
Dikalahkan Dengan Mudah
Runa tersudut di ujung kamar, ponsel menyala tetapi, dia tidak menempelkannya ke telinga, berulang kali Arkan berteriak halo, dan memanggil namanya, tapi, wanita itu tidak bisa berkata-kata. Bibirnya gemetar begitu juga seluruh tubuhnya, keringat dingin membanjiri kulit, napas turun naik tak terkendali sementara detakan jantung begitu keras seolah memukul dada bertubi-tubi.
Suara gaduh meneriakinya janda masih terdengar, mereka berusaha mendobrak pintu dan mengucapkan kata-kata kotor yang begitu menjijikkan. Canda tawa dan ejekan antara ketiga pria terdengar begitu jelas seolah mereka orang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan. Bahkan dai ucapan di antara mereka jelas sangat menyukai kekerasan.
Pada akhirnya, setelah susah payahnya mereka berhasil juga mendobrak pintu yang ternyata sangat kuat itu. Runa semakin merengsak di sudut, seolah ingin menyatukan tubuhnya dengan dinding bata. Air mata sudah berlinang sementara kedua tangannya mengatup memohon agar dirinya tidak dianiaya oleh mereka.
“Hah! Akhirnya kebuka juga!” kata salah seorang dari ketiga pria itu seraya menyeringai menatap Runa penuh minat dan keinginan terkutuk dari seorang pria pada wanita yang tidak halal baginya.
“Kumohon ...! Pergi kalian dari sini! Pergi!” kata Runa dengan suara keras, sambil berlutut. "Tolong!" teriaknya lagi tapi, percuma, mereka berada di lingkungan pasar yang cukup ramai.
Mendengar ucapan Runa, mereka tertawa salah seorang dari mereka mendekat sambil berkacak pinggang dan mengusap hidung dengan punggung tangan. Terlihat jengah. Lalu membekap mulutnya dengan kuat.
Runa melihat ke sekelilingnya, hampir tidak ada benda di kamar itu yang bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya dari apa pun. Beberapa benda seperti tas, bantal, guling yang ada di sana tentu tidak akan bisa membuat para pria itu kesakitan atau menyerah, tapi, justru akan membuat mereka tertawa lebih keras.
Seseorang sudah menarik jilbab Runa dan perempuan itu mempertahankan dengan kedua tangannya agar tetap berada di kepala.
“Jangan menolak, sayang ... biar kita sama-sama enak, hahaha!”
“Tidak! Keluar kalian dari sini bak jingan!” Kata Runa, telepon genggamnya masih menyala tapi, benda itu tergeletak begitu saja di lantai. Dia melepaskan benda itu saat tangannya secara refleks mempertahankan kerudungnya.
Antara Runa dan orang bertubuh gemuk itu masih saling tarik menarik sementara tangan Runa dicengkeram kuat sehingga perempuan itu tidak bisa berkutik.
“Memangnya siapa yang berkuasa di sini?”
“Ayo! Kita undi, siapa yang duluan!”
“Ayo! Siapa takut!”
“Aku gak kebagian juga gak apa, kalian saja, duit perempuan ini banyak! Lihat!” kata seorang di antara mereka, yang telah menggeledah beberapa tempat, lemari, tas dan juga laci meja, tentu saja mereka bisa menemukan celengan Runa yang bukan hanya satu. Melainkan ada lima celengan bentuk ayam yang semua isinya terdiri dari uang sepuluh dan dua puluhan ribu, itu semua tabungan untuk Winsi yang akan digunakan untuk anaknya kuliah nanti.
“Wah, benar juga!” setelah berkata, mereka pun memecahkannya dan memasukkan ke dalam kantong plastik hitam.
__ADS_1
“Kalau begitu, kita gasak saja semuanya!”
“Orangnya juga? Lumayan cantik dia!”
“Iya! Hahaha ... Ayo! Kita suit!”
Ketiga orang itu melakukan pengundian, setelah berhasil memasukkan semua uang ke dalam wadah, uang di laci meja juga mereka ambil semua.
“Baik, aku duluan kalo gitu, kan, aku yang menang!” kata salah satu di antara mereka yang berambut keriting.
“Baik, kalau begitu, kalian pegang dia, buka bajunya!”
“Oke!”
Serentak kedua orang lainnya menarik baju juga kerudung Runa sementara satu lagi melepaskan celana yang dikenakannya sambil tertawa-tawa. Setengah mati Runa mempertahankan pakaian agar tetap melekat di badannya, dengan air mata yang terus mengalir dan bibir yang gemetar memohon untuk dikasihani.
Tiba-tiba ...
Buk!
Tendangan telak itu datang dari Arkan. Pria itu menyeringai melihat pemandangan yang menjijikkan. Dia menendang tepat mengenai bagian belakang kepala hingga orang itu langsung jatuh pingsan.
“Kurang ajar! Siapa kau, berani-beraninya ikut campur urusan kami? Hah!” seseorang langsung menyerang Arkan demi melihat temannya yang sudah siap tempur justru kini terkapar di lantai.
Arkan berhasil menepis tangan yang mengepalkan tinju ke arahnya.
