
Aku Merindukanmu
Sejak hari itu, Erlan dan Runa pun lebih sering diam bila bertemu, ucapan yang keluar dari mulut mereka hanyalah sekedar salam dan jawabannya. Atau saat Erlan bertanya mengapa Zidan menangis dan Runa akan menjawab seperlunya saja.
Sementara hari-hari yang berlalu bagi Erlan, seperti berjalannya seekor siput di atas pasir pantai hingga terasa sangat lambat dengan ombak yang menghempaskan di tempatnya semula, membuatnya harus memulai kembali dari awal.
Akan tetapi, ini tidak sedang di pantai, dia tengah mengalami sebuah dilema di mana dia tidak bisa berbuat banyak untuk dirnya sendiri. Dia ingin menemui Winsi, tapi, kuatir jika perbuatannya tidak disukai. Namun, di sisi lain Runa terus menuntut agar masalah dengan anak perempuannya segera diatasi.
“Maafkan Erlan, Bu. Belum bisa jemput Winsi ke Jogjakarta, mungkin dia masih sibuk juga soalnya saya telepon setiap hari nggak diangkat!” kata Erlan suatu hari saat dia baru pulang dari kantornya.
Saat itu Runa hanya diam dan mengangguk, biar bagaimanapun juga, dia tidak bisa marah pada pria muda yang sekarang menjadi menantunya itu. Apalagi Erlan adalah anak dari laki-laki yang dia cintai. Bahkan, baik di masa lalu maupun saat ini, saat jasad Arkan sudah berkalang tanah, dia tetap mencintainya seumur hidup.
“Nanti, kalau saya sudah membereskan kerjaan yang sudah lama tertunda karena mengurus Hanifa, saya akan menjemputnya, apa Ibu mau ikut ke sana?” tanya Erlan kemudian.
Saat itu seperti biasa mereka bertemu saat makan malam atau sarapan saja.
“Ya. Ibu nanti ikut, kamu nggak keberatan?”
“Tentu saja tidak, Bu!” kata Erlan, sambil tersenyum.
Dia menjadi lebih semangat karena punya harapan lebih besar lagi sekarang, untuk tetap menjalani kehidupan pernikahannya yang harus mendua hati. Dia tidak berpikir buruk tentang hal ini, sebab dia berharap ibunya akan sekedar ikut dan menengok Winsi dan rumahnya, sekaligus membawanya pulang kembali ke Jakarta.
Tiba-tiba Runa kembali bertanya karena rasa penasaran dan, pertanyaan ini membuat Erlan berkecil hati dengan poligaminya sendiri.
“Sebenarnya, apa yang mendasari kamu menikahi perempuan itu, dan Ayahmu mendukunya, lalu kamu nekat pula menikahi Wiwin?”
“Bu, sebenarnya saya nggak mau menikahi Hanifa dan cukup membiayai perawatannya saja, tapi, waktu dia sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, Ayah sempat bingung bagaimana merawatnya di rumahnya karena dia mengalami kelainan jiwa dan sering memanggil saya Papnya, pada Ayah juga!”
“Oh, jadi Ayahmu kamu salahkan juga atas keputusan itu?”
“Bukannya saya menyalahkan Ayah, tapi itu idenya, agar saya bisa bebas bersikap saat harus berdekatan dengan Hanifa secara halal, apalagi saya belum menikah, sebenarnya Ayah bermaksud baik.”
“Terus, kenapa kamu nekat menikah Wiwin juga?”
“Bu, saya mencintai Wiwin dari dulu, karena itu saya sempat menolak keinginan Ayah menikahi Hanifa, saya benar-benar tidak ingin Wiwin dan Ibu pergi dari sini, saya pasti akan kesepian di rumah kalau Wiwin pergi, Bu!”
“Kan, kamu sudah menikahi Hanifa?”
“Bu, Hanifa tidak bisa memenuhi semua kebutuhan saya sebagai suaminya, saya tidak mungkin mencintai atau melakukan hubungan badan dengan wanita yang menganggap saya orang tuanya. Nggak bisa, Bu!”
