Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
88. Genggaman Tangan Yang Lemah


__ADS_3

Genggaman Tangan Yang Lemah


 


“Bukan Kekek Badri, mana mungkin orang itu mau memberikan warisan padaku, Bu. Aku bukan siapa-siapanya ... aku memang anak angkat Ayah tapi, Kakek tidak pernah mengakui aku cucu angkatnya, iya, kan?”


“Ya.” Runa menjawab dengan pelan seolah tidak berdaya. Dia tahu selama seseorang bukan bagian dari keluarga, maka, selamanya tidak akan dianggap bagian dari keluarga kecuali, orang yang benar-benar berhati mulia atau memiliki sebuah niat yang lain, untuk mengakui seseorang bagian dari keluarga. Apabila Islam tidak mengajarkan tentang silaturahmi dan ukhuwah, mungkin semua manusia sudah bercerai-berai dan tidak saling peduli karenanya.


Winsi menceritakan pada Runa bila beberapa pekan yang lalu, Badri memberinya sebuah dokumen yang berisi tentang data penguatan bahwa, dirinya adalah pemilik atau pewaris tanah yang ditinggalkan oleh Runa lebih dari 20 tahun yang lalu.


Gadis itu pun menceritakan pengalamannya mencari dan menemukan tanah yang akan menjadi miliknya dalam keadaan baik-baik saja. Dia bersyukur tidak ada orang yang mengklaim ataupun menempati tanah kosong bekas kebakaran yang Runa ditinggalkan begitu saja.


Saat itu Runa masih remaja dan belum mengetahui bagaimana memperlakukan tanah bekas kebakaran yang seharusnya menjadi miliknya. Karena semua benda berharga ikut hangus terbakar. Oleh sebab itu dia pergi dan kemudian mengikuti orang tua angkatnya. Setelah orang tua angkatnya meninggal, secara kebetulan dia bertemu dengan Basri dan akhirnya mereka menikah.


Selain itu Winsi juga mengatakan keinginan dan apa cita-citanya yang akan dia bangun di atas tanah itu. Dia juga menceritakan bagaimana sosok Nafadi, sahabat Arkan, seseorang yang sudah sabar membantunya, bahkan berniat untuk mendukung cita-citanya di sana.


Jika kelak dia menempati tanah itu maka mereka tidak akan berjauhan karena jarak antara rumah Nafadi, bisa ditempuh dengan kendaraan selama waktu 30 menit saja.


Nafadi sudah membantu Winsi untuk melegalkan kembali kepemilikan atas tanah itu bagaimanapun caranya, melalui pihak desa, dengan modal sebuah dokumen dan tentu saja uang. Dia menggunakan uang tabungannya untuk membayar biaya mengurus tanah dan kepemilikan surat-suratnya secara sah.


Tentu saja semua kelegalan sertifikat atas nama Runa karena sekarang Runa masih hidup, sebagai satu-satunya ahli waris dari pemilik tanah sebelumnya. Akan tetapi Runa tidak mungkin menempati tanah itu karena sudah menikah dengan Arkan.


Winsi berharap ibunya akan mendampingi Arkan sampai akhir hayatnya dan menemani sang ayah dengan penuh kasih sayang, serta tidak perlu memikirkan soal tanah karena Winsi yang akan mengurusnya.


Kepemilikan sebuah tanah di negeri ini sangat berharga apalagi tanah sebesar itu, akan sia-sia apabila dibiarkan begitu saja.


Selama bercerita, Winsi pun berpikir bahwa, dokumen lengkap yang diberikan Badri kepadanya merupakan bukti kebaikan juga. Memang laki-laki itu terkesan pelit, tapi, dia punya sebuah cara berbeda untuk menunjukkan kepedulian kepada cucu yang tidak pernah diakuinya itu.


“Bu, kok, melamun, sih?” kata Winsi, setelah selesai menceritakan semuanya. Dia justru melihat ibunya sedang tercengang, bahkan tatapan matanya seperti melihat ke arah dunia lain.


