Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
129. Masih Trauma


__ADS_3

Masih Trauma


Ucapan Winsi terputus karena bibirnya disumpal oleh ciuman Erlan, sejenak kemudian pria itu melepaskan dan Winsi kembali menyusut bekas ciuman bibirnya dengan punggung tangan.


“Kenapa nggak mau? Aku tahu kamu nggak bulukan!”


“Dih, dari mana kamu tahu?”


“Udah, lah... nggak penting soal dari mana aku tahu kan, memang kamu nggak bulukan! Kamu ini berat, tahu?”


“Siapa juga yang suruh kamu gendong aku? Lepasin!” Winsi menggoyangkan kaki dan badannya karena ingin melepaskan diri dari Erlan.


“Nggak! Aku mau bawa kamu ke kamar kita!”


“Itu kamarmu! Bukan kamar kita, Lan!”


“Win, aku tuh, cinta sama kamu dari dulu, beneran!”


“Masa? Kalo cinta ya, jangan maksa, Lan! Lepasin!”


Erlan mengalah dan akhirnya dia menurunkan Winsi secara perlahan, dengan wajah yang cemberut.


“Lan, lan, Lan, panggil Sayang, kek, panggil Mas, kek, atau apa? Ampun, deh, peri satu ini!” kata Erlan sambil mencubit dagu Winsi.


“Aku bukan peri!”


“Iyalah, iyalah! Istriku, tidur ya ... sudah malam ....” Saat berkata, Erlan membalikkan badannya.


“Terus kamu mau ke mana?” pertanyaan Winsi sempat membingungkan, di satu sisi dia menolak bersama, di sisi lain dia tidak mau Erlan pergi. Terkadang dua sisi yang berbeda lebih sulit dipisahkan, bagai dua sisi mata uang logam.


“Ya, tidur, lah!”


“Oh,” Winsi menjawab sambil mematikan lampu hingga tersisa cahaya temaram dari luar jendela. Dia melangkah ke tempat tidur dan dengan cuek dan merebahkan diri di sana sambil menarik selimut tanpa melepaskan jilbabnya, membuat Erlan mengerutkan alis.


‘Apa selama ini dia masih tidur dengan berpakaian lengkap seperti itu?’ batin Erlan. Setahu dia, sudah hampir setahun ini Winsi terbiasa tidur sendiri dengan lampu dipadamkan dalam kamar, yang pintunya tertutup rapat dan dikunci, tapi baru kali ini dia tahu jika kebiasaannya memakai pakaian lengkap belum berubah. Dia benar-benar gemas.


Sementara itu, Winsi yang tidur membelakangi Erlan, dengan susah payah mengendalikan debaran jantungnya, dia masih melihat sisi Erlan dari sudut anak kecil tapi berulang kali pria itu menciumnya, membangkitkan setengah dari rasa kewanitaannya yang lain. Dia sebenarnya ingin diperlakukan seperti itu lagi, karena dia merasa disayang dan dibutuhkan. Namun, ada sudut hati berbeda yang memberontak jika laki-laki itu mendekat, dia masih teringat sedikit bagaimana seorang pria besar menindihnya dan membuat tubuhnya mati rasa, tak bisa bergerak apalagi memberontak.


Dia menutupi tubuhnya dengan selimut, dan berusaha menenangkan hati dengan mengatakan bahwa, Erlan bukanlah lelaki yang sama.


Tidak terasa air matanya menetes begitu saja, mengingat kembali saat Erlan menyatakan cinta dengan cara yang manis. Dia bersyukur pria itu benar-benar mencintainya selama ini, Erlan sudah membuktikan melalui sikap dan perbuatan, baik pada ibu dan dirinya.


“Lan ... terima kasih.... “ katanya lirih dalam balutan selimut. Dia tidak peduli apakah Erlan akan kembali ke kamarnya sendiri atau tidur disampingnya karena dia sudah mengantuk.


Sementara itu, Erlan masih berdiri di pintu dengan tatapan kosong ke arah istrinya, dia memiliki dua istri yang memiliki traumanya masing-masing. Beberapa saat dia masih berdiri di posisi yang sama sambil memikirkan arah hidupnya, dan amanah yang secara sadar dia ambil dengan sengaja. Ya, dia seperti sengaja menceburkan dirinya sendiri dalam masalah.


Awalnya janjinya pada keluarga Hanifa yang dia ucapkan tanpa di minta, lalu ajakannya pada Winsi untuk menikah yang juga tidak ada paksaan padanya. Erlan mengucap istighfar berulang kali sambil memohon agar Allah membantunya menyelesaikan masalah tanpa harus dirinya sendiri yang merubah.

__ADS_1


Erlan melangkah mendekati tempat tidur, menyibakkan selimut lalu, merebahkan diri, sambil melingkarkan satu tangannya ke pinggang Winsi. Dia biarkan gadis itu tidur dalam keadaan tertutup seluruh auratnya, dalam pelukannya. Cukup lama dia akhirnya bisa memejamkan mata, tapi, di saat yang sama tubuh Winsi bergerak secara kasar.


Gadis itu langsung duduk dan berteriak, “Jangan! Lepaskan aku! Tidak!” Saat berkata demikian, dia bergerak tak terkendali.


Erlan ikut duduk, tapi dia hanya melihat apa yang terjadi sambil berpikir, otaknya masih belum seiring dengan kepanikan disekitarnya, belum bisa berpikir jernih dengan tindakan seperti apa yang harus di ambil untuk menenangkan gadis itu.