Runa terdiam lagi, alasan Erlan sangat jelas dan masuk akal, seharusnya mereka bisa berdamai dengan kondisi ini.
“Tapi, gimana kalau Hanifa sembuh nanti, apa yang akan kamu lakukan kalau dia atau Winsi tidak mau dipoligami?”
__ADS_1
Erlan seketika terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa dan melakukan apa kalau memang hal itu terjadi. Dia tidak mungkin menceraikan Hanifa atau Winsi begitu saja. Atau dia bisa memberikan pilihan pada keduanya, lalu, bagaimana kalau ternyata mereka sama-sama meminta untuk dipertahankan?
“Maaf, Bu ... untuk ini saya tidak bisa menjawab, mungkin saya akan memberi mereka pilihan saja, bukankah selalu ada pilihan dalam hidup dan juga agama? Allah yang Maha kuasa saja selalu memberi pilihan pada manusia soal hidup yang akan mereka jalani.”
“Apa kamu merasa mampu, Lan?”
“Saya nggak tahu, Bu. Jujur kalau soal ini saya tidak bisa memberi penilaian pada diri saya sendiri. Saya justru takut kalau lebih condong pada Wiwin karena saya lebih mencintainya. Dan saya takut itu dosa!”
Percakapan antara anak dan ibu mertua itu pun berakhir sampai di situ karena Erlan harus segera berangkat dan, Runa akan memandikan buah hatinya. Dalam hati keduanya sama-sama terganjal kegundahan tentang masa depan yang tak pernah bisa ditebak bagaimana kesusahannya.
Sejak kematian ayahnya Erlan tidak pernah lagi meminta Hasnu untuk mengantarkan atau menjemputnya lagi, dia selalu mengendarai mobilnya sendiri karena Hasnu kini menjadi sopir Runa jika dia ingin bepergian ke mana pun.
Di ruang kerjanya Erlan sudah selesai memeriksa dan menganalisis semua laporan keuangan dari tiga restoran peninggalan Arkan yang semua menjadi tanggung jawabnya. Selain itu dia masih harus mengontrol perkembangan bisnis properti yang juga merupakan peninggalan ayahnya yang kini dibebankan padanya.
Semua kegiatan perusahaan yang terabaikan sejak ayahnya meninggal sedangkan dia harus merawat Hanifa itu, kini sudah selesai satu persatu. Dengan demikian, tugas dan urusan sehari hari yang biasanya akan lebih ringan dijalani jika urusan istri-istrinya pun dapat diatasi.
Saat istirahat jam makan siang tiba, Erlan menyimpan beberapa berkas yang sedari tadi dipegangnya lalu, mematikan laptop. Dia beranjak dari tempat duduknya lalu, berjalan ke sisi jendela, sambil membuka bagian atas kancing kemeja serta kancing dua manset di lengan panjang serta menggulungnya sampai siku.
Tiba-tiba telepon genggam yang ada di atas meja kerjanya berdering, dengan cepat dia menyamar telepon itu dan melihat layarnya dengan tatapan datar.
Setiap kali teleponnya berdering dia selalu berharap Winsi yang menghubunginya karena hampir setiap hari, baik pagi siang ataupun sore dia selalu memberi pesan kepada istrinya itu. Seperti layaknya orang yang sakit dan harus minum obat sebanyak tiga kali dalam sehari.
Namun setiap kali telepon itu berbunyi dan bukan Winsi yang menghubungi, dia pasti akan mengangkat dengan kecewa. Seperti hari ini ternyata yang menghubunginya adalah salah satu rekan kerjanya yang telah diberi tugas olehnya.
“Halo! Bos. Selesai, ya tugasku pekan ini, soal kepala proyek Cinere itu!” kata si penelepon dan Erlan mendengarkan ucapannya sambil duduk kembali dengan bersandar pada kursinya.
