Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
31. Diborgol


__ADS_3

Di Borgol


 


“Jadi, kamu mau mati? Hah!” Sahut Basri sambil mencengkeram leher Winsi sangat kuat.


“Pak! Jangan, Pak!” Pekik Runa sambil berusaha menarik tangan kekar suaminya dari leher anaknya. Akan tetapi, lebih banyak kekuatan lelaki itu dari pada dirinya hingga dia gagal.


“Mas!” Kata Nira menepuk pelan bahu Basri dan seketika pria itu menoleh seraya mengendurkan cengkeraman tangannya di leher Winsi. “Aku punya cara yang bagus biar dia kapok!” katanya lagi sambil melirik Winsi.


“Gimana?” Tanya Basri sambil beranjak menjauhi Winsi yang tengah memegangi lehernya sambil terbatuk-batuk. Runa menenangkannya sambil memeluknya.


Basri mendekati Nira dan gadis itu membisikkan sesuatu lalu, Basri mengangguk-angguk, dengan napas yang masih memburu karena menahan emosi.


“Ya, kamu benar, dari pada mengotori tanganku, bisa panjang urusannya nanti.” Basri berkata sambil berjalan keluar setelah menyambar kunci mobil truknya, Nira menyusul kemudian.


Runa dan Winsi membiarkan Nira dan Basri pergi, ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh mereka. Ibu dan anak itu ke kamar belakang setelah menutup pintu rumah.


Runa terus menerus menenangkan anaknya, membelai kepala dan mengusap leher Winsi,.yang memerah akibat ulah bapaknya. Berulang kali dia menyuruhnya makan sebab sejak pulang sekolah belum sesuap pun nasi masuk ke dalam perutnya.


Setelah masuk waktu sholat, keduanya melaksanakan ibadah berjamaah, memohon kekuatan dan jalan keluar terbaik. Setelah itu, mereka makan malam. Namun belum juga selesai makan, ibu dan anak itu mendengar ketukan pintu.


Betapa terkejutnya Runa ketika membuka pintu, dia melihat dua orang anggota kepolisian berdiri tegap di hadapannya, memasang wajah yang serius.


“Ada apa ya, Pak?” tanya Runa.


“Apakah benar di sini rumah Ibu Runa Umaya?” tanya salah satu dari polisi itu.


“Ya, saya sendiri,” jawab Runa dengan alis yang berkerut dia merasa bingung, mengapa ada dua polisi yang mencarinya karena dia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa.


“Kami mencari anak yang bernama Winsi Nisria, apa dia ada, Bu?”


“Ada, Dia anak saya kenapa ya, Pak?”


“Kami akan membawa anak itu ke kantor polisi sekarang juga, untuk diinterogasi karena kami mendapatkan laporan bahwa anak Ibu melakukan pencurian barang berharga milik seseorang bernama Nira.”


“Apa?” Runa tidak percaya dengan apa yang didengarnya sangat terkejut bahkan sampai ternganga, tapi segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


‘Bagaimana mungkin dia tega melaporkan anakku ke polisi? Itu berarti mereka pergi untuk melaporkan anakku dan sekarang harus mendekam di penjara hanya karena pengaduan yang belum tentu benar itu? Ini keterlaluan! Awas kau ya Nira ... Basri, aku akan meninggalkanmu secepat mungkin!’


Runa berpikir tentang sebuah kata pepatah yang mengatakan bahwa darah lebih kental daripada air, ikatan darah tidak akan musnah selamanya lalu, apa yang terjadi sekarang? Benarkah pepatah itu, tapi kenapa ikatan antara Basri dan Winshi ini seperti cair? Mengapa dia tega seperti ini, apakah hanya dirinya yang mengalami ataukah ada orang lain?’


Runa masih terpaku di depan kedua Polisi itu, saat Winsi datang karena penasaran. Gadis itu pun heran melihat ada polisi yang datang malam-malam berkunjung.

__ADS_1


“Ada apa, Bu?” tanyanya tanpa rasa curiga sedikit pun.


“Apakah ini anak yang bernama Winsi?” Masih bicara salah seorang polisi di depan pintu sambil menatap lekat lalu, mengeluarkan sebuah borgol dari dalam saku celananya dan mengulurkan benda itu ke tangan Winsi.


