Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
104. Pria Yang Pernah Menorehkan Luka


__ADS_3

Pria Yang Pernah Menorehkan Luka


Winsi menjalani hari-hari terakhirnya di bulan Desember dengan ceria, dia sering meminta Runa untuk mengirimkan foto adik kecilnya yang lucu dan menggemaskan. Bayi yang belum genap berusia enam bulan itu begitu membuatnya rindu.


Seperti hari itu, saat dia masih bersantai menikmati masa liburan semester, Winsi melihat foto yang baru saja dikirimkan ibunya. Dia berada di ruko tempatnya memulai usaha menjual aneka camilan dan oleh-oleh khas Yogyakarta.


Gadis itu sengaja menjalankan ide usahanya itu atas keinginan dirinya sendiri dan juga temannya Nia, yang diajaknya tinggal dan bekerja sama di sana. Dua gadis itu bahu membahu dengan baik selama ini dan menggunakan uang modal dengan cara patungan yang sama-sama menguntungkan.


Awal pertemuan Winsi dengan Nia adalah saat mereka menjadi teman satu sekolah saat SMP dulu, siapa yang menduga bila kini mereka kembali dipertemukan dalam satu universitas yang sama pula.


Nia pernah merasa berhutang Budi pada Winsi saat dia menjadi anak remaja bertubuh gemuk dengan wajah berjerawat yang kemudian mendapatkan Bulian dari teman sekelasnya.


Mereka kembali bertemu baru beberapa bulan yang lalu, saat Winsi berniat memulai usaha dan ingin lepas dari pengawasan dan tidak ingin merepotkan Nafadi lagi. Biar bagaimanapun juga, pria itu sudah sangat baik dan mendukungnya selama ini.


Dalam beberapa bulan terakhir, setelah rumahnya selesai di bangun, dan berniat memulai usahanya sendiri.


Winsi berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara untuk menyembuhkan diri dari traumanya terhadap ruang gelap dan tertutup rapat. Dia banyak membaca kisah-kisah yang memotivasi, banyak pahlawan wanita, atau hal-hal positif lainnya selain pelajaran kuliahnya.


Selain itu, dia rajin mengikuti aneka seminar tentang pengembangan diri atau tentang kesehatan mental hingga pengajian remaja kampus pun rutin dia jalani. Semua demi hilangnya rasa kecemasan berlebihan yang tidak beralasan.


Saat dia dipertemukan kembali Dengan Nia, adalah titik awal dari keberanian dan keputusan untuk menjalani niat awal dan membuang jauh rasa khawatir akan ruang gelap dan tertutup rapat.


Memang belum sembuh benar, sebab terkadang dia masih saja terbangun di malam hari dalam keadaan berkeringat, mimpi buruk dan juga gemetar disertai degupan jantung yang sangat hebat. Akan tetapi, mana kala traumanya ini kambuh di malam hari saat Winsi sendiri, maka dia akan segera menyalakan lampu dan membuka sedikit pintu kamarnya.


Tentang traumanya itu, Winsi menceritakan semuanya pada Nia, tapi dia tidak mengatakan atas sebab apa trauma itu tercipta. Perkembangan kepribadiannya kini sudah tidak lagi menghawatirkan, sebab traumanya sudah berkurang bahkan dia sudah berani tinggal di rumahnya sendiri bersama dengan Nia yang dengan senang hati mendukung dan menemaninya.


“Kenapa kamu, Win. Senyum-senyum sendiri?” tanya Nia sambil menata bungkusan keripik jagung yang baru saja datang dari pemasok yang bekerja sama dengan mereka.


“Ini, Fotonya Jiddan. Lucu, kan?” kata Winsi sambil menunjukkan ponselnya. Dia kemudian duduk dan melihat aktivitas Nia yang tidak mau diam, ada saja yang dikerjakannya, padahal, isi warungnya itu sudah rapi.

__ADS_1


Nia menoleh sebentar lalu, dia tersenyum, “Iya, lucu, mirip adikku.”


“Ih, mana ada adikku mirip sama adikmu?”


“Mirip lucunya!”


“Oh.”


