Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
140. Terluka Sendiri


__ADS_3

Terluka Sendiri


 


“Erlan!” Suara Winsi memecah keheningan. Seketika Erlan menoleh dan menghampiri istrinya dan mengabaikan Runa. Tidak lama setelah itu terdengar suara tangisan Jiddan hingga membuat Runa meninggalkan anak manusia itu berdua saja.


“Ya?” kata Erlan setelah berada di samping Winsi dan gadis itu hanya melayangkan pukulan-pukulan kecil, karena dia tampak sudah lelah. Wajah memerah, banjir keringat hingga bajunya pun basah.


“Kenapa kamu ke sini?” tanya Winsi tanpa melihat ke arah Erlan.


“Kamu tadi, yang manggil, kan?”


“Nggak!”


“Terus?”


“Aku Cuma cegah aja biar kamu nggak ngomong sama Ibu. Jangan sampai Ibu tahu masalah kita.”


“Win ... Sayang ... sudah, ya? Apa kamu nggak capek!”


“Pergi sana! Dari pada kamu aku pukul!”


Winsi mendorong tubuh Erlan menjauh darinya lalu, dia meneruskan aksinya dengan pukulan dan tinju beberapa kali.


Erlan meninggalkan istrinya yang masih marah dengan berat hati, lalu, membersihkan diri dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tetap terjaga, sampai hampir tengah malam menunggu, tapi, Winsi tidak juga kembali. Pria itu memeriksa tempat gym dan tidak menemukan seorang pun di sana. Lalu, dia melihat kamar lama Winsi yang masih menyala, itu artinya istrinya masih belum tidur atau mungkin duduk di sisi jendela yang dibiarkan terbuka, seperti biasanya kalau dia kesal atau sedih.


Erlan melangkah perlahan keluar rumah dan menuju jendela kamar Winsi yang memang masih terbuka, dari sisi sebelah dinding dia melihat perempuan itu sebentar-sebentar mengusap pipinya karena ada lelehan air mata.

__ADS_1


Dia menikahi Winsi karena ingin membahagiakan, mengajaknya tinggal bersama karena tidak ingin kehilangan, mengikatnya dengan janji di atas nama Allah karena ingin hanya dia yang mendampinginya sampai dia tiada. Namun, melihatnya seperti ini dia justru sakit sendiri.


Rasa bersalah di hati Erlan begitu besar pada Winsi, seorang wanita yang baru pertama kali memiliki hubungan dengan seorang pria tapi, pria itu langsung menyakitinya. Dia yang menikahinya tapi dia juga yang membuat hati Winsi terluka. Namun, dia tidak ingin membebani orang lain, walaupun itu adalah ibunya.


Seorang istri ibarat belahan jiwa, jika sebelah terluka maka, belahan lainnya akan turut merasakannya.


 


*****


 


Keesokan Harinya, Winsi keluar dari kamarnya lebih pagi, dia sudah siap pergi dengan pakaian yang rapi dan serasi baik warna maupun modelnya. Semua yang dia pakai adalah pakaian kekinian tanpa meninggalkan adab syar’i . Memang tidak ada yang berubah, hanya saja hati ini dia memilih warna yang lebih cerah.


Riasan wajahnya lembut bahkan seperti tidak dirias, tapi dia tetap terlihat manis dan kalem, satu yang berbeda yaitu lingkaran hitam di sekitar mata dan sembab yang tidak bisa ditutupi oleh riasan sederhana.


Winsi mengangguk tanpa suara.


“Kamu baik-baik saja, kan?”


Winsi kembali mengangguk.


“Kalau ada masalah, ngomong, jangan di pendam sendiri. Lebih enak bicarakan baik-baik dari pada kamu diam masalah nggak akan pernah selesai, justru bikin penyakit!”


Runa tahu mereka sedang ada masalah, tapi, masalah apa yang mereka hadapi, Runa tidak mau ikut campur. Namun, dia tahu Erlan pria yang bijak dan tidak akan gegabah dalam mengatasinya. Beberapa kali mengalami kehilangan dalam hidup dan seberapa keras pendidikan serta pengalaman menempanya menjadikannya pria berkepribadian dewasa.


Selama semalaman Erlan menunggu di dekat jendela sampai gadis itu menutup dan mematikan lampu kamarnya. Dua anak manusia itu hanya tertidur dua atau tiga jam saja, di kamar yang terpisah.

__ADS_1


Winsi mengambil sedikit makanan, sambil mendengarkan Runa menasihati dirinya, lalu, memasukkan beberapa suap ke mulutnya. Namun, dia langsung berhenti saat Erlan keluar dari kamar. Laki-laki itu sudah dalam keadaan rapi dan siap untuk sarapan juga.


Begitu melihat Winsi beranjak pergi, Erlan menghampiri dengan cepat, dan menepuk kepalanya lembut, seperti yang pernah dia lihat, Arkan lakukan hal itu padanya dahulu.


“Hati-hati, ya?” hanya itu saja yang diucapkan Erlan, sambil tersenyum. Setelah melihat Winsi diam dan tidak menolak, dia meraih tangannya dan menciumnya seraya berkata, “Sayang, aku mencintaimu.”


Seketika Winsi menarik tangan dari genggaman suaminya, lalu, pergi ke kampus menggunakan motor, tanpa berpamitan.


Dia tidak menghampiri Mery seperti kemarin, karena dia masih ingin sendirian, bahkan di kampus pun dia tidak memiliki teman karena tidak ada pelajaran.


Setelah tiba di tempat parkir, Winsi turun dan melepas helm, dia hendak mencabut kunci saat melihat ada sesuatu, yang menarik dalam bagasi kecil bagian depan motornya. Itu dua bungkus coklat import berkualitas bagus. Dia heran, menga benda seperti itu ada di motornya, bahkan dia tidak memperhatikannya saat mulai berkendara.


Winsi membuka satu bungkus kecil coklat berbentuk bulat itu, sambil memperhatikan sesuatu pada bungkusnya, yang ternyata di sana tertulis sebuah kata “Maafkan aku, Sayang”


Dari Erlan rupanya.


‘Dih! Kamu kira kata maaf itu mudah? Kamu kira memaafkan semudah mengatakan maaf? Kamu kira memaafkan bisa di bayar dengan dua buah coklat?’ Batin Winsi, dia hampir saja melemparkan benda seukuran telur ayam itu ke segala arah, tapi mendadak tangannya tertahan di udara.


Ah! Mubazir. Apalagi ini coklat susu dari Belgia.


Winsi duduk di atas motor, dia memakannya, sambil membalak balikkan bungkusnya, hingga kedua matanya terbelalak dengan sempurna saat dia kembali membaca sebuah tulisan. “Menikmati coklatnya, berarti memaafkanku”


Ah! Allah! Ya Allah!


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2