
Uang Masa Depan
Winsi mengatakan keinginannya untuk kuliah di Yogyakarta, tempat kelahiran ibunya dan ingin menggapai cita-citanya di sana. Dia beranggapan bahwa berada di tempat yang jauh untuk sementara ini dengan Erlan dan, semua hal yang berkaitan dengan masa lalu, terasa lebih melegakan.
Jadi, seandainya tadi Arkan mengatakan bahwa jika dirinya memiliki uang untuk menyewakan gedung bagi pernikahan Winsi, gadis itu merasa lebih baik uang itu akan dia gunakan untuk membiayai kuliah sekaligus menjalankan usahanya di kota tujuannya.
“Kalau soal uang untuk kuliah kamu, Ibu sudah punya persiapan dari tabungan lama kita waktu itu.” Runa berkata sambil melirik Arkan sekilas.
“Wah, yang bener, Bu?”
“Ya. Buat apa Ibu bohong sama kamu?”
Mendengar penuturan Runa, Winsi tersenyum ceria, dia merasa tidak perlu merepotkan ayah angkatnya karena memiliki uangnya sendiri, dari simpanan yang dia kumpulkan bersama ibunya di masa lalu.
Setelah seluruh rangkaian acara serah terima murid dari pihak pesantren kepada orang tua berakhir, keluarga kecil itu meninggalkan sekolah, dengan perasaan bahagia.
Saat mobil yang dikemudikan oleh Hasnu melaju dengan perlahan, sekali lagi Winsi melihat untuk yang terakhir kali ke arah sekolah yang sudah menempanya menjadi seorang gadis dewasa, dengan membawa serta seluruh kenangan indah yang ada.
Kini Winsi harus pulang, membawa banyak ingatan tentang suka duka di sana hingga Winsi, remaja kecil itu tumbuh menjadi seorang wanita, yang memiliki kepribadian berbeda dari sebelumnya. Dia lebih siap menghadapi hidup dengan semua masa lalu kelam yang pernah dia alami.
Sekian jam dalam perjalanan pulang yang cukup jauh itu, mereka habiskan untuk berbincang tentang banyak hal, sambil menikmati beberapa camilan yang dibawa Runa. Akan tetapi, para penumpang tertidur di akhir waktu hingga mereka tiba di rumah besar.
Sesampainya di rumah, Winsi melanjutkan tidurnya di kamar yang biasa dia tempati setelah membawa semua barang-barangnya ke dalam. Dia terbangun saat terdengar suara berisik di ambang pintu hingga membuatnya membuka mata, padahal masih mengantuk. Gadis itu masih terbiasa tidur dengan pintu yang terbuka.
Saat di pesantren, traumanya tidak begitu terasa karena ruang yang dia tempati sangat luas dan juga banyak sekali deretan ranjang hingga suasana tidak terlalu menegangkan baginya.
__ADS_1
Winsi melihat kedua orang tuanya tengah berbicara ditelepon dengan seseorang. Anehnya, mereka terlihat tengah mengarahkan kamera ponsel padanya.
Sejenak Winsi mengerutkan alisnya dan bangkit, lalu melihat telepon genggam milik Arkan guna melihat dengan siapa kedua orang tuanya itu bicara.
“Aatagfirullah!” pekik Winsi begitu mengetahui jika dua orang dewasa itu tengah berbincang dengan Erlan.
Winsi sebenarnya sedikit kesal, akan tetapi dia bisa memaklumi kelakuan kedua orang tua yang mencandainya. Untung saja waktu itu Winsi masih menggunakan pakaian yang lengkap hingga dia tidak terlalu malu.
“Ayah, bilang pada Winsi aktifkan ponselnya kalau dia sudah sampai di rumah.” Terdengar suara Erlan dari balik ponsel ayahnya.
“Aku nggak mau!” kata Winsi cukup keras, sambil membereskan isi lemari pakaiannya.
Sebentar lagi waktu magrib tiba, hingga dia harus segera membersihkan diri dan kembali beribadah. Dia mengabaikan mereka, memilih untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri, selain itu dia bermaksud menghindari telepon Erlan.
