
Kamu Yang Bilang
Saina menarik lengan Runa dengan keras hingga pegangan tangannya terlepas dari Arkan. Semua yang ada di sana terkejut dengan sikap kasar yang ditunjukkan wanita itu di hadapan semua orang.
“Saina!” Arkan berteriak begitu melihat wajah Runa yang meringis menahan sakit akibat ulahnya.
“Kamu tidak perlu membelanya, Ar. Dia sudah menyombongkan diri tadi di depanku, nyatanya sekarang masak saja nggak bisa!” Kata Saina dengan tatapan meremehkan kepada Runa.
“Bukan, bukan nggak bisa masak ... soalnya dia tadi lagi sakit, nggak enak badan jadi nggak bikin makanan seperti biasanya!” sahut Arkan tenang.
Badri menepuk lengan Runa sambil berkata, “Sudah, jangan dengarkan dia.”
Bi Neni yang Sudah dari tadi berdiri di dekat meja, begitu melihat para majikannya, langsung berjalan menuju ruang makan dan, segera menyiapkan beberapa piring guna menyimpang makanan, yang sudah berhasil dia buat selama Runa beristirahat. Dia membuat kue lupis, kue khas Nusantara yang terbuat dari beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang disajikan dengan gula merah cair yang kental serta taburan kelapa muda di atasnya.
“Wah, terima kasih Bi, sudah bikin makanan ini.” Runa berkata sambil tersenyum dan menarik sebuah kursi.
Runa tidak memperdulikan Saina dan justru membantu Bi Neni, yang menyiapkan makanan itu dengan senang hati. Dia tidak menyangka bahan-bahan yang disiapkannya tadi, diolah sedemikian cantik oleh asisten rumah tangga itu.
“Lihat, kan, siapa bilang Istriku tidak bisa memasak?” kata Arkan sambil melirik Saina yang cemberut.
“Ya, kan, Bibi yang buatnya juga, bukannya dia!” sahut Saina.
“Tidak. Tadi sudah dibuat sama Nonya, saya Cuma melanjutkan saja. Saya tidak bisa Non Saina. Tapi Nyonya yang ngajari saya.” Bi Neni bicara sambil menuangkan minum untuk semua orang.
Runa tercengang dengan pengakuan beberapa orang yang ada di sekitarnya dia begitu bahagia. Apabila dulu dia mengalami hal buruk karena wanita lain, tidak ada yang membelanya. Akan tetapi, saat ini baik suami maupun Ayah mertuanya, semua membelanya hingga dia merasa apa yang dilakukan Saina bukanlah apa-apa.
Saina terlihat kesal tapi, tidak bisa berbuat semaunya, mengingat Badri yang dia anggap sebagai pamannya pun ikut membela Runa. Apalagi saat melihat Erlan yang ikut bergabung menikmati makanan buatan Runa, laki-laki itu menolak ketika didekati olehnya tetapi, tidak menolak ketika Runa mengacak-ngacak rambutnya. Justru anak itu terlihat akrab dan tersenyum ramah pada ibu sambungnya. Sementara Saina merasa bahwa Erlan tidak pernah bersikap sehangat itu kepadanya.
Badri memang menyayangi Saina sebagai keponakan sendiri. Biar bagaimanapun orang tuanya pernah berjasa. Akan tetapi setelah melihat sikapnya yang buruk dan juga berani mencela Runa di hadapannya, pria itu menjadi tidak suka bahkan mengabaikan seolah Saina tidak ada di sana. Pria tua itu merasa cukup dengan menolong dan memberikan satu restorannya agar wanita itu bisa bertahan hidup.
__ADS_1
*****
Erlan memegang ponselnya erat saat dia sudah tahu jadwal keberangkatan pesawat yang akan membawanya terbang kembali ke Amsterdam. Tentu saja dia harus pergi bersama Saina, hal inilah yang tidak dia sukai karena membayangkan akan hampir seharian bersama wanita yang menyebalkan.
Akan tetapi, dia cukup lega. ketika melihat tiketnya dan milik Saina, memiliki nomor tempat duduk yang tidak berdekatan sehingga tidak mengharuskan mereka terus bersama sepanjang perjalanan.
Hari-hari berikutnya dia akan sering bertemu dengan Saina karena akan mengurusi restoran milik kakeknya. Dia menganggapnya sebagai pembelajaran juga bahwa hidup tidak harus menghadapi orang yang menyenangkan untuk selamanya.
