Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
141. Coklat Minta Maaf


__ADS_3

Coklat Minta Maaf


Winsi memejamkan mata, dia belum rela untuk memaafkan Erlan, tidak mudah memaafkan seorang penipu, bukan? Allah sang maha pengampun saja menyiapkan sebuah hukuman.


Setelah menarik napas dalam, gadis itu membuka matanya perlahan.


“Hai, Rid!” kata Winsi saat seorang pria lewat di sampingnya, dia teman lelaki yang dikenal sebagai kutu buku.


“Apa?” tanya Ridwan sambil membenarkan letak kaca matanya.


“Ah, ternyata benar, ya, nama kamu, Ridwan?”


Rindwan mengangguk, dia maklum karena Winsi mahasiswa baru di sana.


“Mau ini, nggak?” Winsi menawarkan coklat dari Erlan. Ridwan menerima dengan senang hati, lalu dia membaca bungkusnya saat hendak memakannya.


“Eh, ada tulisannya!” kata Ridwan membatalkan membuka bungkusnya, lalu, kembali berkata, “Kayaknya ini buat kamu, deh! Makan aja sama kamu, jangan di buang, mubazir!”


Rindwan kembali memasukkan coklat itu ke dalam bungkusnya lagi, lalu mengulurkannya pada Winsi.


“Apa memangnya tulisannya?”


“Aku tahu aku salah!”


“Ck!”Winsi berdecap kesal.


“Kamu ada masalah sama pacar kamu?” tanya Ridwan sambil tersenyum menggoda.


“Dih, bukan!” kata Winsi.

__ADS_1


Memang dia bukan pacar, tapi suami. Batin Winsi sambil mengangkat bahu.


Mereka akhirnya masuk ke ruangan, tak lama setelah itu mahasiswa lain mulai berdatangan dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Winsi hanya melihat kemasan coklat yang selalu saja muncul dari balik tasnya, saat dia sedang mengambil buku atau alat tulis lainnya.


“Eh, Win. Apa ini?” tanya seorang teman wanita yang duduk di sebelahnya. Dia menemukan coklat dengan Kasan yang menarik terjatuh di lantai. Saat itu pelajaran sudah selesai.


“Kayaknya coklat, ya?” kata wanita itu.


“Emang, kamu mau? Makan aja!” kata Winsi sambil melirik coklat pemberian Erlan di tangan temannya.


“Yang bener, kayaknya enak!”


Perempuan itu menikmati camilan manis itu dengan santai di samping Winsi yang cuek. Dia mengunyah sambil membolak-balikkan bungkusnya, ada beberapa tulisan yang terbaca dengan jelas pada kemasan luar. Bungkus makanan itu sengaja di cetak sedemikian rupa, sebagai ucapan yang bisa ditulis secara bebas oleh pembelinya.


“Kamu ada Maslah sama pacar kamu, terus dia minta maaf pake coklat ini, kan?” kata temannya itu.


Winsi menoleh sekilas sambil mengangkat bahu lalu, kembali melihat ke layar ponselnya.


Beberapa mahasiswa yang ada di sekitar mereka menoleh pada Winsi dan temannya.


“Win, siapa sih, pacar kamu ...? Duh aduh ... so sweet banget!”


“Dih, apaan, ngarang kamu. Kayak begini aja dibilang so sweet? kalo bawain kita nih, satu kelas masing-masing orang satu box! Baru keran ... terus, semua bungkusnya ada tulisan rayuan buat aku biar maafin dia!” sahut Winsi masih dengan gaya cuek dan menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


“Gila, kamu, Win, mana ada cowok gitu, kecuali dia tajir!” kata temannya.


“Nah, itu! Nggak mungkin, kan?” kata Winsi sambil membuang bungkus coklat yang sudah diremas itu ke kotak sampah.


Tidak lama setelah obrolan mereka, seorang dosen datang memberi mata kuliahnya hari ini sampai selesai. Saat dosen itu hendak keluar, dia berhenti di depan pintu karena ada beberapa orang berbaju dan kacamata hitam berdiri di sana, lalu berbincang sebentar, setelah itu sang dosen pun mempersilahkan beberapa orang itu masuk keruangan dan membagikan sekotak coklat yang mirip dengan yang diberikan Winsi kepada temannya tadi.

__ADS_1


“Semua sudah kebagian, kan?” kata salah seorang pria yang membagi coklat dengan kemasan yang elegan itu, termasuk pada sang dosen. Lalu, seorang pria itu meminta agar semua orang membaca tulisan yang ada pada kemasan secara bersamaan.


“Hai, Winsi Nisriya temanku ... maafkanlah dia, sebab semua kesalahan bisa kau maafkan asal kau tahu mengapa dia melakukan itu.”


Seketika suara dalam kelas itu riuh, dan Winsi pun menjadi sangat malu. Semua temannya pun meminta agar Winsi mau memaafkan pacarnya siapa pun dia karena semua yang ada dalam ruangan itu tidak ada yang mengenal siapa kekasihnya.


“Win, Lo gila, kalo nggak maafin dia! Berapa harga coklat beginian satunya dan ini kita semua dapet satu box!” kata teman lain yang duduk di depannya kali ini yang bicara.


“Ya, urusan gua lah mau maafin dia apa kagak!”


“Ih, kebangetan Lo, kalo nggak maafin dia! Emang dia salah apa, sih?”


“Kepo!”


“Ih, bener, gua penasaran, tahu!”


“He he, aku juga penasaran banget, ucapan kamu jadi kenyataan, jangan-jangan ada penyadapnya di henpone kamu, Win!” kata teman yang di samping Winsi.


“Ah, bodo amat, nggak mau mikirin dia! Udah ya, aku cabut!” kata Winsi sambil berlalu.


“Win! Jangan kecewain pacar kayak begini, rugi kamu nanti,” kata teman yang lain. “Maaf mah gratis, nggak harus beli, Win!”


Beberapa teman terus menyemangati Winsi agar memberinya maaf. Siapa bilang maaf itu gratis? Buktinya Erlan harus membeli sekian banyak coklat untuk meminta satu kata, maaf!


Winsi memacu kendaraan roda duanya kembali ke rumah, meskipun, ada rasa penasaran yang bergolak saat melewati perempatan jalan dan lampu merah. Itu belokan menuju ke arah yang nerbeda, yaitu ke arah rumah Hanifa berada. Sebab dia yakin jika Erlan pasti ada di sana.


Namun, dia menghadapi amarah dan kecemburuan di hatinya seperti dalam sebuah pertempuran. Dia seolah berperang dengan perasaan, bertempur dengan logika bahwa dia harus menang, mengalahkan ajakan setan yang memaksanya untuk mengomel atau membentak Erlan.


Dia harus tahu mengapa Erlan melakukan, menduakan dirinya, membohongi dan mengelabuinya. Apa maksudnya? Namun, dia belum siap mendengarkan semua, dia belum mau mengira-ngira apa alasannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2