Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
145. Apa Dia Pantas


__ADS_3

Apa Dia Pantas


Winsi mengikuti Erlan beberapa langkah di belakangnya, sambil mengedarkan pandangannya ke segala sudut rumah yang sedikit tidak terawat. Bukannya tidak ada asisten rumah tangga, tapi, para asisten yang bekerja di waktu pagi sampai siang itu terkadang cukup sibuk mengurus Hanifa dan, banyak hal lainnya hingga rumah itu hanya di bersihkan sekedarnya.


Berbeda dengan di rumah besar yang semua asisten tetap setia walau para majikan mereka sudah pergi satu persatu.


Winsi melihat Erlan masuk ke sebuah kamar dan seorang pria yang berpakaian perawat sedang tertidur di sofa. Saat melihat semua itu, akhirnya gadis itu bisa menyimpulkan suaminya dan perawat pria itu sedang berbagi tugas.


Erlan berada di sana jika perawat wanita tidak ada karena dia tidak ingin membiarkan istrinya hanya berdua dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Apabila masih ada pembantu rumahnya belum pulang, maka Erlan tidak begitu menghawatirkannya.


“Jadi, sebenarnya sudah sejak kapan dia begini?” tanya Winsi ketus, dia bertnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada saat mereka ada dalam satu ruang yaitu di kamar Hanifa.


“Mau mendengarkan ceritaku, sekarang?” Erlan balik bertanya, dia mendekat tanpa aba-aba dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Winsi, dan secepat angin ciuman mendarat di bibirnya.


Winsi mendorong setengah hati, karena dia tidak tega menolak laki-laki ini, tapi, ini di kamar wanita lain, apa dia gila?


“Kamu gila, ya? Ini di kamar istrimu, Lan!” kata Winsi saat Erlan sudah melepaskan ciumannya.


“Memang, kamu bukan istriku, gitu?”


Winsi tidak menjawab dan mendorong tubuh Erlan lalu, mengusap bibirnya dengan punggung tangan, sama seperti saat mereka berciuman untuk pertama kalinya.


Tanpa di duga Hanifa terbangun karena mendengar suara gaduh di dekatnya. Wanita itu tidak memakai kerudung dan rambutnya sangat pendek, seperti kepala laki-laki dan dia hanya memakai kaus polos serta celana pendek sebatas lutut.


Saat dia membuka mata, melihat Erlan dan Winsi yang masih dalam keadaan saling berdekatan, wanita itu mengerutkan alisnya lalu segera terduduk. Winsi dan Erlan segera melangkah mundur hingga saling menjauh.


Wanita itu bertepuk tangan dengan kuat sambil tersenyum.


“Mama! Akhirnya Mama pulang!”


“Eh, tunggu dulu!” Winsi menoleh pada Erlan dan Hanifa secara bergantian dengan bingung.


“Mama! Mama!”


Setelah berteriak seperti itu, Hanifa bangkit dan berjalan dengan cepat ke arah Winsi, lalu, memeluknya. Gadis itu menangis dengan penuh perasaan rindu di dalamnya. Serta merta membuat Fadli, perawat pria itu terbangun dan segera memasuki kamar Hanifa.


Dia melihat Hanifa tengah memeluk seorang wanita cantik sambil menangis. Lalu, dia melihat ke arah Erlan dan bagaimana reaksi Winsi, hingga dia tampak keningnya berkerut, dia menduga jika wanita itu punya posisi yang spesial di hati Erlan.


“Mama ....! Aku kangen banget sama Mama ... Papa bilang Mama nggak ada, Papa bohong!” kata Hanifa sambil melihat Erlan dan memukulnya seperti sikap anak kecil.


Sementara Winsi terus memikirkan tentang apa yang terjadi.


“Mama! Kenapa Mama diam saja? Selama ini kemana aja? Hani kangen banget sama Mama!” Hanifa menangis lagi.

__ADS_1


“Ya, Mama sekarang sudah pulang.” Akhirnya Winsi bersuara juga.


“Mam jangan pergi lagi, ya?”


“Ya!” kata Winsi ragu.


Hanifa menarik tangan Winsi, dan dia pun menuruti Hanifa yang menunjukkan beberapa mainannya bahkan mainan yang di belikan papa palsunya kemarin, ada banyak sekali boneka dan puzzle. Dengan kemanjaan lainnya, akhirnya gadis itu meminta Winsi menyuapinya makan dan dia ingin mama palsunya itu memasak bubur kacang hijau dengan suwiran roti tawar.


Semua Winsi turuti, dalam diam, walaupun matanya sebentar-sebentar menatap Erlan demi meminta penjelasan, tapi, mereka tidak punya kesempatan bicara. Hanifa terus menguasainya. Sementara itu, dua laki-laki yang ada di sana, menyingkir dan memberi ruang pada dua wanita itu untuk melakukan aktivitas mereka.


Hanifa terus membuat Winsi sibuk memasak dan bermain hingga menjelang waktu malam, sepertinya wanita itu lelah hingga Erlan memaksa Hanifa untuk tidur karena sang mama sudah mengantuk. Tentu saja Hanifa meradang dan marah, membanting semua benda ke segala arah.


