
Kata Maaf Yang Tak Pernah Usang
Winsi menghapus air matanya, lalu berkata sambil membenahi posisi duduknya. Ditatapnya wajah pria yang dulu sering menyakiti itu dengan tajam. Dia tidak mungkin membalas kelakuan Basri karena biar bagaimanapun juga laki-laki tua itu adalah ayah kandungnya. Agama pun melarang untuk bersikap kasar pada orang tuanya.
Sebagai anak dan bapak, keduanya hampir tidak pernah berada dalam suasana dekat seperti ini.
“Apa, Pak? Apa Bapak mau pukul aku lagi karena sekarang aku dekat dengan Om Anas? Orang yang sudah Bapak sangka bermain gila dengan Ibuk? Dan aku adalah hasil dari permainan mereka begitu, Pak?”
Winsi berkata sambil menghela napas berat. Dia tidak menyangka bisa berbicara selancar itu dengan Basri, padahal dulu, setiap kali laki-laki itu menatapnya dengan penuh kebencian, maka, dia akan mundur atau menghilang di balik pintu kamar.
Baik Anas maupun Nia sama-sama tercengang, apa yang mereka dengar dari ucapan Winsi, membuat mereka tahu jika selama ini kesalahpahaman dalam rumah tangga Runa, sudah teramat jauh dan bahkan berjalan selama bertahun-tahun.
“Maaf ....” kata Basri setelah diam sejurus lamanya, lalu, terdengar suara isak tangis dari lelaki tua yang terlihat begitu menyedihkan dan penuh penyesalan.
Dahulu, setiap kali memukuli anaknya, sebenarnya ada dua kata hati yang bergumul dalam benaknya, antara belas kasih dan juga kebencian. Ingatannya pada Anas dan Runa yang tersenyum, saat dia melihat mereka di rumah sakit waktu itu sebelum kelahiran Winsi, terus membayang hingga menjadi penyakit di dalamnya.
Matanya merah menandakan hatinya tengah terluka, melihat isi tes DNA yang menjelaskan bila Winsi adalah benar darah dagingnya.
Setiap kali perasaan menolak Winsi itu datang, sebenarnya selalu ada perasaan sayang yang menyertainya. Akan tetapi godaan setan mendominasi lebih besar hingga dia dengan mudahnya berlaku kasar pada buah hatinya sendiri
Winsi tercengang, dengan apa yang diucapkan Basri padanya, dia tidak menduga jika laki-laki itu akan mengatakan maaf setelah melihat hasil tes DNA. Semual dia berpikir kemungkinan Basri akan marah bahkan menolaknya lalu, dengan keras mengatakan pendiriannya atau menuduhnya yang berbohong. Akan tetapi melihat Basri seperti ini hatinya pun menjadi luruh hingga dia pun ikut menangis lebih keras lagi.
‘Seandainya Ibu ada di sini’ batin Winsi.
“Mau, kan, kamu memaafkan Bapak? Memang Bapakmu banyak salah bapak nggak pernah ngasih kamu uang papa nggak pernah deh sama sekolah makanya Bapak sekarang hidup susah.”
Winsi terdiam tapi hatinya berkata, mana mungkin bapaknya hidup susah karena dia hanya seorang diri bahkan memiliki rumah juga kendaraan lalu, apa yang menjadikannya hidup susah selama ini?
“Memang Bapak punya rumah sama mobil tapi nggak pernah hidup tenang, Nak. Bapak kesepian kalau sakit nggak ada yang ngurus, nggak ada yang nemenin kalau lagi sendiri dan nggak pernah enak makan, walaupun makanannya itu enak karena Bapak selalu ingat kalian!”
‘’Oh, jadi ini yang membuat Bapak hidup susah?’ batin Winsi sambil menghapus air matanya lagi.
“Bapak, nggak punya istri? Jadi, ke mana Tante Nira?” tanya Winsi tiba-tiba. Tangisannya kini sudah reda dan dia justru terlihat serius bicara.
Basri mengatakan jika dia sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan nira sejak wanita itu mengecewakannya dan merusak lingkungan rumahnya yang suci seolah menjadi kotor oleh perbuatannya.
Saat dia pindah ke Jogjakarta adalah saat di mana Basri berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Dia begitu putus asa setelah mengetahui bahwa, Runa sudah menikah dengan Arkan hingga dia memutuskan untuk menjauh dari lingkungan rumah yang berdekatan dengan tempat tinggal mantan istri dan suaminya.
Sejak itu dia memutuskan untuk tidak menikah lagi dan tetap hidup sendiri sampai kelak maut menjemputnya nanti.
