Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
125. Terserah


__ADS_3

Terserah


Keesokan paginya, Erlan sudah ada di rumah, tapi sampai malam tiba Winsi tidak juga menemuinya. Antara malu dan bingung karena tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan bila nanti bertemu. Gadis itu sebenarnya tidak berniat menjawab pesan itu, tapi takdir sudah menggerakkan jarinya tanpa dia sadari.


Sampai selesai makan malam pun gadis itu tidak menampakkan diri meski Runa sudah memintanya untuk keluar dan tidak perlu malu. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, seperti dulu. Akan tetapi, tidak demikian dengan pikiran Winsi, dia tetap canggung karena jawaban pesan yang dia kirimkan, sama sekali tidak disengaja.


Kini Winsi duduk sendiri di dekat jendela kamarnya yang terbuka, ini mirip kejadian yang lalu, di mana kemudian Erlan mendekatinya, dengan berdiri di luar jendela. Namun, saat ini Erlan membawa kursi kecil untuk didudukinya, dia membawa secangkir kopi dan dia letakkan di depan Winsi.


Jarak antara mereka hanya dipisahkan oleh dinding pembatas dan daun jendela.


“Aku nggak ngopi,” kata Winsi tenang sambil melirik cangkir kopi di jendelanya.


“Itu bukan buat kamu, juga! Jangan gw er ....” ucap Erlan, membuat Winsi mencibir, dia sudah menduga kalau Erlan akan seperti ini kepadanya.


Gimana kalau sudah jadi suami, coba! Pikirnya.


“Aku nggak ge er ....” kata Winsi, tanpa merubah posisi duduknya, dia seolah tidak terusik dengan kedatangan Erlan yang mendekat dengan caranya sendiri.


Winsi duduk dengan kaki dinaikkan ke kursi, sambil memeluk betisnya dan lutut yang menjadi tumpuan bagi kepalanya.


“Kenapa nggak keluar, nggak lapar?” tanya Erlan sambil menyeruput kopinya lalu meletakkan kembali di depan Winsi dan, gadis itu pun menggelengkan kepalanya.


“Aku sudah nyuruh orang sama Mas Adi buat ngurus kepindahan kuliahmu ke sini.”


“Terserah,” kata Winsi sambil merubah posisi kepalanya menghindari tatapan Erlan.


“Bagus, aku suka kamu yang penurut. Kamu tahu nggak Win, kalau ternyata kita menikah itu sebenarnya keinginan Ibu Runa sejak lama?”


Winsi diam.


“Ibu itu mau kamu kuliah di sini, lebih aman karena dulu ada Ayah dan nggak perlu bikin usaha, terus jadi jauh dari Ibu!”


Winsi masih diam, dia tahu semua yang dikatakan Erlan adalah permintaan Runa waktu itu yang dia tolak mentah-mentah bahkan dia ingin memutuskan semua hubungan kekeluargaan karena itu. Namun, tidak ada yang tahu jawaban dari teka-teki masa depan manusia hingga akhirnya berakhir seperti ini sekarang.

__ADS_1


“Nah, kamu masih ingat kan kerusuhan di depan tokomu? Alhamdulillah kamu selamat dan nggak mengalami kerugian.”


Sebenarnya mereka mengalami kerugian cukup banyak, tapi Anas menanggung semuanya hingga usaha kembali normal. Namun, tetap saja para perusuh itu dimintai kompensasi atas kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan mereka.


“Coba aja kalo ada apa-apa sama kamu, wah ... bisa habis semua perusuh itu sama kemarahan ayah!”


Seketika Winsi tersadar, jika kejadian di depan tokonya sempat memenuhi halaman berita baik online maupun di media televisi lainnya. Kemungkinan besar, Arkan melihatnya. Bisa jadi ayahnya terserang penyakit jantung karena mendengar berita tentang dirinya. Dia kembali merenungi dan refleks berdiri dari duduknya.


Tiba-tiba hati dan jiwanya dihantui rasa bersalah, dialah penyebab ayahnya tiada.


“Lan, apa kamu sudah selesai bicara?”


“Kenapa?” Erlan bertanya sambil menyeruput kopi di cangkirnya.


“Nggak apa-apa, aku pikir kamu benar, kita sebaiknya menikah dan tetap berkumpul di sini.”


“Nah, gitu, dong! Jangan bikin kesel orang aja!”


“Cari istri, yang bisa menyenangkan dan gak nyusahin aku!”


“Memangnya kamu udah pernah punya istri yang nyebelin gitu? Kok, kamu ngomong gitu?”


