
Seorang Wanita Muda Lagi
Begitu mendengar perkataan Meri, Winsi tertawa kecil. Dia tidak menduga bila, sahabatnya itu menyukai laki-laki yang selalu memanggilnya dengan sebutan Anak Buluk. Walaupun, dia kesal karena tidak tahu maksud dari panggilan itu, tapi dia menyetujui pendapat bahwa Erlan memang tampan, menurut ukuran anak sebayanya.
“Kamu suka sama dia?” Tanya Winsi, setelah tertawa.
“Ya. Tapi kamu sering sama dia, kok bisa?” Meri balik bertanya, dia memang meliha Winsi bersama dengan Erlan beberapa kali.
Dia pernah melihat siang hari Winsi dibonceng Erlan dengan motor maticknya, atau waktu di taman wisata dan tadi, jelas sekali dia mendengar pria yang disukainya itu memanggil sahabatnya, entah untuk apa?
Sebenarnya Meri heran, bagaimana bisa Winsi, yang terlihat sangat pendiam di kelas dan terkesan minder tapi, bisa berteman akrab dengan Erlan, anak orang kaya yang hampir tidak pernah bergaul dengan anak sebayanya di tempat tinggal mereka.
“Kapan aku sering sama dia? Kamu salah lihat,” elak Winsi sambil terus melangkah mengikuti temannya yang lain.
“Masa sih, jelas-jelas aku lihat kamu sama dia waktu itu?”
“Kapan?”
Meri melirik kesal ke arah Winsi karena seolah-olah tidak dipercaya, padahal jelas sekali dia melihat sahabatnya itu bersama Erlan beberapa kali.
‘Apa Winsi punya hubungan dengan Erlan, sedekat apa mereka?’ batinnya.
“Oh, itu hanya kebetulan, saja. Aku nggak ada apa-apa, kok, sama anak itu!” jawab Winsi sambil tersenyum.
Setelah mendengar ucapan Winsi, Meri menggamit tangan sahabatnya itu dan melangkah lebih cepat.
“Ayo! Nanti kita ketinggalan mereka.
Kegembiraan anak-anak tak akan pernah bisa digantikan dengan apa pun juga, sebab masa-masa yang terjadi pada mereka sangat singkat. Waktu yang mereka lalui tak lama setelah masa keemasan mereka akan segera berakhir.
Tiap-tiap fase pertumbuhan manusia dari bayi, anak-anak dan dewasa, memiliki masa emas sendiri-sendiri, dan apabila pada masa keemasan itu terlewati tanpa pengalaman berarti, maka akan mempengaruhi pola pikir, atau cara pandang mereka di masa yang akan datang.
__ADS_1
Winsi dan teman-temannya sudah selesai memuaskan diri menikmati beberapa buah jambu air yang merah-merah. Tidak hanya makan, mereka juga membantu mengumpulkan buah-buahan itu ke dalam keranjang untuk dibawa ke pasar dan dijual.
Setelah berpisah dengan teman-temannya, tinggalah Winsi dan Meri berjalan beriringan menyusuri jalan ke arah rumah mereka sambil sesekali memakan buah yang mereka bawa.
Winsi menoleh ke samping ketika ada seseorang yang menyapa dirinya dan Meri dengan suara yang lembut.
“Permisi, Dek!” kata seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian bagus dan pas di badannya. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai dan dia membawa sebuah tas besar.
Melihat wanita itu, seketika mata Winsi terbuka lebar, dia hampir saja tak percaya bahwa, di hadapannya telah berdiri seorang wanita yang beberapa hari lalu bersama dengan bapaknya di seberang jalan tempat biasa ibunya menjalankan usaha.
Hatinya seperti terbelah menjadi dua dan berada di tempat yang berlawanan. Sesaat baru saja senang karena dagangan ibunya habis dengan cepat, tapi sesaat kemudian hatinya terhempas dalam rasa muak, ketika melihat bapaknya tampak begitu gembira, dengan wanita itu berada di sisinya. Raut wajah yang tidak pernah terlihat saat bersama dirinya.
Namun, ada satu yang menghibur Winsi, sejak saat itu Arkan menjadi langganan tetap mereka karena selalu memborong nasi uduk buatan ibunya. Jadi, Runa kini menambah jumlah jualannya, agar langganan lainnya tidak kelaparan dan menanyakannya.