Erlan ingin meminta Runa menghubungi Winsi saat dia mendapatkan notifikasi pesan, yang ternyata dari ayahnya. Dia terlihat begitu gugup dan mengerutkan keningnya cukup dalam, saat membaca tulisan demi tulisan yang tertera di sana.
Seketika wajahnya terlihat pucat dan keringat pun keluar dari dahinya. Dia menarik napas dalam ketika sudah selesai membaca pesan dan, meletakkan ponsel itu di atas meja lalu, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang bertumpu pada kedua pahanya.
Sejenak dia berpikir tentang apa yang harusnya dilakukan setelah mengetahui akibat dari kecelakaan yang kemarin dia alami. Akan tetapi, dia merasa bertanggung jawab, karena dirinyalah kedua orang yang ada di dalam mobil itu meninggal.
“Bu, kapan Ibu mau berkunjung ke sekolah Winsi, perpisahan kali ini?” tanya Erlan yang saat itu mendekati Runa, dengan berjalan sedikit pincang, kakinya masih sakit apabila berjalan tapi, sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari yang lalu.
“Wah, itu artinya bareng sama aku berangkat, ya, Bu?”
“Ah, iya. Kebetulan sekali. Jadi kamu mau memilih menunda berangkat, ke kampusmu, atau mau ikut sama ibu?”
“Ya, ke kampus dong Bu. Setahun lagi baru selesai ... Jadi, ayah sama ibu mau berangkat berdua ke sana?”
“Ya. Kan, sekalian jemput dia pulang.”
Mendengar ucapan Runa Erlan pun termenung, kenapa kebetulan selalu terjadi seperti ini entah kapan lagi dia akan bisa melihat Winsi. Dia tidak bisa menghubunginya kapan saja karena di sekolah itu, dilarang membawa ponsel dan apabila Erlan kembali, mereka tidak pernah bernasib baik hingga tidak pernah bertemu, sejak terakhir mereka saling bicara di ponsel tiga tahun yang lalu.
“Bu, apa menurut Ibu aku harus bertanggung jawab dengan orang yang meninggal waktu kecelakaan itu? Bukan aku, kan yang jadi penyebab mereka kecelakaan mobil?” tanya Erlan, mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak mungkin mengatakan perasaannya, dia tidak suka dengan keadaannya saat ini.
Runa menoleh pada Erlan saat di sampingnya, mereka saat itu tengah duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu tersenyum penuh arti ikut merasakan apa yang dirasakan anak itu saat ini. Betapa sedihnya dia ketika harus menanggung akibat yang sebenarnya bukanlah kesalahannya.
__ADS_1
“Memudahkan dan menolong orang lain itu pahalanya sama dengan sedekah, kalau kamu mau melakukannya atau tidak sebenarnya tidak ada yang memaksa, kan?”
“Ya.”
“Jadi, kalau kamu menolong keluarga yang ditinggalkan, sama saja kamu bersedekah tapi kalau kamu tidak mau melakukannya, ya, tidak apa-apa. Akan lebih baik Kalau kamu bisa menjadi solusi bagi masalah orang itu walaupun bukan kesalahanmu,” Kata Runa sambil mengusap kepala Erlan.
Pria itu mengangguk.
“Bu, bisa telepon Wiwin gak sekarang?”
“Kenapa, kamu mau telepon anak buluk itu?” tanya Runa saya tersenyum lucu, dia merasa aneh dengan keinginan Erlan yang tiba-tiba saat ini, sebab biasanya anak laki-laki itu tidak pernah menginginkan untuk bicara. Selama ini dia cukup merasa puas apabila mendengar Ibu sombongnya itu bercerita bahwa Winsi baik-baik saja serta bertambah prestasi dari hari ke harinya.
“Eh, anak buluk, yang mana maksud Ibu?"
“Wiwin.”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Kamu sendiri yang bilang.”
"Kapan, saya pernah bilang begitu?"
"Wiwin yang ngomong."
Seketika wajah Erlan menjadi merah padam dia tidak menyangka kalau Winsi akan menceritakan hal itu pada ibunya, padahal sebelumnya dia menilai jika anak itu bukan tipe pengadu.
Bersambung
__ADS_1