
Seorang Wanita Muda
“Halo.” Basri berkata setelah menempelkan ponselnya ke telinga. Suaranya terdengar lembut dan ramah, serta sebuah senyuman melintas di bibirnya.
Sementara Runa mengernyitkan alis karena jarang sekali Basri membuat panggilan saat berada di rumah. Bahkan sekarang bertingkah begitu ramah. Pria itu tidak pernah bertingkah begitu sebelumnya, membuat wanita itu curiga sekaligus penasaran.
“Halo, apa kabar sayang? Terdengar suara di seberang telepon.
“Eh, kamu Meta? Kabar baik dong. Ada apa telepon masih pagi?”
Setelah ucapan Basri selesai, terdengar lagi perkataan yang akrab dan manja, semua mengalir di telinganya, dengan indah dan menggoda. Cukup lama mereka bicara dan mengundang emosi Runa yang tengah membereskan pakaian, tak jauh dari laki-laki itu duduk tanpa melihat ke arahnya.
Basri sudah selesai sarapan, dan selesai pula mengobrol di telepon dengan seorang wanita misterius yang belum diketahui oleh Runa, dia siapa. Pria itu mendekat dan menyimpan baju yang sedang dilipat oleh istrinya dan membawa wanita itu ke kamar.
Runa melepaskan genggaman tangan Basri dengan kasar, sambil berkata dengan ketus. “Kamu mau apa, Pak?”
“Menurut kamu mau apa memangnya kalau suami mengajak istrinya ke kamar?”
“Pak, cukup! Bukannya kamu sudah puas semalam?” tanya Runa, sambil mengusap-usap tangannya yang terasa panas karena genggaman Basri yang cukup keras.
“Memangnya kenapa kalau aku mau lagi, itu hakku, kan? Bukan biasanya juga begitu, kenapa kamu aneh sekali, sih?”
“Aku enggak aneh, wajar kalau istri juga menolak.”
Sudah biasa, Basri akan meminta pada Runa untuk dilayani, beberapa kali selama dia masih ada di rumah. Wanita itu akan melakukannya dengan baik sesuai keinginannya. Hanya saja kali ini dia benar-benar tidak menginginkannya karena dalam pikiran terbayang bila suaminya melakukan hal yang sama pada wanita lainnya.
‘Ahk ...!’ hatinya bergidik. Dia tidak bisa terima bila wanita muda itu mencumbui suaminya. Apalagi tadi baru saja dia melihat Basri mengobrol di telepon dengannya begitu mesra. Namun sekarang pria itu justru menginginkan dirinya!
“Ya, menolak juga harus ada alasannya, apa aku salah padamu hari ini?”
Basri merasa dia tidak berbuat kasar, tapi dia heran kenapa Runa justru bersikap membangkang lagi seperti tadi malam.
“Kenapa kamu tidak minta dilayani sama wanita yang tadi menelponmu? Siapa dia? Pasti kamu selingkuh, kan?”
“Aku? Oh, jadi karena itu kamu marah? Ya aku belum pernah mencoba selingkuh dan, aku akan melakukannya kalau kamu yang meminta!”
‘Dasar laki-laki nggak tahu malu!’ batin Runa sambil melirik Basri dengan sudut matanya penuh kesal. Wanita mana yang bisa menerima sebuah pengkhianatan? Tidak ada.
Meski dalam agama diperbolehkan melakukan poligami, tapi bukan dengan cara menikah diam-diam dan menikung dari belakang. Sama saja itu namanya hubungan yang disembunyikan. Sebab, menikah tetaplah Sunnah mau kedua atau ketiga kalinya dan keluarga tetap harus melakukan walimatul urusy, atau pesta setelpesta agar masyarakat tahu bahwa mereka bukan pasangan penzina.
“Aku tahu kamu sudah melakukannya, kan? Buktinya, siapa yang kamu telepon, tadi? Hah!”
__ADS_1
“Itu bukan siapa-siapa!” jawab Basri ketus membela diri.
“Kamu pikir aku percaya? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kamu bermesraan di mobilmu beberapa hari yang lalu!”
“Wah, wah ... jadi kamu mau bilang aku sudah ketahuan rupanya, tapi kamu salah!” Basri tertawa menyeringai sesudah mengatakannya, seolah mengejek penilaian Runa dan menganggap dirinya bersih.
Lalu, apakah Runa salah lihat saat itu, dia yakin sekali kalau suaminya bersama wanita muda yang manja!
CK!
Basri mendecak sambil menggelengkan kepalanya lalu, dia berkata, “Aku sudah pernah menangkap dirimu dengan laki-laki lain, apa kamu pikir aku sama sepertimu? Kamu salah, Runa ... seharusnya kamu bersyukur aku tidak membuangmu waktu itu.”
“Aku juga tidak selingkuh seperti tuduhanmu!”
Setelah berkata, sepasang suami istri itu diam, dengan dada turun naik menahan emosi dari napas yang masuk keluar. Saling pandang dengan meluapkan semua perasaan melalui tatapan mata yang menyiratkan rasa Ketidakpercayaan antara keduanya.
“Aku tidak percaya!” kata Basri, sambil mengibaskan tangannya lalu, mencebik.
