo! Sini, duduklah.”


Winsi menoleh sebentar, pada ibunya tapi, dia justru memilih duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Badri. Kemudian dia menggenggam tangan keriput yang semakin kurus, laki-laki tua itu lebih kurus dari sebelumnya, bahkan wajahnya seolah tidak berwarna.


“Kakek, apa Kakek tidur? Ini aku, Wiwin.”


“Wiin ... Biar Kakek istirahat!” kata Runa.


“Biarkan saja,” sahut Arkan.


“Apa Kakek mau tidur terus? Kakek nggak mau marah sama aku lagi?” tanya Winsi berharap pria tua itu bangun.


Winsi terus saja bicara tentang keinginannya dan juga perasaannya saat berada di rumah sendiri. Dia kesepian tapi, tidak boleh datang ke rumah sakit.


“Dasar! Kau anak kecil ...” Badri akhirnya merespon, dengan suara lemah. Ada senyum tipis di bibirnya, lalu dia mengusap kepala Winsi dengan tangan gemetar.

__ADS_1


“Kenapa masih ada di sini? Aku kira kamu sudah pergi jauh untuk memastikan sesuatu.”


Mendengar ucapan laki-laki itu Winsi termenung, memikirkan maksud dari ucapannya. Dia tidak menyangka apabila semangat Badri untuk pergi merantau, justru lebih tinggi dari dirinya. Selain itu, maksud ucapan itu adalah tentang dokumen yang dulu pernah diberikannya.


Gadis itu memang penasaran tapi dia tidak mengerti apa maksud dari dokumen itu, yang merupakan keterangan kepemilikan tanah, asal-usul atau silsilah keluarga dan beberapa bukti tentang kejadian naas puluhan tahun yang lalu. Tentu saja untuk memastikannya memang dia harus pergi ke kota kelahiran ibunya itu.


“Aku ingin menunggu kesembuhan kakek kalau kakek sudah pulang aku baru berangkat ke sana.”


“Lalu, bagaimana kalau aku tiada apa kau juga akan ikut bersamaku?”


Mendengar ucapan Badri, kembali Winsi termenung memikirkan jalan pikiran laki-laki itu. Dia sudah tergolek di tempat tidur tapi seolah-olah dia masih terus berpikir tentang masa depan orang lain.


Benarkah cita-cita dan keinginan harus dikejar secepat mungkin selama masih ada kesempatan? Apakah sebuah cita-cita memang harus diraih dengan keinginan seteguh mungkin selama masih ada nyawa dalam raga?


Di sisi lain Winsi berpikir jika Badri memang sangat membencinya hingga dia tidak ingin melihatnya lagi.


“Baiklah, Kakek. Aku akan pergi besok.”


“Nah, itu baru cucuku! Kau harus punya kepribadian teguh walaupun, kau seorang wanita. Wanita bukan berarti lemah. Tidak. Buktikan pada Bapakmu bahwa anak yang tidak dia akui sejak bayi, bisa membahagiakan banyak orang.”


Badri tidak membiarkan orang-orang asing yang ada di sekitarnya begitu saja. Misalnya saja kasus Runa, dia bisa tahu mengenai tanah dan kejadian kebakaran itu karena hasil menyelidikinya.


Badri melanjutkan bicara dengan suara pelan. “Kamu tahu ukuran kesuksesan seseorang itu dilihat dari apa?”


Winsi menggelengkan kepalanya.


“Ketika seseorang sudah bisa membahagiakan orang lain, menyenangkan orang lain baik dengan harta dan tenaga, tanpa takut kehabisan uang.”


“Oh.” Hanya itu yang bisa Winsi katakan sebagai tanda dia mengerti.


“Aku mau tidur sekarang, ayo ngaji sekaranh ... Kakek mau dengar suaramu lagi.”


Winsi menuruti keinginan Badri dia membacakan beberapa ayat suci tanpa menggunakan kitab sesuai yang dia hafal saja hingga laki-laki tua itu benar-benar tertidur.


 


******

__ADS_1


 


“Bu, apa Kakek akan baik-baik saja?” tanya Winsi ketika dia sudah selesai mengemas pakaian dalam sebuah tas koper yang cukup besar. Sekali lagi anak itu memeriksa berapa dokumen dan berkas yang diperlukan untuk kuliah dan menjalani masa depannya.


Runa tidak menjawab pertanyaan anaknya dia justru berkata, “Sepertinya kamu lebih menuruti  Kakek itu daripada ibumu.”


“Bukankah Ibu juga lebih sayang pada Kakek daripada aku? Lihat saja selama Kakek dirawat Ibu jarang ada di rumah aku sendirian terus.”


“Apa kamu yakin akan pergi sekarang juga, kamu juga sudah tahu mau tinggal di mana?”


“Sudah.”


Saat pulang dari melihat Badri kemarin Winsi mengutarakan keinginan, untuk pergi keesokan harinya pada Arkan dan ibunya. Dia pun meminta semua uang tabungannya yang dulu di simpan Runa, sebagai modal perjalanannya.


Dia tidak kuatir soal urusan lain karena beberapa hal seperti tempat tinggal dan juga kebutuhan kuliah akan ditanggung Arkan sepenuhnya.


Laki-laki itu meminta salah satu kolega dan kerabat jauh, yang kebetulan ada di sana untuk membantu Winsi. Tentu saja anak itu menerima bantuan dari ayah angkatnya dengan senang hati hingga dia hanya perlu memantapkan hati untuk pergi.


Saat kedua ibu dan anak itu sedang mengobrol Arkan menghampiri dan memberikan sebuah kartu nama pada Winsi.


“Kalau kamu sampai di sana hubungi orang ini. Dia yang akan mengurus tempat tinggalmu dan juga akan membantu selama kau membutuhkannya.”


“Siapa dia Ayah?” kata Winsi sambil menerima sebuah kartu nama itu dari tangan Arkan Dan Dia mengerutkan alis pembaca sebuah nama, Nafadi Hamzah, itu nama yang bagus menurutnya.


“Rekan bisnisku,” jawab Arkan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Apa dia tampan, apa dia belum menikah atau duda?”


“Wiwin ....” tegur Runa untuk memperingatkan anaknya. Seketika Winsi cemberut pada ibunya, yang seperti kurang memahami dirinya, padahal, dia hanya bermaksud bercanda.


“Dia masih muda dan menurut Ayah, dia tampan tapi, tidak tahu apa sekarang dia sudah nikah atau belum .... kalau kamu nanti ketemu, tanyakan saja!”


“Baiklah.” Winsi berkata sambil terus melihat kartu nama di tangannya.


 


 Bersambung

__ADS_1


__ADS_2