Namun, sejenak kemudian dia melihat Winsi menepuk pipinya sendiri dan beristighfar, menarik nafas dalam dan membaca banyak ayat dari kitab suci. Gadis itu turun, dan menyalakan lampu, lalu kembali ke tempat tidur.


Betapa terkejutnya dia saat melihat Erlan ada di sana dan tengah menatapnya dengan rasa iba dan penuh tanya. Dia heran mengapa pria itu ada di kamarnya?


“Erlan, kenapa kamu ada di sini?” Setelah bertanya, Winsi seperti tersadar kalau dia sudah menikah dengan pria itu hingga dia mengabaikannya dan seolah tanpa beban, dia kembali ke posisinya semula, berbaring membelakangi Erlan.


Erlan melihat semua yang dilakukan Winsi dengan takjub, dia mengerti jika mungkin setiap malam, gadis itu mengalami hal ini tapi, dia tidak menceritakannya kepada siapa pun. Bahkan, bisa mengatasi traumanya sendiri. Laki-laki itu melingkarkan tangannya dari belakang, sambil menciumi pipinya.


Winsi tidak bereaksi, membicarakan suaminya mencium sesuka hati.


“Apa setiap malam kamu selalu seperti ini?” tanya Erlan, Winsi masih dalam posisi membelakangi dan mengangguk.


“Kenapa nggak pernah bilang?” tanya Erlan.


Winsi diam.


“Dan kamu tidur dengan pakaian seperti ini?”


Winsi mengangguk.


Winsi menggelengkan kepalanya.


“Kalau nggak biasa tidur dalam gelap, ya jangan di matikan lampunya.”


“Nggak apa, buat latiha.”


Mendengar suara Winsi, Erlan pun pindah posisi, itu artinya gadis itu bisa diajaknya bicara. Dia merebahkan diri di hadapan istrinya, tanpa melepaskan pandangan tepat di bola mata yang masih memerah karena baru saja terbangun dari tidur.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya lagi.


Winsi mengangguk.


Erlan membelai kepala, turun ke punggung dan beberapa saat terus bertahan di sana, seolah ingin memberi ketenangan, lalu, menarik tubuh wanita itu hingga menempel padanya.


“Aku ada di sini, jadi, jangan takut!”


“Erlan!” Winsi berkata sambil membenamkan kepala lebih dalam ke dada suaminya.


“Hmm ....”


“Jangan bilang sama siapa-siapa, apalagi sama ibu!”

__ADS_1


“Ya .... sekarang tidur!”


“Lan ....”


“Hmm ....”


“Terima kasih...”


“Hmm ....”


Erlan baru sadar, kalau bebannya masih berat, tapi beban gadis itu juga berat. Peristiwa yang sudah berlalu hampir delapan tahun, masih sering menghantui Winsi dalam tidurnya.


“Aku mau sembuh, aku nggak mau lagi kebayang-bayang laki-laki itu tiap malam, aku capek, Lan. Aku capek!”


Erlan diam, dia hanya mengusap kepala gadis itu dengan lembut dan mencium keningnya beberapa kali. Melihat air mata yang tiba-tiba mengalir dia pun menghapus dengan jari tangannya.


Erlan masih melakukan hal itu, membelai dan mengusap punggung istrinya sampai mereka kembali tertidur.


*****


Keesokan harinya, mereka terbangun saat mendengar suara azan subuh yang berkumandang dari masjid yang agak jauh dari rumah mereka. Sudah menjadi kebiasaan Winsi saat waktu pagi tiba, dia akan membuka semua pakaiannya karena setiap kali memimpikan hal yang mengerikan seperti semalam, dia selalu berkeringat dan bajunya pun basah.


Namun, saat membuka mata, dia melihat Erlan yang masih tidur di sisinya, membuatnya mengurungkan niat itu hingga sampai di kamar mandi, barulah dia menanggalkan gamis kerudung dan semuanya, kemudian mandi dengan air hangat.


Winsi keluar dengan hanya menggunakan bathrobe serta rambut yang dibungkus dengan handuk kecil.


“Kamu mandi, Win?” tanya Erlan yang sudah duduk di sisi ranjang.


Winsi mengangguk, lalu berkata, “Kenapa kamu masih ada di sini?”


Erlan membuang muka karena geli, gadis di hadapannya itu selalu mempertanyakan keberadaannya, dengan pertanyaan yang sama, seolah dia salah jadi suaminya!


“Kamu kan punya kamar mandi sendiri, cepat wudhu sana, sholat subuh!” kata Winsi sambil menarik tangan Erlan dan mendorong tumbuhnya agar keluar dari kamarnya.


Erlan melangkah dengan malas, “Win, memangnya salah kalau aku wudhu di sini? Kita nggak junub, kan?”


“Nggak! Makanya ayo mandi di kamarmu sana, di sini adanya sabun sama sampo cewek!”


“Memangnya kenapa?”


“Nggak boleh!” kata Winsi sambil terus mendorong Erlan.


Winsi tidak sadar kalau apa yang dilakukannya itu membangkitkan sesuatu pada Erlan.


“Wiwin, diam! Cukup kamu mendorong, aku bisa keluar sendiri!”


“Bagus!” kata Winsi sambil berkacak pinggang dan mengusap hidungnya dengan punggung tangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2