Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
99. Kesan Yang Baik


__ADS_3

Kesan Yang Baik


 


Seperti biasanya, Winsi pergi melihat pembangunan toko di atas tanah ibunya, satelah pulang kuliah. Ini adalah hari terakhir perjanjiannya dengan pemborong yang dipercaya oleh Nafadi untuk menyelesaikannya.


Gadis itu cukup puas dengan hasil akhir dari bangunan tokonya hari ini. Dia tidak menyangka jika dengan keterbatasan biaya yang dimilikinya, bisa mendapatkan bangunan seindah itu. Rupanya pemborong kepercayaan itu benar-benar bisa menyenangkan pelanggannya.


“Sekarang sudah sore, Mbak Win, saya pulang dulu,” pamit pemborong itu sambil membawa beberapa peralatan kerja miliknya.


“Terima kasih, ya Pak. Saya pasti akan merekomendasikan Pak Didi kalau nanti ada yang butuh renovasi.” Winsi berkata dengan penuh semangat, sementara Didi, si pemborosan itu terlihat begitu enggan. Dia tahu maksud yang dikatakan Winsi jika dia akan direkomendasikan sebagai pemborong yang murah tapi menghasilkan bangunan bagus serta berkualitas dengan bahan yang baik pula.


Perempuan itu tidak tahu jika semua bahan material berkualitas, yang digunakannya sebagai bahan baku itu, sebagiannya merupakan dukungan Arkan. Didi bingung apakah dia harus mengatakannya atau tidak.


“Baik, silakan saja.” hanya itu akhirnya kata-kata yang keluar dari bibirnya ia seperti tidak tega pada Winsi.


“Terima kasih, Pak.”


“Sama-sama, Mbak Win!”


Winsi tersenyum mendapatkan jawaban yang memuaskan seperti itu dan kembali melihat tanda terima dari Didi sebagai bukti bahwa dia sudah menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan perjanjian mereka.


Didi baru saja hendak melajukan motornya ketika sebuah mobil Avanza berhenti tepat di jalan yang akan dilaluinya. Setelah itu pintu mobil terbuka dan keluarlah seseorang pria yang tersenyum kepadanya.


Seketika Didi berteriak dengan suara girang, “Mas Anas! Apa kabar?”


Nama Anas adalah nama yang memberi kesan yang baik padanya.


Mendengar teriakan dari Didi, membuat Winsi menoleh ke arah dua laki-laki yang kini sedang berjabat tangan dengan erat Bahkan mereka berpelukan. Gadis itu sudah mengenali pria yang dipanggil oleh Didi, dialah Anas, laki-laki yang pernah bertemu dengannya, bersama Waila, di sebuah Cafe waktu itu.


Kedua laki-laki itu adalah teman lama dan kebetulan Anas sedang mencari Didi untuk sebuah keperluan renovasi kafe yang dimilikinya. Anas bersyukur bisa menemukan temannya itu di sana, dan mereka langsung saja membuat kesepakatan dan janji yang akan mereka tepati keesokan hari.


Winsi tetap berada di posisinya sambil menyaksikan interaksi kedua laki-laki yang berbincang itu, sampai akhirnya Didi pergi meninggalkan Anas. Gadis itu sempat berharap agar Anas tidak langsung pergi karena dia ingin menanyakan sesuatu kepadanya.


Beberapa waktu yang lalu dia sudah mendapatkan hasil tes DNA dari rambutnya dan juga rambut Anas, atas usaha yang dilakukan oleh Erlan demi dirinya. Pria itu menggunakan trik membujuk Waila agar mau mendapatkan sehelai rambut Anas tanpa sepengetahuannya. Winsi tidak menduga jika Erlan begitu lihai merayu Waila hingga gadis itu mau menurut tanpa banyak bertanya untuk apa Erlan melakukan tes DNA  padanya.


“Rambut Om? Buat apa?” tanya Waila.


“Aku lihat rambut Om Anas itu bagus aku pengen tahu apa jenis rambutnya, berminyak atau bukan, aku akan menelitinya di Amsterdam, tapi ingat kamu harus mengambilnya tanpa sepengetahuan Om, oke?”

__ADS_1


“Hmm ...” gumam Waila sambil mengangguk.


Sore harinya, sepulang Waila dari cafe Anas, gadis itu sudah memberikan tiga helai rambut sesuai permintaan Erlan dan saat itu juga Erlan membawanya pergi entah ke mana, dia luar rumah dengan mobil sport milik Nafadi seperti biasanya.


Pria itu pulang sudah larut malam dan langsung menemui Winsi yang saat itu sedang ada di kamarnya. Lalu, dia memberikan sebuah surat tanda bukti yang harus di pada seseorang saat akan mengambil hasil tes DNA di laboratorium milik pemerintah, sepekan kemudian.


Setelah semua urusan soal Winsi selesai, Erlan pun berpamitan kepada Nafadi dan juga Waila, serta mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua yang sudah sangat berjasa saat dia berada di sana, dia kembali ke Amsterdam malam itu juga.


Hasil dari tes DNA dari rambutnya yang tertulis di sana, dengan jelas mengatakan bahwa, dirinya bukanlah anak dari Anas karena gen, golongan darah mereka benar-benar berbeda. Hal ini membuktikan bila ibunya, benar adanya.


Runa, mengatakan yang sebenarnya jika Winsi adalah anak kandung dari Basri, dan ketika Basri berbicara  kalau Anas adalah ayahnya, ternyata hanyalah salah paham belaka.


