Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
56. Kesimpulan Erlan


__ADS_3

Kesimpulan Erlan


“Mana Ayah tahu soal kenapa Erlan begitu, tanya saja sama orangnya!” Kata Arkan sambil melirik anaknya.


“Sudah, sudah, ayo! Di minum dulu air tehnya!” Runa berkata untuk mencairkan suasana, dia mempersilakan semua tamu untuk menikmati teh manis buatannya. Kedua pria itu pun minum teh yang ada di atas meja di hadapan mereka.


Winsi menatap Erlan dengan tatapan polos tanpa dosanya yang bila dalam film kartun, maka sinar matanya seperti mengeluarkan banyak bintang, mirip mata Pampkin yang lucu dan menggemaskan.


“Apa?” Tanya Erlan melotot tidak suka, sambil menyimpan gelas kaca kembali ke tempatnya..


“Ya, apa, kok malah nanya?” Sahut Winsi kemudian memalingkan pandangannya.


Gadis itu yakin, setelah dia bertanya dengan baik-baik pun laki-laki yang duduk di hadapannya itu tidak akan mudah mengakuinya. Dia menduga memang akan seperti itulah kebiasaan Erlan, dia hidup sendiri untuk waktu yang cukup lama tentu dia tidak terbiasa menjawab pertanyaan yang baginya itu tidak penting.


Selama tiga tahun mereka sering bersama ketika berangkat dan pulang sekolah, tidak membuat dua anak itu memiliki empati satu sama lain. Mereka tetap saja seperti musuh bebuyutan bila ada sesuatu yang membuat mereka berbeda pendapat dalam mengatasi masalah atau bila ada sesuatu yang terjadi.


Winsi tidak menyukai Erlan karena sampai kemarin pun anak itu masih memanggilnya Buluk. Sementara Erlan tidak suka kalau Winsi menunjukkan kepandaiannya dalam karate atau dalam kegiatan olah raga lainnya, apalagi jika kegiatan itu membahayakan maka, Erlan akan melarang tapi, justru sikap laki-laki itu semakin membuat Winsi lebih tidak suka lagi kepadanya.


Hal itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa dia ingin melanjutkan sekolah ke pesantren dan benar-benar lepas dari keluarga Arkan. Meski dia menyayangi Arkan seperti menyayangi orang tuanya sendiri, dia tetaplah orang lain dan bukan orang yang menyebabkannya lahir ke dunia. Petualangannya mencari sosok Anas, orang yang pernah disebutkan ayahnya waktu itu masih menjadi salah satu keinginan terbesarnya.


Saat itu Erlan melihat interaksi yang terjadi pada ayahnya dan Runa hingga dia bisa menyimpulkan perasaan Arkan pada ibu dari sahabatnya. Erlan sudah dewasa, hingga membuat dia bisa memahami arti tatapan mata seorang pria pada wanita di sampingnya.


Akan tetapi Erlan juga mengakui bahwa Runa tidak memiliki perasaan yang sama pada ayahnya. Dia tidak tahu bahwa Runa sudah terlalu takut akan menempuh hidup baru selanjutnya meskipun itu dengan orang yang berbeda.

__ADS_1


Mempunyai sebuah ikatan perkawinan, memang dapat meningkatkan harga diri seseorang. Menjadi manusia yang memiliki pasangan baik suami maupun istri, akan lebih tenang dalam menjalani hidup, terlepas dari maslah apa pun yang di hadapi keduanya selama mengarungi biduk rumah tangga.


Biasanya dengan adanya sebuah ikatan perkawinan yang sah, seseorang akan lebih fokus pada tujuan dan lebih memiliki arah. Misalnya bila seorang lelaki yang mencari uang untuk dirinya sendiri, maka, setelah menikah dia mempunyai tujuan demi diri juga menafkahi keluarganya. Bila seorang wanita biasanya memasak untuk dirinya sendiri, maka, setelah menikah dia mempunyai tujuan memasak untuk diri dan keluarganya.


Oleh karena itu, pernikahan dalam Islam sangat dianjurkan bagi para pribadi yang sudah mampu melakukannya, tergolong hal yang sangat disunahkan karena dia membawa banyak kemuliaan di dalamnya. Tentu saja jika semua dilakukan sesuai dengan tuntunan agama dan juga akhlak yang baik pada semua anggota keluarga.