“Ada apa ini Pak?” tanya Runa sambil mencegah polisi itu untuk memborgol tangan Winsi—anaknya. Akan tetapi, polisi itu melotot tajam ke arahnya dan tetap melanjutkan untuk mengunci.


“Ibu ....!” wajah Winsi memerah, menatap Runa dengan air mata sudah deras mengalir di pipinya, keinginan kuat menahannya agar tidak mengalir ternyata sia-sia


Kali ini terasing dan tersisih yang berbeda mendera dalam hatinya, tidak sama rasanya ketika menghadapi sabetan ikat pinggang bapaknya. Akan tetapi, rasa takut menghadapi kedua polisi, dengan tangan terikat adalah rasa seperti berada dalam sebuah gua yang gelap dan dia hanya seorang diri sedang dikelilingi berbagai macam ular berbisa. Mengerikan sekali.


‘Aku tidak bersalah!’ jeritnya dalam hati, tapi bibirnya rapat terkunci. Sementara seluruh persendiannya bergetar seolah berdiri di atas seutas tali.


“Pak! Anak saya nggak salah! Siapa yang bilang dia mencuri! Orang itu bohong!” Runa kembali berteriak histeris matanya sudah dialiri anak sungai air mata.


“Aku nggak mencuri! Aku nggak mencuri! Ibu ....!” akhirnya Winsi punya kekuatan untuk meronta setelah melihat ibunya yang lemah berurai air mata.


Sementara dua polisi itu sudah menarik tubuh kurus Winsi ke halaman rumah hendak di naikkan ke dalam mobil yang mereka bawa.


“Pak, tunggu!” Panggil Runa mengikuti langkah kedua polisi dan juga anaknya. “Sebenarnya sayalah yang sudah mencuri gelang Nona Nira bukan anak saya!” kata Nira membela Winsi, mengorbankan dirinya sendiri demi anaknya bisa hidup bebas dan namany tidak tercemar di mata masyarakat dan di mata hukum.


Biar bagaimanapun juga, anaknya masih mempunyai masa depan yang panjang, apalagi dia baru saja menginjakkan kakinya di  sekolah lanjutan pertamanya. Sebagai ibu dia berpikir lebih baik dirinya dikorbankan, daripada anaknya yang masih remaja harus mengenyam kehidupan dalam penjara.


“Tapi, Bu, menurut pengaduan Ibu Nira yang bersalah adalah putri Anda.” Salah satu dari polisi itu berkata.


‘Bukan, ini bukan kebohongan melainkan kejujuran hati seorang ibu yang ingin melindungi diri dan masa depan anakny!’  batin Runa sambil berurai air mata.


“Baik! Kalau begitu ibu yang kami tangkap dan harus memberikan keterangan yang sama nanti di kantor!” Kata polisi itu lagi.


“Baik, Pak!” kata Runa sambil mengangguk dan menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol.


Para tetangga yang tinggal tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Basri, berdatangan melihat keramaian yang tercipta. Tentu saja mereka keheranan karena tidak menyangka bahwa Runa dan yang terkenal ramah dan juga rajin bekerja serta baik di masyarakat, ternyata sekarang ditahan oleh polisi.


Selama berjalan ke depan hingga sampai di mobil, Runa terus menunduk dan menutupi tangan yang terikat borgol ke balik kerudungnya. Rasa malu dan kecewa menjadi satu dalam benaknya terlihat jelas melalui raut wajahnya yang masih basah dan sembab karena terlalu banyak menangis.


Swmentara Winsi menangis berteriak histeris melihat ibunya di bawa pergi oleh polisi karena membela dan menyelamatkan dirinya. Para tetangga mencoba menenangkannya, tapi tidak berhasil, akhirnya mereka hanya membiarkan anak gadis itu sendiri di rumahnya berteman sepi dan tangisannya.


 


*****


 


Runa melihat dua orang yang duduk dengan pongah di hadapannya, sebab dari tingkah mereka berdualah dia terpaksa menggantikan posisi Winsi—anaknya. Dia sebenarnya tidak rela meninggalkan anaknya malam hari di rumah sendirian. Akan tetapi dia lebih tidak rela lagi apabila anaknya yang harus mendekam dalam jeruji besi sebagai tahanan.

