
Aku Kecewa 1
Erlan diam, dia tidak bisa menjawab walau, bisa menyimpulkan kecemburuan seperti apa yang Winsi rasakan karena mengetahui tentang pernikahannya dengan Hanifa.
Tidak ada yang bisa menebak kedalaman hati seorang manusia, begitu juga Erlan, tidak bisa menebak nagaimana luka hati yang dirasakan Winsi saat ini. Mungkin benar kata Runa bahwa istrinya itu merasa dirinya dikhianati walaupun, sebenarnya kata menghianati itu, pada masalah pernikahannya, sangat jauh dari prinsip khianat yang sebenarnya.
Namun, dia tidak memaksa Winsi untuk mengerti, melainkan dia memaklumi dirinya sendiri yang juga memiliki banyak kesalahan.
“Nggak, lah! Enakan gigit kamu, deh!”
“Nggak bisa, Wee!” sahut Winsi sambil tertawa lagi.
“Aku ke sana, ya?”
“Nggak perlu! Urus aja istrimu itu! Aku bisa, kok, ngurus diriku sendiri!”
“Ya. Aku tahu ..., Win, kamu nggak kangen sama aku, gitu?”
__ADS_1
Hening, tidak ada jawaban, padahal di seberang sana, Winsi menitikkan air mata, saat dia tertawa pun dia sebenarnya menitikkan air mata juga, dia hanya berusaha menghibur dirinya sendiri, menutupi luka hati dan tersenyum berharap akan segera sembuh.
“Win, aku nggak mengkhianatimu! Sebab orang bisa dikatakan berkhianat apabila dia benar-benar berjanji dan mengingkari janji yang sudah disepakati. Orang, benar-benar dinilai sudah menghianati hati apabila dia mengatakan cinta tapi, sesungguhnya tidak mencintai sama sekali karena yang dikatakan adalah sebuah kebohongan.”
“Terus?”
“Tapi aku mencintaimu, Win! Aku nggak bohong soal itu!”
“Hanifa juga?”
Kembali hening, kini Erlan yang tidak bisa menjawab karena tiba-tiba saja nyeri dan berdenyut dari ulu hatinya semakin terasa.
Tiba-tiba telepon ditutup secara sepihak dan Erlan melihat layar ponselnya yang menggelap, sambil menghela nafas dalam beberapa kali. Pria itu tidak mencoba untuk menelepon Winsi kembali karena dia lebih memilih, untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini dia tidak memberikan asupan makan siang pada tubuhnya karena tidak napsu makan sampai sore hari dan tetap menyibukkan diri.
Erlan merasakan tubuhnya semakin lelah hingga dia menundukkan kepala dan menelungkupkan wajahnya di meja dengan bertumpu pada kedua lengannya. Tiba-tiba saja dia berpikir untuk menengok Hanifa. Apa kabarnya dia sekarang dan bagaimana perkembangannya sejauh ini, dia ingin melihat sendiri.
Erlan segera mengambil kunci mobil dan mengayunkan langkah dengan cepat meninggalkan pekerjaan dan kantornya. Dia berjalan menuju kendaraannya, lalu melarikan mobil itu di jalan ke arah rumah sakit di mana Hanifa tengah di rawat.
__ADS_1
Dari kantornya Erlan bisa melalui beberapa jalan alternatif untuk menghindari kemacetan, walaupun, saat itu belum waktunya jam pulang kantor, tapi, tetap saja di ruas-ruas jalan tertentu kemacetan tetap saja terjadi. Dengan melewati jalan pintas itu, dia bisa mencapai tujuannya ke tempat tujuan lebih cepat.
Pria itu berjalan dengan tenang setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit, laku, memasuki sebuah ruang terbuka yang biasa di gunakan para anggota keluarga, melihat saudaranya yang di rawat di sana. Betapa terkejutnya dia saat melihat Hanifa dari kejauhan sedang duduk berdua dengan Fadli yang memakai seragam perawat, dalam situasi yang cukup intens.
Erlan mengepalkan tangannya karena kesal hingga tanpa sadar, dia menekan kunci mobil terlalu keras dan membuat telapak tangannya memerah. Dia melihat Hanifah yang mengarahkan pandangannya pada pria di depannya dengan tatapan kosong, tidak ada ekspresi apa pun di dalamnya, tapi, wanita itu tampak tenang walau, wajahnya terlihat pucat dan layu.
Erlan masih sabar dan terus mengamati dari jauh apa yang akan dilakukan Fadli, pada istrinya hingga melewati waktu selama 15 menit, dia melihat Fadli tampak mengulurkan tangannya ke wajah Hanifah dan membelai dengan lembut.
Seketika rasa panas muncul dari dalam perutnya lalu, naik ke ulu hati dan sampai ke dada serta, mukanya hingga tampak merah padam.
Awalnya Erlan mengenal Hanifah sebagai wanita yang baik, lembut dan sholehah di sekolah, kemudian setelah dekat mereka sering membicarakan masalah agama.
Dia tidak menyangka apabila kemudian hubungan mereka lebih dekat setelah mengalami kecelakaan dan koma. Memang dia hanya sekedar iba tapi, kemudian muncul kasih sayang di hatinya walaupun, dia tidak bisa menyimpulkan apakah itu cinta.
Namun setelah menikahinya sekarang dia jelas-jelas suaminya yang tidak rela, ketika ada pria lain memperlakukan hal seperti itu kepada istri sahnya, walaupun, wanita itu mengalami gangguan jiwa. Erlan akan sama berpenyakit jiwanya, kalau dia tidak merasakan cemburu pada hal seperti itu.
“Astaghfirullah, astagfirullah,” gumamnya perlahan, sambil mengelus dada yang tiba-tiba serasa dikerubuti semut.
__ADS_1
Karena kesal Erlan pun menuju ke tempat resepsionis dan dia meminta izin, untuk bisa masuk ke area di mana tempat perawatan pasien berada.
Bersambung