Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
150. Dia Dan Kasih Sayangnya


__ADS_3

Dia Dan Kasih Sayangnya


“Cukup untuk mendekatiku! Aku masih minta waktu, kan? Jadi, tolong, mengertilah!” Winsi berkata sambil menyingkirkan tangan Erlan dari bahunya. Lalu, masuk ke kamar Hanifa untuk mengurusnya.


“Maaf!” kata Erlan sambil mengeluarkan ponsel dari celananya yang tiba-tiba berdering.


Betapa terkejutnya Erlan setelah melihat nama yang tertera pada layar ponselnya karena itu adalah nomor telepon Arkan yang sudah lama tidak digunakan. Bagaimana tidak kaget jika sang pemilik nomor itu sudah tiada.


Setelah dia mengangkat telepon, hatinya merasa lega karena suara yang terdengar di seberang sana adalah Runa.


“Halo, Erlan!” kata suara di seberang sana


“Ya, Bu ... Ada apa?” jawab Erlan lemah lembut sambil menenangkan rasa terkejutnya.


“Maaf ya, Ibu pake telepon Ayahmu, soalnya nggak tahu kenapa hp Ibu, mati.”


“Oh, Baik. Nggak masalah nanti namanya nanti Erlan ganti jadi nama ibu ya, bukan nama Ayah lagi.”


“Oh, ya. Jadi tadi waktu Ibu telepon, namanya masih nama Ayah dong? Pasti kamu kaget!”


“Ya. Sedikit.”


“Kapan Kamu pulang, sama Wiwin?”


“Mungkin nggak lama lagi Bu, iya, saya pulang sama Wiwin.”


“Bagus, jangan biarin dia pulang pergi naik motor sendiri ya, biar hubungan kalian lebih dekat ... maaf ibu tidak bisa membantu kalian menyelesaikan masalah, apalagi kalian tidak mau terus terang.”


“Ya, Bu. Nggak masalah.”

__ADS_1


Erlan masuk ke rumah dan tidak langsung menuju kamar Hanifa karena dia mengambil segelas air minum untuk membasahi tenggorokannya. Dia mengira jika perawat dan Winsi sedang mencoba menenangkan Hanifa, yang terdengar tengah menangis. Wanita tidak waras itu seperti begitu ketakutan.


Namun yang terjadi adalah justru Fadli tengah berdiri di dekat pintu kamar Hanifa dengan gelisah. Fadli sengaja keluar kamar setelah Winsi mengusirnya.


“Pak!” kata Fadli saat Erlan mencoba masuk kamar Hanifa.


“Kenapa?” tanya Erlan.


“Bu Win, melarang saya masuk! Jadi, sebaiknya Pak Erlan juga.”


“Kenapa tidak boleh? Dia istri saya!” kata Erlan dan langsung membuat Fadli salah tingkah. Pria itu terlihat tidak suka entah karena apa.


“Kenapa Pak Erlan, nggak pernah bilang kalau punya istri lain selain Hanifa?”


“Kenapa memangnya? Itu bukan urusan kamu, kan? Kamu Cuma perlu merawat Hanifa dan dapat bayaran!” kata Erlan terlihat kesal karena perawat itu mencampuri urusan pribadinya.


Erlan masuk begitu saja dengan mengabaikan Fadli yang terlihat gelisah sambil mengusap rambutnya kasar.


Sementara Hanifa yang semula tampak menangis ketakutan karena melihat noda darah, yang keluar dari salah satu bagian tubuhnya, sudah tampak lebih tenang. Dia begitu menikmati sebuah es krim di tangannya tanpa menghiraukan apa yang sedang dialami. Rupanya Winsi sudah berhasil menenangkan dengan memberinya sebuah es krim, yang tadi sempat dia beli.


Selama ini ada Dinda dan seorang teman wanita lainnya, yang masih satu profesi dan merawat Hanifa dengan baik, hingga Erlan tidak pernah berurusan dengan hal semacam itu. Dia mulai sibuk dengan istri pertamanya, setelah salah satu perawat menyatakan resign, lalu, Fadli yang menggantikannya.


Saat masuk ke kamar Hanifa tadi, Winsi terkejut melihat Fadli yang hendak melucuti pakaian Hanifa karena ada darah haidnya yang mengotorinya. Tentu saja Winsi merasa risi jika hal itu dilakukan seorang pria, hingga dia mengusir Fadli dan mengurus Hanifa sendiri dengan memberinya sebuah Es krim hingga mau menurut untuk di bawa ke kamar mandi.