Pernikahan yang dijalani Runa di masa lalu membuatnya jera hingga enggan untuk kembali berumah tangga. Dia merasa lebih baik menjalani hidup seperti itu walaupun, banyak pria yang menggoda dan mengajaknya menikah. Bahkan Arkan, yang pernah punya hubungan baik di masa lalunya pun di tolak.


“Tante, kalau nanti Wiwin pergi, Tante sendiri terus di rumah, apa nggak lebih baik Tante menikah saja?” kata Erlan tiba-tiba membuat semua orang yang ada di sana tercengang sebab sedari tadi laki-laki itu hanya diam tapi, sekali bicara, terdengar begitu mengharukan. Itu sebuah perhatian besar sebab berada seorang diri di rumah akan berimbas pada harkat dan martabat seorang wanita.


“Tante belum mengantongi surat cerai, jadi belum bisa menikah lagi, Tante gak mau menikah secara siri yang tidak diakui secara hukum.” Runa menjawab tanpa ekspresi. Memang itulah alasan sebenarnya.


Dia tidak punya waktu untuk mencari di mana Basri berada, hingga dia mengabaikan statusnya sebagai seorang wanita dengan istilah digantung status. Oleh karena itu, dia tidak menerima semua lamaran yang datang padanya, dia selalu bersikap acuh tak acuh pada semua pria kecuali sebatas pelanggan dan pembeli saja. Tidak lebih.


“Kalau alasanny hanya itu, aku bisa membantu mencari laki-laki itu.” Arkan berkata sambil menatap Winsi, melihat reaksi anak itu. Sebab mencari Basri seolah mengingatkan lagi akan masa lalu yang buruk bagi anak itu.


“Ayah, mau mencarinya? Aku ikut!” kata Winsi, ucapannya sungguh di luar dugaan mereka. Akan tetapi, memang dia ingin bertemu dengan Basri karena dia ingin memastikan orang yang bernama Anas. Dia sudah menemukan orang yang disebut ayahnya oleh Basri waktu itu, tapi bukanlah Anas yang bekerja di rumah Erlan.


“Untuk apa kamu mau ketemu sama Bapakmu? Tidak usah!” Erlan berkata demikian karena refleks tanpa dia pikir sebelumnya, seolah menjadi kebiasaan jika melarang Winsi, padahal pasti anak gadis itu selalu melanggarnya.


Erlan hanya berusaha melindungi dan menjaga peri kecilnya yang dulu tampak rapuh, sekarang pun masih sama di matanya, padahal sekarang, Winsi sudah tumbuh menjadi gadis kuat, mandiri dan pandai.


Mendengar ucapan Erlan yang selalu mengaturnya sejak dulu, membuat Winsi melotot ke arahnya. Dia belum pernah sempat meninju wajah anak ini sampai sekarang.

__ADS_1


‘Awas, kamu, ya?’ batin Winsi.


*****


Keesokan harinya Arkan menjemput Runa di pagi hari untuk mencari informasi tentang Basri. Tentu saja Winsi ikut serta demi menjadi mahram bagi ibunya saat berdua dengan Arkan maka ada dia yang akan menjadi teman.


Ketiga orang itu mengendarai mobil Arkan untuk pergi ke rumah lama Winsi dan Runa. Itu salah satu usaha Arkan demi mendapatkan Runa. Namun, usahanya bukan Cuma itu, dia mencari informasi tentang Basri melalui beberapa orang yang sudah terbiasa melakukan penyelidikan untuk bos mereka.


Sesampainya di depan rumah sederhana itu, mereka cukup terkejut dengan keadaannya. Rumah itu tampak kotor, dipenuhi rumput liar dan tidak terawat. Runa berusaha mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak menemukan siap pun yang membukakannya. Dia pikir Nira masih tinggal di sana.


“Cari siapa, ya? Kalian ini mengganggu saja!” tanya seseorang yang kebetulan lewat di antara semak belukar di samping rumah, membuat Runa, Arkan dan Winsi terkejut seketika.


“Siapa, kamu?” tanya Runa setelah bisa menguasai diri karena terkejut.


“Aku?” Orang itu tertawa terbahak-bahak setelah menjawab pertanyaan Runa.


Cara orang itu tertawa, membuat Winsi mengerutkan alisnya. Dia melangkah mendekat ke arah ibunya dan orang asing itu, lalu ...


Buk!


“Winsi! Apa yang kamu lakukan?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2