__ADS_1


Ya, Runa sekarang berada dalam rumah tahanan sementara di kantor polisi setempat, dia harus tetap di sana selama menunggu masa persidangan, atau sampai dia mendapatkan keputusan pengadilan atas tidak pidana yang dia lakukan.


Barang bukti, pengakuan dirinya sendiri berikut saksi-saksi, semua yang ada membuatnya tidak bisa mengelak dari jeratan hukum. Kecuali dia punya pengacara dan mampu membuktikan bila dirinya tidak bersalah. Maka, dia akan mendapatkan kebebasannya kembali.


Dua orang yang ada di hadapan Runa tak lain adalah suaminya sendiri beserta Nira yang memandangnya dengan raut wajah penuh kemenangan.


“Kenapa kamu mau menggantikan posisi anakmu?” tanya Basri. Mendengar ucapan suaminya, membuat Runa tersenyum mengejek dirinya sendiri bila memiliki suami yang ternyata begitu bodoh hingga rela mengorbankan anaknya sendiri.


“Tidak, aku tidak menggantikannya, aku memang pencurinya!” kata Runa datar tanpa melihat dua orang yang ada di hadapannya.


“Kamu dengar, Mas? Seharusnya kita tadi mengadukan mereka berdua jadi bisa masuk penjara bersama-sama,” kata Nira kesal.


“Kamu pikir mana ada ibu yang rela anaknya yang masih remaja juga punya masa depan panjang berada dalam penjara? Apa kamu gila Pak?” sahut Runa dengan tatapan membara.


Dia tahu bila Basri tidak pernah mempercayai dirinya dan tidak pernah mau mengakui kalau memang Winsi adalah anak kandungnya sendiri, tapi, dia tidak menyangka bila, tindakannya bisa sejauh ini.


Dari dulu Runa merasakan cinta yang begitu besar pada Basri, laki-laki inilah yang menolong saat dirinya tidak memiliki apa-apa, saat dia membutuhkan naungan serta tempat tinggal. Dia berjanji akan mencintai sepenuh hati, juga melakukan apapun yang Basri inginkan asal dia bisa tetap hidup bersama.


Namun, lambat laun perasaan itu terkikis apalagi saat pertama kali dia melihat suaminya bersikap begitu manis terhadap Nira, rasa percaya yang besar pada suaminya seketika sirna.


Dia sudah bertahan dalam berbagai macam penderitaan demi keluarga kecilnya. Akan tapi, ketika dia merasa dikhianati karena seorang perempuan maka perasaan cinta yang setebal pun menguap begitu saja.


Seekor semut pun akan menggigit bila selalu diganggu. Hati yang sabar pun bisa bosan bila lama-kelamaan terus disakiti. Orang yang diam menerima dan ikhlas pun lama-kelamaan akan berteriak apabila dia terus-menerus dikhianati.


“Jadi, kamu ngaku salah, sudah mengambil gelangku?” tanya Nira.


“Terserah!” sahut Runa tak perduli.


Dia merasa percuma untuk membela diri karena tidak memiliki pengacara. Apabila dia berkata apapun yang sebenarnya, baik polisi dan dua orang yang ada di hadapannya ini pun tidak akan percaya sebab, dia tidak bisa membuktikan bila diri dan anaknya tidak bersalah. Dia tahu, ini adalah akal-akalan Nira agar mereka segara pergi dari rumah suaminya.


“Ya, sudah, Mas ... dia sudah ngaku, kok. Jadi dia pasti di penjara.” Kata Nira sambil berdiri, tapi Basri tetap duduk dan menatapnya tajam.


“Runa, dengar ... aku melakukan ini biar kamu dan anakmu itu kapok. Jangan berbuat hal memalukan ini lagi.Aku nggak menyangka selama ini hidup sama kamu dan membesarkan seorang pencuri! CK!” kata Basri.


“Tega kamu, Pak! Dia anakmu! Aku berani bersumpah, kalau aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain kamu!”


 


Bersambung


“Jangan lupa dukungannya dan tinggalkan jejak  ya ... terima kasih guys!"


 

__ADS_1


__ADS_2