Winsi memang hanya beberapa kali bertemu dengan Saina, tapi, pertemuan mereka sangat berkesan, tentunya dengan kesan yang tidak menyenangkan. Bukankah ini sebuah dilema, jika kebanyakan manusia lebih mudah mengingat hal-hal yang cenderung menyakitkan dari pada hal yang menyenangkan?
Di saat makan malam, sesudah sholat Maghrib, gadis itu bertemu dengan semua anggota keluarga yang berbeda dalam satu meja, termasuk Badri yang terlihat lebih lemah dari sebelumnya. Tidak banyak yang mereka bicarakan di sana, selain mengatakan kabar dan lagi-lagi obrolan tentang Erlan.
“Ayah ... apa Ayah dan Kakek begitu membanggakan Erlan? Aku juga bisa seperti dia!” kata Winsi dengan sungguh-sungguh, membuat Arkan dan Runa tersenyum.
Gadis itu bukanlah anak keturunannya akan tetapi dia punya tekad kuat untuk membuat keluarga itu bangga dengan prestasinya yang lain lagi. Ya, karena bagi Winsi keluarganya adalah orang-orang yang ada saat ini.
Badri berkata sambil meletakkan sendok, menunjukkan dia sudah selesai makan, “Jangan banyak bicara saja , buktikan dari sekarang!”
“Baik, Kakek bisa melihatnya. Aku akan pergi besok!”
__ADS_1
“Apa, besok? Memangnya kamu mau ke mana, Win? Kamu baru saja pulang. Ibu masih kangen!”
“Biarkan, saja!” Badri menyela sambil menatap Winsi tajam. Pria tua itu hendak menguji kesungguhan anak gadis yang dia nilai lemah. “Aku berharap masih hidup, untuk melihat anak kalian itu sukses atau hancur!”
“Ayah!” kata Runa dan Arkan bersamaan.
“Kenapa kalian panik? Biarkan saja dia membuktikan omongannya, lalu, lihat bagaimana hasilnya!”
Mendengar perkataan Badri, Winsi memejamkan mata sambil mengepalkan kedua tangan yang masih memegang sendok. Dia paham bahwa Kakek mencoba menguji keteguhan hatinya. Dia benar-benar merasa tertantang dengan ucapan Badri. Apalagi dia tahu kalau sebenarnya laki-laki tua itu tidak membenci diri dan ibunya. Terbukti ketika Runa bercerita bahwa Badri memberikan semua perhiasan milik almarhum istrinya.
Dia sadar selama ini tidak pernah mendapatkan bimbingan tentang usaha ataupun bisnis seperti yang dilakukan Erlan.
Akan tetapi, dia sudah merasa punya banyak pengalaman, seperti berjualan dengan ibunya, berpanas-panasan di sisi jalan menunggu sampai jualannya habis, menghadapi berbagai macam orang ketika berada di sekolah menengah pertama, lalu mendapatkan banyak sekali tempaan dari semua guru pembimbing di pesantren. Belum lagi pengalaman buruk lainnya. Bukankah itu sebuah pengalaman berharga dan latihan kepribadian yang luar biasa?
“Ibu, kalau begitu berikan padaku semua uang simpanan kita, aku akan pergi besok sehabis sholat subuh!”
“Win ... Ibu mau kamu tunggu sampai adikmu lahir, Nak?”
Runa tidak menyangka jika anak perempuannya ini menjadi begitu keras kepala. Dia merasa membesarkan Winsi dengan penuh kasih sayang karena tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah, lalu, dia pun selama ini menjadi anak yang penurut dan lemah lembut. Akan tetapi, yang dia lihat malam ini berbeda, dia melihat kepribadian anaknya yang jauh lebih kuat dari dirinya.
Winsi yang sudah beranjak berdiri, melihat ke arah perut ibunya yang masih terlihat rata, dia berpikir akan butuh waktu lama sampai adik bayi yang dia nantikan kehadirannya lahir ke dunia.
“Ibu, Erlan juga pergi sebelum melihat adiknya lahir, kan?”
Bersambung
__ADS_1