Akan tetapi dia tidak ingin mengatakan fitnah sebesar ini kepada Anas. Dia hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu sehingga Bapaknya bisa menyimpulkan bahwa dirinya anak haram. Runa tidak bisa menceritakan kejadiannya secara lengkap karena waktu itu dia tengah pingsan.


 Anas menole pada Winsi sambil tersenyum, sepertinya laki-laki itu tahu bila winsi adalah teman dari Waila, lalu, dia melangkah mendekatinya.


“Halo,” sapa Anas lembut sambil melambaikan tangannya pada Winsi.


“Assalamualaikum, Om Anas ... iya, kan?” kata wingsi malu-malu dia masih terlihat kaku.


“Ya. Kamu teman Waila, kan?”


“Kalau begitu saya tidak salah ... kenapa kamu ada di sini? Ini ... seperti bangunan yang baru jadi.” Anas berkata sambil melihat-lihat ke sekitarnya dan juga bangunan toko yang memang masih baru.


“Ya, Om, ini toko saya.”


“Punya kamu? Wah, luar biasa masih muda sudah punya bangunan seperti ini, kamu mau usaha apa ini toko yang besar?”


“Saya juga masih belum tahu Om, tapi, siapa tahu Om Anas bisa memberi saya ide!”


“Buat saja warung makan atau Cafe seperti punyaku, aku bisa ajari gimana caranya.”


“Boleh juga tuh, Om. Hmm ... maaf, Om saya boleh tanya sesuatu?”


“Boleh, Apa itu?”


Winsi menanyakan perihal gambar di ponsel Anas yang akan dia tunjukkan kepadanya saat bersama Waila. Gadis itu meminta maaf apabila waktu itu dia terlihat acuh yak acuh dan juga mengabaikannya karena dia pikir itu hal yang tidak penting, apalagi dia takut bila Waila cemburu nantinya.


Gadis itu sudah tahu hubungan seperti apa yang dimiliki Anas dengan Waila saat ini. Yaitu hubungan yang sama seperti dirinya dan Arkan, tapi dia bisa bersikap lebih sopan dan tidak berlebihan pada Ayah angkatnya itu.

__ADS_1


Winsi berkata terus terang kepada Anas apabila setelah hari itu dia menjadi penasaran tentang apa yang akan ditunjukkannya.


Mendengar ucapan Winsi, Anas pun tertawa kecil dia tidak mengira, bila gadis ini masih mengingatnya dengan jelas apa yang terjadi saat itu. Tiba-tiba dia teringat dengan Runa lagi.


 Anas pernah putus asa saat berusaha mencari Runa di tempat yang sama karena dia tidak menemukannya. Dia hanya sekedar ingin tahu keadaan wanita yang sudah memberi kesan bagus padanya. Selain menolong Runa waktu itu adalah pengalaman pertamanya memeluk seorang wanita.


Terakhir kali Anas pergi ke tempat itu yang dia temukan hanyalah rumah yang sudah rusak, halamannya menjadi tempat semak belukar tumbuh dengan nyaman dan tidak terawat.


“Ini Ibumu, kan? Kalian mirip sekali.” Anas berkata kemudian, sambil menunjukkan foto dan video yang masih dia simpan dengan baik di memori ponselnya walaupun benda pipih itu sudah beberapa kali dia ganti.


Winsi melihat foto dan gambar video itu dengan seksama dan dia mengakui memang itu adalah ibunya. Mendengar pengakuan dari wingsi Anas pun tersenyum lebar lalu dia menceritakan Bagaimana kejadian itu bisa terjadi.


Winsi pun tercengang saat dia menyimpulkan dari cerita Anas, bahwa bapaknya memang benar-benar salah paham dengan kesalahan yang parah. Bahkan tidak memberikan kesempatan pada Anas untuk berbicara dan memberi penjelasan tetapi, langsung memukulnya hingga Anas pun memilih pergi tanpa pesan apa pun pada Runa dan juga orang-orang di sekitarnya.


“Om, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Om, atas nama Ibu. Mungkin, kalau tanpa bantuan Om, saya tidak akan lahir sampai saya dewasa saat ini.”


“Tidak perlu berterima kasih, semua yang Aku, Ibu dan Ayahmu lakukan adalah sebuah takdir, bukan? Jadi, gimana kabar ayah dan Ibumu sekarang?”


“Alhamdulillah mereka semua baik-baik saja.” Winsi berkata sambil berurai air mata, kedua orang tuanya memang baik-baik saja meskipun tidak lagi hidup bersama.


Dia tidak bisa membayangkan jika berada di sana saat kejadian itu berlangsung dan bagaimana perasaan ibunya, ini sangat menyakitkan, mendapatkan tuduhan atas sesuatu yang sama sekali tidak dia lakukan.


Winsi tahu benar bagaimana perasaan Anas waktu itu karena seperti itulah yang dia rasakan selama bertahun-tahun, di tuduh sebagai anak hasil hubungan gelap, sangatlah buruk, seolah-olah dirinya tidak pernah bersih dari segala kotoran.


Gadis itu bersyukur Anas tidak bertanya bagaimana hubungan antara Ibu dan Bapaknya. Kalau soal itu, maka Winsi sepertinya akan berbohong saja. Ahk ....


“Apa, Om tidak membenci Bapak?”


“Tidak, itu cuma masa lalu, aku cuma berharap Ayahmu tidak terus salah paham pada ibumu.”


“Oh, sepertinya tidak.” Winsi menjawab sambil menghapus air mata di pipinya. Dia tidak mungkin mengatakan aib keluarganya sendiri, tentang bagaimana ayahnya bersikap kepadanya, atau tentang tuduhan keji Basri pada Anas. Tidak ... dia tidak akan mengatakannya pada siapa pun sampai kelak dia tiada.


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2