
Kalau Saja
Suara Winsi yang berteriak bagai terjepit, antara keluar dan tidak, antara bibir dan tenggorokan, tidak keras tidak juga lirih, tapi gerakannya yang tiba-tiba berbalik dari kaca, membuat perhatian orang yang berada di dalam kamar itu menoleh.
Winsi berbalik badan karena tidak kuat menahan gejolak amarah saat dia melihat Erlan tengah dalam posisi membelakanginya berada dalam pelukan seorang wanita, dia tahu persis sosok di dalam kamar itu adalah suaminya.
Tidak salah, penglihatannya tidak salah!
Hancur hatinya sehancur-hancurnya. Sakit walau tidak berdarah, marah dalam kemarahan. Merasa ditipu, diabaikan hanya karena wanita lain, kenapa dia tidak jujur saja sejak awal, kenapa?
Dan, sebenarnya ini sudah sejak kapan?
Bukankah kalau dia jujur dari awal, dia tidak akan terburu-buru dalam memutuskan untuk menjalani ibadah yang namanya pernikahan?
Bukankah kalau memang dari dulu dia harus mengurus wanita lain karena alasan apa pun itu, maka, dia tidak perlu menambah beban dan amanah yang lebih berat dengan menikah lagi?
Lalu, apa ini yang di katakan cinta seperti yang dikatakannya waktu itu? Apakah benar cinta menuntut sebuah pengorbanan sebesar ini?
“Wiwin!” Erlan berteriak sambil berdiri dari posisinya yang tengah duduk di sisi tempat tidur dan Hanifa ada di hadapannya, memeluk sambil menangis.
Erlan melepaskan tangan Hanifah yang membelit di lehernya begitu saja. Dia tidak mengira Winsi ada di sana, melihat dirinya dari balik kaca. Sejenak dia ragu, apakah itu benar-benar istrinya, atau bukan. Namun, dia menjadi yakin setelah melihat warna jelm dan wanita itu berjalan dengan cepat meninggalkan area jendela. Dia hapal betul postur dan bahasa tubuh itu milik wanita yang dicintainya.
‘Apa Dia benar-benar melihatku?’ batin Erlan.
__ADS_1
Erlan berjalan dengan cepat meninggalkan Hanifa, yang menangis keras memanggilnya papa berulang-ulang kali. Dia tidak peduli karena yang penting saat ini adalah Winsi!
Dia pun membiarkan perawat itu hanya berdua dengan istrinya itu karena terpaksa karena perawat lainnya kembali tidak datang untuk mengurus Hanifa. Tadi, perawat pria itu dia biarkan memakai kendaraannya karena motornya rusak padahal saat itu dia harus membeli obat untuk Hanifa dan juga makanan untuk mereka.
Dengan segera Erlan berlari dan melihat ke halaman tapi, Winsi sudah tidak ada di sana, lalu, pandangannya teralihkan, saat dari jauh dia melihat gadis itu memutar motornya dan melesat pergi meninggalkannya.
Tidak menunggu sedetikpun, dia langsung mengambil kunci mobil dan segera menyalakan mesinnya, lalu, mengeluarkan mobil itu dari garasi dan menekan pedal gas sedalam mungkin meninggalkan area rumah Hanifah dengan kecepatan tinggi. Perasaan campur aduk bermunculan dalam benaknya, antara rasa bersalah, khawatir, kecewa dan marah.
Pria itu pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun pada perawat yang menunggu Hanifa, karena dia berusaha mengejar istrinya.
Di jalanan raya, akhirnya mereka bertemu dan berjalan beriringan, Erlan bisa melihat dengan jelas Winsi yang tengah melaju di atas motor itu, ada di sebelah kirinya, sebentar-bentar gadis itu mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
Namun, Winsi tetap fokus ke depan, saat mengendarai motornya. Berulang kali Erlan menekan klakson mobil agar istrinya berhenti atau pelan saat melaju. Dia tidak harus berkendara dan meneruskan perjalanan kalau hatinya terluka, biar bagaimanapun Erlan sangat khawatir padanya.
