Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
123. Ayo Kita Menikah


__ADS_3

Ayo Kita Menikah


“Ah! Paling juga kerjaan kantor, atau masalah warisan. Eh, tapi, masalah warisan sudah selesai, kan? Erlan dapat bagian seperti bagian Ayah. Ah ... siapa yang peduli, tapi kasian juga kalau dia ada masalah ... Astagfirullah!” gumam Winsi seraya masuk ke rumah dan menemui ibunya.


Biar bagaimanapun juga, janji adalah janji, siapa pun yang mengantarkannya, kepada siapa pun janji itu diutarakan maka haruslah ditunaikan. Winsi berjanji akan membawa Runa jika masa tenggang dirinya, sesuai syariat agama sudah lewat, maka dia hanya akan membawa Runa untuk pergi ke sana bila waktunya tiba.


Runa begitu gembira melihat Winsi sudah kembali ke rumah besar dan akan bersamanya dalam waktu yang lama. Dua wanita itu sudah menyusun rencana jika kelak mereka kembali ke sana. Segudang harapan dari rasa yang tertinggal untuk ayahnya dan juga, semangat untuk sukses yang awalnya digelorakan oleh kakek Badri itu semakin membahana.


Saat makan malam, Erlan hadir bersama mereka dengan perasaan dan gestur tubuh yang lebih tenang. Dia bercanda sebentar dengan Jiddan seperti biasanya kalau ada di rumah, tapi kali ini, dia tidak mengurung diri di kamar kerja, bahkan sampai tertidur di sana, tidak. Dia duduk di sofa dan menyalakan televisi dengan volume yang kecil.


Jiddan berlari ke arahnya sementara Winsi dan Runa membereskan meja makan bersama dengan Neni sang asisten yang masih setia.


“Pappapapah!” teriak anak kecil berumur satu tahun itu sambil menepuk-nepuk wajah Erlan dalam pangkuannya.


Winsi duduk di salah satu single sofa yang ada di dekat Erlan.


“Dia itu bukan Papa! Dia Kakak!” jawab Winsi. Jiddan menoleh dan melihat gadis itu lalu, segera turun dari pangkuan Erlan dan berjalan ke arah Wiwin, kini bocah itu minta di gendong dan menunjuk ke arah luar.


“Mau jalan-jalan ke luar, nggak boleh, ah! Udah malam, ya?”


Erlan mendekat lalu mengajak Jiddan bersamanya, seraya berkata, “Ayo! Sama Mas aja, kita jalan-jalan ke luar naik mobil!”


“Erlan! Lepasin nggak!” Winsi masih mempertahankan Jiddan dalam gendongannya.


“Nggak! Kenapa memangnya ngajak dia ke luar emang salah, Win?” tetap memegang tangan Jiddan sambil bergerak mau merebutnya.

__ADS_1


“Ini sudah malam!”


“Belum juga jam delapan, di bilang malam!”


Erlan memaksa dan Winsi juga mempertahankan anak itu hingga Jiddan menangis dan refleks Winsi melepaskan tubuh Jiddan karena Erlan kini tangannya hampir menyentuh dada gadis itu.


Jiddan hampir terjatuh dan menangis. Dengan gesit Erlan menangkapnya sambil meringis pada Winsi menunjukkan kemenangannya.


“Kamu?” kata Winsi melotot ke arah Erlan.


“Apa?” sahut Erlan sambil menahan tawa dan menenangkan Jiddan yang menangis.


“Kalian ini, bukannya bikin tenang adiknya malah bikin nangis!” kata Runa yang datang tiba-tiba, lalu, dia duduk.


“Winsi Nasriya Binti Basri Dermawan! Ayo! Kita menikah!” kata Erlan tiba-tiba, sedangkan Jiddan sudah diam dalam gendongannya. Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Erlan itu membuat Winsi serta Runa membelalakkan mata.


“Apa?” kata Runa dan Winsi secara bersamaan.


Winsi tiba-tiba tertawa kecil, dia menganggap Erlan bercanda, sudah dua kali ini dia memanggil namanya dengan lengkap seperti itu membuatnya geli.


Erlan duduk dan menyerahkan Jiddan pada Runa karena bocah itu terlihat mulai mengantuk.


“Ya. Itu kalau kamu mau. Sini, duduklah!” kata Erlan sambil melambai pada Winsi yang masih berdiri di dekat sofa yang tadi dia duduki.


“Jangan mengada-ada, mana mungkin kita jadi suami istri, kamu ini, Lan!” Winsi menjawab dengan sisa tawa di bibirnya. Dia duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


Dari tempat yang tidak jauh dari sana, ada Neni dan juga Hasnu yang menyaksikan drama di hadapan mata mereka dan kata-kata Erlan, secara tulus mereka amin-kan.


“Wiwin, aku serius ... kamu dan Ibu amanah dari Ayah. Aku harus bagaimana menjaga kalian ... kalau tidak menikah denganmu itu sulit!” kata Erlan seraya melanjutkan dalam hatinya, “Apalagi tipe pemberontak seperti perempuan satu ini, diikat dengan tali perkawinan baru bisa nurut karena perintah agama!”


“Aku masih kuliah, baru juga dua tahun, dan aku masih mau mengembangkan Bisnisku!” jawab Winsi tenang, dia pikir Erlan hanya mempermainkannya saja, “Jadi, aku nggak mau!”


“Kamu tahu, kan ada hadist begini, kalau ada seseorang laki-laki baik yang datang untuk melamar, ya harus dinikahkan sebab kalau tidak, bisa jadi akan timbul fitnah atau cobaan, pernah dengar nggak?”


Winsi terdiam karena tidak menyangka Erlan tahu akan hal seperti itu.


Sementara Runa tercengang bagaimana Allah membuka jalan takdir sesuai dengan keinginannya yang bermaksud mempersatukan mereka demi menjaga keutuhan keluarga dan Winsi bisa tetap berada di sisinya. Pernikahan ini kelak bukan untuk kebaikan dirinya tapi juga untuk anak-anaknya.


“Memangnya Ayah ngomong gitu, kita harus menikah? Nggak, kan?” Kata Winsi karena dia bingung harus menjawab apa, sedangkan kuliahnya belum selesai.


‘Ayah cuma nyuruh aku menjaga keutuhan keluarga dan menghargai kasih sayang orang yang sudah sayang sama aku selama ini, apa itu maksudnya menikah dengan dia? Tidak, kan?’ batin Winsi masih mencerna ucapan Erlan.


“Ayah Cuma bilang aku harus menjaga apa yang selama ini Ayah jaga, itu saja. Waktu itu juga aku nggak tahu maksud Ayah apa!”


Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa dia justru melangkahkan kakinya ke kamarnya sendiri.


Erlan membiarkan gadis itu pergi ke kamar, memberinya waktu untuk berpikir. Dia berharap besok Winsi sudah mau menerima lamarannya, dengan begitu dia bisa mengurus kepindahan kuliah Winsi secepatnya. Hal ini akan memudahkannya dalam mengawasi gadis itu agar tidak terlalu sering naik turun pesawat, hanya karena merindukan ibunya atau membawa Runa dan Jiddan ke Jogjakarta.


Seandainya mereka pergi ke sana, maka ikatan persaudaraan dan kasih sayang yang sudah terjalin selama ini akan putus tak bersisa. Mungkin suatu saat nanti jika mereka bertemu akan seperti orang asing yang tidak pernah memiliki hubungan keluarga sebelumnya. Apalagi Jiddan pasti anak itu tidak akan mengenalinya sebagai kakak. Dia tidak ingin hal itu terjadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2