“Urusan wanita itu juga urusanku!” teriak Arkan sambil melayangkan tinju yang merupakan serangan balik ke arah orang yang menyerangnya.
Begitu juga seorang lainnya ikut melayangkan tinju pada Arkan, secara bersamaan dan baku hantam pun terjadi. Mereka bertiga saling pukul dan saling tendang cukup sengit. Sementara Runa kembali meringkuk di sudut kamar masih dengan gemetar dia membenahi kembali pakaiannya yang sudah sobek, kerudungnya pun sudah terlempar ke atas kasur, dengan perlahan dia berdiri dan, memungutnya sambil menangis.
Dia kemudian mengambil sebuah tas yang kira-kira cukup kuat walaupun lusuh dan, menghantamkan tepat di kepala seorang yang tadi sempat berusaha menciumnya.
Tangannya gemetar tapi saat memukul dari belakang, dia mengerahkan seluruh tenaga, hingga sukses membuat pria itu kesakitan sampai meringis lalu, menoleh ke arah Runa. Pria itu seketika kalap dan mendorong wanita itu kembali terpojok di dinding, kesempatan ini digunakan sangat baik oleh Arkan untuk kembali menendang bagian kepalanya hingga pria itu jatuh pingsan.
__ADS_1
Tinggal seorang lagi, yang menyerang Arkan secara membabi-buta karena panik dan juga takut hingga serangan tidak terarah dan dengan memudah Arkan mengalahkannya.
Hanya dengan satu kali tinju di rahang orang itu pun tersungkur dan tidak lagi mampu bangkit walaupun tidak pingsan seperti temannya. Terakhir, Arkan menginjak keras jari kakinya dengan sepatu pantofel hingga, teriakan keras terdengar begitu memilukan keluar dari mulutnya lalu, diam menandakan pria itu sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Arkan melihat ke bawah di mana semua pria dia kumpulkan dan mengikat tangan ketiga berandalan dengan jasnya sendiri. Setelah selesai, dia mendengus kasar, mengusap hidung dengan punggung tangan lalu, merapikan kerah kemeja sambil menatap Runa tajam, setajam pedang yang sudah di asah dan siap menebas apa pun juga.
Di dekatinya wanita yang masih gemetar dan memegang tas di depan dada, menatap wanita itu dari ujung kepala sampai kaki guna memastikan bahwa, Runa baik-baik saja. Tanpa bicara dia mengambil bungkusan keresek yang berisi uang, memasukkan semuanya ke dalam tas yang ada di tangannya.
“Ganti, bajumu!” katanya.
Runa masih diam, menatap ke arah berbeda, seperti sedang melihat ke arah dunia lain, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dihadapinya.
Arkan mengguncang bahunya keras untuk menyadarkan, tapi, justru wanita itu menangis kembali sambil menjatuhkan diri ke lantai. Pria itu berlutut dengan satu kaki dan menarik tubuh lemas itu dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu menumpahkan perasaannya.
Saat Arkan dalam perjalanan menuju Restoran, dia menerima panggilan dari Runa dan, dengan senang hati dia menerima panggilannya. Namun yang dia dengar dari seberang telepon hanyalah suara yang tidak jelas, bahkan mencurigakan. Berulang kali dia memanggil nama Runa sambil memutar arah mobil. Akan tetapi yang dia dengar justru teriakan dan juga suara gaduh yang sangat mengkhawatirkan.
Seketika itu juga dia menekan gas kendaraan dengan perasaan panik. Sesekali dia mengusap wajah yang berkeringat dengan telapak tangan sementara suara-suara di telepon yang dia biarkan tetap menyala, semakin menakutkan, teriakan dan tangisan Runa sangat jelas terdengar begitu memilukan.
Ternyata dia tiba tepat waktu, dia melihat ada warung yang sepi saat turun dari mobil tapi, suara gaduh jelas terdengar dari dalam. Arkan masuk dan berjalan dengan cepat langsung ke arah kamar dan melihat wanita itu nyaris dibuka auratnya di depan tiga pria yang tidak dikenal, bahkan ingin merampok semua uang miliknya. Arkan tahu batas pergaulan, apalagi wanita itu sangat menjaga diri, tapi, dia tidak bisa melihat wanita itu menangis pilu di depunnya hingga dia memeluknya begitu saja.
Setelah beberapa menit kemudian, Runa sedikit meredakan tangisan dan mendorong dada Arkan pelan, lalu, dia berdiri. Di tatapnya pria itu dengan tatapan penuh emosi yang mendalam.
“Terima kasih ....” ucapnya lembut.
Arkan yang masih berlutut pun mendongak, lalu, tersenyum seperti menertawakan dirinya sendiri demi mendengar ucapan Runa yang mengucapkan terima kasih padanya sebab, baginya itu tidak perlu. Dia merasa ini adalah kewajiban melindungi wanita yang disayanginya.
Pria itu berdiri hingga sejajar dengan Runa dan berkata lembut, “Ikutlah denganku, tinggalah bersamaku dan jadilah istriku, Runa ....”
Bersambung
__ADS_1