
Kasih Sayang Seperti Ayah
Erlan menggertakkan giginya dan pandangan membara ke arah hal yang membuat hatinya patah, dengan wajah merah padam. Dia menggenggam tangan istrinya lebih erat lagi, lalu mengajak Winsi menemui pihak rumah sakit, seperti yang dulu pernah dia lakukan.
Beberapa penjaga bersiap karena kasus Erlan sebelumnya dengan Fadli. Akan tetapi, sesiap apa pun mereka menjaga, tetap saja tidak bisa menahan saat Erlan dengan sekuat tenaga melayangkan tinjunya ke arah Fadli, tanpa berkata apa-apa. Bahkan dia melakukan itu hanya dengan satu tangan karena tangan yang lain tetap menggenggam Winsi.
“Erlan!” pekik Winsi dan Hanifa secara bersamaan.
“Sejak kapan sih, kamu jadi orang yang menyelesaikan masalah dengan cara nggak elegan begini? Apa semua karena istrimu ini?” kata Winsi sambil melepaskan tangannya.
“Erlan, apa maksudmu ke sini hanya untuk membuat keributan?” tanya Hanifa hampir bersamaan dengan saat Winsi bicara.
“Hani, apa kau sudah sembuh?” kata Erlan sambil mendekati Hanifa dan memegang tangannya lembut. Wanita itu mendongak dan menatap heran.
“Aku tidak sakit, aku Cuma harus ikut tetapi saja, iya, kan Fadli?” kata Hanifa sambil menoleh pada Fadli yang masih memegangi pipinya yang merah dan ada sedikit darah di sudut bibirnya. Pria itu mengangguk.
“Iya!” sahut Fadli tanpa rasa bersalah.
Sementara Hanifa melepaskan pegangan tangan Erlan.
Semua yang ada di sana akhirnya paham jika mungkin seperti itulah metode membangkitkan rasa percaya diri seseorang yang pernah mengalami gangguan mental.
Namun, bagi Erlan tindakan Fadli sangat berlebihan. Dia memang pernah bilang minta izin untuk menjenguk, Hanifa kapan saja, tapi, siapa yang menyangka jika Fadli justru mendapatkan panggilan bekerja di tempat di mana Hanifa di rawat.
“Apa seperti ini caramu menyembuhkan istriku, dengan menyentuhnya sembarangan?” tanya Erlan, sambil mencengkeram kerah baju Fadli dan mendorong ke dinding.
“Pak! Mereka hanya di sugesti bahwa mereka di rawat di sana bukan karena sakit, melainkan karena pikiran mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lalu, para kami akan membuat pola berpikir para pasien bisa menerima keadaan dengan lapang dada!” kata salah seorang dokter yang ikut melihat kejadian itu.
“Jadi, yang dilakukan Fadli sudah benar, dia memberikan sentuhan kasih sayang, sesuai dengan yang terjadi pada Hanifa!” kata orang itu lagi, Erlan pun mengangguk dan melepaskan cengkeramannya pada Fadli.
“Apa kalian tidak lihat, dia menciumnya!” pekik Erlan sambil menunjuk ke arah wajah Fadli kesal.
“Hanifa, bukankah kamu tahu, Sayang, bahwa, semua tragedi yang menimpa dan membebani pikiran juga jiwa kita hanyalah sesuatu yang lemah karena diri kitalah yang harus lebih kuat, kita tidak boleh kalah oleh keadaan, iya, kan?” kata Fadli mencoba mengalihkan perhatian dan Hanifa mengangguk.
“Ya. Aku memang sering kekurangan kasih sayang dari Mama dan Papa, tapi Fadli memberiku segalanya!” kata Hanifa.
Erlan menjadi salah tingkah, tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri. Dia yang sudah memberikan segalanya tapi orang lain yang mendapatkan pujiannya. Bahkan, dia sudah mengalah dengan menerima semua perlakuan dianggap Hanifa sebagai papanya.
Erlan meninggalkan tempat itu dengan cepat sambil memasuki ruangan konsultasi yang terletak beberapa meter dari tempat kejadian. Satu tangan menarik Winsi, dan satu tangan lainnya menyeret dokter yang tadi bicara.
Sesampainya di tempat itu. Mereka bicara dengan tetap berdiri. Sementara Winsi duduk di teras di satu kursi yang ada di sana, tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia enggan.
“Apa Hanifa benar-benar sudah sembuh?” tanya Erlan.
“Ya. Dia bisa sembuh lebih cepat dari perkiraan. Mungkin sekitar dua pekan lagi menuju sehat yang sesungguhnya. Jadi, biarkan dia di bawah pengawasan Fadli. Dia perawat yang tepat.”