“Ya ...?” Meri yang menyahut wanita itu dengan tersenyum ramah.
“Benar, kan, ini daerah Anggrek?” tanya wanita itu.
Sementara Winsi tidak perduli dan acuh tak acuh. ‘Untuk apa dia nanyain tempat ini?’ batinnya. Sungguh dia tidak ingin wanita itu ada di lingkungan rumah dan bertemu bapak, sehingga membuat sedih hati ibunya.
“Kalian tahu, di mana rumahnya Pak Basri?” tanya wanita itu sambil melihat layar ponselnya sekilas.
Tiba-tiba Winsi menoleh ke arah wanita itu dengan cepat sedangkan jantungnya seolah kehilangan satu detakan. Alis berkerut menunjukkan reaksi permusuhan. Anak gadis itu tidak tahu perasaan apa yang ada dalam hatinya, kenapa dia begitu tidak menyukainya, padahal dia hanya tidak ingin hati ibunya terluka. Dia ingat ekspresi wajah Runa saat melihat wanita muda itu bersama suaminya. Menyedihkan!
“Oh, itu Bapaknya Winsi. Iya, kan, Win?” Lagi-lagi Meri yang menjawab, membuat Winsi geram pada sahabatnya ini.
Akan tetapi, Winsi tetap mengangguk sebagai jawabannya yang tak berdaya. Dia masih anak-anak yang tidak punya hak untuk marah, apalagi menantang duel pada wanita yang tidak disukai ibunya.
Oleh karena itu, dia benar-benar ingin cepat dewasa, ingin menjadi wanita yang kuat agar tidak sembarang orang bisa menganiaya dirinya. Selain itu, dia ingin segera mengerti dengan semua yang terjadi. Tentang kebenaran identitas, ucapan ibu dan bapaknya siapa yang benar di antara mereka?
“Ya.” Akhirnya Winsi berkata juga setelah diam beberapa lama. Lanjutnya kemudian, “Ada apa ya, Bu?”
__ADS_1
“Oh, jadi kamu anaknya?” tanya wanita itu dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah masam.
Winsi mengangguk, dengan raut wajah yang sama masamnya.
‘Ya, aku anaknya tapi, mungkin juga bukan’ batinnya.
“Kamu mau pulang?” tanya wanita itu lagi.
“Ya,” sahut Winsi.
“Jadi kita bisa pulang bareng, kan? Oh iya, panggil aku Tante Nira.” Nira, nama wanita itu, dia mengulurkan tangan pada Winsi dan Meri dan, kedua anak itu menyambut lalu mencium punggung tangannya.
“Ayo cepat!” perintah Nira. sambil melangkah mendahului Meri dan Winsi. Kemudian, dia menoleh kebelakang dan berkata, “Bilang ya, kemana arah jalannya!”
“Baik,” kata Winsi dan Meri bersamaan.
Ketiga wanita itu terus berjalan menyusuri jalan yang biasa dilalui oleh Winsi serta Meri dan sesekali menunjukkan arah pada Nira. Dia melangkah dengan cepat, seolah-olah tidak sabar ingin segera sampai di rumah dan bertemu Basri.
Winsi mengucapkan kata Kekanak-kanakan sebelum berpisah dengan Meri, dia sudah sampai di depan rumahnya. Sementara Nira berdiri di depan pintu dan mengetuk dengan keras, memperlihatkan gelagat yang tidak sabar karena dia yakin di situlah Basri berada sebab, ada mobil truk yang terparkir di halamannya.
Matahari masih menyinari bumi dengan terik padahal, hari sudah menjelang sore. Sinarnya bahkan terasa begitu kuat saat seorang wanita membuka pintu rumahnya dengan tergesa-gesa karena ada ketukan yang sangat keras sebelumnya.
Seketika mata Runa terbelalak dengan sempurna saat dia melihat apa yang ada di hadapannya.
“Kamu?” tanya Runa sambil menatap ke arah wanita itu dan anaknya, secara bergantian.
Bersambung
“Jangan lupa lake, komen, give, vote dan rate. Terima kasih atas dukungannya”
__ADS_1