Bukankah pada dasarnya Allah tidak pernah memaksa manusia untuk menentukan hidupnya. Namun, apa yang diputuskan oleh manusia itu nantilah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Jadi, apa pun risikonya tetap manusia sendiri yang akan merasakannya, walaupun, setiap hidup manusia itu tidak pernah lari dari takdir Tuhan yang sebenarnya. Yaitu kematian.
“Bapak nggak punya siapa-siapa selain kalian, tapi kalian juga sekarang sudah jauh apalagi sekarang kamu Win sudah mandiri, ini rumah siapa yang kamu tempati?”
__ADS_1
“Ini rumah Ibuk.”
“Apa?”
Basri masih ingat dengan cerita kisah hidup Runa dan keadaan rumah orang tuanya dulu hingga dia diangkat anak oleh pasangan suami istri yang baik dan tinggal di Jakarta. Kemudian di tempat itulah mereka bertemu. Dis tidak menyangka apabila rumah yang sudah terbakar hangus puluhan tahun yang lalu itu, bisa kembali disahkan kembali pada pemilik yang sebenarnya.
Setelah berpikir sejenak akhirnya Basri menyadari semua itu tidak akan lepas dari bantuan keluarga Arkan yang kemungkinan besar turut andil di dalamnya hingga rumah itu bisa menjadi milik Winsi sekarang.
Ah, apalah arti dirinya jika harus meminta Winsi agar mau tinggal bersamanya.
Pria itu tidak berharap banyak apabila anaknya, karena dia hanya tinggal di rumahnya yang sederhana. Dibandingkan dengan rumah yang ditempati Winsi dan tokonya. Itu bukanlah bangunan yang sembarangan, walaupun terlihat sederhana tetapi bangunan itu bagus, luas bahkan, memiliki beberapa ruangan yang bisa dijadikan sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal.
Setelah itu, Basri menoleh pada Anas, dia berkata, “Pak, Anas. Maafkan saya ... saya kira orang seperti saya ini nggak pantas di maafkan, dulu saya terlalu emosi.”
“Oh, nggak masalah, Pak Basri. Saya maklum, apalagi sekarang sudah lewat puluhan tahun yang lalu, jadi mumpung masih ada umur dan kesempatan, kita harus saling memaafkan! Saya sudah memaafkan Pa Basri dari dulu!” jawab Anas sambil menepuk bahu laki-laki yang sudah beruban di sampingnya.
Kata maaf akan selalu menjadi kata yang indah untuk di dengar walaupun sering kali diulang. Memaafkan adalah dendam yang paling baik, dan sukses adalah dendam yang paling hebat. Jadi, benar ajaran agama yang meminta umatnya untuk saling memaafkan, karena maaf itu indah.
“Terima kasih, Pak Anas. Saya sudah tua, nggak tahu lagi Allah memberi waktu pada saya. Sebenarnya saya menunggu waktu seperti ini sejak lama, saya akui saya salah, gak nyangka saya bisa ketemu di sini sama Wiwin juga.” Basri berkata masih sambil menghapus sisa air matanya.
Nia memberikan tissu dan pria tua itu mengucapkan terima kasih. Entah apa yang menyebabkan Basri justru kembali menangis, hingga ketiga orang yang ada di hadapannya saling berpandangan.
Basri kembali berkata, “Bapak bersyukur ketemu sama kalian di sini.”
“Pak ... Terima kasih Pak Anas, dulu sudah menolong istri saya, terima kasih sekali lagi karena dulu sudah membawa Runa ke rumah sakit hingga bisa melahirkan dengan selamat. Sekali lagi maafkan saya karena saya benar-benar salah.”
“Tidak apa Pak Basri, saya kira semua sudah jadi takdir Allah kita di pertemukan begini, Alhamdulillah. Saya juga bersyukur bisa meluruskan salah paham kita selama ini.”
Tiba-tiba terdengar suara ponsel milik Basri berbunyi, tanda ada pesanan taksi onlen sudah datang. Dia melihat sebentar pada telepon genggamnya lalu, melihat pada Winsi dan Anas.
“Ya. Alhamdulillah. Oh, iya Win, kalau ada waktu, mampir ke rumah Bapak, Ya?”
Winsi hanya mengangguk, lalu tanpa banyak bicara lagi, Basri meraih tangan anaknya lembut, memegang kedua bahunya dan kembali berkata.
“Tapi, nggak usah ... nggak usah ke rumah Bapak, Nak. Biar Bapak yang kesini lagi kapan-kapan. Bapak ini gak pantas meminta apa pun dari kamu!”
“Bapak....”
“Maafkan Bapak, ya?”
Winsi mengangguk cepat, tanpa bisa membendung air matanya.