Erlan memenangkan istri pertamanya itu seperti caranya yang biasa yaitu dengan memeluk dan membelikannya es krim. Fadli yang pergi untuk membeli es krim, dan dia kembali bersama perawat wanita yang datang untuk berganti berjaga seperti biasanya.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Hanifa mulai tenang dan Erlan pun bersiap untuk pulang. Aktivitas seperti inilah yang terjadi setiap hari, jika perawat sudah datang, barulah Erlan bisa pulang. Lalu, dia akan mengatakan pada Hanifa kalau dia harus pergi bekerja.


Demikian juga dengan Fadli, perawat itu akan pulang jika ada petugas yang lain menggantikan.


“Jadi, kamu bohong setiap hari padanya?” kata Winsi saat mendengar sendiri suaminya berpamitan.


“Ya!” kata Erlan.


“Mama! Papa memang suka boong!” kata Hanifa sambil menjilati es krimnya.


“Dah! Papa Mama, cepat pulang, ya!”


“Insya Allah!” Sahut Winsi datar, dia tidak bisa menjanjikan kalau dirinya bisa datang.


“Apa incaaloh, Mah?” tanya Hanifa lagi.


“Isya Allah itu, kalau kita menjanjikan sesuatu harus diusahakan secara sungguh-sungguh kecuali, kalau Allah menghendaki sesuatu yang lain. Makanya setiap kita berjanji, katakanlah Insya Allah, karena kita tidak pernah tahu apa takdir Allah selanjutnya pada kita.”


Mendengar ucapan Winsi, Hanifa mengangguk-angguk kan kepalanya, seolah dia mengerti.


Winsi tercengang dengan tingkah gadis itu membuatnya sedih, bagaimana tidak, wanita yang dulu begitu cerdas dengan pengetahuan agamanya yang bagus, kini tampak seperti orang yang tidak mengerti tentang agamanya sendiri, jangankan agama, mengerti tentang dirinya sendiri saja tidak.


‘Bagaimana ini bisa terjadi?’ batin Winsi.


Erlan dan Winsi berjalan keluar secara beriringan.


“Naik, mobil aku aja, Win. Simpan saja motormu di sini. Besok aku anterin ke kampus!”


Winsi menoleh sambil menatap Erlan dan motornya secara bergantian.

__ADS_1


Tanpa menunggu Winsi menjawab, Erlan mengambil kunci dari tangan istrinya dan menyimpan motor ke dalam garasi, lalu menutup rolling doornya rapat-rapat. Setelah itu menyerahkan kembali kunci pada pemiliknya, tak lupa dia melepas helm yang menempel di kepala gadis itu. Saat melepas helm, tatapan mata mereka saling beradu.


“Ehem!” kata seorang perawat yang baru saja keluar hendak mengunci pintu gerbang. Suara deheman dari wanita itu membuat pandangan mereka terputus. Lalu, perempuan itu kembali bicara, “Siapa, Pak? Kok, nggak di kenalin sama saya?”


Erlan menoleh tanpa Ekspresi. Lalu, berkata, “Namanya Winsi Nisriya, dia istriku!”


“Hah? Istri Bapak? Yang bener, Pak. Jadi, Bapak punya dua istri?” tanya perawat itu dan justru tidak menyebutkan namanya.


“Iya, memangnya ada masalah?”


“Eh, ya enggak, sih. Terserah Pak Erlan saja. Oh iya, Bu, nama saya Dinda!”


Kedua wanita itu saling berjabat tangan.


“Gimana memangnya menurut Bu Dinda, soal Pak Erlan ini yang punya istri lebih dari satu karena istrinya yang satu tidak waras, pantas atau tidak?”


Dinda berumur lebih tua dari Erlan dan Winsi, jadi wajar saja kalau wanita itu dipanggil ibu oleh Winsi. Namun, karena Erlan adalah orang yang sudah membayarnya, membuat Dinda memanggil Bapak pada Erlan sebagai penghormatan.


Winsi bertanya bukan tanpa alasan.


“Eh, bukan urusan saya juga sih Bu. Cuma saya baru tahu kalau ternyata Pak Erlan ini punya istri lainnya. Saya kira Cuma Hanifa.”


“Ya. Menurut kamu, gimana?” kata Winsi lagi.


“Sudah-sudah, ayo! Kita pulang!” kata Erlan sambil meraih tangan Winsi, namun gadis itu menepisnya.


“Maaf, Bu. Saya nggak tahu, itu urusan Pak Erlan!”


Setelah itu Dinda kembali ke rumah dan Erlan membukakan pintu mobil untuk Winsi. Walaupun, dia kesal dan cemberut, tapi tetap menurut. Setelah berada di dalam Erlan memasangkan sabuk pengaman ke kursi istrinya karena gadis itu enggan melakukan apa pun, sedangkan, peringatan pada dasbor terus menyala.


“Jangan cemberut, aku sudah ngaku bersalah. Lagi pula, itu nggak bagus buat kesehatan, bikin penyakit. Kata Rosul juga nggak boleh cemberut di depan suami.” Kata Erlan sambil menyalakan mobil dan memundurkannya lalu, melaju ke jalanan.


Winsi menoleh saat mobil yang mereka tumpangi berjalan dengan tenang, kebetulan jalanan tidak terlalu ramai.


“Jawab pertanyaanku!” tanyanya.


“Apa?”


“Apa kamu juga mencintai Hanifa seperti kamu mencintaiku?”


Erlan diam sedangkan pandangan matanya fokus ke depan.


“Jawab, Lan!”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2