“Oh, begitu, bagaimana kalau saya tidak setuju?”
“Kalau di bawa pulang sekarang bisa saja, tapi materi terapi kami belum seluruhnya selesai, tinggal sedikit lagi.”
“Saya minta Fadli jangan dibiarkan sendirian dengan Hanifa!” Erlan berkata dengan penuh pertimbangan, dia tidak akan membiarkan seseorang yang masih dalam tanggung jawabnya itu terjerumus dalam dosa. Apalagi dia sebagai keluarga pasien dengan fasilitas VIP tentu saja boleh melakukan permintaan. Asal masih sesuai prosedural yang ada.
“Bapak, jangan kuatir, mungkin Fadli terlalu menyayangi Hanifa, jadinya, ya, dia kadang bersikap berlebihan.”
Erlan tahu bila Fadli menyukai Hanifa dan entah apa yang di doktrinkan pria itu pada wanitanya hingga dengan begitu mudah mengatakan jika Fadli yang sudah memberikan segalanya. Ah yang benar saja!
Pria itu memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan pada Hanifa dan akan kembali ke sana dua pekan lagi.
“Hanufa sepertinya ingat ya, kalau kamu suaminya?” kata Winsi sambil memasang sabuk pengaman ke kursinya, begitu juga Erlan dan, dia mengangguk.
“Kenapa nggak di ajak pulang saja, kan sudah sembuh, jadi kamu bisa menumpahkan rindu padanya!”
Erlan tidak menanggapi, dia enggan berdebat hari ini, dia hanya fokus ke jalanan dan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
“Kamu pasti cemburu, lihat istrimu di cium orang ... duh ... cinta banget ya, sama istri, sampai mukul orang begitu?”
__ADS_1
Erlan menghentikan mobilnya dan menepi, lalu, dia melepas sabuk pengaman dengan cepat, secepat itu juga dia mengulurkan tangan ke belakang kepala Winsi dan menumpukan bibir dengan kuat padanya, itu ciuman yang cukup lama. Wanita itu menerima dengan diam tidak menolak atau membalas.
Setelah puas, Erlan melepaskan pagutan bibirnya dengan napas yang masih terengah-engah.
“Kamu tahu, kalau kamu yang diperlukan seperti itu oleh laki-laki lain?”
“Apa?”
“Aku bukan hanya memukul, tapi, pasti sudah kubunuh dia dengan tanganku sendiri!”
Winsi tidak bisa , dia mengalihkan pandangannya dan Erlan kembali memajukan mobil ke jalanan.
*****
Erlan datang sendiri ke rumah sakit jiwa untuk menjemput Hanifa dan akan di bawa kembali ke rumahnya. Namun, ketika dia sampai di sana, dari pihak informasi dia tahu jika istrinya itu sudah di bawa pulang oleh Fadli ke rumahnya sejak kemarin.
Betapa kesal dan marahnya Erlan pada laki-laki yang sudah bersikap seenaknya sendiri, tanpa melihat siapa Erlan, hnya karena dia mencintai Hanifa dan siap merawat bahkan, menjadi pendampingnya jika Erlan menceraikannya.
Fadli tahu, Erlan memiliki dua istri, membuatnya tidak suka jika melihat Hanifa diduakan cintanya walaupun itu oleh suaminya sendiri dan, pernikahan mereka pun sah secara hukum dan agama.
Saat melihat Erlan datang, Fadli bersiap siaga di depan pintu bahkan dia siap menerima pukulan lagi tapi, belum juga Erlan mendekat, Hanifa sudah melangkah ke hadapan Fadli.
“Jangan pukul dia!” kata Hanifa.
“Hani, kamu, membelanya?” kata Erlan, dan tentu saja membuat Fadli merasa senang.
“Ya. Aku membelanya karena dia laki-laki yang mencintaiku, Lan!”
“Oh, jadi begitu? Apa kamu tidak ingat apa saja yang sudah aku lewati selama ini bersamamu?”
“Ya. Aku tahu, Fadli sudah mengatakan semuanya padaku dan aku juga sedikit ingat saat kita menikah, aku bahagia waktu itu, Lan.” Hanifa berkata sambil menitikkan air mata dan Fadli yang ada di belakangnya pun menepuk lembut kepalanya yang tertutup jilbab.
“Aku juga ingat setelah kita sah, lalu, aku kembali sakit dan sejak itu aku tidak ingat apa pun lagi. Yang aku tahu selama ini aku mempunyai Papa yang sangat baik dan perhatian, padahal aku tahu Papa Mamaku yang sebenarnya, selalu sibuk dengan perkebunannya.”
Erlsn kini tahu mengapa sikap Hanifa selama dia menjadi anak-anak sangatlah manja.