“Nggak! Siapa bilang? Ya, udah sana, tidur!”


Setelah ucapan Erlan itu, Winsi menutup jendela tanpa memindahkan kopi Erlan yang masih separuhnya. Erlan membiarkan sikap gadis itu yang memang tidak berubah sejak dulu kala, sedangkan Winsi menaruh rasa kesal setiap kali bicara dengan Erlan selalu saja berakhir dengan pertengkaran.


Erlan menghubungi seseorang setelah yakin jendela kamar Winsi benar-benar tertutup dan gadis itu tidak mendengar apa pun dari pembicaraannya. Pikirannya tiba-tiba teringat pada Hanifa yang sudah tidak dia tengok setelah sepekan ini dia ke luar negeri.


“Giman, apa dia baik-baik saja?” tanya Erlan setelah HP-nya menempel di telinga. Lalu, dia diam mendengarkan penuturan lawan bicaranya.


“Lalu, kau bilang ke mana Ayahnya?” kata Erlan.


“Oh. Baik, aku ke sana sekarang.”

__ADS_1


Setelah menutup telepon, Erlan melangkah menuju tempat parkir dan mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, dengan gerakan cepat dia segera mengendarai benda itu, melewati pintu gerbang dan membelah malam seorang diri.


Dia mendapatkan informasi dari perawat profesional yang sengaja dia sewa selama ini, tentang Hanifa yang terus menangis karena sudah lama tidak melihat ayahnya. Berkat perawat itu, Erlan merasa tenang menjalani pekerjaan dan semua urusannya dengan baik tanpa beban.


Dia harus merogoh koceknya begitu dalam demi membayar si perawat kepercayaannya itu, tapi hasil yang dia dapat sangat sepadan bahkan bisa membuat suara-suara sumbang dari keluarga besar Hanifa, bungkam. Erlan hanya mengharapkan proses kesembuhan Hanifa berjalan semakin cepat karena setelah wanita itu sembuh, maka dia akan memberikan beberapa pilihan padanya.


Erlan tidak akan menjalani hidup dengan berpoligami, meski dalam Islam hal itu di bolehkan. Dia orang yang ideal dalam bertindak dan apabila melakukan sesuatu harus berdasarkan ilmu.


Lagi pula dia merasa tidak mendapatkan pendidikan soal bagaimana baiknya poligami itu dilakukan, tidak pernah!


Jadi, dia khawatir berbuat salah hingga menyakiti hati wanita yang seharusnya bahagia hidup bersamanya. Dia tidak akan memaksakan kehendak dengan alasan halal dalam agama hingga ada hak orang lain yang, terabaikan lalu, menjadi beban dan dosa di kemudian hari atau bahkan di akhirat nanti.


Sesampainya di rumah Hanifa, lagi-lagi gadis itu memanggilnya Papa hingga Erlan bertanya pada perawat yang selama ini mengurusnya.


“Kenapa dia seperti ini lagi! Kenapa? Bukannya waktu terakhir kali kamu telepon aku dia sudah mendingan nggak lagi manggil semua laki-laki Papanya, kan?”


“Ya, Pek Erlan, saya juga heran. Kenapa Hanifa begini, padahal Cuma setengah hari saya tinggal pergi, karena saya nengok Ibu saya sakit!” kata Perawat itu dengan gugup.


“Kenapa kamu nggak bilang sama saya?”


“Saya terpaksa, Pak. Maaf. Kan, Bapak juga nggak ada di sini? Saya titipkan Hanifa ke teman saya, perawat juga, sama kok, Pak. Dia waktu itu satu kelas dengan saya!”


“Dia laki-laki atau perempuan?”


“Maaf, Pak. Dia laki-laki!”


“Apa? Kamu ini! Ah!” Erlan berkata dengan marah sambil mengusap rambutnya kasar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana saat Hanifa kambuh dan memeluk laki-laki lain sebagai ayahnya. Walaupun dia tidak mencintai wanita gila itu, tapi tetap saja dia tidak suka jika istrinya memeluk lelaki lain yang bukan haknya.


Tiba-tiba Hanifa mendekat dan tersenyum pada Erlan dengan senyum manis dan mencium bibirnya. Kalau menjadi seorang anak, maka Hanifa tidak akan memeluk dan mencium bibir seperti itu.


“Erlan Sayang, jangan marah-marah ... Aku kangen sama kamu. Kalau kamu mau aku sembuh, jangan tinggalin aku walaupun, sebentar! Oke?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2