Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
58. Sebuah Perceraian


__ADS_3

Sebuah Perceraian


“Aku ...” Erlan berkata sedikit ragu, sambil melirik Winsi.


“Iya, kok kamu bisa ada di sini?” Tanya Hanifa kembali melirik pada Winsi, Hasnu dan Runa.


“Kamu sendiri kenapa ada di sini?” Erlan balik bertanya, dia melangkah menjauh dan meletakkan koper Winsi yang tadi sempat dibawanya, sebab koper anak gadis tidak hanya satu, dia membawa dua koper dan dua tas lainnya.


Dua manusia yang mulai beranjak dewasa itu kini saling berbincang, tak jauh dari tempat Winsi berdiri.


“Aku daftar jadi pengajar sukarelawan di sini, atas rekomendasi Pak Imam. Ya... Sekalian aku kuliah juga.” Hanifa bicara masih dengan senyum manisnya.


“Wah, jadi di sini ada universitas juga?” Tanya Erlan antusias.


“Ada dong!”


“Ooh ... Kenapa kamu nggak bilang waktu itu?”


“Oh, soalnya tawarannya juga baru aku terima sepekan yang lalu.”


“Hmm ...” Erlan bergumam sambil mengangguk.


“Eh, Lan! kamu belum jawab pertanyaan aku?”


“Pertanyaan yang mana?”


“Kenapa kamu ada ke sini?”


“Oh, aku kebetulan saja nganterin saudara, dia mau sekolah di sini juga. Itu dia, namanya Winsi. Aku titip, ya?” Erlan berkata sambil menunjuk Winsi dengan dagunya.


Hanifa melirik Winsi sekilas, kemudian mengangguk.


“Dia masih SMA, ya?”

__ADS_1


“Ya.”


Setelah itu, Erlan memperkenalkan Hanifa dengan Winsi dan menitipkan anak gadis itu pada sahabatnya, Hanifa yang akan menjadi salah satu pengurus dan pengajar di sana. Sepertinya, kedua manusia berlawanan jenis itu saling menyukai satu sama lain. Gelagat dan bahasa tubuh serta tatapan keduanya yang punya rasa saling menyukai, sangat terlihat dengan jelas, oleh Winsi.


Runa mengikuti anaknya menuju kamar asramanya di pesantren yang akan ditempatinya, dipandu seorang pembimbing. Lalu, mereka menyusun pakaian dan semua perlengkapan sekolah di lemari yang sudah disediakan.


Erlan sudah terlebih dahulu pulang, setelah memberi semangat dan berpesan agar Winsi menjaga diri baik-baik. Sementara Hasnu masih menunggu di halaman sekolah. Ibu dan anak itu saling berpelukan dan saling memberi wasiat satu sama lain untuk tetap menjaga diri dan menjaga kesehatan sebelum akhirnya mereka pergi dan berpamitan.


Kegiatan sekolah akan segera dimulai ketika sore harinya saat semua santri sudah diterima dan terdaftar dengan baik. Kegiatan belum akan dimulai jika para peserta didik belum mendapatkan dan menempati tempat tidur dan kamar mereka masing-masing.


Winsi mengikuti arahan para pembimbing sesuai petunjuk Mudir pesantren dan dia melihat salah satu pembinanya adalah Hanifa. Gadis cantik itu berdiri di antara para pembimbing lainnya saat mereka diperkenalkan satu persatu.


Winsi bersyukur karena dia berada satu kamar dengan Nia, teman SMP yang bertubuh gemuk dan mereka memilih tempat tidur yang berdampingan.


******


Arkan telah mengupayakan segenap kemampuannya untuk mencari Basri di mana pun berada. Bahkan dia sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari di berbagai tempat, yang biasa dikunjungi pria itu hingga akhirnya usahanya pun membuahkan hasil.


Setelah mendapatkan penjelasan dan tahu di mana Basri berada, akhirnya Runa dapat bertemu dengan mantan suaminya itu. Atas perantara Arkan.


Runa kini duduk berhadapan dengan Basri, di antara mereka ada Arkan dan pengacara yang siap menjadi saksi atas penandatanganan surat perceraian mereka.


Saat ini mereka berada di sebuah restoran sederhana, tempat yang sudah disepakati oleh Arkan dan seseorang yang berhasil membujuk Basri hingga bisa tiba di sana. Membujuk pria yang kini terlihat kurus dan tidak terurus itu, tidaklah mudah. Dia memang bersikukuh untuk tetap mempertahankan Runa di sisinya.


