Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
142. Jangan Seperti Ini


__ADS_3

Jangan Seperti Ini


Winsi memarkirkan motor di garasi, begitu sampai di rumah. Lalu, dia langsung pergi ke taman belakang untuk menemui samsak tinju dan menghujaninya dengan pukulan berulang kali, sambil bergumam tak jelas.


Tiba-tiba dia ingat saat dahulu jika Runa mengalami masalah dengan Basri, ibunya selalu mengoceh dan mengatakan segala sesuatu sambil menangis karena sedih dan marah, tapi semua yang dilakukan wanita itu tidak pernah berhasil karena bapaknya justru akan balik memarahinya atau memukul.


Anak kecil seperti dirinya tidak tahu apa yang menjadi masalah orang tuanya, bahkan dia tidak mengerti apa yang dikatakan ibunya dengan serentetan kata-kata yang, ah! Entah apa maknanya.


“Apa aku memang pantas disakiti? Ya Allah!” keluhanya sambil sesekali menyeka air matanya.


“Mengapa ujianku sebesar ini? Apa memang aku berhak untuk tidak mendapatkan cinta yang murni?”


Winsi berkata sambil memukul.


“Ya Allah! Umurku belum juga 30 tahun, apakah aku harus dipoligami semuda ini?”


“Untuk apa? Aku lebih baik sendiri! Aku tidak sekuat Aisyah, atau Siti Sarah!” pekiknya lagi.


Dia telah mengambil banyak pelajaran. Jika marah lalu mengomel panjang lebar, sama sekali tak berarti. Oleh karena itu, setiap kali marah, Winsi akan melampiaskannya pada benda yang tak mungkin membalas walau sesakit apa pun dia memukul.


‘Allah! Ya Allah! Kasihanilah aku, melihatnya seperti itu sungguh yang sakit adalah hatiku!’ Batin Erlan.


Erlan tiba di rumah sebelum waktu magrib tiba, dia tidak mendapati Winsi di kamar mereka atau di kamarnya sendiri. Dia sengaja pulang lebih cepat, setelah dia menunggu istrinya di rumah Hanifa. Pria itu mengira, Winsi akan ke sana menemuinya karena penasaran atau sekedar memastikan saja. Namun, sekian lama menunggu wanita itu tidak muncul juga.


Dia sudah dua kali bolak balik antara kantor dan rumah istri pertamanya itu karena di lain sisi dia tidak bisa meninggalkan rapat, di sisi lainnya dia harus menemani Hanifa karena yang berjaga di sana adalah seorang perawat pria.


Sesaat kemudian, dia melihat Winsi yang baru saja keluar dari ruang gym, tanpa menoleh sedikit pun padanya. Wanita itu masih memakai bajunya yang tadi pagi dan, sekarang baju itu sudah basah oleh keringat. Tatapannya lekat ke arah tangannya yang memerah, itu artinya, Winsi sudah mengenakan sarung tinju terlalu lama.


Erlan mengikuti Winsi yang berjalan ke kamarnya sendiri, sedangkan Runa hanya melihat kedua anaknya itu dengan rasa prihatin dan sedih. Mereka baru saja menikah, tapi, ujian yang datang seperti ujian untuk para pasangan yang sudah belasan tahun membina rumah tangga.

__ADS_1


Winsi hendak menutup pintu kamar saat Erlan menahannya, sejenak dia menatap suaminya yang menunjukkan raut wajah penuh permohonan hingga dia membiarkannya masuk.


Erlan menutup pintu lalu memeluk Winsi dari belakang, dia pikir memberinya coklat, akan meluluhkan, tapi nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Dia wanita yang berbeda yang butuh perjuangan lebih besar untuk mendapatkannya.


“Apa kabar, Sayang?” tanya Erlan, dan Winsi tidak menjawab tapi juga tidak menolak.


“Kamu sudah makan coklatnya?”


Winsi mengangguk, dia makan satu buah, tadi.


“Apa itu artinya kamu maafin aku?”


Diam, Winsi cukup lama tidak memberinya jawaban.


“Apa kamu mau mendengar ceritaku?”


“Nanti saja!” Winsi berkata sambil melepaskan tangan Erlan yang melingkar di perutnya.


“Aku tahu aku salah! Maafkan aku!” katanya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


“Mamangnya apa salahmu?” tanya Winsi datar.


“Sebenarnya aku sudah menikah dengan Hanifa sebelum menikah denganmu.”


‘Aku sudah menduganya!’ batin Winsi, dalam diam.


“Hmm ....” Winsi bergumam sambil memalingkan pandangannya dengan senyuman smirk di bibirnya, seolah mengejek dirinya sendiri.


‘Pantas saja dia tidak mau mengadakan pesta karena takut ketahuan keluarga Hanifa rupanya!’ batin Winsi lagi.

__ADS_1


“Maafkan aku, kalau kau sudah tahu ... aku mohon.”


“Awas!” Winsi tidak menanggapi, dia ingin ke kamar mandi tapi Erlan menghalangi hingga dia mendorong tubuh suaminya itu ke samping.


Erlan diam, dia tetap di sana menunggu hingga istrinya selesai.


Winsi tahu jika dirinya tidak boleh mendiamkan seorang muslim lebih dari tiga hari karena agama melarang untuk memutuskan tali silaturahmi. Dia diam bukan karena memusuhi suaminya sendiri, tapi lebih baik baginya seperti itu dari pada banyak bicara, dia bukan tipe perempuan cerewet dan gampang marah karena dia sudah terbiasa memendam segala kesedihan sejak kecil.


Setelah selesai mandi, gadis itu keluar dengan rambut yang basah dan tubuh yang hanya ditutupi selembar bathrobe warna biru muda. Dia sempat menghentikan langkahnya saat melihat Erlan masih berdiri di posisi yang sama.


Meskipun demikian, jangankan muncul rasa iba, yang ada justru sikap acuh tak acuh yang biasa Winsi tunjukkan dulu saat mereka masih remaja. Erlan hampir frustrasi dibuatnya.


‘Apa benar tidak ada sedikit pun rasa cinta dihatinya padaku? Tapi, dia pernah bilang kalau dia juga mencintaiku, kan?’ batin Erlan.


Erlan melangkah mendekati Winsi yang berdiri di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya. Tangan pria itu terulur untuk membalikkan badan, dan merengkuh bahu wanita itu ke dalam dekapannya.


“Jangan seperti ini ...” kata Erlan setelah tubuh Winsi menempel padanya.


Winsi diam.


“Win, tolong jangan diam ... ayo ngomong kalau kamu memang benci aku, kamu mau marah sama aku, kamu lebih baik ngomong saja ....!” katanya dengan suara serak dan kepalanya dekat di telinga gadis itu yang tetap bergeming.


“Kalau kamu mau memaki atau mengumpat, katakan saja, yang penting jangan diam seperti ini, jangan diam saja ... maafkan aku, ya?” pria itu berkata sambil menahan segala rasa yang ada di benaknya, sementara di pelupuk sudah tergenang setetes air mata.


“Hmm ...” kata Winsi setengah bergumam.


Erlan mengendurkan pelukan, lalu, dia melihat wajah Winsi yang masih sama datarnya seperti tadi.


“Benarkah?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2