“Terserah!” sahut Runa sambil berlalu melewati suaminya begitu saja.
Namun belum sempat lewat, tangannya sudah di cekal dan Basri menarik tubuh Runa hingga terjerembab di tempat tidur, untuk kemudian mereka kembali bergumul tanpa bisa dicegah.
Basri sepertinya menikmati saat Runa tersiksa, menurutnya ini cara yang lebih bagus untuk melampiaskan amarahnya, sekaligus mendapatkan kenikmatan. Sementara dengan cara itu pula, Runa merasakan sesak setengah mati di dadanya.
Ajaran kebaikan dan bagaimana menjunjung harga diri, dari kedua orang tuanya yang sederhana, begitu melekat di kepala Basri. Itu lah sebabnya dia menjadi lelaki setia, walau banyak teman seprofesinya melakukan pergaulan bebas dan meniduri banyak wanita ketika melakukan perjalanan, membawa muatan ke berbagai kota. Tidak ada yang tahu bila dia tidak pernah meniduri wanita mana pun selain istrinya. Begitu pula Runa.
*****
Sementara itu Winsi sudah mendapatkan izasah yang diharapkannya. Memiliki selembar kertas itu artinya dia resmi keluar dari murid sekolah dasar dan akan jadi murid sekolah selanjutnya. Alhamdulillah, aku sudah lebih besar sekarang, pikirnya.
Anak gadis itu, berjalan bersama Meri—sahabatnya, seperti biasa mereka melewati jalan yang sama. Namun sampai di perempatan jalan mereka berhenti. Beberapa teman mengajak dua orang sahabat itu ke suatu tempat. Kali ini mereka berbelok arah dan pergi ke kebun jambu air mulik seorang temannya yang kebetulan masih panen.
“Win!” panggil seseorang begitu Winsi mengikuti langkah teman-temannya. Dia menoleh dan mengerutkan alis melihat Erlan berdiri di samping mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Melihat gaya anak remaja itu, Winsi tersenyum meremehkan dirinya sendiri, sambil memalingkan mukanya. Dia berniat mengabaikan laki-laki itu, sebelum mulutnya kembali berteriak.
“Hai, anak buluk!”
Seketika semua temannya menoleh ke arahnya sambil menahan tawa. Winsi kesal dengan apa yang dilakukan Erlan hingga dia menghampirinya dengan cepat.
“Apa maumu?” tanyanya kemudian, ketika sudah berada di hadapan Erlan. Kedua anak itu sekarang bercakap-cakap.
__ADS_1
“Kamu udah ngambil ijazah kan, Win? Mana lihat sini, nilaimu berapa?”
“Buat apa?”
“Aku Cuma mau lihat saja.” Erlan berkata sambil menjulurkan sebelah tangan kanannya seperti meminta.
“Nilaiku nggak bagus kok. Puas? Udah ya, aku pergi dulu.”
“Siapa tahu kamu bisa masuk ke sekolahku.” Erlan berkata sambil memasukkan tangannya ke saku celana panjangnya, setelah Winsi mengabaikan permintaannya.
“Aku enggak mau sekolah di tempatmu ... jauh.”
“Ah, itu Cuma alasan. Bilang aja kamu pasti gagal kalau masuk ke sana.” Kata-kata Erlan terdengar meremehkan.
Winsi diam saja karena menyadari kemampuannya, kalau dia memang tidak mungkin bisa lulus tes untuk masuk ke sana. Apalagi sekolah itu selalu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan sehari-hari anak muridnya. Bahkan saat guru mengajarkan pelajarannya, dia tidak bisa!
“Hmm.. Terus kamu mau lanjut sekolah ke mana?”
“Terserah akulah,” sahut Winsi sambil berlalu meninggalkannya.
“Eh, mau kemana kamu? Rumahmu bukan jalan ke situ?” kata Erlan setengah berteriak.
“Aku mau main, memangnya salah?” sahut Winsi sambil terus melangkah pergi.
“Win, dia Erlan, kan? Dia mau ngapain?” tanya Marie ketika winsy sudah berada di tengah-tengah mereka lagi.
“Hmm,” sahut Winsi sambil mengangguk.
“Ke mana dia sekarang, kirain mau nganterin kita? Enak, kan kita nggak harus jalan.” Semua anak-anak itu tertawa bersama, mendengar candaan Meri, kemudian sepanjang jalan mereka terus bercanda.
“Win, kita kan udah gede, nih. Kita boleh pacaran, nggak sih?” tanya Meri.
“Gak tahu, tapi ibuku bilang gak boleh pacaran,” sahut Winsi. Padahal dia sendiri tidak tahu pacaran itu seperti apa.
Sementara beberapa temannya yang lain berbincang dengan obrolannya masing-masing.
“Aku mau pacaran, kalau boleh.” Meri berkata sambil menahan tawa, sambil menutup mulutnya.
Winsi membelalakkan matanya lalu, dia menyahut lucu, “Gak boleh, kamu masih kecil!”
“Tapi Erlan itu ganteng, kan? Kalau dia mau, aku juga mau jadi pacarnya.”
__ADS_1
Bersambung
“Jangan lupa like, komen, gife, vote, fav, dan follow. Terima kasih atas dukungannya”