“Aku kirim ke surel Arkan seperti biasanya, ya?”
“Oke!”
“Kemapa kamu, Bos! Lesu amat, sih?”
“Bukan urusanmu!”
Erlan langsung menutup ponselnya tanpa memperdulikan Bagaimana perasaan lawan bicaranya di telepon.
Si penelepon itu padahal tak bersalah dan hanya mengabarkan bila tugas yang diberikan kepadanya sudah selesai dan laporannya akan dia kirimkan melalui surel yang biasanya. Namun, karena kondisi hati Erlan sedang dilanda rindu yang amat sangat, dia menjadi mudah marah. Dia merasa di abaikan.
Winsi sudah menjadi istrinya dan sudah melewati beberapa malam bersama, walaupun, pada saat yang lalu mereka lebih banyak tidur terpisah, itu sama sekali tidak membuatnya marah karena dia sangat memaklumi Winsi dan juga memaklumi dirinya sendiri yang harus sabar menghadapinya.
Cinta sebenarnya kasih sayang disertai gairrah hangat yang murni, untuk kemudian bisa menyalurkan hasrat secara naluri, kalau mencintai yang egois itu bukan cinta, tapi perasaan hati yang memaksakan kehendak agar pihak lain memakluminya.
“Aku rindu kamu, Winsi Nisriya Binti Basri!” Erlan mengirimkan pesan suara melalui aplikasi chat mereka.
Dia tidak menduga bila beberapa menit kudian pesan itu sudah terbaca dan dia melihat pada layar bila Winsi masih membalas pesannya.
__ADS_1
Cukup lama wanita itu mengetik, mungkin dia menulis sesuatu lalu menghapusnya lagi, seperti itu sebanyak beberapa kali. Erlan tidak sabar menunggu hingga dia kembali mengirim pesan suara.
“Kamu ngetik apaan, sih? Mending ngomong aja, aku telepon yaa?”
Pesan suara kembali tersampaikan dan di dengar oleh Winsi, setelah itu sepi. Bukankah cintanya berbalas, rindunya bukan rindu yang sepi hingga menggulung malam-malam yang dia lalui dipenuhi oleh bayangan sang pujaan hati. Telinga dan mata hanya bisa melihat dan mendengar tentang dirinya.
Diamnya seorang wanita menandakan jika dia menyetujuinya.
“Halo, assalamualaikum, Sayang!”
Eelan akhirnya menghubungi dan Winsi menerima panggilan suaminya. Dia merasa kasihan.
“Ya. Wa’alkumussalam !” jawabnya singkat.
“Apa kabar, kenapa nggak balas pesanku?”
Winsi tertawa kecil.
“Bukannya kamu sudah biasa ya kayak gitu dari dulu!”
Erlan tercengang karena Winsi mengingat semuanya selama hubungan mereka saat belum menikah.
“Wiwin ... kan, kamu sekarang istriku, bukan saudara tiri ku lagi!”
“Oh, memang beda, ya?” Winsi menjawab dengan pura-pura bingung.
“Beda, aku mencintaimu, aku kangen banget sekarang mau ketemu sama kamu, kapan kamu pulang?”
“Oh, aku pikir sama saja, kamu dulu nggak pernah kangen, berarti kamu bohong! Katanya cinta dari dulu, terus kenapa sekarang kangen tapi dulu enggak?”
Erlan tampak menggertakkan giginya saat Winsi bicara, dia gemas, mana mungkin dulu dia bisa bilang kangen? Bukankah mereka hanya saudara, bukan suami istri atau pacar!
“Win ...!”
“Hmm ...!”
“Boleh ya, aku gigit kamu?”
Winsi kembali tertawa kecil, seketika hati Erlan menjadi hangat saat mendengarnya.
“Nggak boleh, jangan!” kata Winsi setelah berhenti tertawa.
“Kenapa?”
“Gigit aja istrimu yang lain sana! Kan, ada dia!”
__ADS_1
Bersambung