“Bu!”


“Ya.” Akhirnya Runa menjawab dengan gugup.


Rupanya dia sedang berpikir bahwa hal memiliki tanah yang hangus terbakar itu ternyata bisa dilakukan. Saat dia meninggalkan tanah itu, dalam pikirannya tidak pernah terpikir sama sekali untuk mengambil tanah atau haknya kembali. Baginya sudah tidak mungkin untuk memiliki atau mengurus surat kepemilikan tanah secara resmi.


“Apa Ibu tadi mendengarku?”


“Ya. Kalau begitu berterima kasihlah pada Kakek sekarang juga.”


“Aku sudah berterima kasih padanya waktu itu.”


“Apa salahnya berterima kasih terus sekarang kamu sudah berhasil menunjukkan bahwa kamu bisa mengurus semuanya pada kakekmu itu?”

__ADS_1


“Dia bukan Kakekku dia Kakeknya Erlan!”


“Ayo! Bilang terima kasih sama kakek sekarang juga!”


Winsi terlihat enggan untuk menemui Badri hingga dia tersenyum menyeringai demi mencari perhatian Runa.


Gadis itu bertanya bagaimana keadaannya tetapi, Runa tidak menjawab pertanyaannya karena dia pikir anak itu sudah tahu dengan jelas bagaimana keadaan ibunya.


Runa tahu jika Winsi bertanya tentang penyakitnya adalah alasan saja karena dia enggan menemui Badri yang kamarnya berada cukup dekat.


“Bu, percaya nggak kalau aku ketemu sama Bapak?”


“Sudah, nggak usah banyak alasan, tengok Kakekmu sana ...  kamarnya di sebelah, kok, nggak usah ngomong soal Bapak segala. Mana mungkin Bapakmu ada di Jogjakarta?”


Winsi melirik ibunya kesal, dia berpikir bahwa ibunya pasti tidak akan percaya dengan apa yang dia alami, hingga dia mengurungkan niatnya untuk bercerita jika dirinya sudah bertemu Basri. Bahkan sekarang pria itu menjadi seorang sopir taksi, dia terlihat sangat tua dari terakhir kali mereka bertemu.


Akhirnya Winsi beranjak dari duduknya dan kemudian melangkah keluar untuk menemui Badri di kamar sebelah.


“Wiwin!” Arkan berseru begitu melihat orang yang sudah membuka pintu bangsal di mana Badri tertidur dengan lemah.


Di tubuh pria tua itu masih menempel infus dan juga selang dari tabung oksigen. Wajahnya terlihat pucat dan matanya terpejam, tubuhnya diam tak bergerak seolah-olah tidak berdaya dan tidak memiliki hubungan dengan dunia di sekitarnya.


“Ayah!”


“Apa Ayah baik-baik saja?” tanya Winsi terlihat kuatir.


“Aku baik, kamu tidak usah mengkhawatirkan Ayah.” Arkan berkata sambil menepuk lembut puncak kepala Winsi seperti biasanya.


“Benarkah? Tapi, muka Ayah terlihat pucat?” tanya Winsi sambil meraih sebelah tangan kanan Arkan untuk dicium punggung tangannya.


“Apa iya? Itu hanya penglihatanmu saja,” kata Arkan sambil melepaskan pelukan anak angkatnya dan kembali duduk di sisi tempat tidur Badri. “Oh, iya. Apa Mas Adi mengantarmu sampai ke sini?”


“Tidak.”


“Dia baik padamu, kan?”


“Ya. Dia baik sekali. Tapi beda sama anaknya.”


“Tentu saja beda karena mereka dua jenis manusia yang berbeda! Apa jadinya kalau semua manusia sama?” kata Arkan sambil tertawa.


“Bagaimana Kakek?”  Winsi mengalihkan pembicaraan mereka.


