
Menjadi Dewasa
Winsi melihat Runa dan Arkan berjalan beriringan mendekatinya sambil tersenyum, dua manusia dewasa itu terlihat malu-malu, saat menyapanya. Sementara di belakang mereka ada keluarga Nia yang juga tersenyum lebar ke arahnya.
‘Ada apa ini?’ batin Winsi.
“Buk, kok, bisa barengan sama Ayah? Ibunya Nia bareng sama Ayah juga?” Winsi bertanya pada Runa, setelah mengucapkan salam dan menyalami ibunya. Dia heran dengan kedatangan Arkan padahal, kemarin mereka sudah sepakat akan datang hanya dengan Ibunya Nia.
“Ya. Tadi kita berada dalam satu mobil dan diantar oleh Ayah.”
Mendengar ucapan ibunya, Winsi pun menganggukkan kepala.
Runa dan Arkan mengajak Winsi mengambil tempat yang nyaman untuk mengobrol, tidak jauh dari tempat temannya yang juga mengobrol bersama keluarganya.
Di pondok itu sengaja disediakan tempat berupa aula yang sangat luas dan bisa menampung banyak orang untuk para orang tua menengok anak-anak mereka, yang sedang menuntut ilmu di pesantren itu. Sudah ada beberapa kelompok keluarga yang ada di sana, mereka berkerumun sesuai anggota keluarga mereka masing-masing.
Setelah semuanya duduk dengan nyaman Runa menyerahkan oleh-oleh berupa makanan buatannya sendiri dalam sebuah kardus. Gadis itu begitu senang menerimanya, bahkan dia langsung membagikannya kepada Nia dan keluarga kecilnya yang duduk tidak jauh dari Arkan dan Runa.
Nia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum senang, itu adalah kebanyakan makanan yang disukai oleh para anak-anak perempuan di usia mereka, dan bisa dinikmati bersama ketika menghabiskan waktu luang.
Setelah Winsi kembali ke tempat duduknya, Runa pun menceritakan kejadian yang telah dialaminya kemarin bahwa, dia mendapatkan hal buruk karena kedatangan tiga perampok yang akan menguras habis harta benda dan uang tabungan.
Akan tetapi, Arkan datang dan membela hingga saat ini dia tinggal bersama Ayah angkatnya itu di rumah besar. Tentu saja Runa tidak menceritakan hal lain terkait dengan dirinya sendiri yang hampir ternoda karena tidak ingin anak itu kembali trauma jika mengingat masa lalu yang kurang lebih sama.
“Jadi, bagaimana pendapatmu kalau Ibu akan menikah dengan Ayah, Win?” tanya Runa, sambil mengusap lembut kepala Winsi--anaknya.
Winsi hanya diam mendengar perkataan ibunya tapi, tatapan matanya menatap ke-dua orang itu seakan tidak percaya. Runa terus memberikan pengertian dan pandangannya tentang hubungan mereka.
Sementara Arkan memberikan banyak alasan untuk menikah, sekali lagi dia mengatakan pada anak remaja itu, bila mencintai ibunya sejak dulu. Dia tidak bisa membiarkan Runa, dalam statusnya yang sendiri. Oleh karena itu, dia terus berusaha mendekatinya, walaupun Runa sangat menjaga diri. Tidak seperti saat Runa masih bersuami, Arkan sedikitpun tidak pernah mengganggunya.
“Kalau Ayah mencintai Ibuku bagaimana dengan Ibunya Erlan, apa Ayah tidak mencintainya?” tanya Winsi menyudutkan Arkan, Runa pun termenung.
“Win ... apa maksud pertanyaanmu, Nak? Kamu tidak boleh bertanya hal seperti itu pada Ayah!” sahut Runa kemudian wanita itu merasa malu atas keterusterangan anaknya.
Arkan sedikit mengernyit memikirkan pertanyaan kritis Winsi padanya, dia tahu bahwa anak itu menampakkan sisi lain yang berbeda dari dirinya, lalu dia menjawab, “Ya. Aku mencintainya juga ... tapi, dia sudah tiada.”
“Apakah kalau orang yang sudah tiada boleh dilupakan cintanya, Ayah?”
“Wiwin!” Sela Runa sambil memegang tangan anaknya.
__ADS_1
“Bukan melupakan, tapi bagi orang yang hidup biasanya masih membutuhkan cinta, makanya, boleh mencari pengganti, kalau dia mau.” Arkan menjawab dengan tenang.
“Begitukah? Jadi, Ayah juga masih ingat dengan Ibunya Erlan?”
“Ya. Tapi, bukan berarti aku masih mencintainya, dia sudah tiada, bahkan dia lebih bahagia sekarang.”
Winsi tersenyum mendengar Arkan mengatakan semuanya tanpa menutupi kenyataan atau berbohong untuk merayunya.
‘Tapi, Ayah, bagaimana kalau aku juga mencintaimu?’ batin Winsi.
Gadis itu menatap Arkan lekat-lekat, pria itu adalah cinta pertamanya ... kasih sayang seorang anak perempuan pada ayahnya.
Winsi tidak mencintai Basri karena pria itu kasar dan jahat. Sementara Arkan adalah pria pertama yang memberinya kasih sayang, memeluknya, menggendongnya dan membuat gadis remaja itu menemukan kehangatan pertama kalinya dari seorang lelaki yang sangat baik, bahkan mempunyai wangi yang sampai saat ini selalu diingatnya. Seandainya bisa, tidak ingin rasanya pria ini menjadi milik orang lain.
Winsi menitikkan air mata, dia menatap penuh haru, pada Ayah angkatnya dan mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang tapi, orang itu harus menjadi milik orang lain. Apakah cintanya pada Arkan menjijikkan? Tidak! Itu adalah cinta pertamanya dan seseorang bisa jatuh pada siapa saja.