Laki-laki itu hanya memberi isyarat kepada istrinya agar menepikan motor dan dia bisa berbicara baik-baik sesudah itu. Namun, yang terjadi adalah, seolah Winsi yang tidak mendengarnya. Gadis itu terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi ke arah yang berbeda dan bukan jalan menuju ke arah rumah mereka.
Erlan akhirnya mengalah. Setelah dia menarik nafas dalam, dia pun mengurangi kecepatan kendaraannya dan hanya mengikuti Winsi dari belakang, ke mana pun gadis itu pergi dia mengikuti hingga begitu jauh dari jalan raya yang biasanya mereka lalui.
Akhirnya Winsi menepikan motor maticnya di sebuah taman kota, itu sebuah taman yang sangat jauh dari rumah.
Erlan dengan sabar mengikuti, dan juga menepikan mobil di dekat kendaraan istrinya. Namun, dia tidak memanggil atau menyapa, dia hanya membiarkan, ketika Winsi turun dari motor begitu saja, bahkan tidak mencabut kuncinya.
Erlan keluar dari mobil, berjalan mendekati motor dan mengamankannya, lalu, mengambil kunci dan memasukkannya ke dalam saku celana. Dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang untuk mengambil motor Winsi di taman kota, secepatnya.
__ADS_1
Setelah itu, dia hanya berdiri, dengan tenang, menyelipkan kedua tangan di saku celana sambil mengucap istighfar berulang kali dengan menengadahkan wajahnya ke langit. Dia berada belakang istrinya yang duduk di atas rumput sambil memeluk lututnya.
Winsi menangis sejadi-jadinya di sana, di taman kota yang sepi, dan .hanya ada mereka. Dia beberapa kali tersedak tapi, tidak menghentikan tangisan, sambil memukul-mukul dadanya, menumpahkan kegalauan yang seolah dengan menepuk dada maka, sesak di ulu hatinya itu akan sirna.
Mereka adalah sepasang pengantin baru, bahkan usia pernikahannya pun, baru beberapa hari saja, apakah ini harus berakhir?
Erlan masih berdiri di sana dengan sabar dan setia, dia tidak akan mungkin menjelaskan semuanya sekarang karena lebih baik menunggu gadis itu tenang. Dia tidak akan memakainya atas sikap dan perbuatannya, tapi, dia akan memberi istrinya pilihan.
Pria itu sudah menduga suatu saat apa yang dilakukannya akan Allah tunjukkan juga bagaimana pun caranya. Namun, dia tidak menduga akan secepat ini Allah memintanya untuk terbuka sebab dia belum siap. Dia belum ingin kehilangan lagi, tidak, sepertinya dia tidak akan pernah siap untuk kehilangan Winsi.
Seandainya dia memberi gadis itu pilihan, apakah yang akan Winsi pilih kelak, sedangkan hatinya ingin agar istrinya bertahan, sampai Allah memberinya jawaban apakah dia harus mempertahankan keduanya atau memilih salah satunya?
Erlan duduk dengan posisi yang sama dengan Winsi, ini mirip sekali dengan kejadian saat Winsi pulang dari rumah sakit dan dia duduk sendiri di taman samping rumah besar sambil menangis.
Kata-kata yang sama yang dikeluarkan Erlan saat itu dan saat ini, pria itu berkata, “Mau sampai kapan kamu seperti ini?”
Tiba-tiba Erlan ingin menyanyi untuk wanita yang sedang menangis di sampingnya. Rasa hati ingin juga merengkuh bahu yang terus terguncang karena suara tangisannya, tapi, dia yakin, jika menyentuh wanita itu, pasti dia akan menepisnya.
“Izinkan kulukis senja, mengukir namamu di sana, mendengarkanmu bercerita, menangis tertawa .... Izinkan kulukis malam, bawakanmu bintang-bintang, menemanimu yang terluka hingga kau bahagia ....” Erlan akhirnya menyanyi juga dengan suaranya yang pas-pasan, tapi, cukup lumayan. (Lirik lagu Ciptaan Budi Doremi)
Seketika Winsi menoleh, sambil menghapus sisa air matanya yang tak juga kering walaupun, dihapus berulang kali dengan punggung tangannya.
Bersambung
__ADS_1