Nia memang rajin, karena dia sejak kecil tinggal bersama paman dan bibinya secara dia adalah anak yatim piatu kini, adiknya pun dalam perawatan orang yang sama. Dia bisa masuk dalam universitas terkenal itu karena mengikuti jalur beasiswa. Tinggal dengan keluarga yang bukan saudara kandung rasanya adalah beban, oleh karena itu dia selalu rajin bekerja.


Betapa senangnya hati Nia saat bertemu Winsi dan mengajaknya tinggal bersama, lalu, mengajak berbisnis. Dia seakan memiliki satu matahari lagi hingga hidupnya seolah lebih terang dari sebelumnya. Dia menguras isi tabungannya untuk mendukung temannya hingga dia memiliki usaha yang sama.


Awalnya, mereka akan mendirikan warung makan, tapi hal itu tidak bisa karena mereka juga sibuk dengan kuliahnya masing-masing, apalagi Winsi dan Nia berada di jurusan yang berbeda susah untuk memiliki waktu yang sama pula.


Saat dia wanita itu tengah asik menata beberapa barang dan membersihkan rak-rak yang kebanyakan masih kosong itu, tiba-tiba datang seorang pria yang terlihat baru saja turun dari mobilnya.


“Om, Anas!” teriak Winsi seraya melangkah dengan cepat menyambut kedatangan orang yang sudah lama tidak bertemu dengannya itu.


Saat terakhir kali mereka bertemu, Winsi dan Anas membicarakan tentang beberapa kemungkinan untuk bekerja sama. Mereka menjadi akrab sejak saling mengenal lebih jauh dan Winsi akhirnya mengetahui hal terbesar dalam hidupnya tentang misteri siapa pria yang pernah menolong ibunya.


“Ah, akhirnya kalian buka toko juga?” kata Anas.


“Ck! Kami memang selalu buka tiap akhir pekan, Om!” kata Winsi. Sementara Nia pergi ke dapur menyiapkan minuman hangat untuk mereka.


“Sebenarnya kalian ini serius usaha, nggak sih?”


“Serius dong, Om!”


“Kalau serius kalian harus buka setiap hari!”

__ADS_1


“Kami, kan, kuliah, Om!”


“Ya, cari pekerja dong, Win ....”


“Ya, belum ada buat gajinya dong, Om ....” Winsi mengikuti gaya bicara Anas.


Anas hanya tersenyum lalu, dia duduk lebih dekat dengan Winsi, di karpet yang sengaja di gelar saat ada seorang tamu atau teman yang datang. Lalu, mereka menikmati teh hangat bersama.


Pria itu menjelaskan strategi bisnisnya yang bisa ditiru oleh dua gadis itu, lalu dia menawarkan sedikit kerja sama dengan memanfaatkan sebagian ruangan yang masih kosong dan halaman parkir yang cukup luas menjadi sebuah cafe dengan menu yang di buat di cafe milik Anas.


“Wah, boleh juga nih idenya, Om!” Kata Winsi sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah pada Anas.


“Sekarang aku mau tanya, kalian masih dapat jatah uang bulanan dari orang tua kalian, kan?”


“Masih, Om.” Winsi dan Nia menjawab secara bersamaan.


Di saat yang sama, sebuah mobil Avanza lewat di jalan depan toko milik Winsi lalu, berhenti tak jauh dari sana. Seorang pria yang rambutnya sudah beruban datang mendekat lalu, melihat ke dalam sambil memanggil.


“Wiwin! Apa itu kamu?” kata pria itu.


“Bapak?” Winsi segera berdiri dan menghampiri Basri. Ya, pria itu adalah Basri ayah kandung Winsi, yang kebetulan lewat karena penumpang yang menyewa mobilnya meminta berhenti tepat di dekat tokonya.


“Ya, ini aku!” kata Basri.


“Silakan masuk, Pak!” sahut Winsi. Gadis itu bersikap ramah, dia tidak bisa mengusir siapa pun yang kemungkinan adalah pelanggannya. Walaupun, dia adalah seorang pria yang pernah menorehkan luka.


Basri pun melihat sekilas wanita muda yang duduk lesehan di karpet dalam warung itu. Tatapan matanya begitu nanar dan tidak bisa mengalihkannya dari Winsi—anaknya. Akhirnya, dia pun benar-benar melangkah ke sana dan menelisik ruangan sekitar toko dan orang yang ada di dalamnya.


“Kamu?”

__ADS_1


Beraambung


__ADS_2