Setelah berpamitan, pria itu pun pergi menuju mobilnya yang digunakan untuk mencari nafkah, tanpa menoleh lagi. Sementara air mata masih sempat menetes di pipi keriputnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Basri, Anas pun mohon diri dengan menjanjikan kerja sama beberapa pekan lagi. Berbeda dengan Basri, laki-laki itu tampak begitu gembira, dia pergi dengan senyum lebar dan memberi semangat serta harapan besar pada Winsi.
Satu hal lagi yang tidak diduga oleh Winsi, setelah beberapa hari kemudian, Basri datang ke tokonya tepat di saat dia baru saja pulang kuliah dan memberikan sebuah sertifikat rumahnya yang sudah beberapa tahun ini dia tempati.
Winsi menolak secara halus, karena dia merasa tidak harus menerima semua itu sebagai ungkapan rasa bersalah dan semacamnya. Namun Basri memaksa dikarenakan, dia ingin Winsi menjadi pemilik rumah itu selanjutnya bila suatu saat dia tiada.
“Bapak mohon kamu mau menerima ini ya, Win. Soalnya Bapak selama ini nggak pernah ngasih kamu apa-apa. Anggap saja ini sebagai penebus kata maaf dari kamu dan Ibumu!”
“Pak, terus Bapak tinggal di mana nanti kalau rumah itu jadi punya Wiwin?”
“Selama Bapak masih hidup, anggap aja Bapak numpang di sana.” Basri berkata sambil tersenyum lebar.
“Bapak, kan, bisa menikah lagi, cari istri yang bisa jadi teman dan merawat Bapak nanti, jadi kasih aja rumahnya buat istri Bapak itu ....”
“Apa Bapak masih pantas nikah lagi, Win?”
“Bisa, Pak. Kan umur Bapak juga belum 60 tahun. Tujuan dan sunah menikah itu mulia, Pak, asal tidak disertai niat buruk dan hanya mementingkan syahwat.”
Basri termenung mendengar ucapan anaknya, dia menatap sertifikat rumah dan Winsi secara bergantian, lalu, kembali tersenyum.
“Kamu memang anak baik, Bapak salah dulu sudah ssia-sikan kamu dan Ibumu. Bapak gak nyangka kamu akan membalas kejahatkan Bapak dengan kebaikan seperti ini, Win!”
“Pak, semua manusia pernah salah, Bapak tetap orang tua Wiwin juga, sama seperti Ibu, nggak mungkin Wiwin balas dendam berbuat jahat juga.”
“Apa kamu nggak benci sama Bapak?”
Winsi melihat ke arah Basri sekilas lalu menundukkan kepalanya, dia punya rasa benci bahkan dendam terhadap laki-laki ini. Akan tetapi setelah kemarin melihat Basri begitu menyesali perbuatannya bahkan menangis dengan bercucuran air mata, lalu, memohon maaf padanya dengan tulus, kebencian itu seketika sirna, bahkan dendamnya pun lenyap entah ke mana.
“Pak, kebencian tidak harus ditunjukkan dengan kebencian pula, dendam tidak harus dibalas dengan dendam juga, tetapi, lebih baik saling memaafkan untuk menghilangkan semua keburukan pada hati kita.”
Mendengar ucapan Winsi itu pun Basri bisa menyimpulkan bila sebenarnya, anaknya itu membencinya tapi dia punya rasa maaf yang lebih besar dari kebenciannya.
“Pak, Wiwin sudah maafin Bapak, sekarang Bapak harus bahagia karena Wiwin dan Ibu juga udah bahagia aku sudah punya anak lagi. Jadi, Bapak menikah lagi aja, terus terang Winsi tidak bisa hidup atau tinggal sama bapak, maaf ... Wiwin nggak bisa kalau harus ngurusin bapak,” kata Winsi kembali beeurai air mata.
Basri mengangguk-anggukkan kepala, lalu, menepuk bahu anaknya dengan lembut beberapa kali.
“Ya, ya, Bapak mengerti. Jangan nagis, justru Bapak malu kalau kamu harus hidup dengan Bapak.”
Setelah berkata demikian, Basri pamit pada Winsi, sambil tersenyum hangat, pria itu terlihat jauh lebih tenang dan lega dalam hati. Berpisah dengan keadaan rela, akan lebih menyenangkan dari pada berpisah penuh luka dan kehilangan. Apalagi disertai dengan kekuatan kasih sayang yang di berikan secara tulus walau hanya sebentar.
Senja di ufuk barat, serta azan magrib yang berkumandang, memberi sinyal agar manusia segera memilih waktunya untuk pulang.
Bersambung
__ADS_1