Bukankah seorang anak perempuan akan menjadikan ayah mereka sebagai cinta pertamanya? Lalu, Winsi mencintai Arkan untuk pertama kalinya karena dia menemukan apa yang di sebut cinta, ada padanya. Akan tetapi, benar karena Arkan memang ayahnya.
Gadis itu melihat Arkan menatap Runa penuh pendar harapan yang nyata dan dia tidak akan menghancurkan harapan pada kedua orang yang sama-sama dicintainya. Ya, dia rela, ayah dan ibunya bahagia bersama sebagai wujud mencintai mereka berdua. Dia sudah mengikhlaskan cinta terbesarnya.
“Kenapa kamu menangis, Nak?” tanya Runa.
“Benarkah? Jadi, kamu nggak marah Ibumu ini menikah lagi?”
“Ya. Tapi, gimana Bapak, Bu?”
Bagaimana Runa bisa melupakan pertemuan dengan Basri yang berakhir dengan ditandatanganinya berkas perceraian mereka. Runa menegaskan bahwa, mereka memang sudah tidak lagi bersama tapi, tidak ada permusuhan antara mereka sehingga Winsi tidak perlu kuatir jika suatu saat bertemu dengan bapaknya, karena pria itu tidak akan jahat lagi.
Winsi yang mendengar semua kabar itu, menjadi sedikit kecewa, karena sang ibu tidak membawanya untuk bertemu juga, padahal dia berharap bisa bertemu dengan Basri untuk menanyakan tentang pria bernama Anas.
“Jadi, Win ... kalau kamu memang mau tahu soal Bapakmu, dia baik-baik saja dan sudah merelakan aku untuk menikah dengan Ayah.”
“Apa Bapak nanyain, Buk?” tanya Winsi penasaran apakah laki-laki itu ingat pada dirinya.
Runa diam sebentar dia berpikir apakah harus jujur atau menghibur anaknya itu karena Basri sepertinya sama sekali tidak merindukan dirinya.
“Tidak.” Hanya kata itu yang akhirnya keluar dari mulutnya.
Winsi tersenyum getir mendengar jawaban ibunya karena dalam hati dia sudah menebak akan seperti ini pada kenyataannya bahwa, Basri pasti tidak perduli dengan dirinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Arkan mendekat dan menepuk lembut kepala Winsi seperti biasanya, tapi Winsi kemudian menghindar.
Gadis itu kemudian menoleh menatapnya sejurus lalu, dia berkata, “Jangan menyentuhku sembarangan, Ayah! Sekarang aku sudah Aqil baligh, aku sudah haid.”
Runa tersenyum mendengar ucapan anaknya.
Sementara Arkan mengerutkan keningnya lalu tersenyum lebar seraya berkata, “Benarkah? Jadi, anak ayah sekarang sudah dewasa, ya.”
"Iya. Seperti Ayah dan Ibu sudah dewasa, tapi, tidak semua orang yang bewasa yang sikapnya dewasa."
"Ya, kamu benar, Wiwin ... anak Ayah pintar, dewasa tidak di tentukan oleh umur."
"Ayah tahu? Memeng ditentukan oleh apa?" Tanya Winsi masih mengunyah camilannya.
"Ya, kalau dewasa dalam Islam itu berarti orang yang mampu berlaku adil ... adil itu adalah orang yang mengerti hal orang lain, hak Allah untuk di sembah selain hak pada dirinya sendiri." Arkan menjawab dengan tenang membuat Runa semakin kagum bahwa pria yang ada di sampingnya itu.
Akan tetapi, Arkan berkata tetap sambil mengusap kepala gadis itu dengan lembut, membuat Winsi melotot dan pria itu terkekeh, merasa geli pada tingkah anak angkatnya.
“Ayah!” pekiknya sambil menghindari sentuhan Arkan.
“Hai. Dengar ... kalau aku menikahi Ibumu, aku tetap bisa menepuk kepalamu karena kamu akan jadi anakku, iya, kan?”
Winsi mengangguk sambil tersenyum, tentu saja mereka akan menjadi mahramnya karena hubungan pernikahan dan, dia bisa memeluk pria dewasa itu kapan saja.
Tiba-tiba ponsel Arkan bedering dan pria itu mengangkatnya lalu, mengusap layar benda pipih itu.
“Win, lihat ... siapa yang meneleponku?” tanya Arkan sambil memutar ponsel di tangannya ke arah wajah Winsi.
“Siapa, Ayah?” Winsi bertanya sambil melihat ke ponsel Arkan dan mengunyah camilannya. Dia melihat Erlan tengah melakukan video cal di dengan ayahnya.
“Astaghfirullah!” pekik Winsi, sambil mengusap wajah dan memalingkan pandangannya.
Wajar sikapnya demikian, karena dia melihat gambar video di ponsel itu, tampak Erlan yang sepertinya baru saja mandi, dia hanya mengenakan handuk yang menutupi daerah pinggang ke bawah dan masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil lainnya.
Arkan justru tertawa, melihat kedua anak itu sama salah tingkah. Erlan tampak terkejut dan segera beristighfar juga.
“Kenapa Ayah nggak bilang kalau ada Anak Buluk, sih?”
Mendengar suara Erlan dari telepon genggam dan kembali memanggilnya Anak Buluk, maka Winsi sudah mengobarkan perang dalam hati. Dia sudah pernah mengatakan padanya jika dia tidak mau dipanggil dengan sebutan seperti itu lagi, tapi, apabila Erlan masih melakukannya maka, dia tidak akan menganggapnya teman, atau saudara.
__ADS_1
Bersambung