Hanifa yang semula menangis karena jijik dan takut melihat bercak darah yang cukup banyak itu, lama kelamaan menjadi tenang karena Winsi mengancamnya dengan mengatakan tidak akan menyayangi kalau dia tidak mau di bersihkan.


“Belikan pembalut, atau periksa isi lemarinya siapa tahu ada persediaan di sana aku tidak tahu dan aku belum memeriksanya!” Winsi memberi perintah kepada Erlan begitu melihat laki-laki itu muncul di depan pintu kamar mandi, sedangkan dia hampir saja selesai memandikan separuh badan Hanifa, demi membersihkan noda dan juga menghilangkan kotorannya.


Tanpa menyahut Erlan menuruti Apa yang diperintahkan Winsi, tapi, dia tidak menemukan benda yang diminta oleh istrinya itu. Dia hanya menemukan pampers yang selalu digunakan Hanifah seperti biasanya.

__ADS_1


“Tidak ada pembalut, hanya ini, pakai pampers seperti biasanya saja!” kata Erlan yang kembali muncul di depan pintu sambil membawa benda yang biasa dipakai oleh Hanifah setiap hari. Benda itu dia ambil dari lemari pakaian Hanifah.


Melihat hal itu gengsi pun berkata, “Coba hubungi perawatmu yang perempuan, bagaimana dia mengatasi dan apa yang dipakai kalau Hanifah sedang haid?”


Tanpa banyak bicara Erlan pun menghubungi perawat yang biasa menjaga Hanifah di malam hari. Seperti itulah, dia sengaja menyusun jadwal bahwa, Dinda sebagai perawat wanita yang bertugas menjaga di malam hari karena, dengan begitu dia bisa pulang dan tidur bersama istrinya, Winsi, di rumah.


Setelah beberapa saat berbicara dengan Dinda melalui telepon, Erlan pun kembali menyodorkan pampers yang masih dipegangnya itu kepada Winsi.


“Ya. Katanya pakai ini saja biasanya juga begitu,” Kata Erlan.


“Oh,” sahut Winsi seraya mengambil benda yang ada di tangan suaminya.


Jadi, seperti itulah yang biasa dilakukan oleh para perawat ketika Hanifah sedang haid, mereka tidak membedakan memakai pembalut lain, melainkan memakai benda yang sama, sekaligus berguna untuk menahan kotorannya.


Winsi tidak bisa membayangkan bagaimana suaminya ataupun Fadli bila harus menghadapi kejadian ini, jika dirinya tidak ada. Baginya, ini sesuatu hal yang sangat riskan untuk diurus oleh seorang pria.


Setelah selesai membersihkan dan memakaikan Hanifah pakaian yang bersih seperti biasa dipakai, Winsi mengajaknya untuk makan, karena es krim di tangannya sudah habis. Namun, Gadis itu menolak dan meminta es krim lagi.


Dengan penuh pertimbangan Winsi pun memberikannya karena merasa tidak masalah dan juga tidak mau repot untuk menenangkannya. Bahkan, sampai Hanifah menghabiskan tiga buah es krim sekaligus.


Winsi mengajak Hanifah untuk makan malam karena dirinya juga lapar, ternyata membujuk orang seperti itu dan juga mengurusnya walaupun, dengan ketulusan, tetap saja menghabiskan banyak energi sehingga wajar kalau setelah selesai dia lapar. Oleh karena itu Erlan meminta Fadli untuk membeli makan malam bagi mereka, sesuai pesanan yang diminta oleh Winsi kepada suaminya.


Namun, sepertinya tugas Winsi belum selesai karena saat makan malam pun, Hanifah meminta agar wanita yang dianggapnya ibu itu, untuk menyuapinya hingga dia sendiri, sangat terlambat untuk menghabiskan makanan, bahkan sampai nasi dan lauk pauknya menjadi dingin.


“Papa! Gendong, ya! Hani mau bobok sama Papa!” kata Hanifa di sela-sela kesibukannya bermain setelah perutnya kenyang. Sontak saja Winsi menoleh ke arah Erlan dengan lirikan tajam dan cemberut.


“Hani, Papa capek. Kita jalan saja, nggak usah gendong, ya!” kata Erlan setelah sadar dengan lirikan tajam yang diberikan Winsi kepadanya.


“Nggak mau! Pokoknya gendong!” saat berkata demikian kedua tangan Hanifah sudah melingkar di leher kokoh Erlan.

__ADS_1


“Erlan!”


Bersambung


__ADS_2