“Masih seperti ini belum ada perubahan sejak kamu pergi.”

__ADS_1


“Mudah-mudahan Kakek jadi lebih baik dan cepat sembuh, biar aku bisa bilang terima kasih padanya.”


“Bilang saja sekarang dia pasti bisa mendengar apa yang kamu katakan?”


“Benarkah?”


Arkan mengangguk, sambil berdiri untuk mempersilahkan Winsi duduk di tempatnya tadi, sedangkan dia sendiri duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.


Winsi pun duduk sambil meraih tangan Badri yang kurus, kulitnya keriput dan persendiannya terlihat menonjol sedangkan, permukaan telapak tangannya kaku serta dingin.


Gadis itu mengatakan semua pada Badri tentang apa yang dia alami saat menemukan tanah ibunya, dia begitu senang dan bersyukur lalu mengucapkan terima kasih dengan tulus, berulang kali serta doa yang dia katakan di akhir ucapannya.


Winsi masih tetap duduk di sana menunggu reaksi dari Badri, sambil memijit pelan telapak tangannya. Akan tetapi, sekian lama menunggu, laki-laki tua itu tetap diam saja hingga dia merasa pesimis jika ucapan terima kasihnya bisa didengar dan diterima.


“Ayah, apa Ayah percaya kalau aku bertemu dengan Bapak?” tanya Winsi, sambil menoleh pada Arkan setelah sekian lama diam.


“Apa?” tanya Arkan.


Tiba-tiba Winsi merasa tangannya digenggam erat oleh Badri. Gadis itu segera melihat ke arah tangannya dengan bingung. Ternyata pria tua itu sudah membuka mata dan dengan tajam menetap ke arah anak gadis di sebelahnya.


“Apa?” Tanya Badri dengan suara lirih dan terbata-bata, membuat Winsi sedikit mendekatkan kepala agar dia bisa mendengar dengan jelas apa yang akan dikatakannya.


Arkan segera berdiri dan mendekat ke arah dua orang di depannya karena baru hari ini Badri membuka mata, setelah sejak kemarin dia terlihat seperti orang yang pingsan, bahkan ketika dokter dan perawat datang untuk mengontrol keadaannya pun dia diam saja.


“Jangan percaya pada laki-laki itu, dia akan memanfaatkanmu apabila kamu berhasil kelak, aku tahu macam apa orang seperti apa dia yang tidak bisa melihat dengan mata terbuka. Ingat, dia tidak pernah mengakuimu sebagai anaknya dan dia tidak pernah berjasa sedikit pun dalam kehidupanmu. Jadi, jangan berbaik hati untuk membalas jasanya sebab, dia tidak pernah berjasa baik padamu dan ibumu walaupun, dia penyebab kelahiranmu di dunia.”


Winsi termenung mendengar kata-kata Badri itu, sungguh memprovokasi dirinya bahwa, betapa penting sebuah usaha juga harta dunia bagi orang yang tidak berhak menerimanya.


Demikianlah kriteria pembagian harta sedekah dalam agama, ada orang yang berhak menerima tapi, ada juga orang yang tidak berhak mendapatkannya.


Namun, dalam kaca mata agama apabila harta itu diberikan dan dibagi kepada orang lain yang berhak, maka, tidak akan mengurangi jumlahnya tapi, justru akan bertambah. Dengan catatan harta yang diberikan itu halal, bukan hasil berhutang dan diberikan secara ikhlas.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Arkan sambil melihat kepada ayahnya dan juga Winsi secara bergantian.


Di saat yang sama genggaman tangan Badri terasa kembali melemah di tangan Winsi.


 


Bersambung


"Silakan kritik dan sarannya, apabila ada kesalahan dari segi penulisan dan kata-kata atau juga ide cerita aku akan berterima kasih sekali dengan apa yang sudah kalian sampaikan. Terima kasih"


 

__ADS_1


__ADS_2