“Ya. Sekarang aku sudah sembuh dan aku tidak akan menganggap kamu Papa lagi, jadi kamu tidak harus menjadi orang lain hanya agar orang lain bahagia. Sudah cukup, Lan!”
“Apa maksudmu, Han!”
“Jadilah dirimu sendiri, tidak perlu berpura-pura mencintai diriku hanya demi tanggung jawab. Aku tahu siapa wanita yang lebih kamu cintai, Lan!”
“Apa yang Fadli katakan padamu?”
“Semuanya, termasuk istrimu, Winsi. Aku tahu kau lebih mencintainya!”
Hanifa melihat sendiri bagaimana sikap Erlan pada Winsi saat mengunjungi dirinya, pria itu sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya walaupun saat itu dirinya ada di sana.
“Jadi, cerikan saja aku, Lan! Aku sudah terbiasa kehilangan, aku tahu apa yang terjadi dengan Papa Mamaku, dan aku pun tidak perlu menjadi orang lain hanya demi kamu. Tidak!”
Erlan baru menyadari jika mereka bertiga, dirinya, Hanifa dan Winsi sama-sama sudah mengalami kehidupan berat yang berbeda tapi, satu yang mirip yaitu sama-samq pernah kehilangan. Namun, bukankah kekuatan hati seseorang ditempa karena banyaknya kehilangan dalam hidupnya?
“Jadi, itu keinginanmu, walaupun aku belum memberikan pilihan atau bahkan menceritakan semuanya?”
“Ya. Aku memang suka sama kamu, Lan. Bahkan, sejak masih sekolah dulu, tapi, aku pun tidak mau kita menikah tanpa rasa cinta, dan hanya atas dasar iba!”
“Baiklah, kalau memang kamu ingin pergi, dan memutuskan hubungan ini, maka putuskanlah! Aku akan pulang dengan keyakinan bahwa Allah itu ada dan kalian akan baik-baik saja!”
“Baik. Kau sudah mengatakannya dan biarkan Fadli jadi saksinya. Dia yang nanti akan menikahi ku kalau masa Iddah sudah selesai
“Baik, mulai hari ini kita bercerai, dan aku bukan suamimu lagi, aku dan kamu tidak harus memikul tanggung jawab, yang seharusnya dipikul oleh suami istri. Semoga kalian bahagia.”
Setelah berkata demikian Erlan pun pergi meninggalkan Hanifa dan Fadli di rumah itu. Belum juga Erlan mencapai mobilnya, Reni dan Darma datang.
“Erlan, kamu mau ke mana, Hanifa baru juga sembuh kamu sudah pergi? Pasti menemui istrimu yang lain, kan? Dasar kamu nggak tahu berterima kasih!” kata Reni, saat itu mereka bertiga bertemu di halaman.
__ADS_1
“Ya. Saya berterima kasih sekali dengan Hanifa dan keluarganya karena sudah menjadi perantara bagi saya, untuk mendapatkan pahala yang banyak. Semoga saya bisa ikhlas. Oh ya. Satu lagi Bude, saya sekarang sudah bukan suaminya lagi, karena saya, sudah menceriakan Hanifa!”
“Apa? Kenapa kalian bercerai, apa kelebihan wanita itu di banding Hanifa, lebih cantik ponakanku dari pada istrimu itu!” kata Reni lagi.
“Bukan keinginan saya bercerai, Bude ... Hanifa sendiri yang mau karena dia mencintai Fadli!”
Bagi Hanifa saat dalam masa pemulihan, hanya Fadli yang ada untuk dirinya, sedangkan Erlan tidak pernah datang, bahkan pria itu sering memberinya kejutan manis, seperti ciuman lembut dikepala atau di pipi tanpa dia tahu dan gadis itu tidak bisa menolak. Fadli baginya lebih perhatian dan cocok untuk dirinya.
“Oh, begitu, ya sudah sana pergi, buat apa kamu di sini kalau begitu?” kata Reni sambil melangkah meninggalkan Erlan dan memasuki rumah Hanifa.
Erlan menoleh dan melihat pada rumah itu sekilas, sebelum masuk ke dalam mobil dan memutarnya, lalu, pergi dengan perasaan yang tidak keruan. Bagaimana tidak karuan karena dia baru saja menceraikan istrinya. Memang itu keinginan Hanifa sendiri, tapi, tetap saja ini pengalaman pahit baginya, seperti memutuskan seorang pacar. Walau pun benci tapi tetap sakit hati juga.
Di perjalanan dia sempat bimbang hendak pergi ke mana, tapi dia tidak akan ke rumah, tiba-tiba saja dia ingin pergi ke makam ayahnya untuk mengunjunginya.