“Kamu memang tidak bisa dipercaya Runa. Tega-teganya kamu membawa orang lain dalam urusan kita. Sudah aku bilang, kan aku tetap akan mempertahankanmu sampai kapan pun?” kata Basri panjang lebar setelah pengacara dan Runa mengatakan apa tujuannya bertemu dan datang ke sana.


“Pak, aku nggak mau tetap jadi istri kamu selama kamu tidak mau mengakui Winsi sebagai anakmu sendiri!”


“Kamu jelas-jelas berselingkuh, Runa! Jadi wajar kalau aku tidak percaya itu anak siapa? Itu anak Anas, si brengsek itu, kan?”


Ucapan Basri sempat membuat Arkan mengurutkan alisnya dalam, dia tampak berpikir keras mencoba mencerna ucapan Basri tentang Anas.


“Bukan, Pak!” tukas Runa.

__ADS_1


“Kamu terus saja bohong. Kalau kamu ngaku juga gak masalah, aku akan rawat anak itu.”


“Kalau kamu nggak percaya sama aku, kenapa masih tetap mempertahankan pernikahan kita? Jadi, mari tanda tangani surat ini, Pak!” kata Runa seraya menyodorkan selembar kertas yang berasal dari pengadilan agama, itu berkas perceraian mereka.


“Ingat, Runa ... kalau kamu minta cerai dari suamimu, maka, kamu tidak akan mencium baunya surga, kamu tahu, kan, tentang kata nabi itu?”


“Aku rasa bisa di maafkan kalau meminta cerai dari suami seperti dirimu, Pak, yang tidak mau mengakui anaknya sendiri dan menuduh istrinya berzina tanpa bukti!”


Basri terdiam lalu melirik pada Arkan yang hanya diam sedari tadi dia melihat kedua orang yang ada di hadapannya bertengkar, tanpa ekspresi berarti seolah-olah wajahnya datar.


“Apa kamu mau nikah sama dia?” tanya Basri kemudian sambil tersenyum masam.


“Ya!” Arkan menyahut dengan cepat, “saya mencintainya," Ujarnya masih tanpa ekspresi, sedangkan matanya hanya melirik Runa sekilas lalu, tatapan tajamnya kembali tertuju pada Basri. Kedua pria ini sama-sama menatap, seolah-olah sama-sama menghunuskan pedangnya masing-masing siap untuk saling menebas.


Selang beberapa lama hingga di antara mereka tidak ada yang saling bicara. Lalu ....


Kini pengacara yang memberi penjelasan secara panjang lebar. Dia meminta agar Basri segera menandatangani berkas perceraian. Dia meminta agar semua pihak bisa mendukung keputusan pengadilan segera keluar. Menurut pengacara itu, mereka, Basri dan Runa, lebih baik tidak menghadiri sidang dan hanya dirinya saja yang datang, sehingga proses perceraian lebih cepat selesai.


Basri dengan berat hati menandatangani surat perceraian dan tanpa berkata apa-apa saat melakukannya. Wajahnya terlihat murung dan semakin pucat seolah-olah dia sangat menyesali apa yang sudah dilakukannya di masa lalu. B dengan orang yang dia cintai tidak pernah ada dalam pikirannya waktu itu.


Namun, apa yang terjadi sudahlah menjadi takdir dan suratan yang sudah tertulis 50.000 tahun, si lauh mangfuz, bahkan sebelum bumi diciptakan. Selembar daun yang gugur pun, tidak akan mungkin gugur tanpa sepengetahuan Allah, apalagi yang terjadi atas dirinya kali ini.


Setelah selesai menandatangani, bagiannya, Runa andil bicara. “Pak, aku pikir sayang kalau kamu ninggalin rumah peninggalan orang tua kamu itu ... Menurutku, kalau memang kamu pikir rumah itu sudah penuh dosa karena pernah dipakai berzina oleh Nira, kamu bisa menggunakannya dengan cara banyak beribadah dan banyak berzikir di dalamnya ... pakai rumah itu untuk banyak membaca Al Quran. Jadi, rumah itu tidak berubah menjadi rumah hantu, bahkan di tempat orang gila.”


“Apa urusan mau ngomong begitu?” sahut Basri terlihat geram.


“Ya. Memang aku nggak punya urusan, aku cuman ngasih usul , siapa tahu bisa diterima ... sayang kan, rumah itu rusak begitu saja.” Sahut Runa serius.


“Kamu juga belum jawab pertanyaan aku tadi,” kata Basri.


“Pertanyaan yang mana?” tanya Runa.


“Apa benar kamu mau nikah sama dia?” katanya Basri sambil menunjuk Arkan dengan dagunya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2