Sesampainya di sana, dia pun terkejut karena Runa dan Winsi pun ada di sana, bahkan dengan Ziddan dalam gendongan ibunya.
“Ah, kalian di sini rupanya, kalau aku pulang pasti tidak ada orang di rumah,” gumam Erlan lirih hampir tak terdengar.
Erlan tidak menegur mereka, karena mereka juga tengah khusyu berdo’a. Dia pun berlutut di sisi yang lain dan melakukan hal yang sama, memohon agar segala dosa ayahnya di ampuni dan dilapangkan kuburnya.
Ziddan yang sudah mulai belajar bicara itu, tiba-tiba berceloteh dan menunjukkan Erlan. Sejenak pria itu mendongak dan tersenyum pada adiknya. Dia menyudahi do’anya dan melangkah memutari makam, laku mengambil Ziddan dari gendongan Runa, dan menciumnya berulang kali.
“Itu makan Ayah,” kata Erlan berkata sambil menunjuk makam ayahnya. “Nanti, kalau kamu sudah besar, Kakak akan cerita, bagaimana hebatnya Ayah kita.”
Ziddan menyahut dengan ocehan tidak jelas, khas anak-anak.
“Sekarang ayo! Kita pulang!” kata Erlan lagi, lalu dia menoleh pada dua wanita yang masih menunduk di sisi makam dengan curahan hatinya masing-masing.
“Oh, kalian belum selesai rupanya?” gumam Erlan lagi sambil kembali mencium Ziddan.
“Mas, aku tahu semua yang terjadi pada anak kita, bukan keinginanku, tapi mereka berhak menentukan nasibnya sendiri meskipun, apa pun keputusan mereka kelak tak lepas dari takdir Allah. Aku hanya berharap mereka bahagia,” batin Runa.
“Ayah, aku nggak menyalahkan Erlan dengan keputusan yang dia buat, apa pun itu, aku hanya menyayanginya seperti aku menyayangimu, Ayah. Aku tahu, jika kau ada di sini, pasti kau akan marah karena Erlan menyakitiku, tapi, dia tidak berniat menyakiti siapa pun.” Winsi berkata dalam hati, sambil mengusap air matanya.
“Ayah ... Aku pasrah dengan apa pun yang dia putuskan nanti dengan pernikahanku. Ayah, dia suami yang baik, seperti dirimu yang begitu baik pada Ibu, tapi Ayah, ini akan tetap jadi rahasiaku, kalau dirimu adalah cinta pertamaku!”
Setelah selesai mengungkapkan isi hati, mereka beranjak beriringan tanpa sepatah kata pun, perasaan dan tindakan mereka begitu kompak. Erlan melangkah mendahului mereka, tapi sejenak kemudian dia berbalik lalu, meraih tangan Winsi dengan Ziddan masih dalam gendongannya.
Sampai di kendaraan mereka, Winsi memasuki mobil Erlan dan Runa dengan mobilnya bersama Hasnu sebagai sopir seperti biasa.
“Jadi, apa keputusanmu?” kata Winsi setelah mobil mulai melaju ke arah jalan pulang.
“Hidup memang pilihan, tapi, kadang manusia tidak bisa memilih karena takdir sudah mendahului sebelum kita sempat menjatuhkan pilihan!”
“Kalau yang kamu maksud tetap menikahi Hanifa setelah dia sembuh, karena dia memilih bertahan bersamamu, aku memilih mundur, Lan!”
“Kamu ngomong mau mundur, tapi aku akan kejar secepat apa pun kamu berlari!”
“Apaan, sih?”
“Panggil aku Sayang!” kata Erlan sambil menepikan mobilnya.
Lalu, dia melepas sabuk pengaman dan mencondongkan tubuhnya mendekati Winsi dan berkata dengan lembut, “Memangnya kamu mau mundur ke mana?”
“Eh, jangan cium-cium di sini!”
“Memangnya kenapa, Sayang?”
Erlan sudah menyimpan satu tangan di belakang kepala Winsi dan gadis itu memundurkan kepalanya. Namun, tak lama kemudian, dia melepaskannya lagi dan memasang sabuk pengaman kembali.
“Kita lanjutkan lagi di rumah, oke?” Erlan berkata sambil tersenyum genit dan mengedipkan sebelah matanya. “Aku hanya mau melakukannya denganmu! Ingat itu, nggak ada perempuan lain sekarang ....”
Winsi mendengar semua ucapan Erlan dan mencernanya dalam pikiran yang amat serius hingga dia menyimpulkan satu hal bahwa, dia kini adalah satu-satunya wanita dalam hidup suaminya.
‘Ayah, dia tidak sama sepertimu, tapi dia juga sayang padaku, seperti Ayah menyayangiku ' batin Winsi.
__ADS_1
TAMAT